
Langkah pria itu terus berputar sesekeliling tempat dimana biasanya ia menemukan Alen, disepanjang jalan itu semua orang menatapnya Aneh, bagaimana tidak? Stephen sedari pagi terus berkeliling ditempat yang sama, hanya pria itu yang berlalu disini dengan wajah yang benar-benar terlihat bingung dan sangat sendu.
"Sayang! aku mohon dengarkan aku dulu!"
Gumam Stephen menelfon Alen, sedari semalam wanita itu tak mengangkat Telfonnya, padahal Nomer ini Nomer asli Alen yang tadi sempat mengangkat lalu dimatikan, sungguh ia sangat khawatir jika wanita itu benar-benar meninggalkannya.
"Tuan!! Tuan, Permisi!!"
Stephen memanggil Petugas Keamanan Taman serta Tempat Perbelanjaan disini, ia berlari kecil mendekati Pria paruh baya dengan rambut yang hampir memutih.
"Yeah?"
"Tuan, apa kau pernah melihat wanita ini, hari ini?"
Pria itu menatap layar Ponsel Stephen yang memaparkan seorang wanita berambut pendek dengan Jaket kulit dan Tangtop itu, dahinya menyeringit berusaha mengingat tapi tak satupun dari Ciri-Ciri wanita cantik ini yang ia ketahui.
"Maaf! tapi aku tak mengenalnya!"
"Coba lihat sekali lagi! siapa tahu kau pernah, Tuan!"
Pria itu kembali melihat, dengan jawaban yang sama ia katakan pada Stephen yang begitu lemas dan berterimakasih walau hatinya terasa sakit.
"Kemana lagi aku harus mencarimu?"
Gumam Stephen melangkah lesu menuju Pantai sana, ia merasa sunyi diKeramaian orang yang sibuk akan urusannya sendiri, namun Stephen memelih duduk di Tempat sunyi didekat Batu besar yang didebur ombak pelan ditempan ini.
Ia tak menyadari ada sesosok wanita yang juga berkeliaran ditempat yang sama, wanita itu tadi melihat sekilas wajah Stephen, tapi ia kehilangan jejak dikerumunan Manusia yang padat ini.
"Shitt, Step!"
Gumam Fanya yang linglung, ia tak paham dengan seluk beluk disini dan hanya mengandalkan Teknologi Ponselnya saja, itupun masih kurang membantu, kalau ia lapor ke Polisi, maka akan banyak urusan yang membuat ia terlambat pulang ke Negaranya.
Ia hampir saja melangkah menuju pantai namun ia curiga pada seorang pria berkemeja Putih yang sedang melangkah ke belakang Taman.
"Step!!"
Fanya berteriak kencang mengejar Pria yang memakai Kemeja yang sama dengan Stephen membuat Stephen yang sedang duduk di Bebatuan sana terperanjat kaget mendengar lengkingan itu.
"Fanya!"
Gumam Stephen meliarkan pandangannya ke sekeliling tenpat ini, namun tak ada Sosok itu, melainkan hanya para Wisatawan Asli yang sedang bermain pasir didekat Bibir Pantai jauh dari tempat Peraduannya.
"Aku sudah lama, Tak pulang!"
Gumam Stephen menghela nafas berat, ia teringat si kecilnya Baby Faby, pasti Bayi mungil itu sangat menyusahkan Fanya karna ia tak memberi kabar sejak Alen datang, ada rasa kasihan dihati Stephen mengingat wanita malang itu.
Namun ia tak bisa berbuat apapun, ia tak ingin kehilangan Alen, Cintanya, Hati dan Hidupnya, ia tak mungkin kembali dengan Stephen yang sama.
"Step!"
Deggg..
Stephen meneggang ditempatnya mendengar suara itu, ia terdongak menatap Mentari yang mulai menenggelamkan diri ke ufuk barat sana dengan wajah yang benar-benar bahagia.
"Alen!!"
