
Mereka sudah sampai di Kediaman Moureen, tampak semua Pelayan dan ratusan pekerja di Manshion ini berderet rapi menyambut Bagian penting bagi Keluarga Moureen, mereka tak bisa mengalihkan perhatian dari Dua Pria yang tampak begitu tampan dengan daya aura khasnya sendiri, Alen yang tampak berbeda dari biasanya membuat Grandma Zamlya tertegun diam menatap bagaimana sempurna dan berauranya Wanita Preman yang selalu ia musuhi itu.
"A..Apa itu Wanita Premant kemaren?"
"Iya, Nyonya! dia adalah Nyonya Muda Alen istri Tuan Muda Nareus!"
Grandma Zamlya semangkin dibuat jantungan, ia berfikir keras, bahkan sangat karna Alen tampak seperti Ratu Inggris yang memakai Gaun Feminim membalut lekukan tubuh tegapnya.
Belum lagi dengan Shena yang tampak seperti Permaisuri Sejagat yang memancarkan kulit putih dan wajah sempurna dengan tatapan sendu membuai itu membuat Grandma Zamlya lemas,
A..Apa aku bermimpi? Apa itu Alen? dan itu.. itu Permaisuri Sejagat Istrinya Mister President.
Granmda Zamlya mengipas wajahnya Elegan seraya menormalkan wajahnya aggar tetap angkuh menatap Alen yang hanya acuh.
"Selamat Datang di Kediaman Moureen, Tuan dan Nyonya!!!"
"Terimakasih!"
Sahut Shena membalas tak kalah ramah membuat Mark terbakar panas akan Keramahan sang istri.
"Biasa saja, Senyumnya!"
"Ini sudah biasa, Sian!"
Alen tersenyum melihat itu semua, seperti biasa ia merindukan King dan Nyonya yang baik hati ini.
"Anda Grandma Zamlya?"
"Iya! Salam kenal!"
Nareus mengeraskan wajahnya pada Grandma Zamlya yang begitu tak sopan pada Shena, wanita tua itu berusaha mencari cela untuk mencaci Shena tapi tak ada sama sekali, semuanya tampak beracun membuat Alen menyeringai licik.
"Sebaiknya anda Teliti siapa yang mau anda cela, Nyonya!"
"Cihh! Penampilanmu sangat Norak!"
"Setidaknya aku tak menahan Kekaguman!"
Ketus Alen dengan wajah yang terangkat tak kalah angkuh dengan tatapan menusuk itu, ia seakan menyelumbungi tubuh Nareus dengan kharismatiknya yang kuat.
"Ayo kita masuk!!"
Momy Carolin mengajak mereka masuk dengan wajah yang mengibarkan kemarahan pada Grandma Zamlya, berani sekali wanita ini mencari mati dengan Istri Mister President itu.
"Kediamanmu sangat Keren, Mom!"
"Ouhh! Kau belum berkunjung ke Kediamanku! bahkan lantainya saja sangat mahal!"
Sambar Grandma Zamlya membuat Shena tersenyum cantik seperti biasanya membuat Alen menantikan apa yang akan muncul dari mulut cantik itu.
"Itu bagus, Nyonya! kalau kau bisa, Lain kali lihatkah keluar, kau akan melihat betapa luasnya Dunia ini! siapa tahu kau menemukan Hal yang lebih mahal!"
"Iya! Jangan mentok di satu ruangan saja!"
Sarkas Alen yang menimpali membuat Grandma Zamlya menggeram marah, namun Alen hanya menaikan bahunya acuh melangkah menuju Ruang keluarga sana.
"Dimana Kakek dan Nenek Victoria, Dad?"
"Ouhh! Mereka sedang berada di Vila pribadinya, semenjak pulang kesini mereka sibuk melakukan Aktifitas senjanya!"
"Iya, seharusnya kan kalau Sudah berumur begitu kita harus menikmati masa-masa bahagia di Dunia ini! jangan mengurus hal yang tak perlu, ia kan Granmda?"
"Cihh!"
Grandma Zamlya melangkah pergi meninggalkan Alen yang menahan senyum puas melihat wajah merah murka wanita itu, sedangkan Nareus hanya menggeleng saja.
"Mimih!!"
"Baby Denzo mau apa, Sayang? ayo ikut Nenek!"
Mimy Carolin membawa Baby Denzo ke lantai atas menuju kamar Alicia dengan Dady Albert yang tersenyum melihat binar bahagia diwajah Istrinya.
"Alen! bisa temani aku berkeliling?"
"Tentu, Nyonya!"
Shena mendecah kesal, masih saja wanita ini tak mau merubah panggilan membuat ia merasa tak enak dengan Nareus.
"Tak apa, Shena! Istriku memang keras kepala!"
"Mereka itu sama!"
"Apa?"
