Memikat Cinta Nona Arogan

Memikat Cinta Nona Arogan
Kejanggalan!!


__ADS_3

Alen menatap Pesan yang ada di Ponselnya, pertanyaan itu mulai bergelut diatas kepalanya, apa yang terjadi? kenapa Stephen mengirimnya pesan Mesra seperti ini?


"Sayang! apa kau sudah makan?"


"Sayang! sebentar lagi hari Jadian kita dulu, apa kau tak ingat?"


Alen lansung menghapus pesan itu, ia duduk dipinggir ranjangnya dengan wajah yang sangat bingung, kenapa Stephen melakukan ini? sebenarnya pria itu mau apa dan saat mengetahui kabar Faby yang Tiada dia sangat rapuh, lalu sekarang kenapa malah berbalik arah?


"Step! seharusnya kau tak seperti ini!"


Gumam Alen memberi pesan, ia juga mengtik beberapa kata yang mempertegas segalanya hingga ia tak ingin Stephen diamuk Nareus nanti.


Namun, Alen terkejut saat Stephen malah membalasnya dengan sebuah Emoticon Love dan bunga yang begitu cantik, biasa digunakan mereka dulu untuk berbalas Pesan Mesra.


"Apa-Apa'an ini? apa kau sudah gila, ha?"


Umpat Alen segera menghapusnya, ia mencari pengaturan aggar Nareus tak melihat Pesan ini, Alen khawatir jika Nareus kembali murka pada Stephen.


"Aku merindukanmu, Sayang!"


"Jangan pernah mengangguku! kau fokus pada Istrimu saja, sadarlah Stephen!"


Pesan Alen yang lansung terkirim. ia menunggu sejenak dan benar saja satu pesan itu kembali muncul dilayar Ponselnya, namun kali ini Alen sangat geram karna Stephen mengirim Foto mesra mereka dimasa sekolah dulu.


Dimana Alen yang dipangku pria itu yang sedang mengajarinya bermain Motor, sungguh ini sangat terlihat Intim.


"Kau mau mati, ha?"


"Sayang! aku sudah cukup Menderita, setidaknya kau berikan aku kebahagiaan untuk Mencintaimu, Alen!"


Alen lansung melempar Ponselnya keatas ranjang sana, ia tak habis pikir pada Stephen yang berani berbuat senekat ini. ia pikir pria itu telah berubah, dan nyatanya masih saja ingin menghancurkan hubungannya.


"Pria Sialan! kalau sampai Reus tahu, ini akan menjadi masalah besar!"


Gumam Alen berfikir keras, bagaimana caranya membuat Stephen tak lagi menganggunya dan fokus pada Fanya? ia kasihan pada wanita itu, apalagi Fanya telah berubah dan tak berbuat nekat lagi.


Dreett..


Ponsel Alen berbunyi, dan benar saja, nama pria itu tertera disana dengan geram Alen ingin mengangkatnya, tapi bagaimana nanti kalau pria itu tetap kekeh untuk menganggunya?


"Shitt! apa yang harus ku lakukan?"


Umpat Alen mengigit ujung kukunya, ia takut kalau Nareus tiba-tiba datang dan malah marah besar padanya.


"Maaf, Sayang! ini hanya sebentar!"


Gumam Alen lalu mengambil Ponselnya dan menekan Tombol hijau, ia melangkah ke luar kamarnya dengan kilat pergi ketaman sana karna takut ada yang melihatnya dan malah melaporkannya pada Nareus.


"Hm!"


"Aku Mencintaimu, Alen!!"


"Aku juga! kau harus janji untuk menikahiku!"


"Hm! iya Sayang, Janji!"


Deggg..


Alen terkejut bukan main dengan suara rekaman itu, itu rekaman yang dulu diambil saat di pantai dan ternyata Stephen masih menyimpannya dan..


"Stephen!! Jangan melakukan apapun atau kau akan menerima akibatnya!"

__ADS_1


Namun tak ada suara balasan diujung sana membuat Alen sungguh dibakar kemarahan, ia segera mematikan sambungannya lalu duduk di kursi taman seraya mengusap wajahnya kasar.


"Apa-Apa'an ini?"


"Kenapa, Sayang?"


Alen lansung tercekat dan menormalkan detak jantungnya, ia menolah kearah Nareus yang baru saja keluar dari ruang kerjanya dan pria itu tentu sangat merindukan sang istri.


"Hanya mencari udara Segar!"


"Benarkah?"


"Hm, apa sudah selesai Pekerjaannya?"


Tanya Alen seraya naik kepangkuan Nareus yang duduk disampingnya, pria itu sama sekali tak curiga karna wajar Alen kesini, udaranya sangat segar dan cocok untuk Merilekskan pikiran.


"Apa kau suka Tamannya, Sayang?"


"Suka! aku sangat suka, karna banyak Pohon yang rindang, jadi aku bisa bebas dan sejuk!"