Stephen berbalik menatap seorang wanita dengan Mantel panjang Abu yang menutupi leher hingga seluruh tubuhnya membuat Stephen terdiam, kenapa Alen sangat berbeda? biasanya wanita ini tak suka memakai pakaian panjang.
Namun, seketika Stephen menduga kalau Alen sedang sakit membuat ia sesak dan lansung meloncat turun mendekati Alen yang berusaha mengendalikan diri.
"Sayang! kau sakit? kau sakit, katakan padaku!"
"Tidak!"
"Tapi.. Tapi kenapa memakai Mantel, apa kau kedinginan atau, atau apa, Sayang? katakan padaku!"
Panik Stephen memutar tubuh Alen dengan teliti melihat apa yang terjadi pada wanita ini membuat Alen tak tega mengatakanya.
"Sa..Sayang! kau..kau masih marah padaku, hm?"
Tanya Stephen menagkup pipi Alen lembut, wajah pria ini begitu polos dan begitu melembut padanya, Alen tak kuat sungguh, ia tak sanggup menyakitinya.
"Step, aku..!"
"Kau kemana saja, Sayang? sedari pagi aku mencarimu, tapi kau tak ada!"
Ucap Stephen memeluk Alen yang seakan kaku, tak ada debaran jantung, tak ada gejolak hati yang ingin memiliki, yang Alen rasakan hanya Prihatin, Empati yang tak kuasa untuk melihat pria ini terluka.
"Kita selesai!"
Duarrr..
Bagi tersambar petir Stephen tercekat kuat dengan wajah yang pucat mendengar suara tegas Alen yang lansung direspon kuat otaknya.
Wajah kosong Stephen termenung dengan pelukan ketubuh Alen yang menguat, Alen bisa merasakan jantung Stephen yang berdebar kuat dengan tubuh yang mendingin.
"A...Apa?"
"Kita cukup sampai disini saja!"
__ADS_1
Stephen tersenyum dengan setetes air bening itu luruh keluar begitu saja dengan tubuh dan pikiran yang tak terima.
"Ka..Kau bercanda! A..Aku tahu kau bercanda!"
"Aku tak bercanda!"
"Kau bercanda, Alen!!!"
Teriak Stephen keras menagkup pipi Alen yang tak kuasa menahan kesesakan, ia berusaha kuat melihat kerapuhan Stephen, ia tahu Pria ini sangat mencintainya, tapi ia tak lagi memiliki rasa itu.
"Sa..Sayang! Ka..Kau masih marah, iya, iya kan?"
Alen menggeleng dengan bibir yang bergetar berusaha melepas pelukan Stephen tapi pria itu seakan kesetanan membelitnya kuat.
"Kau marah? iya, iya kau marah sayang!"
"Aku tidak marah!!!"
Bentak Alen mendorong Stephen kasar hingga pria itu tertolak mundur satu langkah darinya, wajah Alen sudah memerah dengan genangan air bening yang ia tahan kuat menatap Stephen yang menggeleng.
"Aku! Aku ingin hubungan kita berakhir!!"
"Ti..Tidak, Sayang hiks! aku..aku tahu aku salah, tapi! tapi aku sangat mencintaimu!"
Stephen mendekati Alen yang menjauh membuat pria itu merasa di tikam berbagai sembilu hingga ia tak kuasa untuk menangis sebagai seorang laki-laki yang tak kuat.
"Aku..Aku mohon, hiks! Jangan katakan itu, jangan, Sayang hiks!"
"Kenapa kau menangis, ha? kau itu laki-laki!!"
"Alen hiks, jangan tinggalkan aku!"
Stephen memohon ingin memeluk Alen yang terus menghindar membuat ia benar-benar mengalami sakit yang teramat.
"Selamat Tinggal!"
"Tidak!!! Alen!!! Alen, Kembali!!"
Stephen mengejar Alen yang sudah melangkah cepat menuju tempat keramaian sana namun Stephen lansung mencegatnya dengan menarik lengan Alen kuat membuat wanita itu kehilangan keseimbangan.
"Aaa!!"
