
"Mau kemana, Baby?"
Tuan Adlen yang berjalan sempoyongan mendekati seorang wanita yang ketakutan karna melihat wajah sangar itu, wajahnya sangat mengerikan dengan aroma Alkohol yang kuat.
"Ma..Maaf, jangan dekati saya!"
Bukannya mematuhi, Tuan Adlen malah tertawa terbahak keras seraya menegguk sebotol Alkohol yang sudah menengah akibat tegukannya, wanita itu semangkin beringsut kedekat tumpukan sampah sana, ia sangat takut, bahkan wajahnya sudah sangat pucat pasih.
"Kenapa kau lebih mencintai Pria Bodoh itu? kenapa Carolin?"
Bentakan itu membuat seisi Jalan sepi dengan Gorong kecil bagi Gelandangan seperti wanita ini menggelegar, rintikan gerimis hujan mewarnai suasana gelap yang begitu mencekam.
Hanya remangan lampu dari Toko-Toko kecil yang tertutup dengan Kerlingan suara jangkrik melengking seakan membuat wanita itu ditimpa ketakutan yang kuat.
"Saya.Saya hanya Wanita Pengemis, Tuan hiks! saya..saya mohon jangan lakukan apapun!"
Bughh..
Kepala wanita itu lansung terbentur akibat lemparan dari Botol yang dipeggang Taun Adlen yang sudah kehilangan kesadaran, rasa benci, muak dan amarah itu seakan menelan semua akal sehatnya.
"Ayo, kita buktikan apa aku lebih pantas memilikimu, Sayang!"
"Tidak!!! Tidak jangan lakukan apapun pada Saya!!!"
Wanita dengan tampilan kumu dan rambut acak-acakan itu berlari kedekat jalan, namun sayangnya Tuan Adlen sudah menarik tangannya kuat hingga kembali ketumpukan sampah sana.
"Mau lari kemana, hm?"
"Saya! Saya mohon hiks hiks! anda..anda Tuan Muda terhormat, jangan sakiti saya Tuan!"
Plakkk..
Wanita itu lansung ditampar keras, Adlen tak tahu kalau disana ada sebuah Rekaman CCTV yang melekat kepuing Bangunan yang tak layak pakai untuk memantau jalan, Minuman itu membuat ia kehilangan kendali.
"Ayo, Ikut aku!"
Wanita itu berteriak histeris menolak, namun tubuhnya terus dipukuli hingga dibawa kesebuah Bangunan terbengkalai yang menjadi saksi bisu bagaimana kejamnya pria ini memperlakukannya.
Disetiap kulit yang berbenturan itu, Erangan kuat nama Sang pemilik hati Pria ini terus keluar berselingan dengan Teriakan dan air mata yang membeludak dari Wanita itu.
Saat telah sadar dari Perlakuannya, Tuan Adlen dengan sadis memukuli Wanita gelandangan dengan Tubuh lemas berwarnai pukulan itu hingga ia melihat darah yang mengalir diseluruh tubuhnya.
"Sialnya kau bukan Carolin!"
Gumam Tuan Adlen melangkah pergi, namun bukan sampai disitu saja, ia menyuruh semua Anggotanya membakar tempat itu dan menghilangkan jejak Kriminalnya.
Namun, sayangnya ia baru tahu kalau wanita itu Hamil pada saat laporang sang bawahan, hingga saat Bayi tak berguna itu lahir ia kembali Mencampakan Wanita itu ke Lautan Perancis setelah menyiksanya di Gedung pembakaran yang sama.
Ia membiarkan Bayi itu dikasihani oleh para Gelandangan yang lain hingga ia hanya meninggalkan uang beberapa Juta Dolar sampai Bayi itu Dewasa dan ia akan kembali sebagai ayahnya.
Dari situlah Stephen yang terbentuk dari Lingkungan yang keras mencoba mencari keluarganya, ia mengadopsi sang Adik untuk menemani Kehidupannya.
