
Stephen lansung berlari menuju Rumah sakit besar ini, ia mengabaikan tatapan aneh semua orang yang seakan tercengang akan kedatangannya setelah hilang beberapa hari ini, rasa resah itu terus mengalir hingga ia sampai keruangan yang tampak ramai dengan para Suster yang berbicara didepan pintu itu.
Seketika mereka lansung terdiam saat Stephen melangkah mendekat dengan wajah harap-harap cemas itu.
"Apa yang terjadi?"
"Tu..Tuan!"
"Katakan apa yang terjadi??"
Bentak Stephen menyala-nyala, mendengar suara itu Oskar lansung keluar dari ruangan Nyonyanya dan menatap Stephen yang lansung menyonsongnya.
"Oskar, kau..!"
"Sudah berapa kali saya bilang kalau Nona Kecil sudah tiada!!"
Teriak Oskar yang tak sanggup melihat Kondisi Nyonyanya, tangannya terkepal menatap Stephen yang benar-benar hancur bersandar kedaun pintu sana dengan mata yang bekaca-kaca.
"Tidak! Tidak Mungkin!"
Prankk..
Stephen mendengar suara lemparan gelas didalam ruangan sana, Oskar menyingkir membiarkan Stephen masuk membuka pintu itu.
Deggg,,
"Pergi!!! Pergi kalian dari sini, hiks! Pergi!!!"
Fanya melempar apapun yang terlihat dinetranya, tampilan wanita itu bukan lagi seperti Fanya yang ia kenal, wanita anggun, baik dan sangat Terurus, dan sekarang apa?
"Pergi!!! hiks hiks, Berikan Putriku!!! Kembalikan dia padaku hiks, Kembalikan!!"
Isak Fanya mencengkram kuat rambutnya dengan jeritan kuat itu membuat Stephen luruh tak sanggup melihat Kerapuhan dan kehancuran sosok itu.
"Ma..Maaf hiks hiks! Maafkan aku, Maafkan aku, Fanya!!"
Fanya terhenti sejenak lalu menatap Stephen yang menangis menatapnya sendu dibawah sana, bibir wanita itu bergetar dengan wajah yang benar-benar tak bisa menahan kerinduan pada Sang putri dan rasa sakit yang teramat pada batinnya.
"Ka..Kau..!"
"Ma..Maafkan aku hiks! Maafkan aku, Sayang!"
Fanya tersenyum miris lalu melepas kasar selang infus ditangannya membuat Para Suster sana ingin mendekat tapi mereka sangat takut karna Fanya sudah bukan Nyonya baik hati mereka lagi.
"Fa..Fanya, Maaf!"
"Ka..Kau siapa?"
Gumam Fanya terkekeh dengan lemah menyeret kakinya mendekati Stephen yang benar-benar merasa mati, ia sangat menyesal, bahkan sudah tak terhitung rasa sesak yang menyekang dadanya sekarang ini.
"Kau Siapa?"
"Aku! Aku Suamimu, Aku..!"
"Aku tak punya Suami!!"
Teriak Fanya keras lalu luruh dihadapan Stephen yang menggeleng dengan wajah sembab menyedihkan itu, ia mencoba menyentuh tangan Fanya namun wanita itu dengan kasar menepisnya.
"Fa..Fanya!"
"Step!"
Lirih Fanya menunduk mencengkram baju rumah sakitnya, ia tak kuat diposisi ini, sungguh, semangat hidupnya telah hilang ditelan kegelapan karna kepergiang Buah hatinya, ia hanya ingin putrinya ada sekarang.
"A..Aku! Aku mohon kembalikan dia pada ku hiks hiks! aku..aku janji! aku janji tak akan menganggumu lagi, aku..aku tak..!"
"Jangan bicara begitu, hiks!"
Stephen memeluk Fanya yang meluapkan rasa sakit itu, ia memukul dada Stephen untuk melepas Kesakitan dan luka yang mendalam dari hidupnya.
"Aku..Aku mohon Step hiks hiks! aku bersumpah akan pergi! aku Bersumpah Stephen, Kembalikan dia kembalikan dia padaku, Kembalikan Putriku hiks!"
"Ma..Maafkan aku! Maaf!"
"Dia..Dia menunggumu, Step! Fa..Faby!"
Fanya berdiri dengan lunglai lalu menarik tangan Stephen untuk mengikutinya, wanita itu berpeggangan ke dinding karna ia tak sanggup berdiri lama.
"A..Ayo! Fa..Faby, Faby sangat merindukanmu, ayo ikut aku!"
Stephen hanya menurut dengan air mata yang selalu keluar seraya membantu Fanya melangkah menuju Taman rumah sakit sana, ia tak memperhatikan semua orang yang memandangi mereka dengan Prihatin.
"Dia! Dia menunggumu, Step!"
