Memikat Cinta Nona Arogan

Memikat Cinta Nona Arogan
Menyamar!!


__ADS_3

Kaki wanita itu menapaki kokoh Tembok beton yang lansung mengelilingi Kediaman megah Moureen yang di kelilingi banyak Penjaga'an yang ketat dari Anggota luar Nareus yang siap menerjang mara bahaya.


"Kak! kau bisa jatuh nanti!"


Ucap Alicia tanpa suara dari Balkon kamarnya pada Alen yang menatapnya penuh kesal karna meraggukan kemampuannya.


"Cihh, kau pikir aku sehari dua hari Memanjat begini!"


Ketus Alen lalu berbinar menatap Tukang Kurir Paket yang mulai terlihat dari kejahuan dengan Alen yang lansung meloncat dari Beton tinggi ini keluar sana tanpa deritan sama sekali, wanita itu tak menyadari ada Sepasang mata yang memperhatikan gerak-geriknya dari jauh dengan wajah yang jengkel tapi juga salut akan Kegesitan Alen yang terlatih.


"Heyy!!"


Citttt..


Tukang Kurir Paket itu seketika mengerem mendadak saat Alen sudah ada tepat di tepi jalannya sana tanpa memberi tahu bahkan terduga sama sekali.


"Sorry! tapi anda siapa?"


Pria berpakaian Aplikasi yang ada itu mendekati Alen yang mengeluarkan uangnya, dengan nama yang tertera di kertas ditangannya.


"Ini Alamatmu kan?"


"Iya Mis!"


"Ini!"


Alen memberikan uang itu lalu mengambil sendiri kotak paket ditas pria itu dengan tebakan yang pasti itu miliknya.


"Nona, kenapa tak pakai Elektronik Apk saya? jadi anda tak perlu repot bertemu dengan kurir lansung, hanya tunggu didepan rumah!"


"Tidak ada, hanya ingin berolahraga!"


Ucap Alen lalu kembali meloncat keatas Gedung setinggi 4 meter itu dengan satu lompatan yang sangat tepat hingga menghilang dibalik sana membuat Kurir itu terbengong kosong menatap Gerbang besar di ujung sana dan Tembok di sampingnya.


"Apa sekarang Tren gaya mempersulit diri?"


Gumam Pria berusia 30 Tahunan itu lalu menggeleng memacu Kendaraannya pergi untuk pulang ke Tempat bekerjanya, hanya wanita itu yang memesan secara lansung tanpa Pesanan Mudah dari Via Apk yang ada.


Seharusnya kan Gerbang itu tempat masuk dan keluar, tapi di Kediaman besar itu memanfaatkan Tembok untuk alat Lalu lintas.


Berbeda dengan sang kurir yang kebingungan, Alen yang sudah memanjat keatas Balkon kamar Alicia terlihat berbinar menatap Kotak Ponsel dihadapannya dengan Alicia yang takut jika Kakaknya malah tahu semuanya.


"Kak, kita bisa terkena amukan Kak Nareus!"


"Cihh, dia tak akan tahu! lagi pula ini hanya uangku!"


Alen mengambil pisau buah didalam sana dan merobek bungkusan rapi itu dengan sangat kasar dan tergesa-gesa hingga tangannya pun tak bisa di duga merobek bagian manapun.


"Yeahh! Aku mendapatkanmu!"


"Kak, kita bilang sama Kak Nareus, ya?"


Alen menghela nafas berat menatap Alicia yang terlihat bungkam dengan mata tajam Alen yang menusuk, ia sungguh tak berani berbuat ketus di tempat ini tak sama dengan Kediaman Umi Aisyah.


"Aku yang tanggung, kalau dia marah pun tak akan mungkin melibatkanmu, tenanglah!"


"Tapi..!"


"Alicia!"


Alen menggenggam lembut tangan Alicia seraya meletakan satu Ponsel yang sama dengannya ketangan gadis itu membuat Alicai terkejut melihat IPhon Pro Mexs yang selama ini ia ingin membelinya namun selalu tak boleh oleh Momy Carolin karna menagnggap Alicia belum cukup umur memiliki barang yang bebas seperti itu.


"I..Ini!"


"Hm! Untukmu!"


"Kak! Yang benar saja!!"


Pekik Alicia masih saja tak percaya, ia sangat ingin memiliki benda ini karna bisa melakukan apapun termasuk belajar beladiri karna tak ada yang mau mengajarinya.


"Hm, Ambil! aku beli dua, lagi pula uangku tak muat di Kartu!"


Canda Alen menepuk pipi Alicia yang terlihat berbinar memeluk Alen yang juga memeluknya hangat, ia mengerti kalau gadis berumur belasan tahun ini masih labil, tapi ia percaya Alicia bisa membawa pengaruh baik bagi keluarga ini.