Flasbackh Of..
......
"Brengsek!!!"
Tuan Adlen lansung meninju meja dihadapannya saat mengenang masa itu, ia mencerna setiap apa yang sudah terjadi dan ia sudah melenyapkan semua Bukti, tapi kenapa Nareus menemukannya dan malah menyebar Rekaman itu kesemua Media membuat Namanya sekarang tercoreng.
"Tidak! Ini Tidak mungkin, Pria itu sangat licik hingga memanfaakan Rekamanku!"
Tuan Adlen berfikir keras, setelah ia bangun Tidur pagi ini, ia berharap tinggi kalau yang dihakimi itu Nareus dan Albert, bukan dirinya, bahkan sekarang keadaan telah berbalik, dan ia kembali membuka Televisi untuk melihat kabar selanjutnya.
"Kenyataan Terungkap dari Panasnya Perseteruan antara Tuan Besar Adlen Hotmartew dan Nareus Oush Moureen, Presedir tampan itu mengguncang Jagat maya karna Bukti dari Kejahatan yang sebenarnya dilakukan oleh sang Paman!"
"Di Duga Kejadian ini terjadi karna Tuan Adlen merasa iri dengan Saudaranya sendiri, para Pakar Pisikologis mengatakan, Tuan Adlen mengalami Tempramental yang tinggi, dari Bukti Rekap Medis yang diserahkan oleh Media membuktikan kalau Tuan Adlen menderita Psycho Mentalis yang begitu parah, dan menyebabkan Tindakan Nekat di Luar Kendali!"
"Dengan Bukti ini, para Apaparat Kepolisian Perancis sedang mengusut tuntas dan mencari Keberadaan, Tuan Adlen yang terjerat beberapa kasus Pelecehan dan Penyelundupan Obat Terlarang Ilegal dari Wilayah Meksiko!"
Seketika Tuan Adlen kembali tercekat, bukti-bukti Kerja Gelapnya juga telah disiarkan, ia mengepalkan tangannya kuat dengan wajah yang tak terhitung lagi bagaimana murka dan paniknya ia untuk melawan semua ini.
Prankk..
"Sial!!! Sialan kalian semua!!! Tidak, Tidak akan ku biarkan kalian lolos!"
Gumaa Tuan Adlen memakai Pakaian Simpel dengan jaket hitam bertopi itu dan mengambil Pistol dari Laci kamarnnya.
Untung saja ia sekarang sedang ada di Apartemennya hingga ia mudah lolos begitu saja.
"Nareus! Kau akan membayar semua ini!"
Gumam Adlen lalu melangkah pergi, namun ia terhenti saat mendengar Keributan di bawah sana dengan suara teriakan yang menggelegar.
"TUAN ADLEN!!! KAMI TAHU KAU DISINI!!!"
"Sialan!!"
Umpat Tuan Adlen saat menduga Nareus telah membocorkan tempat Tinggalnya, ia harus cepat keluar dari Negara ini atau tidak ia akan dihakimi secara Hukum.
........
Senyum pria itu mekar dengan seringaian yang sangat puas, ia duduk diatas kursi kerjanya meyasikan bagaimana Masyarakat yang mendukung dan percaya akan Bukti yang ia serahkan, memang inilah yang ia mau, pria itu terjun dalam rencananya sendiri.
"Lord! bagaimana dengan Kesalahan Tuan Adlen di Dunia bawah?"
"Biarkan dia lolos dari Perbatasan Negara ini! Pasukan King Latina berhak mengambil Tawanan ini karna Adlen tak berulah di wilayahku!"
"Baik!"
Smith lansung melangkah pergi dengan Nareus yang mulai fokus mengusut tentang Pemberitaan, banyak sekali panggilan untuk Melakukan Pers namun ia tak ingin melakukannya karna bisa berdampak pada Momynya nanti.
"Susss!!!"
Suara Grandma Zamlya yang menggedor pintu sana kuat, Nareus menghela nafas berat, sudah dipastikan wanita ini akan mengajukan Protes padanya.