Grepp..
Alen lansung disambar lengan kekar Nareus yang tadi sudah cukup menyaksikan bagaimana Pernyataan hubungan lama ini, ia tak bisa membiarkan Alen didesak Stephen yang bisa saja membahayakan istri dan Bayinya.
"Kau! Kau siapa? Lepaskan Kekasihku!!"
"Lepaskan dia!!"
Stephen menyerang Nareus yang menghindar karna tak ingin berkelahi, ia tahu kemampuan Stephen berkelahi itu masih jauh dari Level anggotanya.
"Step!! hentikan!!"
Geram Alen saat Stephen meninju kuat lengan Nareus yang hanya menepisnya membuat pria itu tersungkur, gerakan Nareus hanya pelan dan penuh kegesitan karna tak mau membuat Alen terluka.
Bughh..
Nareus menendang kecil punggung Stephen aggar jauh dari posisinya, ia berusaha tak menghabisi pria ini sekarang juga mengingat tadi telah memeluk istrinya.
"Alen!! Dia itu pria bajingan! jangan mendekatinya!"
Ucap Stephen berdiri dengan wajah yang begitu merah tersulut emosi menatap Nareus yang memakai Masker menutupi wajahnya dengan tampilan biasa Kaos hitam dan Jeans Abu pendek selutut yang menampakan tampilan Simpel Nareus yang begitu gagah dan sangat Sempurna.
"Kau siapa, ha? Berikan Alen padaku! Kami akan segera menikah!!"
"Dia Suamiku!"
Degg..
Stephen lansung kehilangan keseimbangan hingga oleng, untung saja kakinya cepat menapaki pasir di belakangnya hingga ia kembali teggak menatap penuh keterkejutan pada Alen.
"Dia Suamiku!"
"Su..Suami?"
"Yah!"
Bukannya marah, Stephen tertawa puas mendengarnya, Nareus bisa melihat itu tawa Kesakitan, air mata yang terus keluar meski mulut mengeluarkan kekehan.
"Hahaha, yang benar saja, Sayang!"
"Step!"
Lirih Alen tak sanggup hingga mendekap Nareus erat dengan isakan kepiluan itu, pria ini bisa-bisa gila karnanya.
"Kau berbohong! kau tak mungkin setega itu padaku! kau memang punya suami, tapi aku yakin dia tak seperti ini rupayanya!"
"Reus hiks!"
__ADS_1
"Ayo! kita pulang, dia bukan Suamimu! aku suamimu, ayo pulang Sayang!"
Pujuk Stephen seakan menggila sendiri, wajah pria itu sangat terlihat rapuh dan begitu merasakan luka, tak ada yang bisa membandingi sakit yang sekarang menggerogoti Batinnya.
"Jahui Istriku!"
"Ouhh, dia Istrimu! Istrimu, ya?"
Gumam Stephen terkekeh sejenak lalu menangis luruh didepan Nareus yang hanya diam sedia dengan wajah datarnya menatap dingin Stephen yang tertunduk dengan tubuh yang bergetar.
"A..Aku mohon kembalilah padaku, hiks! aku mohon, Sayang!"
"Pergilah, Step hiks hiks! Reuss!"
"Aku..Aku sudah menyiapkan segalanya, Alen! Pekerjaan, Pernikahan, Cicin dan..dan Rumah yang besar untuk membahagiakanmu, aku..aku sudah mencarinya meski harus jatuh bangun setiap saat, itu..itu semua ku lakukan demi kau!!! Demi kau, Alen hiks!"
Teriak Stephen mengungkapkan segalanya, ia selalu berangan kalau kelak ia dan Alen akan hidup bahagia, anak-anak mereka yang akan saling bertengkar mewarnai kehidupannya, ia selalu menjadikan itu Motivasi aggar bisa menjadi Pria sukses seperti sekarang.
"Berapa uang yang kau butuhkan?"
"Brengsekk!!! Jaga bicaramu!"
Bentak Stephen pada Nareus yang seenaknya saja mengatakan itu.