Tanya Alen dan Shena pada suaminya masing-masing dengan wajah penuh kegeraman itu membuat Nareus harus mencari aman, kalau tidak Singanya ini akan mengamuk, begitu juga Mark yang lebih baik mengalah dari pada Rubahnya ini malah menyemburnya.
"Tak ada! kami hanya hanya bercanda!"
"Ouhh! Ku kira apa, aku pergi ya sayang!"
"Hm! jangan terlalu lama!"
Ucap Mark setelah mengecup bibir istrinya kilas hal yang sama Nareus lakukan pada Alen yang pergi mengawal Shena selayaknya sang pengawal.
Namun, Sayangnya Shena menggandeng tengannya seperti Teman dan Saudara membuat wanita itu pasrah.
Sekarang tinggalah Mark dan Nareus yang berdiri tegap kembali merubah wajahnya dengan keras dan bengis membuat Baby Rea tersenyum menggapai pipi Abinya dan Baby Mian yang malah tak suka, ia lebih memilih merangkak turun menuju Sofa sana.
"Kediamanmu banyak sekali Mata kotor!"
"Hm! Dimana tempat, hanya ku biarkan saja!"
Jawab Nareus membantu Baby Mian untuk duduk diatas Sofa panjang sana seraya memberikan Makanan kecil ketangan Si Mungilnya itu.
"Kau terlalu menunggu, Reus!"
"Aku tak bisa menyerang sekarang! aku harus menyelesaikan Perjanjian itu dulu Mark! kalau aku melawannya secara Klan, mungkin aku bisa! tapi masih ada kaitan Keluarga diantara kami!"
"Cihh! Saudara tak akan pernah menikam Saudara yang lain!"
"Entahlah, akupun bingung harus bagaimana! aku harus membagi dua Masalah, dia sebagai Pemberontak Klan Worelf dan sebagai Korban atau Dalang dari Perjanjian tak masuk akal itu!"
"Dan kau memandangnya dari segi apa?"
"Perusak Keluargaku!"
"Bagaimana cara kau mengatasinya?"
__ADS_1
Nareus menghela nafas berat, disini keputusannya akan dipertanggung jawabkan, jika Adlen menuntut ke Pengadilan tentang surat itu maka Dadynya akan dalam bahaya.
"Dadyku akan masuk dalam Penjara Kriminal jika tak memenuhi Syaratnya!"
"Apa suratnya Bersegel Formal?"
"Hm! ada Stempel keluarga kami juga! jadi itu sudah hak Negara dalam segi hukum!"
Mark manggut-manggut mengerti, berarti sekarang Adlen diperuntungkan dalam berbagai sudut, kalau tak di penuhi maka urusan Hukum di negara ini akan meruak, kalau di penuhi maka Rumah tangga nya dan kedua oenng tua Nareus yang kena imbas.
"Aku tahu kau sejalan denganku!"
Nareua terdiam, ia tahu maksud,Mark bagaimana, tapi ia hanya tak yakin kalau nanti ia bisa melakukan ini.
"Aku tak bisa, Mark! aku sangat mencintai Alen!"
"Apa dia mencintaimu?"
Nareus terdiam sesaat, ia tak tahu apa perasaan Alen sesungguhnya, wanita itu selalu membahas tengang Step membuat ia sangat takut.
"Aku tidak tahu!"
"Buat dia memilih! dan cermati yang dia lakukan, Alen itu tak sama seperti Shena yang bisa saja mengungkapkan perasaannya! dia itu wanita keras, dia dilatih oleh keadaan, dan buatlah dia merasakan hal yang bisa membuat dia paham kalau Kau juga tak bisa menunggu!"
"Hm! aku hanya ingin menikmati saja, kalau dia mau lepas akan ku lepas! meski akupun tak tahu aku masih bisa berdiri atau tidak!"
"Kalau aku jadi kau! Sudah dari lama aku membabat siapa yang menginginkan Milikku!"
Nareus hanya tersenyum kecil mengelus kepala Baby Mian yang berkoala padanya, seraya menepuk bokong bulat si Mungil itu.
"Aku lihat dulu apa Dia cocok atau tidak!"
"Cihh! Terlalu berbesar hati!"
"Aku Pemimpin, Mark! ini bukan Dunia bawah yang bisa kau bunuh, bantai sesuka hati! Ini menyangkut hati, aku tak ingin mengakiti Alen!"
Mark hanya menaikan bahunya acuh seraya membiarkan Baby Rea memainkan jari-jari besar Abinya ini.
"Mark! Alen itu suka apa?"
"Dia suka hal berbau kekerasan!"
"Yang lain, hal Romantis!"
Mark berfikir, setahunya wanita itu hanya suka senjata, perkelahian dan sejenisnya, kalau bunga ia tak menjamin.
