
Langkah Nareus lansung cepat masuk kedalam Rumah sakit terdekat disini menggendong Alen yang ada dipelukannya, Wajahnya sudah sangat merah menahan Kekhawatiran dan amarah yang sekaligus membuat ia tersendat, seakan ada bongkahan batu yang menyerang pernafasannya.
"Dokter!!!"
Teriakan Nareus menggema membuat para Team Medis dipinggir kota ini lansung berlari mendekati Nareus, mereka terkejut melihat Tubuh pria ini sudah lebam dan melepuh apalagi sesosok yang tampak sudah terlihat hangus itu.
"Apa yang kalian lihat, ha?? Selamatkan Istri dan Anakku!!"
"Ba..Baik, Tuan Muda!"
Mereka mengambil Bangkar dan lansung mendekati Nareus yang membaringkan tubuh Alen dengan hati-hati, Alen tetap diam memejamkan matanya seraya Jaket yang ia pakai sempat ia belitkan keperutnya.
"Sayang! Sayang kau..kau akan baik-baik saja!"
Ucap Nareus mengecup puncak kepala Alen yang terdiam kaku, wanita itu tak sanggup bicara ditengah rasa sakit ini, apalagi ia sempat menyentuh luka dipunggung Nareus yang juga parah dan dalam.
"Lord! anda juga harus ditangani!"
"Alen!"
Gumam Nareus memandangi Bangkar wanita itu yang sudah masuk kedalam ruang ICU sana membawa setengah nyawanya yang begitu terasa ditarik paksa.
"Nyonya akan baik-baik saja! sekarang Anda harus dita..!"
"Panggil Andrew dan Team lainnya kesini, aku tak mau tahu Suruh mereka kemari!!"
Bentak Nareus pada Asisten Buron yang seketika mengangguk lalu melangkah pergi, ia harus menghubungi Anggota keluarga Lain untuk menemani Lordnya.
"Sial!!!"
Bugh..
Nareus meninju dinding disampingnya hingga permukaan keras itu retak dengan tangannya yang berdarah, ia luruh dengan sendirinya, ia sangat panik dan merasa tak berguna dengan semua ini.
"Aku..Aku mohon jangan renggut Anakku!"
Gumam Nareus mencengkram rambutnya frustasi, apa yang harus ia lakukan jika si kecil itu memang pergi meninggalkannya, Nareus tak sanggup, ia tak kuat menghadapi kenyataan ini.
"Reus!!"
Momy Carolin yang tadi sudah lebih dulu di jemput Smith pun lansung terkejut akan kabar ini, ia sangat tak bisa berfikir tenang dan sangat menghawatirkan Putra dan Menantunya, apalagi saat melihat tubuh Nareus yang dipenuhi luka bakar.
"Re..Reus! Reus apa..apa yang terjadi, Nak?"
Nareus hanya diam memejamkan matanya seraya menyembunyikan wajah merah padam itu ditekukan kakinya seraya kedua tangan yang mencengkram kepalanya kuat.
"Nareus hiks, katakan Nak, jangan diam saja?"
"Mom!"
Lirih Nareus bergetar membuat Momy Carolin teriris, belum pernah ia melihat putranya selemah ini bahkan tak mampu mengangkat kepala keangkuhan itu untuk menatapnya.
"A..Anakku!"
"Suttt! tenanglah, Alen pasti akan baik-baik saja, Anak kalian akan baik-baik saja, Nak!"
Momy Carolin memeluk Nareus yang menyandarkan kepalanya ke dada wanita ini, ia sangat takut jika Alen banar-benar kritis bahkan bisa merenggut nyawa keduanya.
"Lord!"
Dokter Andrew yang baru datang lansung terkejut melihat kondisi Nareus, ia tak bisa memperkirakan apa yang telah terjadi pada Nyonyanya didalam sana, dari Visual ini sudah sangat membuktikan kalau sesuatu yang besar pasti akan terjadi.
"Pergi kau lihat apa yang terjadi didalam sana!"
