Memikat Cinta Nona Arogan

Memikat Cinta Nona Arogan
Aku akan menjaganya!


__ADS_3

Malam pekat ini terus bergulir dengan Nareus yang dipaksa Momy Carolin untuk diam karna telah membuat kerusuhan ditempat ini, pria itu tak berhenti meneriaki Alen aggar melahirkan anaknya dan ia akan melakukan apapun yang bisa membuat wanita itu senang.


Mereka semua tak bisa tenang begitu saja dengan para Dokter yang mulai mengkhawatirkan keadaan Alen, wanita ini sama sekali tak mau keluar bahkan tak ingin dikunjungi siapapun, bahkan ia mengurung dirinya sendiri didalam kamar rawat Intensif sana tanpa ada seorangpun yang menemaninya.


"Kak!"


Alen menyelimuti tubuhnya dengan kain tipis yang ia peggang, semua tubuhnya di perban dengan bagian perut yang tetap ikat entah apa gunanya mereka juga tak tahu.


"Kakak!"


Alen semangkin mencengkram selimutnya, ia hanya bisa menangis bahkan tak sanggup jika harus bicara pada semua orang, ia sangat malu dengan keadaannya yang sekarang.


"Keluar!"


"Kak! aku..!"


"Kau tak mengerti bahasa manusia, Ha?? Keluar kataku!!"


Culllen hanya mematung ditempat dengan wajah yang begitu sedih, ia yakin 100% Kakaknya tak mungkin tega mengangkat rahimnya, ia yang tahu baik buruknnya wanita ini, bahkan ia merasakan setiap apa yang dirasakan Alen yang terus berperang dengan batinnya.


"Kenapa kau melakukan ini?"


Alen hanya diam, selimut itu mulai bergetar menandakan sang empu didalam sana sedang mengeluarkan emosi dalam bentuk air mata itu, Cullen menyeret kakinya sedikit pincang duduk disamping Alen yang akhirnya meloloskan isakan halus itu.


"Cu..Cullen, hiks!"


"Menangilah jika Kau lega!"


Ucap Cullen memeluk Alen dengan hati-hati karna luka bakar wanita ini masih belum kering juga karna pengobatan yang tertunda karna takut Kandungan Alen malah dalam bahaya, Alen sengaja menagatakan kalau ia ingin mengugurkan kandungannya dan mengangkat rahim itu aggar bisa Operasi, namun kenyataannya ia menanggung luka itu sendiri karna tak ingin kehilangan Bayinya.


"Cu..Culen hiks hiks! Sakit!"


"Aku tahu, kau kuat! kau Kakakku yang hebat!"


Bisik Cullen mengelus kepala Alen yang masih enggan untuk menunjukan wajahnya yang diperban, wanita itu hanya terisak sendiri akan rasa sakit Fisik dan batinya.


Kenapa ini sangat sakit, hiks? bahkan ini tak bisa ku redam.


Batin Alen meremas dadanya kuat, ia mendengar semua makian Nareus padanya, hal itulah yang membuat ia selalu ditikam namun ia sadar, ia tak pantas lagi untuk pria itu bahkan ia jauh dari kata layak.


"A..Aku ingin pergi!"


Degg..


Cullen seketika tercekat ditempatnya menatap wajah Alen yang dibaluti perban menyembul keluar menatapnya memelas dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kak! kau..!"


"Aku mohon!"


Cullen terdiam sesaat, ia menatap Intens semua perban ini dan seketika tangannya terkepal merasa keadaan Alen sangat parah, dan itu hanya karna ia yang tak bisa menjaga Alen dengan baik.


"Ini karna aku! kalau aku bisa melindungimu, kau tak akan begini, Kak!"


"Aku tak butuh itu! Se..Sekarang, bantu aku keluar dari sini!"


"Tidak bisa, Tempat ini sudah di jaga ketat bahkan Nareus menggila mengawasi setiap pergerakanmu diluar sana, ini sangat berbahaya, Kak! Kondisimu sangat parah!"


Alen menggeleng, lambat laun ia juga akan Drop, yang ia pikirkan sekarang bagaimana cara Pergi dan menyelamatkan Kehidupan Bayinya.


"Aku..Aku harus pergi!"


