Memikat Cinta Nona Arogan

Memikat Cinta Nona Arogan
Kejelasan Hubungan!!


__ADS_3

Tatapan tak percaya itu lansung muncul saat melihat Televisi sana, Media Entertainment berdombong menayangkan berita tentang Kedatangan Adlen membuat Dady Albert terkejut bukan main dengan Momy Carolin yang terlihat termenung kosong.


Namun berbeda dengan Grandma Zamlya yang begitu merindukan Putranya itu, rasa senang itu menggebu, bahkan tak bisa dijabarkan lagi bagaimana Exspresi wajah yang terkejut dalam.


Dia Putraku! Dia Adlen, yah Dia Putraku.


Hati seorang ibu yang begitu bahagia menatap wajah tampan Putranya meski sudah berusia paruh baya, maklum saja Grandma Zamlya begitu, ia sudah bertahun-tahun tak bertemu dengan sang anak dan sekarang ia melihat wajah Mahluk itu lagi.


"Albert! dia..dia Adlen, Adlen sayang!"


"Hm!"


Gumam Dady Albert gumam kecil seraya mengeratkan pelukannya ke pinggang Momy Carolin yang hanya diam menyaksikan bagaimana Topik utama ini membeludak menuai Prokontra di Masyarakat, apalagi tentang cerita Adlen yang menurutnya sangat ambigu. tapi ia yakin Nareus telah menyaring Berita ini hingga sedikit yang berkomentar miring.


"Sus!!"


Grandma Zamlya lansung menyosong kedatangan Nareus yang mematung saja membiarkan wanita tua ini memeluknya seraya tatapan datar dan lurus.


"Terimakasih, kau..kau menemukan Pamanmu!"


"Hm!"


Nareus melangkah pergi setelah menatap Momy Carolin dan Dadynya yang mengangguk meninggalkan Alen yang mematung ditempatnya.


"Nak! kau pasti lelah, hm? ayo istirahat!"


"Baik, Mom!"


Jawab Alen lalu melangkah menyusul Nareus, hatinya gelisah saat pria itu sama sekali tak berbicara padanya, sejak Perdebatan tadi Nareus hanya diam tanpa mau berbicara selayaknya biasa.


"Apa mereka bertengkar?"


"Ouhh, tidak! itu hanya bumbu rumah tangga!"


Sambar Momy Carolin yang tak ingin memberi peluang pada Grandma Zamlya yang ingin menghancurkan Kehidupan Rumah Tangga putranya.


"Cihh! yang ku lihat itu berbeda, sudah ku bilang wanita itu tak cocok dengan Sus ku!"


Momy Carolin hanya menyimpan geram memandangi kepergian Grandma Zamlya yang begitu bahagia dengan ini semua, wanita tua itu tak sabar lagi menunggu kedatangan Cucu dan Putranya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Sudahlah, ini sudah malam! jangan membuat Mark dan Shena tak nyaman!"


Momy Carolin hanya mendecih lalu melangkah kekamarnya, banyak yang tak ia ketahui membuat semuanya runyam.


,,.......


Nareus membuka Jasnya seperti biasa didepan cermin sana seraya melepas Dasi yang menyekang lehernya itu, wajahnya masih sama, bahkan sangat dingin membuat Alen sedikit takut untuk bicara.


"Re..Reus!"


"Hm!"


"Maafkan aku!"


Nareus hanya diam seraya meletakan pakaiannya kekeranjang Kotor serta sepatu yang ia letakan ditempat semula, pria ini sangat hidup Disiplin dalam segala hal.


"Biar aku bantu!"


Alen membantu Nareus melepas kancing kemeja itu dengan wajah yang tetap menatap Nareus yang masih sama, pria itu membuang muka kesembarang arah tanpa ingin berkata lebih.


"Soal yang tadi aku..!"


Nareus mendudukan Alen di tepi ranjang sana seraya berjongkok melepas Heels pendek itu dengan sangat hati-hati, ia juga melepas Mantel dan Aksesoris yang Alen pakai.


"Aku hanya tak ingin Step jatuh lebih dalam, hanya itu! dari dulu memang aku Respek dengannya, tapi itu hanya sebatas Teman tak lebih dan..!"


