Memikat Cinta Nona Arogan

Memikat Cinta Nona Arogan
A..Apa kau sudah menikah?


__ADS_3

Alen melangkah keluar dari Apartemen ini, tapi ia bingung kenapa tak satupun anggota Nareus yang berjaga, bahkan tak ada sekilaspun yang kenal dirinya disini, semua orang seakan acuh membuat ia mudah melangkah pergi dengan melewati para Manusia itu begitu saja.


Disetiap langkahnya, rengekan Baby Zilla selalu menyayat hatinya, ia tak bisa terus berada di tempat ini bersama Nareus, ia takut ia malah menghancurkan kehidupan pria itu sebelum pria itu datang, lebih baik ia kembali menyembunyikan diri ketempat yang lebih terpencil atau tidak ia akan kembali pada Kedua orang tuanya.


"Nona!"


Alen menatap Olivia yang lansung membukakan pintu Mobilnya, ia masuk dengan cepat seraya menenagkan Putrinya yang mulai menangis lantang dimalam hari yang pekat ini, bahkan sang bulan diatas sana terlihat terendung kesedihan melihat si mungil itu.


"Da..Dady hiks hiks! Dady Momyy!"


"Nak! kita akan bertemu dady, tapi tak sekarang, hm?"


Baby Zilla menggeleng, ia tetap menangis sekugukan dipelukan Alen yang terasa begitu kebas dan ingin menangis, ia menatap Apartemen ini dari kejahuan, kau begitu menginginkan Dadymu, Baby! begitu juga Momy yang sangat mencintainya, tapi maaf, Momy tak ingin menjadi wanita yang tak tahu Budi dan untung yang kembali membuat luka dihati Nareus ayahmu.


"Dady hiks hiks! Laa Dady Laa!! Hiks,"


"Zi..Zilla!"


Lirih Alen bergetar membuat pria yang sudah duduk didepan sana mengepalkan tangannya kuat dibalik jaket hitam dan topi yang menutupi kepalanya, Alen tak fokus melihat kedepan karna tangisan Putrinya yang semagkin kencang.


"Momyy hiks hiks! Dady laa Momyy!"


Rengek Baby Zilla menguncang lengan Alen yang memejamkan matanya menahan rasa sesak ini, ia tak tega melihat Putrinya begini, bahkan sekuat tenaga ia mencoba untuk merdam, tapi tetap saja ia tak kuasa menahan gejolak perasaan yang mendesak air bening itu.


"Ba..Baiklah! kau ingin Dady, hm?"


Baby Zilla mengangguk membuat Alen bertambah berat, ia menggenggam ponselnya dengan sangat rumit, apa ia harus menghubungi Nareus? tapi ia sangat malu jika pria itu tahu segalanya tentang semua identitasnya. namun ia juga tak tega membiarkan putrinya begini.


"Momy!! Dady laa hiks hiks!"


"Hentikan mobilnya!"


Duarr..


Alen lansung terlonjak kaget saat suara berat Bass seseorang yang sudah hafal oleh telinganya membuat Alen lansung tersambar petir menatap Pria didepan sana.


"Ka..Kau..!"


"Maaf, Nona!"


Olivia melangkah turun dari mobil membiarkan Nareus mengambil alih Setir seraya membuka Jaket dan Topinya membuat Alen benar-benar meneggang kuat dengan perasaan yang tak karuan.


"Na..Nareus!"


Nareus hanya diam mengemudikan Mobilnya kembali ke Apartemen, wajahnya sudah mengeras dengan kemarahan yang sudah mengubun membuat Alen sangat takut dengan aura yang dikobarkan oleh Nareus di mobil ini.


"Dady!"


Nareus mengulur tangannya kebelakang dengan Baby Zilla yang masih sekugukan itu merangkak menggapai tangan Besar Nareus yang lansung memeggang ketiak Putrinya dan menggendongnya ringan menuju pangkuannya.


"Dady La!"


"Jangan nangis, senyum, hm?"


Baby Zilla mengangguk memberi senyuman cantik itu seraya berkoala ke pinggang Nareus seraya membenamkan wajahnya keperut keras sang Dady, Alen masih tercekat dikursi belakang sana dengan wajah pucat tak berani menatap Nareus yang sedari tadi menatapnya tajam dari kaca spion sana.


"Dady Laa!"


"Baby tidur saja, Dady disini, Sayang!"


Baby Zilla mengangguk dan memejamkan matanya menyonsong mimpi yang tadi terhenyak karna Sang Momy malah membangunkannya ditengah keindahan yang ia alami, Nareus menarik sudut bibirnya menatap penuh kasih si kecil ini seraya satu tangan yang menepuk-nepuk bokong mungil itu aggar lebih lelap.


Alen terdiam melihat itu semua, rasa hangat itu mengalir membuat ia terbuai hingga bersandar kekursi mobilnya, apa Nareus tahu atau tidak ia tak lagi berfikir kesana saat melihat Putrinya selalu damai bersama pria ini.


"Turun!"


Alen tersentak saat Nareus menghentikan mobil tepat di Apartemen mereka tadi, ia baru sadar kalau Mobilnya sudah terparkir disini dengan Asisten Buron yang lansung menghampiri mobil Tuannya.


"Tuan!"


Nareus keluar dari Mobil dengan sangat hati-hati takut membangunkan si kecil yang malah sangat nyaman dengan Pelukan Dadynya, Baby Zilla bahkan tak mau melepas genggamannya ke Kaos tipis Nareus yang begitu harum di penciumannya.


"Ikut aku!"


"Na..Nareus!!"