"Pergunakan dengan baik, Mereka tak memberimu ini karna takut Atitude mu terganggu karna pergaulan Dunia, apalagi kau seorang Muslim, kan?"


Alicia mengangguk seraya mengecup pipi Alen yang menggeram menghapus sisa kecupan itu di pipinya.


"Kau!!"


"Kak, kau sering di Cium, Kak Reus?"


"Tidak! mana ada?"


"Tapi kenapa setiap pagi lehermu begitu?"


Degg..


Alen lansung memeggang leher sampingnya dengan wajah yang pucat pasih, mata Alicia jadi ternoda karna bekas Kismark dari Pria tak berakal sehat itu.


"I..ini hanya semut! yah semut!"

__ADS_1


"Benarkah?"


Tatapan Alicia menyelidik semangkin meneliti bekas itu membuat Alen lansung melangkah keluar kamar ini.


"Aku pergi!! jaga diri baik-baik!!"


Alicia hanya terkekeh tersenyum menatap tingkah Kakak Iparnya yang begitu aneh dan berbeda dengan yang lain. banyak wanita yang memperlakukannya secara Spesial karna menginginkan Sang Kakak namun Alen malah memperlakukannya sebagai teman, tak segan untuk memarahi dan berlaku kasar sesuai sifat asli.


Melihat wajah Alicia yang berbinar senang membuat Nareus yang ada di dekat taman sana menghangat, kapan lagi ia bisa melihat wajah cantik dan manis sang adik yang selama ini berdiam tanpa ingin bercerita itu tampak lepas karna satu alasan.


"Lord! Nona pergi lewat jalan belakang!*


Nareus lansung tersigap dan memakai Jaket serta Maskernya, ia berlari melompati Tembok sana untuk mengikuti Alen dengan cepat memotong jalan pintas.


Bugh..


Nareus lansung meloncat naik keatas Mobil terbuka Asisten Buron yang lansung memutar kemudi menyonsong Alen yang pergi dengan Taxi yang direkrutnya khusus.


"Shitt, dia liar sekali!"


Umpat Nareus merasa wanita itu tak bisa diacuhkan sebentar saja maka akan cepat hilang dan berkeliaran sesuka hati.


"Kemana Tujuan Mobilnya?"


"Pantai Berts Weet, Tuan!"


Asisten Buron dengan cepat memacu mobilnya ditengah keramaian yang tak mengenali mereka karna memakai Masker dengan Nareus yang melihat jam tangannya.


"Jangan pulang sebelum pukul 5 Sore!"


"Baik, Tuan!"


Tadi Grandma tetap memintanya untuk menemani ke tempat Dance Agensi ditengah kota, kalau ia pulang sekarang maka ia akan dipaksa bertemu lagi dengan dua Mahluk menjijikan itu.


Namun, seketika dahi Nareus mengkerut melihat Taxi yang berhenti didekat jalan yang begitu ramai, entah apa yang terjadi dengan mobil itu.


"Itu karna Smith membocorkan olinya, Tuan!"


Nareus terlihat tersenyum misterius mendengar itu lalu memakai Topi, Saputangan dan juga Jaketnya seraya Mobil baru seperti Taxsi yang dibawah Smith dari arah belakang sana.


"Lord, ini Mobilnya!"


Nareus mengangguk lalu keluar untuk memasuki Mobil Hitam satu ini dengan Smith dan Asisten Buron yang tak menyangka Lord mereka akan nekat menjelma menjadi supir.


"Kau Keperusahaan, dan tunggu kabar dariku!"


"Baik!"


Brummm..


"Hey! kau niat atau tidak mengantarku?"


"Ma-Maaf, Mis! tapi Mobil saja kebocoran Oli!"


Bughh..


Alen membanting Pintu mobil keras setelah turun dengan wajah panasnya tanpa menghiraukan para warga asing yang menatapnya aneh.


"Ini sudah sangat siang, mana mungkin Step masih menungguku!"


"Kalau begitu saya carikan Taxsi saja, Mis?"


"Mana? kau jangan hanya bicara!! tanggung jawab!!"


Pria tua itu lansung keluar dari mobil seraya celingukan menatap sekelilingnya, suasana disini mendung dengan sejuk alami dari angin yang membelai membuat pakaian para Warga Perancis menjadi sedikit tebal.


"Aaa Taxsi!!"


Mobil hitam pekat dengan BM yang selayaknya biasa itu berhenti dengan Nareus yang merapatkan Jaketnya.


"Hm?"


"Tuan, bisa bantu Mis ini untuk pergi ke tempat Tujuannya?"


