
Seorang pria tua dengan seringain tipis itu lansung menatap seseorang dari kejahuan, Wajahnya di tutupi Masker dengan mata nyalang yang begitu bengis dan penuh dengan hasrat melihat seorang wanita yang sedang tertidur diatas ranjang sana dengan menggendong Bayi mungil itu.
Setelah sekian lama ia mencoba untuk tak melakukan hal yang bisa mengungkap rahasia besar yang terjadi selama ini, mencoba untuk diam meski ia ingin sekali menghancurkan sesuatu yang telah merusak hidupnya selama ini.
"Kau harus membayar atas apa yang kau lakukan pada Keluargaku!"
Guman pria itu melangkah pergi setelah mencampur sesuatu kedalam botolan susu yang ada didekat Meja di kamar sama tanpa meninggalkan jejak sama sekali.
Ia akan membalas, bahkan lebih pedih dari apa yang ia terima, bahkan menangis darahpun ia tak akan berhenti terus mempermainkan Hidup semua orang dengan Semangat hidup yang tak lagi ia temui, ia hanya punya satu tujuan, apapaun yang menghalanginya ia akan musnahkan meski itu membuat hidup anaknya menjadi Tak berwarna sekalipun.
........
Nareus menggendong Alen menuju Ruang kerja di Perusahaannya, dari awal pertama masuk ke Pintu Perusahaan besar MCC, ia sudah disambut oleh para Kariawan yang berderet disepanjang lantai hingga ia hanya bisa diam mengangguki setiap sapa'an penuh hormat yang dilayangkan padanya.
Mereka semua bingung, kenapa Presedirnya malah memakai Pakaian Non Formal dengan Jaket serta celana Jeans itu tampak seperti Anak Motor yang begitu Cool dan keren, dipadu-padankan dengan Sesosok Mahluk yang di selumbungi Mantel itu didalam gendongan tubuh kekarnya membuat Keduanya begitu mempesona menarik minat mata.
"Apa itu Istri, Presedir?"
"Sudah jelas kalau itu istrinya! kalau tidak mana mau Presedir menyentuhnya!"
Desas-Desus Kariawan yang berbicara pelan takut bisikan ini terdengar ketelinga tajam Orang-Orang penting itu.
Nareus mendengar itu semua, tapi ia hanya diam karna tak mungkin ia merenggut Hak untuk berpresepsi dalam pikiran masing-masing, yang jelas tak ada yang menyebarkan Rumor Buruk tentang wanita Batangannya ini.
"Tuan! Anda akan menghadiri Meeting besar dengan Perusahaan yang kemaren sudah meminta Jadwal dari Perusahaan kita!"
"Kau saja yang pergi!"
"Tapi mereka menginginkan Anda, Tuan!"
Nareus terdiam sejenak seraya membaringkan Alen keatas Sofa panjang sana dengan menggantikan bantal sebagai lengannya supaya wanita ini tak pegal saat bangun nanti.
"Aku tak akan pergi! Istriku masih belum sadar!"
Asisten Buron mengangguk mengerti dengan Smith yang sudah mengurus tentang Grandma Zamlya, tapi tentu saja wanita tua itu masih kekeh meminta Nareus untuk pergi paling tidak besok harinya.
"Lord! Apa anda tak mau memberi tahu Tuan besar dan Nyonya Besar?"
"Tidak usah!"
Jawab Nareus kembali menjadikan pahanya sebagai bantalan Alen karna merasa wanita ini tak nyaman dengan benda empuk itu seraya ia yang duduk di Sofa panjangnya.
"Tapi pasti Tuan Besar Moureen dan Nyonya Besar Victoria bisa membungkam, Grandma Zamlya!"
Nareus hanya bergelut dengan pikirannya sendiri, ia tahu betul sifat-sifat keras anggota keluarganya, Kakek Moureen yang pasti akan main Bunuh saja dengan Nenek Victoria yang mendukung Sifat Gila suaminya.
Tak mungkin ia semangkin memperburuk keadaan Keluarga yang terlihat kokoh diluar tapi tidak jika di usut tuntas sampai bagian dalam, akan banyak rongga-rongga kosong dan retak yang tercipta.
"Aku hanya bisa mempertahankan Rumah Tangga ku sendiri! itupun kalau Dia mau, Keluarga ini sudah pecah dari asal Momy dan Dady menikah, tak ada yang akan berubah jika mereka berkumpul, bahkan akan semangkin retak!"
Ucap Nareus memijat pelipisnya pusing, hubungan yang tak baik ini selalu membuat Alicia stres dan memilih tinggal dengan Umi Aisyah, ia tak tahu lagi harus menghadapi semuanya bagaimana.
Smith dan Asisten Buron paham dengan Pergelutan batin Lordnyan sedari awal mulai Keluarga Moureen memang sering bertengkar membuat anak-anak mereka menjadi tak nyaman tinggal di Rumah itu.
"Bagaimana kalau anda memabawa Nona ke Apartemen anda saja, Lord?"
"Bagaimana dengan Momy?"
Asisteb Buron terdiam, ia baru sadar kalau Momy Carolin sangat menyayangi Alen tak mungkin meninggalkan wanita itu dengan Grandma Zamlya yang selalu memancing keributan.
__ADS_1
"Bawa saja Momy sekalian!"
Mereka terkejut saat Alen yang menyambar pertanyaan itu dengan santainya, wajah Cantik Alen terlihat baru saja bangun dengan pendengaran yang tajam akan pembicaraan mereka.
"Kau sudah bagun, hm?"
"Hm! sekarang kita mau bagaimana?"
Tanya Alen duduk disamping Nareus yang menghela nafas berat menatap wajah serius Alen yang tak ingin lagi bersembunyi dari kenyataan, ia tak ingin menyakiti Momy Carolin dan mempermiankan Nareus apalagi Keluarga pria ini sangat baik padanya.