"Tapi luka anda..!"
__ADS_1
"Pergi!!!"
Andrew lansung mengangguk dan melangkah masuk ke ruang ICU sana, sebekum itu ia menatap Para perawat laki-laki yang lansung mengerti akan Isyarat atasan mereka.
"Lord! mohon anda mengizinkan kami untuk mengobati Luka anda!"
"Tidak, kalian Tangani saja istriku didalam sana!"
"Tangani Putraku!"
Nareus menggeleng namun Momy Carolin menatap tajam Nareus yang seketika terdiam membuat Petugas Medis sana lansung mendekat.
"Aku tak ingin pergi kemanapun!"
"Nareus! kau sudah gila, ha? Momy tahu kau Terpukul tapi kondisikan Tubuhmu juga!"
"Aku hanya ingin Istri dan anakku selamat! hanya itu, Mom!"
Jawab Nareus membuang muka paniknya membuat Momy Carolin mengepalkan tangannya kuat, ia tahu segalanya dari Smith yang menceritakan dari awal kejadian.
"Ini karna Istrimu sendiri!"
"Mom!"
"Kenapa kau masih membelanya? ha!"
Bentakan itu membuat Nareus lansung menggeram pada Momy Carolin yang sebenarnya ia sangat kecewa pada Alen, ia tak menyangka wanita itu malah membuat keadaan Putranya semangkin rumit.
"Bukankah, Kau yang menginginkan ini?"
"Ta..Tapi Momy ingin kau bahagia hiks! Momy pikir dia punya Potensi itu, Reus!"
Nareus hanya diam menunduk, lagi pula nasi sudah mejadi bibur, ia tak menyesal menikah dengan wanita itu, tapi yang ia sesali kenapa ia begitu tak bisa meluluhkan Kekerasan dari sifat batu istrinya sendiri.
"Kau yang membuat aku Jatuh Cinta padanya! dan jangan sesali itu!"
"Jika hanya ingin menyalahkan Istriku! Momy pulang saja!"
Degg..
Momy Carolin terdiam dengan hati yang berdenyut menatap wajah merah Nareus yang dengan teganya mengatakan itu padanya.
"Ka..Kau bilang apa?"
"Mom! aku sudah pusing dengan semua ini dan aku mohon, Mom! aku sudah lelah!!"
Ucap Nareus mengatupkan tangannya dengan wajah yang tampak sudah tak bersemangat itu, ia tak bisa mendengar orang mencela wanita itu selain dirinya sendiri, ia yang berhak mengatakan apapun bukan orang lain.
"Kau sadarlah, Nareus! Momy sudah jauh melihat hubungan kau dan Alen! Momy sadar kalau kalian..!"
"Tak ada yang mengerti lebih jauh Hubungan kami! walau..walau aku harus melepasnya bukan berarti aku tak mencintainya!"
Momy Carolin hanya mengangguk kosong saja, kalau sampai cucunya benar-benar tiada, ia tak akan memaafkan Alen yang sedari dulu sudah ia wanti-wanti untuk selalu menuruti apa yang ia katakan.
"Jangan membuat Nareus bertambah Sedih! jangan mengungkit hal itu sekarang!"
Bisik Dady Albert pada Momy Carolin yang tertegun, ia hanya emosi dengan Alen, hanya itu, seorang ibu mana yang tak marah saat Putra yang ia sayangi malah disia-siakan begini.
"Maafkan Momy, Nak!"
"Hm! Pergilah istirahat, ini sudah malam!"
Ucap Nareus mengecup pipi Momy Carolin yang menggeleng, wanita itu akan kekeh bersama putranya, ia takut nanti Nareus akan semangkin gelap mata saat kabar buruk yang tiba menghampiri mereka.
"Momy tahu kau Khawatir, maaf kalau Momy lepas kendali!"
__ADS_1
"Hm!"
Anggota Team medis sana hanya diam seraya mengobati Punggung Lordnya, mereka tahu betapa Cintanya pria ini pada Si kecil itu, bahkan Nareus sudah menyiapkan semua Perlengkapan bayi jauh dari hari persalinan dan itu hanya mereka yang tahu.
Kreett..
Pintu ruangan ICU itu terbuka menampakan Dokter Andrew yang menatap sulit wajah khawatir Lordnya, ia takut jika pria ini benar-benar kehilangan bahkan kenyataanya begitu pahit.
"Apa..Apa yang terjadi?"
Dokter Andrew terdiam sesaat, apa ia harus mengatakan ini? tapi ia takut jika Lordnya malah meradang.
"Janin yang ada di Perut Nyonya mengalami Penurunan cairan!"
"Katakan dengan jelas!!!"
Geram Nareus mencengkram kerah kemeja Dokter Andrew yang menelan ludahnya berat melihat wajah kelam Lordnya, bahkan kobaran api kekhawatiran itu dengan jelas ia lihat.
"Nyonya tak ingin mempertahankan, Janinnya!"
Duarrr..
Nareus lansung terhuyung kaku didinding sana dengan wajah yang termenung kosong seketika terdiam seakan kata itu lansung menikam jantungnya.
"A..Apa?"
"Nyonya tak ingin mempertahankan Rahimnya karna bisa memperlambat kesembuhan luka dalam itu, Lord!"
"Ti..Tidak, Dia..Dia itu bercanda, dia..!"
Nareus ingin menerobos masuk kedalam sana namun Dokter Andrew segera mencengkalnya karna Alen disana tak ingin ditemui siapapun.
"Lord!! Anda bisa memperburuk suasana!"
"Katakan pada Bedebah sialan itu!! Lahirkan anakku dan terserah kau mau kemana, Brengsek!!"
Bentak Nareus keras membuat wanita yang sedang berbaring didepan cermin sana menangis mengigil seraya mencengkram selimut yang ada ditubuhnya.
"Nyonya!"
"Ma..Maaf hiks, Maafkan aku, Sayang hiks hiks!"
Isak Alen tak berani menatap wajahnya dicermin itu, Kakinya terasa kaku dan mengalami keretakan tulang serta keadaan tubuh yang sudah seperti Binatang dikuliti, ia sangat malu saat mengetahui Rupanya sudah tak seperti dulu lagi, bahkan Dokter mengatakan kalau luka ini sangat dalam karna ia sempat menelan Minyak itu.
"Kau brengsek, Alen!!! Kau wanita tak punya hati!!"
"A..Aku hanya takut! Maafkan aku Nareus, Maaf hiks hiks, aku malu!"
"Nyonya! apa benar anda ingin mengangkat rahim anda?"
Alen yang masih sekugukan itu hanya diam seraya menyelumbungi wajahnya dengan Rambut pendek itu, rasanya sangat sakit dan perih bahkan ia tak bisa menahan lepuhan kulit ini.
"Apa yang ha..harus ku lakukan! a..agar luka ini sembuh?"
Mereka saling pandang lalu menunduk, Bisa saja mereka melakukan Operasi Bedah Plastik besar, namun akibatnya akan berdampak pada Kandungan Alen.
"Anda bisa malakukan Bedah Plastik jika Anda tak mengandung! apa lagi Pengobatan dari tubuh Anda yang sudah menyeluruh habis ini akan sangat lama, Nyonya!"
Alen semangkin dibuat terisak, ia takut menjadi Monster bahkan ia sangat malu jika Nareus sampai melihat Rupanya yang sekarang, kulit yang tak lagi berbentuk wajar dengan wajah yang hangus bahkan hampir menyentuh Kornea matanya.
Bibirnya bergetar menyentuh kaca mata yang ia peggang sebagai alat bantu untuk melihat.
"A..Aku bukan lagi, Alen hiks! aku.. aku Monsnter!"
Gumam Alen menangis merasa sangat tak bersemangat hidup, jika sampai ia tak sembuh maka ia tak sanggup dipandang jijik semua orang, bahkan ia sangat Takut jika ia bertemu dengan Nareus.
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayang..