
Pandangan pria itu terlihat aneh menatap deretan-deretan foto di Ponselnya, hela'an nafas berat itu selalu terhembus seakan dadanya sekarang digeluti rasa yang sangat aneh dan juga berat.
Apa aku harus menghapusnya? tapi bolehkah aku menyimpan foto ini meski hanya satu?
Batin Stephen yang memikirkan tentang rumah tangganya bersama Fanya, wanita itu ingin bercerai dengannya namun Stephen tak rela, ia mencintai Fanya meski ia juga sangat mencintai Alen, bertahun-tahun berlalu namun rasa ini masih menyengkang dadanya.
"Kau ceraikan saja aku!"
"Aku hanya tak bisa melupakan dia!"
Fanya menghela nafas berat, mencoba menormalkan hatinya, ia sudah lelah seperti ini, biarkan semuanya pergi hingga ia tahu siapa yang benar-benar ingin menggenggam tangannya didalam kegelapan.
"Dia sudah menikah, bukan?"
"Aku tak berniat merebutnya karna dia sudah jatuh pada orang yang tepat! tapi aku tak bisa melupakannya, Sayang!"
Fanya hanya memberikan senyuman ringan itu, ia tak ingin kembali berharap jika akhirnya ia hanya akan mendapat luka dan luka yang berketerusan.
"Maka jadikan saja dia penghias hidupmu! jika kau bahagia melihatnya bahagia, aku rasa itu sudah cukup tanpa harus memiliki!"
"Hm! Maaf kalau aku menyakitimu!"
Fanya hanya mengangguk menepuk punggung Stephen lembut lalu ingin berlalu pergi namun tangannya dicengkal Stephen yang tak suka dengan sikap acuh wanita ini.
"Mau kemana?"
"Keluar, disini sedikit panas!"
"Kenapa kau tak cemburu?"
Fanya menautkan alisnya menatap Stephen yang terlihat menantikan jawaban darinya, apa pria ini benar-benar buta? Step, kau tak lihat betapa besar luka ini, dan kau masih bicara begitu padaku?
"Aku sudah tak punya siapapun! Putriku pergi, Keluargaku hancur, semuanya sudah tak bisa kau harapkan, dan kau..!"
Stephen tercekat diam, ia menarik lembut Fanya kepelukannya merasa ia selama ini terlalu larut dalam Cintanya pada Alen hingga tak bisa melihat Tulusnya seorang Fanya padanya.
"Maafkan aku!"
"Untuk, apa? kau sama sekali tak bersalah, Step! sedari awal akulah yang membuat hidupku hancur!"
"Memangnya kenapa?"
Fanya tersenyum miris, masa lalunya sangatlah kelam untuk diceritakan, ia wanita hina yang mencoba kembali merubah nasip yang sudah gelap dan kotor.
"Aku mencoba merebut Mister President dari istrinya!"
Degg..
Stephen seketika terlonjak kaget mendengar ucapan Fanya yang benar-benar tak masuk akal, kekehan kecil itu muncul membuat Fanya hanya diam mempertahankan wajah mirisnya.
"Kau jangan bercanda, Sayang! Mister President Mark dan Mrs Shena itu sangat sempurna, apalagi Pria itu sangat mencintai istrinya!"
"Hm, bukankah aku bodoh hingga melakukan hal yang sudah jelas membuatku hancur?"
Stephen terdiam sesaat mencerna ucapan Fanya, ia tercekat saat menduga kalau wanita ini benar-benar serius mengatakan itu.
"Sa..Sayang!"
"Banyak keburukan yang ku lakukan! wanita tak tahu diri, bahkan kau tahu aku malah membuat hidup sepupuku sendiri hancur, dan sekarang mereka membenciku!"
"Sepupu?"
"Hm! Mrs Shena adalah sepupuku!"
Stephen semangkit terperanjat kaget, selama ini ia hanya menikahi Fanya karna saat itu Adiknya mengalami kecelakaan dan memintanya mencari dan menikahi wanita ini, tapi ia tak tahu keluarga Fanya yang mana.
"Ka..Kau..!"
"Hm, aku cucunya Eyang Putri dan aku, Anjani, Shena adalah sepupu! kami tumbuh bersama tapi aku dan Anjani lebih menjadi bajingan!"
"Kau keren sayang!"
__ADS_1
"Ha?"
Pekik Fanya terlonjak kaget dengan ucapan Stephen yang membuat ia jijik, pria ini memang sudah hikang akal mengatakan kalau perbuatannya itu Keren.
"Kau sakit?"
"Tidak, aku serius! Siapa yang berani menganggu kehidupan rumah tangga Mister President dan Mrs Shena sampai sedalam itu, dan kau orang pertama yang bisa dikatakan sebagai Biang keladi!"
"Itu sama sekali tak Keren!"
Ketus Fanya pada Stephen yang terkekeh geli, ia hanya memandang Fanya dari segi yang berbeda, yang penting wanita ini sudah berubah tak perduli sekelam apa masa lalunya.
....................
Pandangan pria itu lansung menghunus sesosok wanita yang tadi ngelotot untuk melanjutkan pekerjaannya, ia sudah menekan untuk tak bekerja tapi wanita ini tetap kekeh membuat ia selalu memantau bak burung Elang yang kelaparan.
"Saya rasa Gaun ini cocok dipakai oleh, Mrs Kemarui?"
Tuan Dayle yang menatap Alen lembut dan penuh puja, bagaimana tidak? Penampilan Alen dengan Dress Simpel tanpa lengan itu dikolaborasikan dengan Syal Brown yang menamba kesan Casual dan Feminim, Boots yang ia pakai juga menambah tinggi kaki jenjangnya yang tampak sempurna.
"Hm, Yah! tapi aku minta jangan menambah Riasan yang menonjolkan rahangnya, coba kau beri kesan polos pada matanya!"
"Baik, Nona!"
Jawab Team Make-up Artis yang tampak Stand-Bay didekat tempat pemotretan pakaian ini dengan Alen yang sedari tadi berdekatan dengan Tuan Dayle yang tampak sangat bersemangat, sesekali keduanya terkekeh menebar bara api dari seorang pria yang sudah naik darah di sudut kamera sana.
"Berani sekali dia melakukan ini!"
"Apa saya harus memanggil Nyonya, Tuan?"
"Tidak usah!"
Asisten Buron mengangguk, ia hanya diam menyaksikan Nyonyanya yang asik bercanda tawa tanpa memperdulikan sang Lord yang sudah kepalang meledak, bahkan aura ditempat Pemotretan ini menjadi dingin membuat para Manusia dan Kru diruangan itu merasa tak nyaman dan takut.
"Kenapa Presedir harus kesini? diakan tak adalagi urusan disini!"
"Sutt! dia menatapmu!"
"Apa masih lama?"
"Memangnya kenapa Presedir?"
Nareus menatap Alen yang pura-pura tak mengerti, ia asik bicara dengan Model yang akan bergaya hari ini, setidaknya ia bisa membalas perlakuan pria ini padanya.
"Dia juga terkontrak di Perusahaanku!"
"Tapi ini juga kerja sama besar dengan Mrs Shena, anda tahu betul kalau hanya Nona Lucister yang diutus, Mister President!"
Nareus hanya diam menatap tajam Alen yang tetap melakukan Perannya sebagai Nona Lucister, ia tak ingin semua orang disini menjadikannya gunjingan hanya karna kedekatannya dengan Nareus.
"Memangnya kenapa Presedir? maaf, Jadwal saya sangat padat! anda mohon menunggu!"
Nareus semangkin dibuat jengkel dengan logat Alen yang mendayu-dayu membuat Tuan Dayle melamun kosong.
"Lipstikmu berantakan!"
Glek..
Alen lansung tercekat dan lansung memeggangi bibirnya, ia menatap semua orang dengan malu seraya melangkah keluar ruangan menuju kamar Mandi yang terletak didekat lorong sana.
"Shitt! kenapa Olivia tak bilang?"
Umpat Alen disepanjang jalan hingga ia masuk kedalam Toilet sana dengan umpatan kasar itu, namun ia tertegun saat berada didepan cermin besar didekat Wastafel ini, ia meneliti bibirnya dengan Intens dan sesekali memanyun-manyunkannya namun tak ada yang salah dan berantakan, bahkan penampilannya sangat Parfack hari ini.
Seketika ia tersadar saat menduga sesuatu, nafasnya mulai memburu dengan wajah yang geram bukan main.
"NAREUS!!!"
"Apa, hm?"
Nareus yang bersandar diambang pintu sana dengan kedua tangan yang melipat didepan dada bidangnya seraya Pose yang sangat mempesona menatap pantulan wajah Alen dicermin besar itu dengan Mantel yang ia bawa.
__ADS_1
"Lipstikku tak berantakan, Sayang!"
"Benarkah?"
Nareus mendekati Alen yang memperbaiki Syalnya seraya Nareus yang memeluknya dari belakang seraya bertopang dagu ke Bahu mulus Alen yang hanya fokus dengan urusannya. kedua lengan kekarnya membelit lembut pinggang ramping Alen dengan mesra.
"Ternyata istriku sangat cantik, ya?"
"Kau baru tahu, hm? aku memang terlahir ca..Aaaa!!"
Pekik Alen menepuk lengan Nareus yang malah mengigit leher dan bahunya kuat membuat jejak memar Kismark disana, belum lagi tangan pria ini sudah naik menggapai dua gudukan yang sedari tadi membuat ia panas.
"Sayang! ini Toilet,"
"Lalu?"
"Ya jangan begini! nanti ada yang masuk, dan jangan menghisap terlalu kuat, kau meninggalkan jejak itu!"
Gerutu Alen melihat lehernya yang sudah penuh, ia memakai Syal karna menutupi bekas percumbuan mereka semalam, tapi Nareus malah menambahnya disetiap detik dan menit.
"Dan kau pembohong, Lipstikku tak berantakan!"
"Makanya kalau jadi ISTRI seorang PRESEDIR itu jangan KECENTILAN!"
Tekan Nareus ditelinga Alen tanpa memutus tatapan mereka ke kaca sana, Alen hanya mendecah kesal membiarkan Nareus melakukan apa yang pria itu mau pada tubuhnya, walau sesekali ia harus melenguh menahan kegelian atas cumbuan bibir pria ini.
"Sa..Sayang, Se..Semalam sudah, Akh!"
"Pagi ini belum!"
Serak Nareus menggerayai leher dan paha Alen yang mengeliat kegelian namun ia juga tak bisa menolak karna tubuhnya tak munafik, sentuhan keduanya semangkin intens, bahkan Nareus mulai melepas tali pinggang Alen dengan perlahan seraya bibir yang saling menghisap mesra meresapi rasa yang sedang membakar tubuh keduanya.
"Aakhmm!"
Alen meloloskan suara erotis itu seraya satu kaki Nareus angkat ke tempat Wastafel membuat tangan pria itu bebas masuk kesela-sela daleman sang istri.
"Tuan!"
Nareus tak memperdulikan panggilan Asisten Buron yang mengetuk pintu Toilet ini, ia masih sibuk mencumbu tubuh Alen yang sudah merem-melek dengan belain tangan sang suami tampannya ini.
"Tuan!"
"Sa..Sayang, Akhhs! Su..Sudah!"
Alen menahan tangan Nareus yang mulai menggerayai bagian intinya, nafas keduanya sama-sama berat dengan bagian bawah Nareus yang sudah mengeras membengkak menekan bokong Alen yang merasakan denyutan birahi suaminya.
"Siapa tahu itu penting, hm?"
"Shitt!"
Umpat Nareus menarik tangannya dari Daleman Alen yang merapikan penampilannya yang sudah kacau, lipstiknya benar-benar ludes dilahap pria ini hingga ia tampak tak memakai benda itu.
"Tak usah pakai terlalu tebal!"
Sambar Nareus mengambil Lisptik ditangan Alen lalu membuangnya ke Tong sampah seraya memakaikan Mantel dan Syal wanita itu lagi, kali ini ia melapisi tubuh Alen dengan Mantel yang tadi ia bawa.
"Tuan!"
"Masuk!"
Nareus lansung menatap Asisten Buron yang tampak pucat membuat dahinya mengkerut begitu juga Alen yang merasa ada sesuatu yang aneh yang begitu besar dari pancaran raut wajah pria ini.
"Ada apa?"
"Lihat ini, Tuan!"
Nareus lansung mengambil Ponsel Asisten Buron yang menyiarkan sebuah topik yang baru saja meruak pagi ini membuat guncangan Masyarakat yang besar.
Seketika wajah Nareus mengeras dengan cengkramannya yang menguat ke Ponsel Asisten Buron yang membuat layar benda pipih itu retak membuktikan betapa besar amarah itu.
......
__ADS_1
Vote and Like Sayang...