"Buat saja sesuai apa yang kau inginkan dan memakai hati!"
Nareus manggut-manggut mengerti seraya menatap Smith yang sedang berjaga di Pintu sana, ia punya Ide untuk menyatakan Cintanya pada Alen.
"Jangan libatkan istriku!!"
"Cihh! Padahal aku sudah memikirkannya!"
Ketus Nareus lalu melihat jam tangannya, malam nanti adalah Pesta besar itu, ia harus mempersiapkan Momy dan Dadynya apalagi Alen yang pasti akan terkejut nanti.
"Biii!"
"Hm!"
"Bibiii, hiks!"
Sinis Mark pada Baby Mian yang memanyunkan bibir merah ceri itu dengan mata yang menggenang ingin menangis membuat Baby Rea menatap aneh Kakaknya,
"Uncel Yus hiks hiks!"
"Apa, hm?"
"Biii!!! Bibiii hiks!"
"Dia hanya bercanda! kau masih anaknya!"
Ucap Nareus yang menggeleng saja mengecup pipi gembul itu lalu menurunkan Baby Mian yang masih mencibir merangkak ke kaki Mark yang menelan gemas akan Putra bersifat wanita ini.
"Biii!"
"Hm!"
Baby Mian menautkan jarinya gugup dengan wajah menyedihkan itu, ia menunduk lalu menatap Nareus yang mengangguk menyemangati.
"Biii!"
"Hm?"
Baby Mian memeluk betis Mark dengan wajah sendu itu seraya mengadah menatap Mark yang berguman Frustasi.
"Bisa tidak jangan menatap, Abi begitu?"
"Biii!"
Baby Mian menggeleng menggapai paha Mark yang lansung mengangkatnya ringan dengan satu tangan sedangkan tangan satunya membelit Baby Rea yang masih di Bedong.
"Sudah, jangan menangis! kau jelek!"
"Aaaaa!!! Aku minta satu, ya Mark?"
"Tunggu saja Benihmu Keluar! ini punyaku!"
"Cihh! kalau begini akan ku culik salah satu anakmu ini!"
Mark tersenyum licik, kalau Baby Denzo si Bayi seribu es datar itu ia ikhlas memberikannya pada Nareus untuk semalam karna selalu menganggu waktunya dan Shena.
"Kalau Denzo kau boleh Ambil, tapi hanya semalam!"
"Tidak! sama saja aku membawa Anak macan kerumah!"
Ucap Nareus lalu melangkah pergi untuk melihat istrinya, rasanya sudah sangat rindu dengan wanita itu meski sering membuatnya merana setiap saat.
"Sayang!!!"
"Haaa!!!"
Suara Alen yang berasal dari Kolam Renang sana, dengan cepat Nareus melangkah kesana karna tak bisa lagi menahan kedinginan ini.
"Nyonya! Kalau menyatakan Cinta itu harus bagaimana?"
"Cinta?"
__ADS_1
Tanya Shena pada Alen yang duduk di tepi kolam seraya kedua kaki yang masuk kedalam air biru itu, hal yang sama Shena lakukan.
"Kalau kau memang Cinta, kenapa tak kau katakan?"
"Aku tak percaya diri!"
"Ayolah, Cinta itu kata sederhana! ungkapkan saja semampumu!"
Alen berfikir sejenak, bagaimana kalau ia menyatakan Perasaannya saat semua masalah sudah selesai, dengan begitu ia akan bahagia bersama Nareus dan anaknya?
"Sebenarnya aku..!"
"Sayang!!"
Nareus yang datang lansung mengangkat Alen dari Air dengan dengan wajah tak bersahabat itu.
"Kenapa bermain air? kau bisa masuk angin!"
"Air nya tak dingin, Reus!"
Nareus tak mengindahkannya, ia melepas Jasnya dan mengelap kaki Alen yang sudah basah, apalagi wanita ini sedang hamil, kesehatannya bisa saja Drop.
"Dingin atau tidak tapi jangan melakukan itu! kau tadi hanya makan sedikit, dan sekarang mau bermain air, apalagi lantainya sangat licin, Sayang! kau bisa jatuh!"
"Begitu ya?"
"Hm! Jangan begini lagi!"
"Baiklah, jangan cemberut begitu!"
Ucap Alen mengelus pipi Nareus yang masih mengosok kakinya membuat Shena tersenyum malu, ternyata dua Mahluk yang dulu seperti Powerenger ini bisa juga seperti Romeo dan Juliet.
"Ouuh, Manis Sekali! Kemabangkan,hm? Semoga yang kuasa selalu membantu Kalian!"
Alen menunduk malu akan respon Shena yang melangkah pergi meninggalkannya dan Nareus yang juga tersenyum mempesona membuat Alen tertegun.
"Nyonya sangat cantik!"