"Kak! Kak Nareus dia menerimamu apa adanya dan..!"


"Aku tahu!!"


Bentak Alen tertahan dengan bibir yang bergetar ia sudah sangat tertekan dengan semua ini, semua orang berfikir mudah dengan merawatnya semuanya akan baik-baik saja.


"Apa kau tak berfikir. Cullen hiks! Nareus mencintaiku, dia pasti tak akan tahan jika melihat keadaanku seperti ini bahkan lebih parah!! mereka bilang ini mudah, aku tahu aku yang membuat kehancuran ini dan..!"


Alen mencengkram kepalanya yang berdenyut kuat membuat pandangannya berkunang seraya satu tangan mencengkram bahu Cullen yang panik.


"Kak! aku..aku akan panggil Dokter!"


"Jangan, aku.. aku tak apa-apa!"


Gumam Alen mengerijap beberapa kali untuk menormalkan penglihatannya, sepertinya akibat benturan dan panas itu membuat penglihatannya mulai tak bisa bergungsi.


"Kaca..Kacamataku!"


"Kak! kau..kau pakai kacama..!"


Alen lansung tersenyum miris menabok pipi Cullen yang mulai basah tak mampu melihat keadaan wanita ini, Alen sang kakak yang dulu begitu tegap, Fisik yang kuat dan sekarang malah begini.


"Aku tak perlu dikasihani, aku masih Alen kakakmu!"


"Hm! Aku percaya!"


Jawab Cullen menghapus lelehan bening itu lalu mengambil kacamata dimeja sana dan memakaikannya pada Alen yang mulai menyesuaikan tatapannya.


"Aku butuh Ponselmu!"


Cullen memberikan Ponselnya pada Alen yang terdiam sesaat meratapi keputusannya, ia yakin Nareus akan menemukan pasangan yang tepat dan itu bukan dirinya, bukan wanita Bajingan, tak mau diatur dan sumber malapetaka sepertinya. entah apa yang Alen ketik disana Cullen pun tak tahu, ia hanya diam menyaksikan deretan angka dan lambang aneh itu.

__ADS_1


"Bantu aku ke Kamar Nareus!"


"Kak! jangan paksakan kakimu untuk..!"


"Cullen!"


Tekan Alen pada Cullen yang menghela nafas kasar, wanita ini sangat tak mudah ditolak, bahkan ia tak bisa berkutik sama sekali.


"Mereka akan tahu jika kau kesana!"


"Tidak akan, Aku pinjam Mantelmu!"


Cullen melepas Mantelnya dan memberikannya pada Alen yang lansung memakainya tapi aggak sedikit kesusahan memakainya hingga Cullen membantunya dengan perlahan.


"aku tak yakin, Kakak ipar akan menerima ini!"


Alen hanya diam seraya memaksakan kakinya untuk bergerak, rasanya ditusuk berpuluh jarum dipersendiannya hingga ia meredam rasa sakit itu dengan mengigit bibirnya menahan sakit.


"Kak! kau..!"


"A..Aku baik-baik saja!"


Akhinya Alen bisa turun dan ia menapaki Keramik itu dengan pelan, Cullen memeggang kedua tangan Alen dan menggendong Wanita ini untuk keluar, setidaknya Anggota Nareus tak curiga karna mereka hanya kekamar pria itu.


Setelah beberapa lama, mereka sampai ke Kamar Nareus yang hanya berseberangan dibatasi lorong yang tak begitu panjang dengan remangan lampu dan kesunyian di malam Rumah sakit besar ini.


"Aku masuk sendiri!"


"Baiklah!"


Cullen membuka pintu itu dan untungnya tak dikunci hingga Alen perlahan melangkah menyusuri dinding kamar yang begitu remang dengan bau Alkohol yang pekat, ia beberapa kali terhenti untuk menguatkan kakinya untuk terus melangkah.


Degg..


Alen terkejut saat melihat kilasan tubuh seseorang yang duduk diatas Sofa sana membelakanginya, hanya puncak kepala pria itu saja yang terlihat olehnya membuat Alen mulai takut untuk mendekat.


"Mau kemana, hm?"


Glekk..


Alen menegguk ludahnya berat mendengar suara berat itu, bibirnya bergetar menduga kalau Nareus tahu tentang keberadaannya.