"Masuk!"
Grandma Zamlya lansjng masuk dengan wajah murka itu, ia mendekati Nareus yang tetap menatap layar Laptopnya serius.
"Sus! Kenapa kau melakukan ini? dia pamanmu, dan dia tak mungkin melakukan itu!"
"Bukti sudah meruak! Dia memang bersalah, dan tak perduli dia Pamanku atau tidak yang jelas Salah tetap Salah!"
__ADS_1
"Tapi..!"
Nareus menatap tajam Grandma Zamlya yang seketika bungkam dengan raut wajah yang panik, ia khawatir Putranya akan dijatuhkan hukuman Mati karna Tindak Kriminal yang sangat parah.
"Majelis Hukum akan menindak tentang Keanggotaan Putramu dalam Keluarga Bangsawan ini! kau tahu sendiri bukan, seorang Bangsawan tak diperkenankan Memiliki Sejarah Kriminalitas!"
"Nareus! Grandma Mohon batulah Pamanmu kali ini!"
"Itu diluar kuasaku!"
Nareus melangkah pergi meninggalkan Grandma Zamlya yang frustasi, apa yang harus ia lakukan sekarang, tak ada lagi yang bisa menolong Adlen dalam masalah ini.
"Sayang!!"
Nareus yang tadi sedang menuruni tanggapun lansung tersigap saat Suara Wanitanya itu melengking dan benar saja, mata Nareus menajam saat Alen berlari melompat kepelukannya ditepi tangga ini.
Grepp..
"Aaa!!! Aku mencintaimu!!"
Pekik Alen mengecup pipi Nareus dengan penuh tekanan membuat pipi Pria itu merah karna bibirnya.
"Sudah berapa kali ku bilang jangan berlari dan melompat, ha?"
"Ma..Maaf, Sayang! aku sekarang sangat senang, Akhirnya Pria itu menerima balasannya!"
"Hm! Sekali lagi kau begini, aku akan benar-benar mengikatmu!"
Alen hanya mencengir mengangguk lalu memeluk leher Nareus yang membawanya turun, ia tak sabar mendengar berita kematian pria itu.
"Reus!"
"Mom! Momy kenapa?"
Momy Carolin mendekati Nareus dengan wajah khawatir itu, ia takut Stephen malah semangkin terpuruk karna ini.
"Nak! bagaimana dengan Step? Momy tak sanggup jika Pria malang itu kembali hancur!"
"Tenang saja! dia sudah Dewasa dan pasti mentalnya kuat!"
"Reus! aku tak menjamin, Stephen itu sangat rapuh!"
Nareus lansung menatap tajam Alen yang seketika terdiam menggeleng lalu menatap Momy Carolin yang sangat pusing dengan Pria pencemburu ini.
"Apa kau mau menghiburnya?"
"Apa boleh?"
"Alen!!"
Geram Nareus menggertakan giginya membuat Alen serba salah, memang ia yang hanya bisa menopang Pria itu, dan ia jujur akan hal itu.
"Suruh Stephen membawa Fanya ke Kediaman kita! kita bisa membantunya bersama!"
"Tidak!"
"Nak! Stephen tak akan mengusik Kalian, ia pasti hanya fokus pada Istrinya saja!"
Nareus membuang nafas kasar, ia selalu tak suka jika Stephen mencoba mendekati Alen, ia tahu pria itu bisa saja merubah Wanita ini.
"Hm, apa?"
"Aku tak menjamin!"
Alen mencabik resah lalu turun dari gendngan Nareus, namun Momy Carolin merasa sangat gelisah melihat Alen dan Nareus, ia seakan merasakan hal buruk yang terjadi atas hubungan Putra dan menantunya.
"Reus!"
"Iya, Mom!"
"Tidak jadi!"
Nareus menautkan aslinya menatap Momy Carolin yang sangat berbeda, tak biasanya wanita itu terlihat gelisah begini.