"Aku serius denganmu!"
Degg..
Alen bergetar mendengar kata itu, ia menatap netra tajam Nareus intens untuk mencari kebohongan, namun tak ada yang ia temukan selain raut Yakin dan benar bahkan sangat serius membuat Jiwa Alen tersulut bungkam.
"Aku serius dengan Pernikahan kita! ini bukan Mainan Alen, aku mau Berkomitment denganmu!"
Ucap Nareus tulus menggenggam tangan Alen lembut menyalurkan rasa hangat dan Cinta darinya, ia tak bisa memendamnya lama sedangkan Alen belum menerimanya sama sekali.
"Aku tahu kau Mencintai Step! tapi aku tak bisa berpisah karna kau sudah membuat tempat disini!"
"Na..Nareus!"
Alen tersigap saat tangannya di bawa kebagian dada Nareus yang sungguh tak malu menyatakan Perasaanya dihadapan Smith dan Asisten Buron yang hanya membisu ditempatnya menyaksikan sang Lord yang sangat jauh berbeda, Pria ini sudah merendahkan Keangkuhannya hanya dihadapan satu orang, ALEN, yah! hanya nama itu yang bisa mengikis batu dan es yang dulunya membeku setelah Premaisuri sejagat itu.
"Aku tak memaksamu, setidaknya beri aku waktu untuk membuat tempat, hm?"
Bibir Alen bergetar, entah kenapa ia yang sangat emosian dan keraspun tak sanggup diperlakukan begini.
"Ja..Jangan begini!"
"Kenapa?"
Lirih Alen menunduk meremas tangan Nareus yang melihat dengan jelas wanita ini dilanda kebimbangan.
Aku takut aku Mencintaimu dan Menyakiti Step yang sudah berjuang selama bertahun-tahun hanya demi aku!
Aku takut jika Kau menggantikan nama Step, Nareus!
Alen yang membatin tak kuat jika pria ini benar-benar ingin bersaing, hanya dalam beberapa bulan saja Nareus bisa membuat ia menjadi begini, ia tak membayangkan jika Nareus benar-benar mencintainya.
"Tak usah dipikirkan, kita jalani saja dengan hati masing-masing, kalau kau nyaman maka lanjutkan! jika tidak..!"
Nareus menghela nafas mengecup tangan Alen yang ia genggam erat tapi tak menyakiti wanita itu, perbedaan yang sangat kuat dari Genggaman yang memaksa.
"Aku genggam kau erat tapi jika kau ingin lepas, aku Siap! walau itu menyakitkan bagiku!"
Alen menggeleng memeluk Nareus yang membuka hangat sandaran tubuhnya, ia merasa lega karna telah mengungkapkan segalanya, setidaknya Alen berfikir dalam Hubungan Rumah Tangga mereka.
"Ka..Kau jadi King saja!"
"Kami berbeda, kau selalu menyamakan kami!"
Smith dan Asisten Buron melangkah keluar meninggalkan Sepasang pasutri itu, setidaknya mereka lega karna Lordnya tak lagi Menyimpan rasa itu.
"Kau sudah makan?"
Alen menggeleng dengan pikiran yang melayang, menggenggam erat tangan Nareus dengan gejolak hati yang ambigu.
__ADS_1
"Kenapa kau tak makan, hm? nanti kau sakit, Sayang!"
Alen tersenyum geli menepuk pipi Nareus yang juga tak kalah senang melihat wajah wanita ini kembali berbinar, setidaknya Alen tak membahas tentang Step nanti.
"Hey, Reus!"
"Hm?"
"Nanti akan ada Annyversari Momy yang ke 30 Tahun!"
Nareus terdiam berfikir, ia baru ingat kalau Pernikahan Momy dan Dadynya sudah menginjak 30 Tahun.
"Lalu?"
"Kita rayakan! Keluarga inti saja!"
"Tak ada yang akan mengurusnya!"
"Biar aku saja, nanti aku minta Nyonya Shena untuk meminta Desain kadonya!"
Nareus hanya mengangguk lalu memainkan Ponselnya, ia harus melihat apa yang akan dilakukan saat pulang nanti.
"Kau jangan fokus ke Ponsel saja!!"
"Aku sedang melihat Pekerjaan, Sayang! Kau punya Ponselkan?"
Degg..
lensung menyembunyikan Ponsel ditangannya kebelakang sana, ia harus menyembunyikan benda ini dari Nareus.
"Ma..Mana ada?"
"Cihh, Lain kali berbohonglah dengan benar!"
Nareus berdiri dari duduknya, ia merasa sedari tadi ada yang memantau pergerakannya hingga ia tak ingin berbuat terlalu terbuka disini.
"Reus!"
"Hm?"
Alen terdiam sesaat mencengkram ponselnya, ia tahu ada yang mengawasi dan ia mulai mengerti kenapa Nareus tak ingin membahas tentang rencana atau apa disini.
"Rileks Baby!"
"Ada yang menguntit!"
Nareus mengangguk seraya memberikan segelas air putih pada Alen yang mulai bersikap tenang dengan mata yang melirik tajam kemanapun.
"Anggap saja kita berdua disini!"
"Kenapa dinding di belakang Transparan?"
Tanya Alen naik kepangkuan Nareus supaya orang yang memantau di seberang sana tak curiga, ia sebisa mungkin terlihat tak tersulut emosi.
"Lansung Bunuh saja!"
"Keturunan Mafia asli!"
Alen tersenyum mendengarnya, ia sudah sangat bersemangat mencari seseorang yang sedang memantau mereka dengan Nareus yang tak akan melibatkan Alen dalam hal ini.
__ADS_1
....
Vote and Like Sayang,.