
Satu Perusahaan itu riuh saat kedatangan Presedir kebangaan itu dengan Nona Lucister yang merupakan Seorang wanita yang cukup berpengaruh dan tak main-main dalan urusan Fashion dan Style, semuanya tampak Perfack tak ada cela satu pun untuk mencela menghardik rupa.
"Selamat datang, Presedir!!"
Nareus hanya diam seraya melangkah mendahului Alen yang tadi tak ingin membuat heboh dengan Nareus yang menggendong Putrinya, lebih baik ia berdiam dengan kedatangannya sendiri meski mereka satu mobil.
"Selamat datang, Nona!"
"Iya!"
Jawab Alen ramah seraya melangkah dengan sangat pasti dan Elegan kedalam sana, tak ada rasa kaku memakai Outfit wanita ini bahkan ia sangat luar biasa siang ini.
"Bawa putriku bermain sebentar!"
"Baik, Nona!"
Olivia mengambil alih Baby Zilla yang menurut karna Dasi Nareus sudah ada ditangannya, si kecil itu tak pernah ingin lepas dari barang atau suatu hal yang berbau Dadynya.
Melihat sang anak yang bahagia, Alen pun memberi senyum cantiknya menoleh kilas pada Baby Zilla dan ia segera masuk dalam ruang Meeting yang tak jauh dari lantai penyambut tamu tempat ini.
Ceklekk..
Pintu itu di buka oleh Sekertaris Tuan Dayle yang menyambut Alen dengan ramah, wanita itu mengarahkan Alen untuk masuk menemui para Manusia yang sudah menunggu sedari tadi.
"Maaf, saya terlambat, Tuan!"
Pria dengan rambut sedikit Klimis serta kumis tipis di atas bibirnya itu seketika tertegun menatap penuh makna Alen yang berdiri dengan berpose sangatlah memukau seakan ia adalah Objek pemandangan yang indah disini.
"Ehmm!"
Tuan Dayle lansung tersadar akan deheman Sekertarisnya Loly hingga ia berusaha Rileks kembali ditengah tatapan aneh semua orang.
"Nona Lucister!"
"Maaf kalau saya terlambat!"
"Ouh, Tidak Nona! kami baru saja ingin mulai, benarkan?"
Tuan Harned mengangguk bersama Nonya Vintason yang juga mengaku kagum akan wanita bergaya Khas ini. namun tidak dengan Nareus yang mengeraskan wajahnya menatap Alen yang masih memakai kacamata, ia tak suka dengan tatapan memuja semua orang disini pada Alen, ada rasa panas yang membakar dadanya.
"Bisa kita mulai?"
"Baik, Presedir!"
Tuan Dayle yang tampak masih muda kisaran umur yang sama dengan Nareus itu lansung membuka kursi disampingnya namun Asisten Buron sudah lebih dulu membuka kursi disamping Lordnya membuat mereka saping pandang bingung dengan Alen yang menelan ludahnya kasar menatap wajah kelam Nareus yang seakan menekannya untuk duduk di sampingnya.
"A..Aku duduk disini saja!"
Alen terpaksa harus mendudukan bokong sexsinya ke kursi disamping Nareus yang tetap setia dengan wajah datar itu tanpa berminat menoleh kearah Alen yang geram dengan tingkah Arogan pria ini.
"Em, Nona! bisa lepas kacamatanya?"
"Ka..Kacamata?"
"Iya, karna disini tak ada Radiasi sama sekali!"
Suara Tuan Dayle terkesan ramah dan sangat sopan pada Alen yang dilanda kegugupan, bagaimana bisa ia melepas kacamatanya didekat Nareus yang mulai curiga karna Alen sedari tadi sangat tak ingin menunjukan matanya.
"Maaf, Tuan! tapi saya sekarang sedang tak enak badan dan saya takut malah merusak suasana!"
"Ouhh, baiklah-baiklah! kami mengerti anda bisa memakainya, Nona!"
Ucap Tuan Dayle yang memang tak ingin membuat Alen tak nyaman, ia memulai perbincangan serius tentang pemilihan pemotretan dari Fashion dari Shanaya Bostuque, wajah mereka sangat serius tapi lebih ke menatap Alen dengan penuh damba dan liar karna Pakaian dan lekukan tubuh wanita itu tampak Sexsi untuk menghibur mata.