"Momy kenapa, Sayang?"
"Dia marah padamu karna tak Membawa Stephen kesini!"
"Apa kau bilang??"
Geram Nareus seakan menelan Alen yang acuh memakan Camilan di Toples sana, ia sangat malas melihat kecemburuan pria ini.
"Tidak ada!"
"Aku mau kau satu hari saja tak membahas dia! bisa tidak?"
"Bisa!"
Nareus lansung mengacak rambutnya frsutasi lalu menyambar tas kerjanya pergi meninggalkan Alen yang hanya diam menatap pria itu.
"Selalu saja begitu, Marah-Marah tak jelas, dan pergi!"
Gumam Alen menghapus lelehan bening yang keluar dipelupuk netranya, ia hanya ingin Fanya dan Stephen bisa bersama seperti ia dan Nareus, ia ingin Suaminya tak cemburu buta lagi hingga semuanya aman.
"Sayang!"
Alen hanya diam menatap kesembarang arah dengan nafas yang mulai tak lancar, ia tak memperdulikan Narus yang ternyata tak pergi, pria itu tertahan di daun pintu sana karna rasa tak nyaman dihatinya.
"Jangan menangis begitu!"
Alen hanya diam menepis tangan Nareus yang menyentuhnya, ia sesekali menghapus lelehan bening itu tanpa bicara sama sekali membuat Nareus merasa sangat sakit.
"Aku tak marah! tapi hanya kahwatir saja!"
"Itu sa..sama saja!"
Jawab Alen dengan suara bergetar itu dan sekugukan yang tampak sangat menggemaskan, baru saat hamil ini Alen sangat menjadi wanita Normal.
"Sayang, jangan begini!"
Alen tetap diam bahkan ia menjauh dari Nareus yang berusaha merayu wanita ini, ia menggenggam tangan Alen namun Alen menepisnya kasar, ia mengelus rambut wanita itu dan Alen melakukan hal yang sama.
"Aaa Sudahlah, Ka..Kau ingin Bekerjakan, Pe..Pergi saja!!"
__ADS_1
Suara risih Alen yang mendorong Dada Nareus menjauh, namun tubuh pria itu tak bergerak sama sekali.
"Tidak jadi!"
"A..Aku tak perduli, hiks!"
"Tuh kan Nafasmu! jangan begini, ayo berpelukan!!"
Pujuk Nareus menunjukan wajah konyolnya yang membuat Alen sangat geli, tapi ia masih kesal dengan Pria ini.
"Tidak Mempan!"
"Benarkah?"
Tanya Nareus begitu lesu lalu memutar otaknya untuk mencari cara lain aggar wanita ini tak Merajuk berkepanjangan.
"Bagaimana kalau aku Membadut?"
"Aahaaa Hiks hiks, Aku ingin sendiri!!"
Pekik Alen membuat Nareus seketika terlintas akan suatu hal hingga ia berdiri dihadapan Alen yang menutup semua wajahnya dengan bantal Sofa ini.
"Sayang! aku sangat mencintaimu!"
"Membual!"
"Benarkah?"
Nareus mendekat memepet Alen yang terhapit ke punggung Sofa dengan Toples ditangannya terkesampingkan dengan satu lutut Nareus yang naik keatas Sofa.
"Ma..Mau apa?"
"Mau ini!"
Cup..Cup..Cupp..
Alen memekik saat seluruh Sudut wajahnya malah di cium habis Nareus yang mengunci kedua lengannya hingga ia hanya bisa menggeliat kegelian.
"Haha Sayang, Kau Apa-Apa an.. Aaa Reus!!"
Alen berteriak geli karna dadanya malah di unyel wajah Pria ini, ia berusaha tak tertawa namun Nareus malah semangkin menghapit tubuhnya hingga ia benar-benar hilang diatas Sofa ini di kungkungan tubuh Kekar Nareus.
"Su..Sudah!"