Prankk..


"Reus!"


Pekik Alen keras saat botol Alkohol itu menbentur Dinding dihadapannya membuat pecahan kaca itu berserakan tepat dilantai didekat kakinya.


"Nareus! Hentikan!"


Alen tertatih-tatih mendekati Nareus yang sudah menghabiskan berbotol-botol alkohol membuat wajah pria merah padam dan sembab membuktikan Pria ini benar-benar gila menegguk tandas Alkohol itu.


"Hm, Sayang!"


"Kau gila, ha? Alergimu bisa parah, Nareus!"


Srett..


Alen tertarik oleh tangan kekar itu hingga ia jatuh tepat kepangkuan Nareus yang sudah hilang kendali karna telah meminum Alkohol lebih dari Kebiasaannya, bahkan Aroma tubuh dan bau mulut pria ini membuat Alen mau muntah, belum lagi pinggangnya yang dibelit erat Nareus sehingga menekan luka bakar diseluruh tubuhnya.


"Nareus! aku..!"


Alen terhenti sejenak saat tatapan penuh luka Nareus lansung menghujam jantungnya, kekecewa'an itu sangat tergambar jelas dimata pria ini membuat Alen bergetar kuat tak kuasa menahan kegundahan yang ia dapati dari aura wajah sendu sang suami.


"Kapan ini membesar, hm?"


"Na..Nareus!"


Lirih Alen saat Nareus mengelus lembut perut datarnya, bibirnya bergetar menahan rasa sesak merasakan semua ini.


"Ja..Jangan bunuh anakku!"


"Ti..Tidak! Tidak akan pernah hiks hiks, Tidak akan, Sayang!"


Isak Alen memeluk Nareus yang tersenyum didalam alam bawah sadarnya, ia tak tahu kenapa tubuh wanita ini di Perban, bahkan wajahnya saja Nareus tak melihat dengan jelas.


"Hmm, Buka! Ayolah, aku tak suka begini! Buka wajahmu, Sayang!"


Alen menggeleng, menunduk dengan Nareus yang mengusap tangan Alen yang juga diperban, pria itu menautkan alisnya bingung lalu teringat sesuatu.


"A..Apa luka itu parah, Sayang? katakan padaku dan ini...Ini semua, kau..!"


"Suttt! Aku baik-baik saja, kau.. kau harus tenang!"


"Tapi, Tapi kau..kau tak akan membunuh anaku-kan?"


Tanya Nareus berharap menatap Alen yang sungguh tak bisa lagi berkata-kata.


"Jawab, aku!!!"


"A..Aku! Aku tak..!"


Grett..

__ADS_1


"Reus!!!"


Pekik Alen saat Nareus mencekik lehernya kuat membuat luka itu kembali berdarah mengalir menyusuri tangan Nareus yang begitu kuat meremukan leher Alen.


"Kau Miliku, dan Anak itu Akan tetap bersamaku! Kalian berdua Milikku!!"


"Aku.. A..Aku be..bersumpah, a..akan menjaga A..Anak kita, hiks!"


"Benarkah?"


Tanya Nareus tersenyum ditengah sayu-sayu matanya yang mulai dikuasai mabuk berat itu membuat rasa mual dari perutnya mulai bergejolak.


HOeeekk..


"Sa..Sayang!"


"A..Aku Hoeeekkmm!"


Alen membiarkan Nareus muntah dipahanya hingga rasa perih itu mulai muncul, tapi ia tak perduli, ia tetap memijat tengkuk Nareus yang sudah melampau batas Normal meminum cairan memabukan ini.


"A..Anakku!"


"Sutt! Aku..Aku janji, aku akan menjaga Anak kita, Sayang!"


"Ja..Jangan bunuh, Anakku hiks, jangan aku mohon!"


Alen mengangguk menangis seraya membenamkan wajah Nareus kedadanya, ia mengecup puncak kepala pria itu dengan isakan halus yang Nareus keluarkan, pria ini benar-benar meluapkan segalanya.


"Kenapa? Kenapa kau buat aku Menderita, Alen hiks hiks? Apa..Apa salahnya kau anggap aku sedetik saja, ha?"


"Maaf, Maafkaa aku sayang, maaf!"


"Aku..Aku sangat mencintaimu, Sayang! tapi.. tapi kenapa kau tak pernah percaya padaku, hiks! Aku..aku sangat membencimu!"


"Maaf, maafkan aku! aku wanita yang tak tahu diri, aku..aku bukanlah wanita yang baik untukmu, aku Egois Reus hiks, Aku tak layak!"


"Ehmm, Sayang!"


"Hem?"


Tanya Alen seraya menghapus lelehan bening yang keluar dari pelupuk netra tajam pria ini, inilah sosok yang sebenarnya dibalik wajah dingin itu, hanya ia yang bisa melihat ini.


"Aku sangat Merindukanmu!"


"Be..Benarkah?"


"Hm, aku ingin di Perhatikan seperti Mark dan Shena!"


Alen tercekat, ia selalu membandingkan Nareus dan Kingnya seakan pria ini tak ada harganya sama sekali membuat Alen menjerit menyesal melakukan semua itu.


"La..Lalu?"


"Kau terlalu sibuk, Sayang! kau tak suka hal yang romantis, kau selalu mengajak bertengkar!"


Gumam Nareus hampir seperti bisikan karna pria itu sudah dilanda kantuk yang berat, apalagi elusan tangan Alen kekepalanya membuat ia tenang dan terbuai dalam.


"Aku sangat Merindukanmu!"


"A..Aku juga!"


Cup..


Alen mengecup bibir pink ini dengan lembut, Nareus pun dengan cepat membalasnya bahkan sangat lembut seakan keduanya meresapi kenyal dan manisnya bibir mading-masing.


Ya Tuhan, kenapa aku begitu bodoh menyia-nyiakan Pria sebaik ini? aku yang terlalu keras kepala hingga membuat Rumah Tanggaku sendiri hancur.


Batin Alen menjerit lepas, ia sadar kalau penyesalan ini tak lagi berarti sekarang, betapa kejamnya ia selalu egois tak ingin diperintah tapi sekarang karna sikapnya itulah yang menghancurkan segalanya.


"Sa..Sayang!"


Gumam Nareus lalu memejamkan matanya merasa tubuh ini sudah lelah, batin ini sudah letih untuk menerima semuanya, namun ia tetap tak melepas belitan itu seraya bibir yang masih menyatu membuat Alen terdiam menatap wajah tampan suaminya.


"Aku tahu, a..akan ada seorang wanita yang bahkan lebih dari pada aku, a..aku.. aku..!"


Alen kembali terisak karna tak sanggup mengucapkan kata ini, sumpah demi apapun ia sangat mencintai Nareus, ia tak rela Pria ini mencintai wanita lain.


"A..Aku ingin kau bahagia, Reus! Sudah cukup kau menahan batin bersamaku, Sayang! dan.. dan untuk Baby!"


Alen tersenyum kecil menggenggam lembut tangan Nareus yang ada diperutnya, ia akan melindungi bayi ini dengan segenap jiwa dan raganya karna hanya ini penopang hidup seorang Alen.


"Ini bagian darimu! bagaimana aku sekejam itu untuk membunuh Anakku sendiri, hm? aku hanya ingin kau melupakan aku, dan lihatkah kebahagiaanmu yang sebenarnya!"


Alen berbicara menyampaikan isi hatinya, wanita itu tak berhenti mengecupi wajah tampan sang suami serta mengobati luka bakar yang masih belum kering itu, ia menahan setiap rasa sakit Fisiknya untuk sementara karna Nareus lebih penting dari apapun.


"Aku pergi ya, Sayang? jaga diri baik-baik, dan aku berjanji, aku tak akan bertemu denganmu! Kau akan bahagia, bersama anakmu kelak tapi bukan dariku, tapi kau tenang saja, aku akan menjagannya dengan sangat-sangat baik!"


Bisik Alen lalu mengecup lama bibir Nareus seraya air mata yang terus menetes ke wajah pria itu, ia juga menuliskan sebuah surat dari beberapa buku yang ada diatas mejanya, ia larut dengan sendirinya tak memperdulikan Cullen yang begitu prihatin akan Nasip Kedua Mahluk ini.


"Perpisahan adalah hal yang tepat!"


......


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2