Membuat Nareus semangkin sulit mengontrol dirinya ditengah rasa panas yang membakar kuat, rasa tak suka itu terus memenuhi tatapannya yang seakan menelan mereka semua.
"Jadi, Nona! anda harus menyeleksi pakaian yang akan di gunakan, saya akan membantu!"
"Kau beralih Profesi?"
Glek..
Mereka menelan ludahnya berat saat intonasi suara Bass Nareus yang seakan menguarkan aura yang begitu dingin membuat mereka menunduk diam.
"Tak apa, saya suka jika anda ikut membantu, Tuan Dayle!"
Nareus lansung mengetatkan rahangnya mendengar ucapan Alen yang seakan membuka diri, kepalan tangannya menguat melihat Tuan Dayle yang terlihat sangat gembira dan begitu ingin mendekati wanita ini.
Alen hanya diam, sejujurnya ia hanya ingin menghindari Nareus saja, ia tak ingin perasaannya terus tak terkontrol saat bersama pria ini, apalagi kejadian di Mobil tadi sudah sangat membuatnya malu dan gugup.
"A..Anda serius, Nona?"
"Hm, kau boleh membantuku! itu tak masalah!"
Tuan Dayle mengangguk senang, ia mulai memberikan beberapa kertas Desain dan foto-foto Model yang akan berperan, Alen melihatnya dengan intens seakan ia memang paham semua ini.
"Apa ini Cocok?"
Tuan Dayle mendekati Alen yang menggeser kursinya berdempet dengan pria itu, bahkan pipi mereka nyaris bersentuhan membuat Nareus sudah meledak-ledak ditempatnya mencengkram kuat foto-foto dihadapannya hingga remuk begitu saja.
__ADS_1
"Presedir ingin bicara dengan, Nona Lucister! silahkan kalian keluar!"
Degg..
"A..Apa?"
Tanya Alen terkejut bukan main bersama Manusia yang lainnya, 4 Pengusaha yang lain hanya bisa diam dan menurut melangkah keluar sana setelah memberi salam sopan pada Nareus yang hanya diam menatap lurus dengan sangat angkuh dan wajah yang mengeras.
Tapi Tuan Dayle masih belum ngeh, ia tak tahu kenapa Presedir ini malah meminta untuk bicara berdua dengan Nona Lucister, sungguh ia tak rela.
"Kau tak dengar, Tuan?"
Tekan Asisten Buron membuat Tuan Dayle mengangguk menatap Alen yang sungguh takut tak berani menatap Nareus.
"Kau disini saja!"
"Tak apa, Nona! saya menunggu anda di luar!"
Alen mengangguk membiarkan Tuan Dayle pergi meninggalkannya dengan Nareus yang sudah menjelma selayaknya iblis berdarah dingin yang mengobarkan aura kekelaman yang begitu membekukan persendiannya.
Asisten Buron melangkah pergi membiarkan Tuannya melakukan apa yang ingin dilakukan, meski ia sudah tahu apa yang akan terjadi didalam ruangan ini.
"Pre..Presedir!"
Lirih Alen terbata-bata saat Nareus berdiri menatapnya dengan nyalang dan sangat beramarah, ia mencengkram peggangan kurisnya kuat seraya mata yang tak bisa mencari arah untuk bersembunyi.
"Kau suka?"
"A..Aku! ..Aku tak mengerti!"
Nareus tetap melangkah pelan mendekati Alen yang ingin menjerit lepas, ia ingin pergi tapi pintu sudah dikunci, bahkan tak ada ruang untuknya menoleh kemanapun.
"Kau suka diperhatikan olehnya?"
"Pre..Presedir!"
Nareus mengungkung tubuh Alen kekedua lengannya diatas kursi sana seraya tubuh yang membungkuk menatap Alen tajam membuat wanita itu semangkin bergetar tak karuan.
Bahkan nafas keduanya saling bersentuhan mengikis jarak diantara mereka, Alen yang terkunci dengan kungkungan ini hanya bisa diam menunggu apa yang akan Nareus lakukan padanya,
"Kau suka dia melakukan ini?"
"Auh, Presedir!"