__ADS_1
Stephen menatap lingkungan Taman ini dengan sangat bingung, ia tak tahu apa yang ingin ditunjukan Wanita ini.
"Fanya aku..!"
"Baby!"
Duarrr..
Stephen lansung terkejut melihat gudukan tanah yang masih begitu terurus dengan papan nisan yang tertera nama 'Faby Larasati' dimana meninggal sudah dari 1 Minggu lebih 4 hari yang lalu membuat tubuh Stephen lansung lemas tak bertulang kedekat gudukan tanah itu.
"I..Ini..!"
"Baby! Ini Dady, Nak! Faby sangat rindu Dadykan, ini Momy bawa Dady!"
Ucap Fanya mengecup papan nisan Putrinya seraya tersenyum menatap Stephen yang menatap kosong tanah dihadapannya.
"Dia..Dia itu sangat merindukanmu! dan kau tahu, hari itu Faby minta aku menjemputmu! dia sangat Mencintaimu, iya kan, Nak?"
"Fa..Faby hiks, Faby!!"
Teriak Stephen memeluk gumpalan tanah itu dengan Fanya yang tetap berbicara sendiri dengan sang putri, ia begitu bahagia menceritakan tentang kehadiran Stephen membuat pria itu semangkin dibuat hancur bahkan tak mampu untuk meratapi yang lain.
"Nak! Ma..Maafkan dady hiks, Maaf!!"
"Kendalikan dirimu, Tuan!"
Namun Stephen tak bisa, ia sangat menyesal, seandainya hari itu ia tak meninggalkan Fanya dan Putrinya maka Si cantik itu tak akan pergi begini.
"Nak! Maafkan Dady!! Maaf hiks hiks, Maaf Sayang!"
"Faby itu Punya Momy! nanti kita akan sama-sama, ya? sebentar saja, Sayang! Momy akan bawa mainan banyak untuk Faby, hm?"
"Fa..Fanya!"
"Kenapa kau diam? ayo, Baby ingin bicara! hanya sebentar Step, nanti kau boleh pergi! ayo!"
"Fanya hiks, maafkan aku!"
"Maaf? Putriku ingin kau bicara padanya, iya kan Nak? ini Dady, ayo kalian berpelukan!"
Stephen tak mampu berkata-kata lagi hingga ia hanya bisa terisak diam memeluk Gudukan tanah ini, bayangan dimana Si Mungil itu selalu tak ingin jauh darinya membuat Stephen semangkin tenggelam dalam rasa sakitnya.
"*Dady!!"
"Ada apa. hm?"
Stephen terkekeh geli setelah mendapat kecupan tersayang dari Baby Faby yang tersenyum menunjukan Gusi merah itu membuat Stephen gemas mengunyel pipi gembul itu hingga Sang Bauh hati mengeluarkan kekehan yang sangat bahagia.
"Dadyy hi Dad*!!"
Stephen teringat masa-masa ia bersama si Mungil itu, sungguh rasanya sangat sakit, hatinya terkoyak lebar mencolos seakan Kerinduannya tak lagi bisa tertampung.
"Kenapa kau diam, ha? Putriku ingin bicara! jangan buat dia menangis!!"
Bentak Fanya menarik bahu Stephen untuk mendekat kepapan Nisan Baby Faby yang membuat Stephen begitu hancur menangis tak kuat dengan semua ini.
"Ma..Maafkan aku hiks! maaf!"
"Dia memintaku untuk menjemputmu, Step! saat itu aku berharap aku bisa membawamu pulang dan..!"
Fanya bergetar tertunduk mencengkram bahu Stephen yang menatapnya penuh linangan air mata,
"Dan sayangnya kau Milik Orang lain!"
"Tidak! aku..aku hanya..!"
"Tidak apa, Ha? Putriku Pergi gara-gara kau!! kau Brengsek!!"
Stephen hanya menerima setiap pukulan dan cakaran yang Fanya berikan padanya, ia memeluk wanita itu dengan berjuta penyesalan didalam Hidupnya.
"Maafkan aku, Maaf!"
"Aku membencimu!!! Aku Benci kau Brengsek!!! Pembunuh, kau Pembunuh!!!"
Teriak Fanya menggila melepaskan beban batinnya, ia sudah tak sanggup merasakan ini, sedari awal ia sudah ditikam dengan kenyataan kalau Stephen terpaksa menikahinya dan mencintai Alen wanita yang bahkan tak bisa ia tandingi, dan disaat itu juga ia terasa Di Timpa rasa sakit yang amat sangat saat sang Putri tak lagi bersamanya.
"Kau jahat, Step hiks hiks! kau jahat!!! Kau bajingan!!!"
"Maafkan aku! Maaf, Fanya!"