"Yah! Tapi bagiku, kau paling Sempurna!"
Alen mengigit bibir bawahnya malu, ia ingin mengatakannya sekarang tadi ia sangat gugup dan keluh.
"Nanti di Pesta jangan pakai Gaun terbuka, ya?"
"Kenapa?"
"Aku tak ingin mereka menatapmu Seperti tadi!"
"Baiklah! lalu aku pakai apa?"
"Shena punya banyak rancangan Baju Yang Berkelas dan Angun! dan tentunya tak terbuka, Sayang!"
Ucap Nareus seraya memangku Alen yang berkoala padanya hingga ia melepas sepatunya untuk mencemplungkan kaki kedalam kolam sana.
"Reus! Kenapa kau lakukan ini?"
"Kau ingin bermain air, kan? lewat kakiku saja!"
Bluss..
Wanita mana yang tak akan tersentuh dengan Perhatianmu, Reus! aku mohon jangan ragukan aku karna aku memang sangat mencintaimu.
Batin Alen yang sungguh jatuh dalam Pesona pria ini, tak butuh waktu bertahun-tahun untuk meluluhkan hatinya bagi seorang Nareus.
"A..Aku..!"
"Aku apa. hm?"
Alen berusaha mengatakannya, tapi ia sangat gugup dan begitu kaku, karna Nareus pria pertama yang bahkan membuat ia malu untuk berbuat romantis.
".. Hmm! A..Aku..!"
"Boleh aku Menciumu?"
Alen terdiam sejenak lalu mengangguk membuat Nareus tersenyum meraup bibir tipis berlekung sexsi ini, ia menghisap lembut memeggang tengkuk Alen yang juga mengalungkan kedua lenganya ke leher kokoh Nareus yang mencumbu bibirnya lembut.
Keduanya memejamkan mata menikmati desiran angin dengan lidah yang bertaut mesra dengan tegukan Ludah yang mengalir lembut, rasa manis bahkan sangat mencandu membuat keduanya larut dalam Cinta tersembunyi itu.
"Akhmm, Reusm!"
Alen meloloskan suara lemah itu membuat Nareus terpancing birahi yang meledak menggendong Alen dengan hati-hati menuju tempat Istirahat di tepi sana seraya Pintu ruangan di Dekat kolam tertutup dengan kurungan bangkar yang sangat rapat membuat suasana gelap karna Smith yang mengawal Lordnya.
Tiba-Tiba lampu itu menyala redup dengan kilauan lampu kecil di dalam air sana membuat suasana begitu romantis,
Nareus menyibak satu tempat khusus baginya saat sudah berenang, yaitu ruang Refleksi dimana disana ada ranjang empuk kecil disertai lilin aroma terapi yang sangat harus menenagkan.
Dengan pelan, Nareus membaringkan Alen kesana seraya bibir yang masih menghisap lembut penuh Cinta, mereka di batasi satu tembok berbayang dari dada keatas karna remangan lampu di Dalam bangkar gelap menawan ini.
Plup..
"Re..Reus!!"
Nafas Alen memburu saat Nareus melepas tautannya dengan tatapan keduanya yang sama-sama Mendamba lebih bahkan sangat memuja fisik masing-masing.
"Apa boleh?"
"Lakukan!"
Nareus tanpa membuang waktu melepas Kemejanya dan melemparnya kesembarang arah lalu mulai melakukan Forepley yang lembut.
Bayangan separuh punggung Reus terpapar di dinding sana membuat seorang pria yang sedang memantau dari jarak jauh di Kamarnya itu menggeram murka membayangkan bagaimana panas dan membaranya Pergulatan itu.
"Aaaaa!!! Brengsek kau Nareus!!"
Teriak Stephen mencengkram kepalanya kuat, ia menyaksikan bagaimana Alen jatuh dalam perangkap dan kata-kata manis pria itu.
Sehingga iapun tak bisa lagi melihat Kebenaran yang lain membuat Pria bermasker dibelakangnya itu menyeringai iblis, ia sengaja mengambil rekaman pendek saat Nareus kekolam tadi, tapi saat bangkar itu tertutup, ia hanya bisa mengambil sekilas bayangan saja.
"Kau harus menyadarkan Alenmu! Mereka sudah melangkah jauh, Rebut dia dan balas rasa sakitmu!"
"Aku siap melakukan apapun! asalkan Alenku tak diperalat oleh Pria Brengsek itu!"
"Tentu, Nak! Dady sangat punya banyak cara!"
Ucap Pria itu seraya memikirkan guncangan apa yang akan ia lakukan nanti, ia sudah tahu Kelemahan Mark dan juga Nareus dimana, hanya tinggal membuat dua Penguasa itu menyerahkan Kekuasananya.
...
__ADS_1
Vote and Like Sayang..