"Aku tak butuh, Uang!!! aku tak butuh semua itu, dan yang aku mau, Kau Alen!! Kauu hiks, aku..aku mohon Cintai aku seperti dulu, Sayang! aku mohon!!"
"Apa kau tak mengerti, ha? Aku sudah punya suami, kau pun sama!!! Maka berjalanlah sesuai yang ada, Step!!! aku sudah lelah!!"
Teriak Alen lansung lemas dipelukan Nareus yang sigap menggendong Alen ringan dengan tatapan yang berubah dingin menusuk tajam.
"Genggam apa yang bisa kau Genggam! kalau tidak satupun tak akan bisa kau dapatkan!"
Suara Nareus tegas berkharisma membuat Stephen terlonjak kaget menatap Intens wajah Tampan tertutup Masker itu.
Deggg..
Pre..Presedir! Ka..Kau Presedir Nareus?
"Ka..Kau Presedir?"
"Aku bukan siapapun! tak usah memikirkan Kasta, yang jelas Di iSTRIKU!"
Ucap Nareus penuh penekanan lalu melangkah pergi meninggalkan Stephen yang masih termenung kosong mencerna kata-kata Pria itu.
"I..Istri!"
Gumam Stephen lalu terkekeh lalu kembali menatap Nareus yang menjahuinya membuat wajah Stephen kembalih bergurat kesakitan.
"Aleennnnn!!!!! Kau wanita jahat, Jahat kau Brengsekkk!!!"
Makian Stephen sekuat tenaga namun setelah itu ia menampar mulutnya sendiri yang begitu lancang menyebut hal buruk tentang wanita itu.
"Tidak! Kenapa kau mengatai Alenku begitu? dia..dia Cintamu, kau yang Brengsek! yah... yah, kau..kau yang brengsek!!!"
Stephen berbicara sendiri seraya mencengkram kepalanya kuat, ia merasa sangat Frutasi dan Pusing, tak ada lagi cahaya yang membuat ia tersenyum, tak ada lagi semangat yang menopang nyawanya untuk terus bernafas.
"Aaaaaaa hhaaa Hiks hiks!!! Kembalikan dia padakuuuuu!!!, Kembalikan Alenku, hiks hiks! Kembalikannn!!"
Teriak Stephen melempar apapun didekatnya kedeburan ombak sana dengan amarah, rasa sakit, Penyesalan, dan Luka yang mencabik Batinnya kuat.
Aku mohon hiks, dia..dia hidupku Tuhan, hanya dia yang ku punya hiks hiks, hanya diaa!!!
Stephen terus menangis dan Meraung, ia seakan tak menyadari sesosok wanita yang tak kalah rapuh itu sedang luruh dibalik Pagar sana, menatapnya penuh rasa sakit mendengar semua kenyataan yang ada.
Dengan air mata yang selalu keluar disertai isakan pilu itu, ia hanya bisa mencengkram erat pagar Besi dihadapannya.
"Ma..Maafkan aku!"
Lirih Fanya mencengkram dadanya kuat, rasanya sangat sakit, sungguh, ia seakan ditarik ke Lembah Kesengsaraan.
Seandainya hari itu aku tak bertemu denganmu, aku pasti tak akan merusak Kehidupanmu.
Fanya yang ditikan beribu penyesalan, ia tak kuat melihat Stephen yang begitu ia Cintai menjadi Pria tak waras begitu, semua masalah yang datang, itu hanya karna kehadiranya.
Dreett..
Ponsel Fanya berbunyi, wanita itu dengan lemah melihat nama yang tertera disana dan itu adalah Dokter Putrinya.
"He..Hello!"
"Maaf, Nyonya!"
"Ke..Kenapa?"
Tanya Fanya sekugukan dengan dada yang kembali berdebar, ketakutan, rasa panik itu tak lagi terjabarkan mengoyak batinnya.
"Putri anda Meningggal Dunia, Pagi ini!"
Duarrrr...
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayang..