
Tatapan sendu wanita itu lansung menatap dari kejahian pria yang sudah tertidur lelap diatas Sofa panjang sana, wajah lelah itu membuat ia prihatin tapi Alen tak kuasa, inilah kenyataan, ia tak bisa bertahan saat semua orang menganggapnya wanita yang begitu Egois, ia hanya bisa melakukan ini, melangkah pergi karna tak mampu untuk bersama kembali.
"Kau yakin, Kak!"
"Hm, jaga dia baik-baik! biarkan dia Istirahat!"
"Lalu kau mau kemana?"
Tanya Cullen menatap Alen yang melangkah keluar dengan jalan yang tertatih-tatih menyusuri dinding sana, Cullen bingung kenapa tak satupun Anggota Nareus yang datang kesini, padahal Pengawalannya sangat ketat.
"Nona!"
"Kak!"
Cullen terkejut saat 3 Mahluk berpakaian gelap itu tiba-tiba muncul disamping Alen yang berbalik tersenyum menatap sang adik, ia terdiam sejenak lalu mengulurkan tangannya menerima beberapa kertas dari 3 Manusia disampingnya.
"Ambilah!"
"Kak, Ini..!"
"Kau begitu ingin memiliki ini, hm?"
"Kak!"
Cullen memeluk Alen yang ternyata masih ingat kalau ia sangat ingin memiliki Black Card miliknya, bahkan ia sangat terkejut saat Alen bersedia memberikan Kartu Pembeli berbagai macam Kemewahan itu.
"Isinya masih utuh! aku tak suka Belanja, kau ambil saja!"
"Kak! jangan pergi, aku tak rela kau pergi!"
"Cihh! Aku sudah biasa kemanapun, tak usah lebay!"
Ketus Alen lalu pergi keluar sana dibantu oleh Pasukan gelap King Latina yang memang mendapat perintah dari Kingnya untuk menjemput Alen kembali Ke Amerika untuk menjelaskan apa yang telah terjadi.
"Hilangkan jejaku disini, dan buat kalau aku melakukan Penerbangan!"
"Baik!"
Mereka menghilang dari pandangan Cullen yang bersandar ke dinding tempat ini, ia tak tahu apa yang akan terjadi besok, ini keputusan kekeh Kakaknya Alen, ia tak bisa melawan sama sekali, bahkan bicara saja ia tak bisa menekan lebih.
"Ouu, Ya Tuhan!! Apa-Apa'an ini?"
Umpat Cullen lalu melangkah pergi, ia sangat pusing dengan semua ini, ia tak ingin melihat kemarahan pria itu besok, apalagi bisa jadi Rumah sakit ini tak akan berbentuk lagi.
........
Mentari diatas sana sudah naik sepenggalan tangan, seperti biasa cahayanya masih redup namun masih lolos dari sela-sela Fentilasi sana hingga menyinari wajah tampan pria yang sedang menyeringit karna sinaran menyilaukan itu.
Perlahan matanya terbuka dengan bulu mata lentik yang mengerijap karna merasa sangat pusing, ringisan kecil itu keluar dengan tangan yang mencengkram kepalanya, begitu berat dan berdenyut, entah apa yang ia lakukan hingga ia bisa separah ini.
"Shitt! Kenapa aku muntah?"
Umpat Nareus saat melihat lantai sana yang dipenuhi Muntahan darinya apalagi ia sekarang sudah memakai kaos putih tipis, ia menggeleng pelan menormalkan kesadarannya lalu memejamkan mata seraya bersandar ke Sofa panjang ini.
"Alen!"
Gumam Nareus saat teringat tentang wanita itu, Nareus sudah merasa lebih baik namun ia tak ingin memulai pertengkaran, ia ingin memberi waktu aggar Alen menerima keadaannya sekarang.
Lebih baik ia membicarakan ini dengan baik, semalam ia hanya terlalu emosi hingga mengatakan hal-hal yang menyakitkan untuk wanita itu, tapi sejujurnya Nareus tak berniat mengatakannya, ia hanya ingin melepas bebannya saja.
"Nak!"
Suara Momy Carolin yang mengalun dari depan pintu sana, Nareus menoleh kilas lalu berdiri melenturkan tubuhnya yang begitu kaku dan pegal, seraya menepikan Botol-Botol Alkohol itu dengan kakinya.
"Nareus! Kau minum sebanyak ini?"
"Sudahlah, Mom!"
"Tidak! Lihat, kau pecahkan semua ini, kau hancurkan dan bisa membuat kau terluka, Nareus! Alergimu masih parah!!"
Nareus hanya diam membatu mendengar omelan wanita ini, ia tak perduli, selagi itu membuat ia lepas ia tak akan berhenti melakukannya.
"Nareus! kau muntah?"
"Mom! Cukup dan berhenti mengomeliku, aku bukan anak kecil lagi!!"
Bantah Nareus yang sudah lelah diatur-atur, ia harus ini ia harus itu bahkan selama ini ia mencoba menjadi anak, cucu bahkan Kebanggaan keluarganya, sampai menikahpun kedua orang tuanya yang memaksakan.
"Kau ini bicara apa, ha? Pergi bersihkan dirimu dan Makan!!"
"Hm!"
Nareus melangkah pergi kekamar mandi sana dengan Momy Carolin yang terlihat lesu merasa ini sangatlah buruk, ia melihat seisi ruangan ini benar-benar berantakan.
Namun, ia tertegun saat melihat surat didekat meja sana dengan satu pena yang menjadi tindihan kertas itu, dahinya mengkerut seraya mengambil benda itu.
"Apa Nareus bekerja tadi malam?"
Gumam Momy Carolin membuka kertas itu, ia membaca dengan penuh intens dan seketika matanya terbelalak kaget melihat deretan tulisan angka ini.
__ADS_1
"A..Alen!"
Gumam Momy Carolin dengan bibir yang bergetar dan mata yang menggenang merasa ini sudah tak berguna, ia menatap jam didinding sana dan benar saja, sudah 7 Jam dari sekarang.
"Ti..Tidak! Aku..Aku!"
Momy Carolin menutup mulutnya menahan isak, ia takut Nareus kembali mengamuk melihat ini, sudah cukup ia melihat Sang Putra menggila tadi malam dan sekarang tidak lagi.
"A..Aku! Aku harus membuang ini!"
"Mom!"
Deggg..
Momy Carolin lansung tercekat saat suara Nareus seakan mengikat kakinya yang kaku untuk melangkah, ia mencengkram kertas ditangannya dengan wajah yang gugup membuat Nareus yang tadinya ingin mengambil handukpun merasa bingung.
"Mom! ada apa?"
"Ti..Tidak, Tidak nak, kau mandi saja!"
Nareus tak mengindahkannya, ia mendekati Momy Carolin yang sungguh merasa kaku dan tak bisa benafas, bagaimana kalau Nareus marah besar dan bagaimana tanggapan pria ini nanti?
"Apa yang Momy peggang?"
"Ti..Tidak! ini.. ini hanya..!"
Grep..
Nareus merampasnya dengan gesit dari tangan Momy Carolin yang seketika terlonjak kaget menatap Nareus yang membuka kertas itu.
"Na..Nak! itu..itu hanya kertas biasa dan..!"
"A..Alen!"
Gumam Nareus merasa tak percaya dengan semua ini, tubuhnya kembali lemas ke Sofa sana dengan tatapan kosong yang melihat deretan kertas ini.
"Maafkan aku! Aku sudah membuat Hidupmu hancur, Nareus! aku harus pergi karna kita memang tak layak bersama, aku bahagia jika jauh darimu, dan kau juga harus seperti itu, a...aku sadar, seharusnya kita tak menikah!"
"Wanita Brengsek!!"
Prankk..
"Nareus!!!"
Teriak Momy Carolin saat Nareus melempar botol Alkohol itu kedinding dihadapan mereka, mata pria itu berkobar murka dengan aura membunuh yang pekat membuat Momy Carolin gemetar tak berani menatap wajah Anaknya.
"Na..Nak!"
"Alen!!!"
"Lord, kau..!"
"Kemana dia?? Temukan dia sekarang!!"
Geram Nareus mencengkram kerah kemeja Smith yang lansung terdiam, ia baru saja ingin mengatakan kalau tiba-tiba sistem mereka di serang Virus yang membuat peralatan dan CCTV disini menjadi Eror Conection, bahkan mereka sangat sulit memulihkannya kembali.
"Ada yang menyerang tadi malam dan..!"
Bughh..
"Dan kau tak bicara padaku, ha?? Kalian memang ingin mati!!"
Bentak Nareus memukuli Smith yang hanya diam merasa tulang rahangnya sangat remuk dihantam tinju keras pria ini, tak cukup disitu saja Nareus juga ingin membunuh beberapa Anggotanya yang hanya menerima karna ini memang keteledoran mereka.
"Kemari kalian!!! Dasar tak berguna!!"
Brakkk..
"Nareus, Hentikan!!!"
"Dimana Istriku??"
"Nareus!!!"
Teriak Momy Carolin histeris mencegah Nareus memukuli semua anggotanya hingga mereka terkulai dilantai sana, Dady Albert yang baru datangpun lansung menarik Nareus yang masih enggan menjadi penghancur tempat ini.
"Dimana Istriku?? Temukan dia secepatnya!!"
"Nareus!! Kendalikan dirimu!"
Ucap Dady Albert memeggang bahu Nareus yang sudah berapi-api, nafas pria itu memburu dengan mata merah menahan sesak, ia sudah sangat kacau dengan semua ini, bahkan ia seakan tak percaya Alen melakukan ini padanya.
"Dia..Dia pasti belum pergi! yah!"
Gumam Nareus berlari keluar sana dengan Smith yang lansung menghubungi Anggota gelap mereka untuk mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, semalam ada serangan di wilayah Lord Devil. ia harus menyelesaikan itu dan ia tak bisa menangani ini secara bersamaan.
Momy Carolin dan Dady Albert lansung menyonsong Nareus yang sudah memacu Mobil dengan kecepat penuh menuju Bandara sana, pria itu sudah tak bisa memakai akal sehatnya karna ia tak mampu untuk menerima kenyataan.
"Alen! Alen brengsek, kau..kau tak bisa pergi dariku!"
__ADS_1
Umpat Nareus sesekali menghapus lelehan bening itu, kenapa rasa sesak ini selalu menggerogoti dadanya? ia tak suka menangis tapi sekarang ia malah tak bisa mengontrol diri.
"Aku mohon, Ja..Jangan tinggalkan aku!"
Gumam Nareus mencengkram erat kemudinya, matanya benar-benar merah karna menampung lelehan bening yang sudah membuat pandangannya kabur.
Bahkan, ia membuat satu jalan kota ini kacau karna Penerobosan sesuka hati, sayangnya Masyarakat itu tak berkutik karna melihat Ukiran khas didekat depan Mobil Nareus yang sudah mengisyaratkan bahwa ini seorang Tuan Muda Nareus.
"Ka..Kau tak akan bisa pergi!"
Setelah beberapa lama, Nareus lansung masuk kedalam Bandara Internasional menuju Amerika, semua anggotanya sudah mengamankan tempat ini hingga semua Manusianya hanya diam tak berani menatap kedatangan pria yang hanya memakai Kaos tipis itu.
"Alen!!!"
Nareus berteriak kencang kedekat Staf penerbangan sana dengan mata yang liat mencari keberadaan wanita itu, sesekali ia memutar tubuhnya terus mencari tapi ia hanya mendapatkan kekosongan dengan deru nafas yang sudah sesak dan terhambat.
"Tuan!!"
Asisten Buron dengan cepat memeggangi Nareus yang sempat oleng karna kepala pria itu kembali berdenyut akibat Minuman semalam.
"A..Alen!"
"Tuan! kami akan berusaha menemukan, Nyonya!"
"Sayang!"
Gumam Nareus bersandar kedinding sana dengan nafas yang tercekat, semua orang disana diamankan ke tempat khusus hingga disini hanya Nareus yang sudah tak bisa berfikir lagi.
"Lord!"
"Di..Dimana istriku? Alen, Alen dimana?"
Smith terdiam sesaat, ia takut jika Lordnya malah semangkin hancur dengan semua laporan yang baru saja diberikan.
"Nyonya sudah pergi dari semalam!"
"Kalian! Kalian bisa melacaknya, Ka..Kalian bisa me..!"
"Kepergian Nyonya tak bisa dilacak Anggota. Lord!"
Degg...
Nareus lansung luruh didinding sana dengan tubuh yang bergetar merasa ini sudah jauh, ia tak bisa menggenggamnya lagi.
"Ti..Tidak mungkin!"
"Nareus!"
"Mom! Mom dia..dia belum pergi, kan? dia..dia tak mungkin setega ini padaku, kan Mom?"
Momy Carolin lansung memeluk Nareus yang benar-benar hancur atas apa yang menimpa Putranya.
"Mo..Momy hiks! Anakku Mom!"
"Sutt! Dia yang memilih jalan ini, Nak! dia yang ingin pergi!"
"Tapi..Tapi aku sangat mencintainya, Mom! aku..aku sangat mencintainya!"
Mereka hanya bisa menunduk atas kehancuran Lordnya, pria ini tak tahu lagi harus apa karna semangat hidup itu telah hilang, Nareus tak bisa berfikir dalam kondisi seperti ini.
"Tenanglah, dia akan baik-baik saja!"
Nareus hanya diam mengeratkan pelukannya ke tubuh Momy Carolin, ia teringat dengan sikap Alen yang begitu memperhatikan Stephen, ia semangkin teriris jika memang Alen pergi bersama pria itu.
"A..Apa aku terlalu buruk?"
"Tidak! Kau..Kau putra Momy yang sempurna, kau Nareus kami!"
Namun Nareus hanya tersenyum miris menatap kearah landasan sana, ia bukanlah pria yang diinginkan wanita itu, dan inilah penyebab Alen meninggalkannya.
"Dia akan bahagia! iya kan, Mom?"
Momy Carolin hanya mengangguk dengan isakan halus itu, lebih baik Nareus menangis dari pada bicara begini.
"Sudahlah, Nak hiks hiks! hentikan semua ini!"
"Dia akan bahagia! dia sudah berjanji padaku, dan..dan aku!"
"Reus, Sayang! ayo kita pulang Sayang, ayo!"
Nareus terdiam saja dengan senyuman perih itu, ia menahan luka ini entah sampai kapan, terlalu banyak yang ia rasakan sekarang.
"Akan ku lepas jika kau bahagia, Sayang!"
Gumam Nareus memandangi bayangan kepergian wanita itu, ia seakan merasakan sesak yang teramat, seandainya ia menjadi pria yang lebih mengerti dan memahami semuanya, ia tak akan kehilangan begini.
Sedangkan Smith, masih berusaha mencari tahu siapa yang telah meretas Sistem mereka hingga begini jadinya.
.....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..