Gumam Alen melenguh kecil saat bibir Nareus mencumbu bagian lehernya yang terlihat jelas dan terpampang nyata membuat ia selalu terbakar saat semua pria menatapnya ganas.
"Kau suka, hm?"
"Kau suka mereka menyentuh ini?"
"Presedir!!"
Pekik Alen tertahan saat dadanya malah diremas Nareus kuat membuat ia gelisah dan merasa sudah hilang kendali kalau begini terlalu lama, apalagi deru nafas Nareus mulai berat seakan terpancing akan gejolak hasrat tubuhnya.
Srett,,
Alen terpekik saat Mantelnya ditarik paksa Nareus yang sudah tak tahan dengan amarah, kekesalan rasa geram dan cemburu ini, ia sudah kehilangan akal sehatnya seakan ia sedang bersama istrinya seorang.
"Kau miliku!"
Degg,,
"Pre...Presedir!"
Cup..
Nareus menyambar bibir ranum itu liar membuat Alen memberontak memukul dada bidang Nareus dengan kuat namun pria ini lansung mengunci tangannya kebelakang seraya menghapit tubuhnya ke punggung kursi sana.
Bibir Nareus lansung menyergap ganas, lidahnya seakan haus mencari persatuan benda kenyal itu dengan Alen yang berusaha tak membuka mulutnya, namun sayang seperti biasa Nareus selalu bisa membuat ia lemah hingga meloloskan lidahnya menyambut pergumukan panas pria ini.
Bibir Nareus melahap habis bahkan decapan kuat dari hisapan itu seakan menelan semua rasa manis dan madu ini, ia sangat lapar dan kehausan seakan melepas dahaga yang tak kunjung terpenuhi selama ini.
"Aumm!"
Alen melenguh pelan karna merasa iapun sangat merindukan ini, entah kesadarannya yang mulai menghilang lidahnya mulai membalas bahkan tak bisa dipungkiri kerinduan itu menyatu dari bibir yang mendecap erotis.
Perlahan, Nareus mengangkat tubuh Alen ringan dengan kalungan lengan wanita itu keleher kokohnya, dengan bibir yang masih menyatu serta kacamata Alen yang sudah lepas entah kemana membuat Nareus mencari cela untuk melihat netra wanita ini.
"Akhh!"
Satu ******* itu lolos dengan Alen yang memejamkan matanya menikmati cumbuan bibir pria ini ke leher dan dadanya, tangan Alen masih mencengkram tengkuk Nareus lembut karna tak sanggup membangun benteng terlalu lama.
"Aku sangat merindukanmu, Sayang!"
Lirih Nareus membenamkan wajahnya ke belahan dada sintal itu seakan ia menemukan sosok Alen yang kuat didalam diri wanita ini, Alen tak tahu apapun, ia seakan terbuai dalam mimpi nyata yang tak kunjung membangunkannya.
"Ahuss, Reus!"
"Yeas, Baby!"
__ADS_1
Serak Nareus menjelajahi setiap kulit mulus ini dengan lidah basahnya yang membuat tubuh Alen bergetar tak karuan dengan kepala yang terkadah nikmat.
Ouhh Shitt, aku juga merindukanmu, Reus. bahkan sangat, Sayang!
Jeritan batin Alen memberontak, ia tak sadar lagi akan apa yang dilakukan karna ia menganggap ini hanyalah mimpi yang nyata ditubuhnya.
Alen terus melenguh dengan setiap cumbuan bibir itu, ia membiarkan Nareus menjelajahi setiap lekuk tubuhnya hingga iapun tak tahu kalau pakaiannya sudah tergorok kebawah sana membuat Nareus semangkin memburu menatap panas tubuh mulus ini.
"Reus!!!"
Pekik Alen mencengkram pinggir meja ini saat lidah pria itu sudah berlabuh ke lembah kenikmatan sana membuat ia melenting hebat merasa sangat terbang dan lepas.
Setiap pergumulan dibawah sana membuat Alen mengeluarkan suara erotis yabg sangat memancing dan sudah jelas wanita ini adalah istrinya seorang, Nareus terus menyergap lapar, rasa manis dari madu yang terus keluar selalu ia tegguk tandas seakan kelaparan memainkan lidahnya yang sangat lihai.
"Emm, Aa..Houss, Re..Reus!"
Nareus melepas hisapannya lalu menatap Alen dengan wajah yang sama-sama merah dan meradang, bahkan tatapan keduanya sangat berat dan mendamba seakan ini adalah pertama kalinya dalam 2 tahun saling melepas dahaga.
"Reus!"
"Alen!"
Untuk sesaat keduanya saling pandang berat dan akhirnya.
Cup..
Alen lansung menyambar bibir Nareus dengan sangat liar dan tentu Nareus juga melayaninya dengan tak kalah berhasrat, keduanya saling mencumbu mesra dan sangat hafal bagian mana yang memuaskan bagi tubuh masing-masing.
"Ouuss, Yah!"
Lirih Nareus saat Alen sudah memberi ciuman Abstrak itu ke lehernya membuat ia meremang duduk diatas kursi sana dengan Alen yang mencumbu tubuhnya dengan sangat bergairah.
"I Like it, Baby Ahs!"
"Give me You'r ****!"
Bisikan nakal itu lansung membuat darah Nareus mendidih panas seakan bergejolak membelah tubuhnya, Alen dengan nyata merasakan kerasnya bagian bawah sana yang menekan bagian intinya, iapun tak kalah untuk memberi sinyal tipis dengan dengan menggesekan bagian intinya yang sudah mengeluarkan Madu bermakna itu.
Alen membuka resleting yang hampir terkoyak karna desakan benda keras didalam sana, ia membelai dengan gemas dan sangat suka dengan benda berurat yang merah menampung hasrat kuat.
"Ouhss, Yah!"
"Kau suka, hm?"
Nareus mengangguk menyandarkan kepalanya ke bahu Alen yang memberinya servis yang luar biasa, Wanita liar diatas ranjangnya itu sudah kembali dan sekarang ia merasakan segalanya.
Alen mengigit bibir bawahnya saat ingin memulai penyatuan, rasanya sangat susah karna mengingat ia melakukan Perawatan sehingga lembah kenikmatan itu masih sempit.
"Ya..Ya.aass, Akhh!"
Keduanya melenguh halus saat pusakan keduanya sudah saling menghisap dibawah sana membuat Alen dan Nareus hilang akal, mereka tak memperdulikan dimana tempat mereka bercinta sekarang.
Alen membuat Nareus selalu mengerang dengan nafas yang memburu, ia pun juga tak bisa melepas Pria ini karna Nareus juga memberikan kepuasan yang diluar batas padanya, bayangkan saja sudah 2 Tahun mereka berpisah tak ada pelampiasan batin sama sekali.
Hasrat itu di keluarkan lepas dengan berbagai kerinduan yang meruak, sama-sama saling mendamba tak ingin jauh dan tak mungkin lelah dan berhenti melakukan ini.
"Aouss, Aku..Aku mencintaimu, Sayang!"
"Emm, Yeah!"
Erangan keduanya membelah batin yang bertemu saling menggenggam penuh cinta, Alen masih belum sadar kalau ia sudah jatuh dalam pesona dan kurungan Nareus yang menghisap semua rasa aneh didalam dirinya.
,...........
Brakk..
Barang-Barang yang berjatuhan dari perputaran manusia yang mencoba menangkap si kecil yang sedang mengejar kucing yang berlari ke Perusahaan ini, ia terus merangkak liar kebawah-bawah meja Kariawan sana membuat mereka kelagapan menangkapnya.
"Tangkap Kucingnya!!!"
"Baik!"
Mereka lansung berlari mencari kucing keabuan yang menjadi incaran si kecil ini, Olivia sudah tampak lelah mengejar hewan itu dengan Baby Zilla yang tercengir melihat semua orang berlarian hanya untuk mengejar kucing itu.
"Kemana kau, hm?"
"Ouhh!"
Brak..
Nereka terjatuh bersamaan karna tak bisa mengontrol Heels para Kariawan wanita yang berlarian, begitu juga Staf lain yang sibuk menangkap hewan liar itu.
"Habislah!!"
Gumma Olivia terduduk lemas melihat Perusahaan ini sudah hancur dan berantakan dengan barang-barang dan para pekerja yang Absuard mengikuti permainan si nakal itu, pasti Nonanya akan marah besar nanti.
....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1