Alen membelakangi Nareus yang melepas semua pakaiannya hingga ia polos tanpa sehelai benang pun, namun Exspresi Nareus masih membatu tak seperti biasanya.


"Mandi!"


"Dan aku hanya ingin memberi pengertian! aku yakin dia..!"


"Berbalik!"


Alen berbalik dengan cepat Nareus menggendongnya ke kamar mandi sana seraya tangan yang terulur menyambar Handuk dan juga beberapa Perawatan wajah wanita ini.

__ADS_1


"Aku bisa jelaskan kalau aku hanya menganggap Step teman, apalagi..!"


Nareus mengguyur Alen dengan Shower dan memandikan wanita itu dengan sangat lembut seakan hatinya tak apa-apa, tapi Alen melihat dengan jelas kalau Nareus menahan itu semua.


"Reus! kau jangan diam saja, Sayang!"


Nareus tetap bungkam, ia melakukan segalanya dengan telaten hingga membersihkan sisa Make-up tak terlalu tebal ini hingga dalam beberapa menit mereka selesai melakukan Ritual mandi tanpa sepatah kata lebih dari pria ini.


"Reus!"


"Hm!"


"Lain kali kita jalan-jalan, sepertinya sangat seru!"


Nareus hanya mengangguk seraya mengerikan rambut Alen, ia tahu apapun yang membuat wanita ini nyaman setiap harinya, tapi tak dengan Alen.


"Pakai-Pakaianmu!"


"Baiklah!"


Alen memakai Pakaiannya singkat karna hanya Tengtop dan Hotpans saja, ia tak memakai Bera karna itu tak baik untuk kesehatan.


"Kau mau kemana?"


Tanya Alen menatap Nareus yang memakai Stelan malamnya yang serba hitam selayaknya Pemimpin Dunia gelap sana.


"Tidurlah!"


"Tidak! kau mau kemana?"


"Keluar!"


"Tapi kemana?"


Nareus menghela nafas halus mendekati Alen yang mencengkal tangannya dengan wajah yang sangat berubah.


"Tidurlah, ini sudah malam!"


"Kau?"


"Ada urusan yang penting!"


Nareus memejamkan matanya meredam emosi, sifat Alen yang kekanak-kanakan membuat ia sangat pusing.


"Hanya sebentar!"


"Tidak! kau disini dan jangan keluar!"


Alen mendorong Nareus ke ranjang sana secara kasar, ia mengikat tangannya dan Nareus dengan Dasi pria itu tadi dan mulai membaringkan diri.


"Kau tak bisa keluar!"


"Hm!"


Nareus terdiam membiarkan Alen memeluknya seperti biasa, ia pun sama, meski hatinya masih diresahi emosi, tak mungkin baginya untuk mengenyampingkan Tugasnya sebagai seorang suami.


"Ini sudah malam! kalau kau keluar, maka aku juga akan keluar!"


"Tidurlah!"


"Kau pasti akan keluar, nanti!"


Geram Alen pada Nareus yang menggeleng mengeratkan pelukannya, ini sudah jam 11 Malam, tak bisa juga ia keluar meninggalkan Alen yang sering Tersentak dari tidurnya.


"Aku tak akan keluar!"


"Memang harus begitu!"


"Hm!"


Nareus mengalah saja, di perpanjangpun tak akan ketemu ujungnya, ia hanya pasrah dengan apa yang wanita ini lakukan.


Setelah beberapa lama melamun, Nareus dibuyarkan dengan suara Ponselnya dan disana tertera nama Smith yang tadi mengurus sesuatu yang ia perintahkan.


"Hm!"


"Lord! Semua Bukti sudah siap, hanya menunggu anda membongkarnya!"

__ADS_1


"Jangan sekarang! aku ingin memastikan sesuatu!"


"Baik, Lord!"


Nareus mematikan sambungannya, ia berfikir dua kali untuk menyelesaikan masalah ini, ia ingin melihat apa Alen benar-benar mencintainya atau tidak.


Yang ia khawatirkan, Alen terus memperhatikan Stephen hingga bermasalah pada hubungan mereka kelak, ia tak ingin jika nanti anaknya lahir, Alen lebih memperhatikan pria lain dibanding keluarganya sendiri.