Nareus manggut-manggut mengerti, ia harus pergi ke Wilayah King Latina melihat apa yang telah Mark lakukan disana.


"Aku keluar sebentar malam ini!"


"Ajak aku!"


Nareus lansung menatap tajam Alen yang memohon padanya, ia tak bisa mengambil Resiko besar, Dunia bawah itu sangat kejam, Alen tak bisa pergi kemanapun.


"Tak usah! kau di sini saja!"


"Sayang, aku ingin ikut, kau kan ada! jadi bisa menjagaku!"


"Aku bisa menjagamu! tapi aku tak percya padamu, bisa saja kau menghilang sesuka hatimu disana!"


"Tidak!"


"Sayang, Ayolah!"


"Tidak ya Tetap Tidak, kau disini sana bersama Alicia, pergila berbelanja!"


Alen terdiam sesaat, sepertinya ia punya cara untuk mencari tahu apa yang telah terjadi pada Stephen.


"Jam berapa pulangnya?"


"Mungkin sedikit malam! aku akan usahakan untuk pulang cepat!"


Alen mengangguk paham lalu merapikan Penampilan suaminya, ia harus menyelesaikan ini sebelum Nareus tahu apa yang terjadi, ia takut Nareus malah membunuh Stephen karna rasa cemburu itu.


"Lord!"


Smith yang datang menunduk tak berani melihat keintiman sang Pimpinan, apalagi Alen yang tampak leluasa mencium apapun yang ia suka dibagian tubuh Sang suami.


"Hm!"


"Semuanya sudah siap, Lord!"


"Hm!"


Nareus menatap Alen yang terlihat tersenyum padanya, ia juga memberi senyuman khasnya yang mampu membuat wanita ini melemah ditempat.


Cup..

__ADS_1


"Jangan terlalu lama di luar! Anggotaku akan selalu mengawalmu!"


"Iya, Sayang! aku hanya akan di kamar saja, rasanya masih ngantuk!"


"Baiklah, Makananmu sudah ku siapkan! nanti minta Pelayan untuk menghangkatkannya!"


"Siap!!"


Nareus terkekeh pelan lalu mengecup seluruh wajah cantik Alen tak lupa pula si kecil didalam sana karna merasa tak ingin jauh dari wanita ini, tapi sayangnya pekerjaan dan Kedudukannya menuntut ia untuk mengatasi segalanya.


"Ingat! Makan, dan jangan berkeliaran!"


"Iya, Pergilah!"


Nareus melangkah pergi dengan Alen yang melambaykan tangannya disaat pria itu menoleh kebelakang memberi wajah Tampan nan sangat mempesona itu, tak puas rasanya untuk selalu memandang.


"Jangan berbuat yang aneh-aneh, Sayang!!"


"Iyaaaaa!!"


Jawab Alen berteriak membalas suara lantang Nareus di ujung sana sehingga pria itu pun hilang dipelupuk netra Alen.


"Aku pulang sebelum Reus Pulang!"


Gumam Alen mencari jalan keluar dari tempat ini, ia harus pergi ke Bandara memerika Penerbangan pria itu, apa Stephen benar-benar pergi atau ini hanya akal-akalan pria itu saja.


"Kakak!!"


Alicia mendekati Alen yang mengupat, niatnya untuk segera pergi malah dibuyarkan dengan Alicia yang pasti diutus Sang suami Pencemburunya itu.


"Iya, Cia!"


"Apa kakak ingin keluar?"


"Hmm, Tidak! aku hanya mengantuk!"


"Baiklah, ayo ku antar ke Kamarmu!"


Alen mengangguk dan mengikuti langkah Alicia, disepanjang jalan ia berusaha bersikap biasa karna ternyata ada Anggota Nareus yang tetap mengawasinya membuat ia exstra menyusun rencana.


"Kalau aku lewat belakang, ada juga penjaga disana! dan lewat depan apalagi, kemana aku harus pergi sekarang?"


"Kak!"


"Eh!"


Alen tersentak kaget saat Alicia memeggang bahunya, ia tersenyum kikuk menatap Remaja itu.


"Kenapa melamun? apa ada masalah?"


"Tidak! aku hanya berfikir, hmm! Cullen tak ada beberapa hari ini, kemana dia?"


Alicia terdiam, ia juga tak tahu kemana pria itu, sejak kemaren ia tak bersama Cullen karna ia pikir Cullen sibuk dengan urursanya sendiri.


"Entahlah, Kak! Mungkin dia sedang berpacaran!"


"Emm, Mungkin! diakan sudah besar!"


Alicia menganggukinya, tapi perasaanya sangat tak enak, tak biasanya Cullen menghilang tampa kabar, Pria itu selalu datang kekamarnya untuk bermain bersama, tapi sekarang tak ada lagi.


....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2