
Baby Mian tampak bergelantungan ke leher Abinya yang sedang melakukan Sholat Asar, sedari tadi setiap pergerakan Mark yang tetap fokus melakukan kegiatannya itu ia selalu memeluk punggung sang Abi dengan rasa cinta dan tak mau dilepas sama sekali membuat Shena yang sedang mengajari tata cara Sholat pada Putrinya itu lansung mengukir senyum geli.
"Mian! Turun,"
Tekan Baby Denzo yang sudah berumur 3 Tahun lebih beberapa bulan, hanya ia yang lancar mengucapkan kata itu karna selalu diajari oleh Mark yang tak ingin Putranya yang sedingin Kutup utara ini malah menjadi cadel tak sesuai dengan karakternya.
Namun, sayangnya Denzo sangat berbeda dengan Baby Mian yang semang hari berganti hari semangkin lengket dengan Abinya, si kecil itu bahkan tak mau lepas kemanapun Mark pergi.
"Biiii!"
Baby Mian menelusup disela ketiak Abinya yang sedang duduk mengucapkan salam dari kanan kekiri secara pelan dan pasti setelah itu Mark melantunkan beberapa doa yang membuat Shena dan ketiga anaknya lansung menampung tangan mengaminkan ucapan Pria tampan itu.
"Cemoga Mian speti, Abii!"
"Amin!!"
Jawab Mereka pada Baby Mian yang mencengir karna menyambar doa Mark yang hanya menggeleng melihat tingkah laku menggemaskan putra manjanya ini.
"Kenapa kau selalu menganggu, Abi? hm!"
"Bii Tampan!"
"Benarkah?"
Tanya Mark seraya melepas Kopiahnya dan memakaikannya pada kepala mungil sang putra yang suka dimanja begini, ia tampak semangkin imut dipangkuan Mark yang selalu begini sehabis melakukan Sholat.
"Sayang! apa tak pegal duduk begitu?"
Tanya Mark pada Shena yang memangku kedua anaknya yang tak mau jauh dari Shena, wanita cantik itu selalu jadii rebutan para putra dan putrinya membuat ia terkadang kasihan karna Shena terlihat lelah.
"Tidak! mereka sangat antusias menganggumu, Sian!"
"Biarkan saja, lagi pula mereka bisa belajar dari ini semua!"
Shena hanya tersenyum manis mengecup punggung tangan Mark yang juga lansung mengecup bibirnya kilas membuat anak-anak mereka yang menonton hanya merotasi malas saja karna Kemsraan Abi dan Uminya selalu terumbar namun membuat mereka tenang dan nyaman.
"Apa perutmu masih sakit, Sayang?"
"Tidak, ini lebih baik! dia selalu mengelusnya!"
Shena menatap Baby Denzo yang mendekap perutnya hangat karna ia sekarang sedang Mens jadi tak bisa ikut beribadah dan menjadi Makmum Suaminya.
__ADS_1
"Biii!!"
Pekik Baby Denzo kesal saat Mark malah menoel pipi gembulnya yang selalu membuat semua orang gemas, si kecil sat ini sangat Alergi disentuh manusia kecuali Baby Rea dan Uminya sendiri.
"Kau garang sekali!"
"Mihh! Abi jelek, kan?"
Shena mengulum senyum geli melihat wajah Mark yang menelan kekesalan dengan Baby Mian yang tak suka dengan Kakaknya yang Arogan ini.
"Biii, Tampan!"
"Abi Jelek! Aku yang Tampan, iyakan Mii?"
Sambung Baby Denzo lagi pada Uminya yang tak bisa menjawab, 3 Pria dihadapannya ini begitu Tampan dan tak terkalahkan sama sekali.
"Jawab, Sayang! aku yang paling Tampan, kan?"
"Sian!"
"Ayolah jawab!"
Desak Mark yang tak mau kalah dari Baby Denzo yang selalu ingin menyainginya, si kecil jiplakannya itu selau menunjukan kelebihannya pada Shena untuk memonopoli sang Umi.
Mark dan Baby Denzo saling pandang dengan aura peperangan, Mark selalu dibuat kalah karna Shena sering tidur dengan Putra garangnya ini hingga ia harus mencuri sang istri pada saat malam hari.
"Baby Mian!!!"
"Bii, Mian paling Mpan!"
Mark dan Baby Denzo hanya mengangguk jengah saja mendengar ucapan cadel si kecil itu, kalau tidak dituruti Baby Mian bisa menangis merobohkan tempat ini.
"Mimihh!"
"Kalau kau yang tercantik, setelah Umimu Baby!"
Ucap Mark menggendong Baby Rea yang tersenyum lansung memeluknya, mereka terkekeh akan bualan kecil yang selalu menghangatkan Keluarga manis ini.
Mark yang berusaha ada meski pekerjaan yang membuat ia sibuk dan Dunia ini membutuhkannya, ia tetap meluangkan waktu yang pas untuk bersama anak dan istrinya.
Menurut Mark, hancur tidaknya Keluarga itu juga tergantung hati dan bagaimana mereka menyikapinya, ia tak bisa terlalu hanyut dalam pekerjaan membuat istri dan anaknya terlupakan begitu saja.
__ADS_1
......
Kelopak mata pria itu terbuka menyonsong mentari yang ternyata lolos dari kaca besar yang ada dibelakang mereka, dekapan eratnya menguat pada tubuh polos wanita yang sudah terkuai lemas diatas Karpet empuk ini yang tadi mereka gunakan untuk Media bercinta degan sangat panas membuat aroma didalam ruangan ini kental dengan bau Fronom keduanya.
Netra Nareus mengamati bentuk wajah lelah Alen yang sudah tertidur lelap, tubuh mereka masih menyatu karna Nareus tak memberikan jarak untuk lepas, ia tak akan membiarkan Alen lepas untuk yang kedua kalinya.
"Aku yakin kau, Alenku!"
Gumam Nareus seraya mengecup lama bibir bengkak Alen dengan sangat lembut, ia merindukan semua ini, aroma tubuh Alen masih membekas dipenciumannya, bahkan tinggi badan dan aura wanita ini tak akan bisa mengelabui instingnya.
"Kau pasti ingin kembali pergi! dan dia.. dia itu anaku kan, sayang?"
Tanya Nareus begitu bergetar merasa kehidupannya seakan kembali ditarik dalam kegelapan sana, ia yakin kalau si kecil itu Ezilla bukan Zella, ia yakin beribu persen tapi ia tak bisa berkutik jika Alen tak ingin mengaku.
"Kenapa kau malah menyembunyikan dia dariku? apa aku seburuk itu, ha?"
Geram Nareus ingin bertanya segalanya, tapi ia hanya menyimpan karna ia ingin menemui Mark untuk meminta Bukti dan segala surat menyrat kalau benar Alen melakukan Bedah Plastik dan Zella itu putrinya.
"Kau lihat saja, kau tak akan bisa Bermain peran lagi denganku, dan dia.. dia Putriku dan kau tega membawanya hanya demi keegoisan itu, dan aku.. aku akan membuatmu tak akan bisa pergi lagi!"
Gumam Nareus lalu melepas dengan pelan penyatuan ditubuhnya seraya menyambar Mantel Alen tadi dan juga pakaiannya yang sudah berantakan diatas lantai sana.
Ia memakaikan Pakaian itu ke tubuh Alen dengan penuh kehati-hatian, mesk ia ingin marah dan meluapkan semua emosinya namun Nareus tetap berusaha menahan sampai ia mendapatkan bukti dari Mark.
"Tuan!"
Asisten Buron yang tampak pucat dan berkerngat membuat Nareus yang ada dibalik Sofa sana menjadi bingung akan perubahan wajah Asistennya.
"Ada apa?"
"Nona kecil membuat keributan besar di lantai bawah!"
Bukannya marah Nareus hanya diam menatap wajah lemas Alen yang tampak tak sadarkan diri karna tubuhnya sudah sangat remuk, Asisten Buron juga mengupat karna melihat leher Lordnya yang sudah dipenuhi bekas Kismark itu membuat bulu kuduknya meremang ngeri.
"Biarkan dia melakukan apapun yang dia mau! setelah itu bawa dia ke Apartemenku!"
"Ba..Baik,Tuan!"
Asisten Buorn melangkah pergi, ia mengelus dadanya yang lega karna tak merasa malu sendiri dengan bayangan yang seakan lansung berfantasi.
....
__ADS_1
Vote and like Sayang..