"Kau ini sebenarnya kemana? Di suatu saat kau membuatku terbang dengan Perlakuanmu yang menunjukan bahwa aku.. hanya aku yang kau Cintai, tapi..!"


Nareus menghentikan ucapannya sejenak, ia tak mengerti dengan Permainan ini, terlalu berbelit, bertanya pada Mark ia hanya di beri pilihan untuk menerima atau melepas, jika berhadapan dengan Shena, jawabannya juga sama, kedua Mahluk satu hati itu selalu memperingatinya untuk menjalankan dengan hati.


"Mereka menyuruhku menikmati, menjalani! tapi sampai kapan? kau selalu memberi Isyarat Ambigu untukku! tak cukupkah satu aku saja, Alen?"


Tanya Nareus menatap Alen yang sudah tertidur, ia ingin bertanya tentang semua ini, tapi Kondisi Alen tak memungkinkan, sudah jelas ia akan marah jika menceritakan ini.


Hati Nareus sekarang sedang dilanda Dilema yang sangat rumit, ia bisa saja menyingkirkan Step tapi ia tak bisa tahu apa isi hati Alen sebenarnya.


"Sekarang aku hanya melihat! jika kau memang Mencintaiku, maka aku akan memelukmu! jika tidak, aku hanya meminta anakku, itu saja!"


Ucap Nardus dengan sangat berat, ia tak ingin berpisah, bahkan sangat tak rela, tapi dengan hubungan yang tak jelas ini ia tak sanggup jika harus di gantung terlalu lama.


"Dan sekarang, aku tulus mencintaimu! dan aku harap kau mengerti!"


Bisik Nareus memeluk Alen erat dengan kehangatan itu, impiannya memiliki Keluarga kecil seperti Shena dan Mark begitu besar, itulah yang membuat ia semangat dan selalu memahami Alen, ia menjadi Pria penyabar berharap ia dan Alen akan menjadi Kedua orang tua yang baik bagi anak-anak mereka kelak.


Impian sederhana bagi seorang Nareus, ia tak tahu apa yang terjadi padanya jika si Kecil didalam sana pergi, apalagi itu satu-satunya cara untuk mempererat hubungannya dan Alen.


...................


Sedangkan Mark didalam kamar sana sedang tersulut emosi karna Janson yang selalu menelfonnya seakan ia ini adalah Dokter ibu hamil.


Wajah tampan pria itu mengeras seraya lidah yang menahan umpatan kasar itu keluar.


"King, bagaimana ini?"


"Apa aku Babysister Istrimu, ha? jika dia ingin kau mencari Mangga Persia, maka lakukan!"


"Tapi masalahnya Istriku tak ingin ditinggal, King!"


"Aku tak ingin tahu! kau berhenti menelfonku dan cari caramu sendiri!"


"Tapi hanya kau yang paham soal Ngidam-mengidam ini, King! Sungguh aku sudah Frustasi mencari Mangga Persia tapi harus serasa Semangka!"


"Ada apa, Sian?"


Tanya Shena yang sedang memberi Asi pada Baby Rea yang sangat kehausan, wanita itu terlihat geli dengan pembicaraan konyol ini.


"Sayang, Dania mengidam Mangga Persia rasa Semangka, apa itu masuk akal?"


Shena terkekeh geli mengambil Ponsel Mark tapi pria itu menggeleng, tak akan ia biarkan pria lain mendengar suara lembut itu.


"Katakan saja!"


"Ibu hamil itu mengidamnya aneh-aneh, pantas Dania begitu karna Bayi mu pasti sedang mengerjai Ayahnya!"


Mark mengangguk paham lalu bicara pada Janson dengan Intonasi datarnya.


"Istrimu ingin mencari suami baru!"


"Apa???"


"Hm, kata istriku itu kiasan bahasa dari Ibu hamil!"


"Sayang!!!!"


Tutt..


Mark mematikan sambungannya seraya melempar Ponselnya ke atas Bantalnya dengan wajah malas itu.


"Kenapa kau katakan berbeda, Sian?"


"Biarkan saja, sesekali mereka bertengkar!"


Shena hanya bisa mengggeleng saja, Dania memang sedang hamil 2 Bulan, dan tentu wanita itu sangat menyusahkan Janson sebagai suami tercinta.


....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


Vote and Like Sayang..


__ADS_2