Alen terengah-engah dengan dada yang naik turun, ia terkekeh melihat wajah gerah Nareus yang ternyata sudah terpancing.
"Sayang!"
"Hm?"
Nareus menatap berat Alen yang mengulum senyum geli, akan wajah merah Suaminya, ia merasakan dengan jelas ada benda keras yang menekan perutnya dibawah sana.
"Akh hm, Alen!"
Geraman Nareus karna wanita itu memeggang benda pusakanya yang sudah mengeras, ia berusaha tetap tenang meski birahinya meluap mengubun tinggi.
"Enak, hm?"
Nareus mengangguk menyembunyikan wajah beratnya ke ceruk leher Alen yang membelai dibawah sana, ia tak bisa diam melolokan suara berat itu karna ia sangatlah merindukan wanita ini dalam arti yang berbeda.
"Sayang hm!"
Nareus mengerang Sexsi membuat Alen merasa sangat panas, pria ini selalu membuat ia tak tahan jika sudah begini.
"Apa kau sangat mencintaiku?"
"Yah!"
Serak Nareus menghisap kulit leher Alen yang membuka Resleting celana pria ini dengan tangan lentiknya yang mulai memberi Servis yang sangat lihai dan penuh Teknik membuat Nareus menggeram nikmat dengan sentuhan ini.
Ouhh, Shitt! kenapa ini sangatah Nikmat?
"Kita kekamar?"
Nareus menggeleng, ia ingin melakukannya disini karna Fantasi liarnya mulai aktif saat bersama wanita ini,
"Tapi disini banyak... Aaaumm!"
Alen menutup mulutnya cepat saat Nareus sudah memasukinya dengan kasar, ia tak sadar ternyata pria ini telah menarik Dalemannya dari Rok Pendek ini.
"Ka..Kau! Ini..!"
"Lain kali kau pakai Rok setiap saat, Sayang!"
Bisik Nareus lalu mengigit kecil daun telinga Alen yang meremang, pria itu duduk diatas Sofa panjang ini seraya memangku Alen yang menghadap kearahnya, wajah keduanya begitu berat dan sangat mendamba.
"A..Ada Pelayan!"
"Mereka sudah keluar!"
Ucap Nareus lalu mematikan setiap CCTV di tempat ini melalui Ponselnya dan menutup semua pintu, Ia juga menutup semua akses di Kediaman Moureen melalui Anggotanya yang siap siaga.
"Last's Play Baby!"
Alen tersenyum Sexsi lalu mulai mengayun pinggangnya menciptakan sentuhan luar biasa bagi Nareus yang mendesis nikmat merasakan pijatan ini.
"Aouhhss, Stay With Me, Bee!!"
Nareus hanya mengangguk seraya membuka bagian atas tubuhnya dan Alen, hingga ia bisa leluasa bermain dengan dua gudukan sintal ini dengan Alen yang berusaha menahan suaranya.
"Ouuch Yeah!"
Nareus merasa terbang menggapai awan diatas sana, rasa manis disetiap jengkal tubuh wanita ini seakan menjadi candu di lidahnya, bahkan ia tak mau melepas hisapannya ke puncak bukit ranum itu membuat Alen menggelijang tak kuasa menahan rasa Nikmat.
"Fa..Faster Baby, Akhh!"
"Ehmm, Yeahh!!"
Keduanya begitu gila mengeksplor tubuh masing-masing, Nareus yang dibuat tak berhenti mengerang dengan Permainan wanita ini, ia tak sanggup berhenti begitu juga Alen yang sudah mabuk dan sangat Perkasa mengauli sang suami.
Ia wanita yang liar dan keras, Nareus menyukai Keliaran Sang istri dalam Melayaninya, tak pernah terpikir Oleh Nareus untuk berpaling karna Semuanya sudah ia dapatkan dari satu Wanita, dan itu hanya 'ALEN' istrinya seorang.
.....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..
Author mewujudkan Permintaan Readers yang katanya mau Hot๐๐