
Alen menyambar Jaket barunya yang dibawakan oleh Asisten Buron dengan Nareus yang kembali memakai Sarung tangan dan Maskernya, keduanya masuk didalam kamar didalam ruangan kerja Nareus dengan Anggota Lord Devil yang telah bersiaga ditempat menunggu aba-aba dari Sang Lord.
"Jangan pakai Pisau!"
"Kenapa?"
Nareus menggeleng mengambil Pisau dari tangan Alen menggantinya dengan Pistol miliknya, membuat dahi Alen mengkerut.
"Kau hanya akan menembak jika di perlukan!"
"Tapi aku suka Bermain Pisau, Reus! Kau tahukan King Latina sering memakai Pisau dan..!"
"Kau Pergi bersamaku, bukan King latina, hm?"
Alen menghela nafas berat terpaksa menganggukinya seraya membiarkan Nareus menguncir rambutnya, bukan tanpa alasan Nareus melarang memakai Pisau, kalau Alen memakai benda itu otomatis Musuh harus mendekat barulah di tebas sempurna, sedangkan ia tak mau Alen terkena secuil darah dari Manusia busuk itu.
"Tuan!"
"Tetap seperti biasa!"
Asisten Buron mengangguk, sekarang sudah menunjukan Pukul 6 menuju malam, mereka akan melewati jalan sepi didekat pinggir kota untuk memancing para Manusia itu untuk jauh dari Perusahaan.
"Reus! Cepatlah!!"
"Iya Sayang!"
Alen hanya menggerutu menarik lengan Nareus keluar kamar, penampilan keduanya memang sangat pas untuk berlaga malam ini, tentu saja Nareus melakukan ini karna Alen yang mendesak untuk bertarung karna sudah lama tak melatih otot.
"Kita pakai Motor!"
"Mobil Saja, Sayang!"
"No! Lebih Enak pakai Motor!"
Nareus menghela nafas dan mengangguk mengiring Alen untuk melewati jalan Rahasia diLoby khusus untuknya, sedari perjalanan semuanya tampak biasa seperti siang tadi.
Alen yang berbicara membahas Annyversari dengan Nareus yang sesekali menjawab seraya terus waspada karna bisa saja musuh menembak dari kejahuan.
"Kita beri Kado Timah panas saja, Reus!"
"Hm, itu lebih baik!"
"Tapi itu kurang mengaggumkan!"
Nareus hanya menggeleng seraya lansung menaikan Alen ke Motor Besar yang biasa digunakannya untuk menjelajahi Daratan Eropa diDunia bawah tanah.
"Aku bisa sendiri!"
"Diamlah!"
Alen terdiam seraya membiarkan Nareus memakaikan Sarung tangan dan juga Pelindung kepala, namun percayalah matanya menajam menatap dalam kegelapan dengan wajah yang tak terduga.
"Arah jam 9, 13 dan 6 dari sini!"
"8! kau ketinggalan satu semut!"
Alen seketika lansung terkejut, ia kembali memperkirakan letak musuh tak mungkin ia salah hitung.
"Jam 8?"
"hm! Akan ada 10 yang menembak dan 4 yang memancing!"
Alen mengangguk mengerti mengeratkan pelukannya ke Perut keras Nareus yang juga menggenggam tangannya lembut membuat ia nyaman mendekap tubuh kekar ini.
"Kau siap!"
"I'M Ready!"
Nareus lansung menggas Motornya pelan dengan Smith yang sudah menghilang dalam kegelapan sana, tinggalah Asisten Buron yang berdiri memandangi kepergian Lord dan Smith yang mempunyai rencana sendiri.
"Cihh, Entah apa yang mereka perbuat nanti?"
Gumam Asisten Buron kembali melangkah masuk kedalam Perusahaan, ia bertugas memperkuat Sistem di Kediaman Moureen dan Juga MCC seraya meretas semua Sistem kerja dari Musuh yang sudah mengintai.
Sedangkan Nareus sudah melesat menuju Hutan didekat Pinggir kota, ia masih saja memacu pelan menikmati Mentari yang mulai menenggelamkan diri di Ufuk barat sana, semua orang pasti berfikir kedua Manusia itu adalah sepasang kekasih yang menikmati masa kemesraan menjelang malam.
"Cepatlah, Reus!"
Desak Alen merasa tak sabaran, ia semangkin menduga kalau ada dalang dibalik penyerangan ini.
Disaat Motor mereka melewati Kawasan Penambangan Batu Bara di Japspot IF, suara deru Motor dan Mobilpun terdengar dari arah yang berlawanan, apalagi area ini sudah gelap membuat sinaran dari motorlah yang akan menjadi pencahayaan.
__ADS_1
"Pakai kacamatamu!"
"Aku bisa tanpa..!"
"Pakailah, Sayang!"
Alen begitu lemah dengan kata itu, akhirnya ia memakinya dan segera bisa melihat Pasukan lawan yang memaki Topeng yang melaju kencang dari arah depan.
"Eratkan Pelukanmu!"
Alen semangkin mengeratkan pelukannya dengan Pistol yang sudah Stand-bay menunggu waktu yang tepat.
Nareus memelankan Gas Motornya melihat 2 Manusia bermotor Cepat itu ingin mengulurkan Sebuah Sabit yang begitu tajam.
Brummm..
Ia kembali memilin gas dengan keterampilan berkendara yang patut diacungi Jempol membuat Alen terperangah akan Kelihaian Nareus yang memutar arah Motor kebelakang seraya tangan yang melepas salah satu peggangan.
Dorr..Brakkk..
Pidikan senjata itu tepat dilayangkan kedada Pria bertopeng itu hingga memebentur Kawah bebatuan yang tajam, kabut dari tanah yang kering ini begitu kental membuat Nareus menepuk tangan Alen untuk memaki Masker.
"Dibelakangmu, Sayang!"
Dorr..
Alen dengan gesit membidik tepat sasaran dengan Nareus yang kembali menatap 3 Pasukan yang kembali datang dari arah samping tepat dibalik bebatuan besar yang tertimbun oleh karukan tanah.
Ia sekali lagi melajukan Motornya dengan Alen yang membidik dengan satu tangan pada seorang penembak jitu di atas tebing sana, ia melihat dengan jelas pria itu membidik kearah Nareus.
"Aku Duluan!"
Nareus terkejut saat Alen meloncat dari motornya kearah bebatuan kasar sana lalu berlari menuju Kawah yang begitu gelap membuat Nareus seakan berhenti bernafas.
"Lindungi Istriku!"
"Baik, Lord!"
Smith yang terus memantau dari atas sana lansung mengkerahkan anggotanya menguntit Alen yang tadi melihat sekilat bayangan yang seakan bermain api disini.
Slurrppp..
Alen meloncat keatas tebing sana saat satu anak panah itu membidik tubuhnya, ia terus waspada karna ia yakin ini bukan hanya penyerangan biasa.
"Brengsek!"
Bughh..
Alen berbalik dan menyalto kepala seorang pria yang tadi mengendap tepat dibelakangnya, ternyata tak cukup satu orang, ada 2 yang kembali muncul mencoba memukul telak namun Alen lebih Mendominasi Pertarungan dengan kegesitannya.
Srettt..
Bughh..
Pria itu terseret ranting tajam yang lansung terguling kebawah sana karna tendangan keras Alen yang meremukan pinggangnya.
"Kau siapa?"
"Kematianmu!"
"Ciuhh!"
Alen kembali meliuk lentur dengan cepat menggapai batu disampingnya dengan lemparan yang kuat mengenai kepapal pria itu.
Dorrr.
Satu pidikan tepat meledakan kepala Pria itu dengan Alen yang tak menunggu waktu lama kembali mencari Buruan untuk menggali Informasi.
Namun, ia tak menyadari ada satu pidikan senjata yang tepat menuju Kepalanya didekat Tepi tebing sana.
Dorrr..
Brummm..
Alen terkejut saat tubuhnya ditarik Lengan kekar Nareus yang tadi memacu gas tinggi mendaki tebing lalu melompat menggapai tangan Alen untuk menghindar.
Tubuh Alen didekap Nareus yang sudah geram dengan wanita ini seraya menembaki apapun yang mendekat didepan matanya, tembak menembak itu begitu panas dengan Nareus yang tak bisa menahan diri lagi melihat pergelangan tangan Alen tergores bebatuan tajam disini.
"Mencari mati kalian kesini!"
Dorrr..
__ADS_1
Duarrrrr...
Nareus menembak Motornya dibawah sana karna 4 Mobil mulai mendekat hingga api itu menyulut kekendaraan mereka membuat Tempat ini menjadi sarang kembang api dan petasan.
"Apa sudah selesai?"
"Kau ingin mati, ha?"
Bentak Nareus pada Alen yang terdiam menatap wajah Murka Nareus dari kacamata khususnya, pria ini terlihat sesak dengan wajah yang mengeras.
"Sudah ku bilang tetap bersamaku!"
"Tapi aku yakin mereka Membawa sesuatu yang..!"
"Aku tahu!! Aku tahu semua itu, tapi kau juga jangan se'enaknya menyerang begitu saja! Disini tempat Penambangan Alen!! Banyak bahaya belum lagi Tangki Belerang di lembah sana!"
Amarah Nareus yang menggebu-gebu membuat deru nafasnya mulai memburu mengepalkan tangannya kuat pada Alen yang terdiam.
Ia memang biasa begini, saat menjalankan Misi dengan King Latina, semuanya dilakukan Mandiri, hidup mati itu sebuah Resiko yang harus ditanggung.
"Aku sudah biasa bertarung begini!"
Ucap Alen datar lalu berdiri lansung meloncat kebawah sana membuat Nareus kembali dibuat Sport jantung, sumpah demi apapun ia kebas melihat wanita itu meloncat ke jurang-jurang yang penuh dengan bebatuan tajam.
"Haisss, Kenapa dia tak mengerti juga?"
Umpat Nareus juga meloncat dengan Smith yang sudah membekuk satu Musuh yang akan di Introgasi nantinya.
"Alen!!"
Alen hanya diam seraya berjalan didalam kegelapan tanpa memperdulikan Nareus, ia tak suka kalau cara Bertarungnya malah disalahkan begitu.
"Heyy!"
Nareus memeggang lengan Alen cepat namun wanita itu hanya fokus masuk kedalam Mobil yang menjemput mereka membuat Asisten Buron menyeringit bingung menatap wajah Nonanya.
"Lansung pulang atau..!"
"Pulang!"
Jawab Alen datar dan dingin membuat Asisten Buron menelan ludahnya kasar mendengar suara Ibu Negara itu.
"Baik!"
"Hm!"
Alen menjauhkan tubuhnya dari Nareus yang duduk dengan mata yang menatap lembut Alen yang hanya diam dengan wajah tak bersahabat itu.
..........
Stephen menatap jam ditangannya, ia masih ada di tepi pantai sana berharap Alen akan datang, sedari tadi ia menunggu tapi wanita itu tak kunjung muncul membuatnya bertambah panik.
Bahkan ia tak perduli dengan Suasana yang mulai dingin dengan deru ombak yang ganas menghantam bebatuan, tak ada Mahluk nyata disini selain dia dan Penjaga Pantai yang sedari tadi bingung dengan Pria itu.
"Tuan!"
"Eh!"
Stephen tersigap menatap pria yang tadi siang juga meneggurnya, ia berdiri dengan tubuh yang mulai merasa sejuk dan tak enak.
"Apa Kekasih anda belum datang?"
"Mungkin dia di Perjalanan!"
"Tuan, ini sudah malam! tak mungkkn anda yang berjanji tadi pagi tapi sampai sekarang belum datang, pulanglah dulu! siapa tahu dia tak sempat datang!"
Stephen terdiam, ia semangkin kelut merasakan rasa takut dan khawatir yang berlebihan, entah kenapa ia sangat ingin memeluk Alen saat ini.
"Baiklah, nanti kalau dia datang! berikan ini!"
Penjaga pantai itu mengangguk Menerima sebuket bunga yang sudah layu dimakan panas dan angin, namun aromanya masih tetap sama.
"Baiklah, anda bisa pulang dan istirahat! disini sangat dingin!"
"Terimakasih!"
Ucap Stephen lalu melangkah pergi, rasanya sangat hampa dengan hatinya yang berdenyut, tapi ia percaya Alen akan kembali menemuinya, paling tidak besok.
"Seandainya kau datang tadi, pasti aku sudah memasangkan ini!"
Gumam Stephen mengecup kotak kecil ditangannya, ia berencana untuk melamar Alen ditempat ini tapi sayangnya wanita itu tak ada.
__ADS_1
......
Vote and Like Sayang..