,,,,,,
Nareus sedang menjawab telfon dari Mark yang menanyakan tentang pembalasan Kematian Putri Fanya, Pria itu terlihat geram karna Shena sedari tadi menangis karna tahu kalau Keponakannya yang satu itu telah tiada.
__ADS_1
"Serahkan Pria itu padaku!"
"Mark! kau bisa menghakimi Dia sesuai Peraturan darimu, tapi ada yang lebih berhak dari itu!"
"Satu tetes air mata istriku saja itu sudah menetapkan hari Kematiannya, Nareus!"
"Aku tahu! kau ambil dia dan lakukan apa yang kau mau, tapi setelah itu serahkan dia ketempatku karna ada yang harus melakukan hal ini!"
Mark mengupat diseberang sana, ia sudah sangat ingin mencabik pria itu hingga iapun tak bisa tenang karna Istrinya terluka akan perbuatan tak berhati nurani itu.
"Baiklah, kalau aku bisa menyisakannya!"
"Cihh! Kontrolah emosimu sedikit! kaukan sudah tak diperbolehkan lagi membunuh oleh Shena!"
"Orang yang membunuh Si Pembunuh itu tak masalah, aku hanya berjanji sebagai seorang suami, bukan seorang King!"
Nareus lansung menghela nafas berat, Mark ada benarnya juga, pria ini sangat bisa memainkan kata-kata, ia tak berjanji sebagai King Latina, melainkan hanya seorang Suami yang sangat mencintai istri dan anak-anaknya.
"Terserah kau saja! yang jelas sisakan nyawanya sedikit, setidaknya 10% untuk berbicara nanti!"
"Hm!"
Mark mematikan sambungannya secara sepihak membuat Nareus menghela nafas berat, pria itu selalu berlaku se'enaknya saja, tapi wajar, karna sifat Mark sangatlah Arogan dan Tempramental.
"Sayang!"
Suara serak Alen yang baru saja bagun dari tidurnya, wanita itu mengucek mata sayunya dengan tubuh polos yang masih tertutup selimut itu karna ia baru saja mengistirahatkan diri setelah Pertempuran gila mereka di Luar kamar sana.
"Sudah bangun, hm?"
Alen mengangguk menaikan kedua tangannya menggapai tubuh Nareus yang hanya dibaluti Bathrobe karna habis mandi.
"Kenapa kau sudah wangi saja, hm?"
"Kau mulai mengendus!"
Gemas Nareus mengecup puncak rambut Alen yang membenamkan wajah bantalnya kebelahan dada bidang Nareus yang menguarkan aroma Mind yang sangat harum membuat Alen ketagihan untuk menciumnya.
"Sayang!"
"Hm?"
"Nanti nama Baby kita siapa?"
Alen mengadah menatap wajah tampan segar Nareus yang merapikan helaian rambutnya yang berantakan dan mengecup bibir wanita itu singkat.
"Kalau dia laki-laki namanya Munsang!"
"Kauu!!"
Alen terkikik karna Nareus terkejut akan nama yang ia ucapkan, ia sangat menikmati wajah serius Pria ini.
"Yang benar saja, Sayang!"
"Aku bercanda, tapi Munsang itu boleh juga!"
"Tidak Boleh! enak saja Benihku kau beri nama Munsang!"
Gerutu Nareus membuat Alen benar-benar bahagia saat bersama pria ini, ia tak menyangka Kehidupan rumah tangganya berjalan dengan semudah ini, tapi tak tahu kedepannya bagaimana.
"Laki-Laki Nathan dan Perempuan Ezilla! bagaimana?"
Alen terdiam sesaat, ia rasa nama itu sangat bagus dan mempunyai arti yang luar biasa.
"Artinya?"
"Ezilla itu seorang Putri yang sangat keras kepala, tapi berhati baik! Nathan itu seorang pemimpin dan Putra Penguasa, mereka cocok untuk mewarisi Kekuasaanku! keduanya sama-sama melambangkan Kerja keras dan Prinsip!"
"Emm, Aku suka! namanya sangat Berwibawah tapi Manis!"
"Benarkah?"
"Hm! Lihat saja, pasti dia lebih mewarisi sifatku!"
Ucap Alen berbangga hati membuat Nareus bergidik, Tidak-Tidak, Sifat Alen tak boleh turun pada Putra atau Putrinya, Alen ini sosok yang sangat sulit dipahami, ia khawatir nanti Putranya malah tak mau tinggal serumah dengannya karna Tabiat sang istri yang begitu.
"Apa? kau tak suka?"
"Ti..Tidak sayang! tapi alangkah baiknya kalau mereka punya sifat masing-masing!"
Elak Nareus menggaruk tengkuknya yang tak gatal, bisa-bisa ia diamuk wanita ini kalau sampai tahu isi pikirannya.
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..
Maafya say kemaren kagak Up, soalnya Capek abis Badmintonan di Sekolah, maaf nyak☺