
Tatapan mata semua Dokter dan Team Medis lainnya itu tampak gugup melihat sesosok yang sudah 1 Tahun ini menanggung luka bakar itu dan 1 Tahun kedepannya barulah mereka bisa melakukan Perawatan Operasi, Prof. Jayenley dan Dokter Bedah Plastik Amerika ternama yaitu Pintolen Scires itu sedang menunggu Fase terakhir dari Pengobatan yang mereka lakukan.
Sinaran Ultrafiolet dari alat medis berupa Tabung berukuran 3 meter itu mengurung tubuh seorang wanita yang sudah terbaring selama berbulan-bulan disini, ia tak bisa melangkah kemanapun karna Satu tubuhnya sudah di Bedah sedemikian rupa karna mengingat tak ada lagi kulit yang bisa dipakai dari hasil pembakaran itu.
"Prof. apa anda yakin ingin membukanya sekarang?"
"Hm, ini sudah terjadwal! saya yakin, Fisik Nona akan lebih baik karna Mentalnya sangat kuat!"
Dokter Bedah Pintolen lansung mengangguk lalu melakukan beberapa Ronsen, ia mengambil gambar wajah sebelum dan sesudah di Operasi ini dengan Prof. Jayenley yang menekan tombol biru pada Alat Mediatornya untuk menarik wanita itu keluar.
"Nona!"
"Hm!"
"Apa anda ingin beristirahat dulu?"
"Lakukanlah cepat!"
Titah ketus wanita itu karna mengingat kerusuhan yang pasti sudah di buat oleh si kecilnya, selama ia terbaring disini, tak satupun yang bisa mengendalikan si Liar itu.
Ia dibantu oleh Suster lainnya untuk duduk, perban itu masih membalut seluruh tubuhnya seakan ia ini adalah Mumi berjalan dan patung yang tak bisa bergerak karna kekangan alat medis yang banyak, belum lagi aroma pengobatan ini membuat nafasnya sesak.
"Anda siap, Nona!"
"Hm!"
Dokter bedah Pintolen lansung membuka tali perban dikepala wanita itu, sangat perlahan karna wanita ini begitu pemarah, tak sabaran bahkan selalu mengomel karna pekerjaan mereka selalu lembut padahal ia ingin cepat keluar dari kondisi ini.
Perlahan penuh kepastian, Parban itu mengulur kendur melepas tekanan ke wajahnya, rambut pirang itu sudah setengah punggung memanjang, kening mulusnya perlahan terlihat diikuti dengan garis hidung macung serta lekukan alis yang sempurna, Permakan yang luat biasa membuat Team medis sana saling pandang tersenyum, bibir yang tak berubah namun lebih dibuat menarik serta bentuk rahang yang dibuat setegas mungkin karna Karakter dari wanita ini memang menunjukan pahatan ini. namun terkesan berwibawah dan Imut.
Dia masih diam membungkam menunggu Instruksi selanjutnya, namun rasa penasaran itu tak bisa ia sembunyikan karna ia memang meminta di Bedah namun dalam bentuk wajah yang berbeda, ia tak ingin terlihat seperti wanita yang dulu, ia ingin menjadi seorang yang tak dikenali sang kekasih hati.
"Buka mata anda secara perlahan, Nona!"
Perlahan bulu mata lentik itu bergerak, kelopak matanya mengkerut sedikit menyeringit karna rasanya wajah ini sangat keram, ia berusaha tetap membuka matanya dan sesekali meringis karna rasanya sangat perih.
"Perlahan. Nona!"
"Hm!"
__ADS_1
Ia kembali berusaha sehingga dengan sangat pelan, kelopak mata itu terbuka dan sesekali mengerijap menyesuaikan cahaya yang menusuk netranya, ia menatap Prof.Jayenley dan Team medis lainnya yang tersenyum padanya membuat wajahnya menjadi sedatar mungkin.
"Suster akan membantu melepas Perban di seluruh tubuh anda, tapi untuk sekarang anda bisa menjawab pertanyaan saya!"
"Baiklah!"
Dokter Bedah Pintolen mengambil kertas disampingnya dengan Asisten pribadi pria berkacamata itu lansung mencatat apa saja jawaban dari pertanyaan ini.
"Apa anda merasa panas di kulit atau wajah?"
"Hm, Tidak! tapi hanya sedikit perih dan nyeri!"
"Itu biasa, Nona! anda sekarang harus lebih bisa menjaga Kesehatan untuk Kulit, jangan makan yang berlemak dan usahakan anda selalu beraktifitas berolahraga ringan yang membuat tulang anda Rileks!"
"Apa aku bisa berjalan?"
Prof. Jayenley memeggang kakinya dengan penuh perhitungan lalu menatap wajah cantiknya yang membuat mereka semua kagum, seakan Pahlawan wanita di Kota Wuton ini kembali hidup.
"Anda bisa berjalan, gerakan kecil itu perlu dilakukan, cobalah untuk melenturkan sedikit tubuh anda dan jangan menggosok kulit anda terlalu kasar dalam beberspa hari ini, usahakan aggar anda tak terlalu keras beraktifitas!"
"Baiklah, mana Cerminnya?"
"Lihatlah, Nona!"
Deggg..
Ia terkejut saat melihat pahatan yang terpapar dipermukaan cermin itu, wajah kosong itu membuat mereka geli karna ia benar-benar merasa berbeda, bentuk pahatan ini sangat terkesan menggoda.
"A..Aku..!"
"Itu adalah Sosok Wanita yang berjasa bagi Kota ini, Nona! kami ingin anda mengemban nama dan Visual yang sama seperti Panutan kami Nona Lucister!"
"Ta..Tapi ini, aku..kenapa wajahku jadi seperti wanita Tulen begini?"
Mereka saling pandang menghela nafas berat, ini titahan Asli dari Kingnya karna Alen tak ingin berwajah sama seperti dulu dan ingin merubah diri, mereka memilih Nona Lucister yang menjadi kebanggaan atas Ke Feminimannya di Kota ini.
"Anda sudah dilatih untuk menjadi Wanita yang sesungguhnya! ini Perintah King, anda tak bisa membantah, Nona!"
__ADS_1
Alen terdiam sesaat, jika ia amati dengan baik wajah ini bisa bermain peran, jika dibuat sedatar mungkin maka akan bisa mengecoh banyak orang, tapi ia juga bisa menjadi ramah dan sangat manis.
"Hm, tak apa! apa Kartu Identitasku sudah ada?"
"Sudah, Nona! nama anda Alen Lucister Dente, anda akan menggantikan Identitas Nona besar di Kota ini!"
Alen terdiam sejenak, ia menghela nafas berat menatap bentuk wajahnya ini, ia pasrah jika memang ini yang harus ia lakukan, lagi pula ia takut jika nanti keluar dari kota ini ia akan melihat Pria itu bersama Istri dan anaknya, Alen tak bisa menatapnya jika harus mengenang masa lalu.
"Hm, Mungkin ini yang terbaik!"
Gumam Alen menunduk, rasanya masih saja belum bisa melupakan pria itu, setiap ia memejamkan mata maka akan ada kilasan wajah yang benar-benar nyata seakan jiwanya sudah diikat oleh Kenangan manis yang lalu, ia ingin melepasnya namun tak bisa, rasanya sangat sulit bahkan tak bisa ia jabarkan.
"Mulai sekarang, anda tak bisa bersikap se'enaknya! Semua warga kota menganggap anda panutan jati diri Wanita, apalagi anda sudah 1 Tahun berbaur dimasyarakat yang sangat menerima keada'an anda, Nona!"
"Hm, aku akan berusaha menjaga nama baik, Kota ini!"
"Terimakasih!"
Mereka membungkuk hormat karna mengingat Lord Devil yang ternyata ada hubungannya dengan Wanita ini, mereka selalu dibuat kaget karna Persebaran kekuasaan pria itu seakan menghapit kota ini.
"Nona!!!"
Brakk..
Mereka terkejut saat seorang wanita berpakaian Dress selutut dengan rambut di kuncir itu masuk dan menambrak pintu dengan kasar.
"Kenapa Olivia?"
"No..Nona kecil!!"
Alen lansung terlonjak kaget dan menyibak selimutnya kasar menatap Olivia pengasuh putrinya itu dengan penuh kekhawatiran.
"Apa yang terjadi?"
"Nona kecil hilang!"
Duarrr..
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..