Nareus mengangguk seraya fokus menatap kedepan dengan kaca jendela mobil yang turun menampakan Alen yang mendumel kasar.


"Dia bisa, Mis!"


"Hm! Ini!"


Alen memberikan Uangnya seraya membuka pintu mobil dengan Nareus yang lansung melajukan benda itu seakan membatu tanpa menatap Alen yang begitu gelisah.


"Ini sudah jam 2! kalau dia pulang bagaimana?"


"Cihh! Rela sekali kau keluar hanya untuk menemuinya!"


Batin Nareus mengumpat kesal seraya mempercepat laju Mobil ini membuat dahi Alen mengkerut.


"hey! kau mau mati?"


"Hm!"

__ADS_1


"Cihh! lebih cepat, ini terla..!"


Brummm..


Alen terhuyung kesamping membentur bahu Nareus yang semangkin memacu Mobil kencang bahkan pria ini seperti Pembalap ilegal.


"Kau bisa tidak berkendara, Ha?"


"Hm!"


"Hm, Hm! Kau itu kalau bisu tak..!"


Brummm..


Cup..


Alen membulatkan matanya saat bibirnya malah terhuyung mengecup leher Nareus yang sengaja melonggarkan Pengaman mobil aggar Alen menempel padanya.


"Kau gila!! Mesum!!"


Bugh..


"Rem Blong!"


Alen yang tak fokus dengan suara Nareus yang berubah serak pun seketika terkejut menatap Kemudi yang seakan menjadikan Trouma baginya.


"B..Blong?"


"Hm!"


Alen menelan ludahnya kasar, kalau ada Nareus disini maka pria itu pasti membantunya, ia tak bisa bergerak kalau sudah di kecepatan maksimal begini.


"MI..Mis! Blong. Remnya Blong!!"


Alen bertambah pucat refleks berpeggangkan ke lengan Nareus yang menyeringai licik melihat wajah pucat wanita ini, ia tahu semenjak kejadian Mobil sering hilang kendali dulu, Alen jadi Trouma sendiri.


"Ayo panggil namaku, Baby!"


Batin Nareus yang ingin Alen memanggil namanya dengan keadaan yang mendesak, ia semangkin memperkuat laju mobil membuat Alen terbayang kejdaian saat itu.


"Sto..Stop!!"


"Blong!! Blong remnya Blo..!"


"Reus!! Reusss!!"


Namun Nareus tak menghentikan mobilnya dan terus melaju kencang diikuti suara angin yang terbelah dengan gertakan Aspal yang nyaring membuat Alen menjadi pusing.


"Na..Nareus!"


Bugh..


Alen jatuh pingsan kepelukan Nareus yang lansung membuka tangannya membelit tubuh ramping ini lalu memutar Kemudi menuju arah arus balik dengan lihainya tangan yang bergerak lincah.


Brummm..


Semua orang yang melihat aksi memutar dari Nareus itu terkagum dan bertepuk tangan hingga Mobil itu lenyap ke ujung jalan sana.


"Kau urus Grandma Zamlya!"


"Baik, Lord!"


Nareus berbicara pada Smith yang lansung melesat menuju Kediaman Moureen, ia yakin wanita tua itu sudah bersiap sedari tadi.


............


"Mom!!"


Rhose yang memekik kuat mengejutkan Momy Jennifer yang tadi melamunkan sesuatu di Ruang bersantai ini membuat wanita itu terkejut.


"Kenapa, Rhose?"


"Mom, momy kenapa melamun? aku heran melihatnya!"


Momy Jennifer menghela nafas berat, ia sedang memikirkan suatu rencana yang bisa saja menghancurkan Dua kehidupan sesuai yang diinginkan Grandma Zamlya.


"Kau tahu, Dady Reusmu itu juga Tampan!"


Rhose membulatkan matanya menatap tajam Momy Jennifer yang menaikan bahu acuh seraya menegguk minuman dingin ditangannya.


"Mom, Aku dan Nareus yang menikah! Bukan momy!"


"Sayang! kau harus bisa mengkait 2 ikan dalam satu pancingan!"


"Maa..Maksudnya?"


Tanya Rhose tak mengerti, ia saja belum punya rencana untuk memisahkan dua Manusia keras kepala itu lalu bagaimana bisa ia menghadapi rencana lain.


Melihat putrinya yang Linglung Momy Jennifer tersenyum lucik, ia juga Menyukai Dady Albert, Si Pria paruh baya yang masih tampak tanpak dan gagah, lagi pula ia sudah lama menjanda hingga Kemauannya terkubur dalam.


.......

__ADS_1


Vote and Like sayang..


__ADS_2