Gumam Alen saat Nareus menarik tangannya keluar dari mobil dengan kuat, genggaman tangan Nareus sangat erat ke pergelangan tangannya yang memucat karna aliran darah yang terhimpit.


"Re..Reus!"

__ADS_1


Nareus hanya diam seraya kaki yang terus melangkah maju, ia tak ingin menganggu tidur putrinya dengan memarahi Alen disini, para Staf Apartemen itu hanya bisa menunduk melihat kedatangan Sang Tuan, mereka tak ingin melihat terlalu lama karna bisa menebas nyawa sekaligus.


"Na..Nareuss!!"


"Diam!"


Tekan Nareus pada Alen yang seketika terbungkam, wanita itu menguatkan cengkramannya ke Mantel yang membalut tubuh polosnya, ia masih belum sempat memakai pakaian karna tergesa-gesa melarikan diri.


Setelah beberapa lama, mereka sampai kedalam Kamar Nareus yang lansung melangkah menuju Ranjangnya dengan cengkraman yang masih menguat ke pergelangan tangan Alen.


"Da..Dady hm!"


"Sut Sut! Tidurlah, hm?"


Nareus membaringkan Baby Zilla dengan sangat hati-hati seraya meletakan Jasnya menyelimuti tubuh putrinya dan mengelus kepala mungil itu dengan penuh kasih sayang.


"Zilla tidur, ya? Dady akan segera kembali!"


Cup..


"Nareus!"


Lirih Alen saat Nareus menarik tangannya kuat menuju kamar disamping sana mmebuat wanita itu kelimpungan dengan tarikan Nareus yang menyeretnya kasar.


"Reus!! lepas!!"


"Masuk!!"


Bugh..


Nareus melempar Alen keatas ranjang didalam sana seraya mengunci pintu kamar ini membuat Alen meneggang ditempatnya melihat wajah kelam pria ini.


"Na..Nareus!"


"Bukan Presedir, hm?"


"A..Aku..!"


Alen beringsut kekepala ranjang saat Nareus melangkah mendekatinya dengan tatapan keras itu seakan melahap habis tubuhnya yang sudah bergetar takut entah apa yang dilakukan Nareus padanya dalam suasana mengerikan ini.


"KENAPA kau melakukan ini, ha??"


Keringat dingin itu mulai keluar disela-sela keningnnya dengan wajah pucat yang tak terhitung bagaimana ronanya. Nareus melempar Amplop yang ada ditangannya hingga Foto dan lembaran kertas itu terpapar jelas diatas ranjang sana membuat Alen lansung tercekat kuat.


"Dia anakku, kan?"


"Dia..Dia ..!"


Grepp...


Alen terpekik kuat saat Nareus menarik kedua kakinya kuat hingga ia lansung terbentur kedada bidang Nareus yang berdiri di pinggir ranjang ini.


"Na..Nareus!"


"Jawab aku!"


Bibir Alen mulai bergetar menunduk tak mau menatap Nareus yang tak ingin menyembunyikan Perasaannya, ia sangat terluka dengan Perlakuan Alen yang masih tak menganggapnya ada.


"Kau tahu aku sangat menginginkan Anak itu! bahkan, setiap detik aku memikirkan bagaimana caranya kau? kau menurut dan percaya padaku, Alen!!"


"Ma..Maaf hiks!"


"Maaf kau bilang? sebenarnya kau anggap aku apa, ha??"


"A..aku..!"


"Saat itu aku pikir kau pergi bersama Stephen, aku lega karna kau pergi dengan orang yang kau cintai, tapi kenyataannya, kau mengambil tindakan besar tanpa memberitahuku sama sekali!"


"A..Aku..Aku hanya!"


"Hanya apa, ha? kau membuat aku sampai berpisah dari anakku sendiri, Alen dan kau! kau begitu Egois me..!"


"Yah!!"


Lirih Alen mengangguk lalu menatap Nareus dengan mata yang berair itu, bibirnya bergetar menahan isak seraya berdiri mengikis jarak yang ada.


"A..Aku Egois! Aku wanita bajingan!! dan..dan tak pantas bersanding dengan Malaikat sepertimu!"


Degg..

__ADS_1


Hati Nareus lansung berdenyut mendengarnya, ia tak ada maksud apapun mengatakan semua itu selain ingin Alen mengerti kalau ia tak ingin berpisah begini.


"Kenapa kau bicara begitu?"


"Ka..Karna aku memang wanita seperti itu, Nareus hiks! A..Aku, Aku begitu buruk! Istri yang tak berguna, A..Aku wanita tak bermoral dan bahkan tak punya harga diri!!!"


Bentak Alen meluapkan segalanya, ia memikul beban yang sangat menghisap tenaganya, rasa bersalah yang tinggi hingga ia menganggap dirinya wanita yang tak pantas bagi Nareus. ia mengambil kertas yang ada ditangan Nareus dengan wajah jijik itu.


"Li..Lihatlah, ini bukan Manusia! dia Monster dan..dan kau..!"


"Suttt!"


Nareus memeluk Alen yang lansung menangis bersandar ketubuhnya yang menopang wanita rapuh ini dengan penuh cinta darinya.


"Aku tak sempurna Nareus hiks hiks, Tak Sempurna!"


"Aku tak pernah memintamu untuk sempurna!"


Jawab Nareus mengecup puncak kepala Alen yang semangkin tersayat mendengar ucapan Nareus yang tak disangka olehnya sendiri.


"A..Aku tak pantas hiks! ka..kau bisa bahagia dengan orang lain, aku juga akan bahagia, Nareus!"


"Kau pikir semudah itu?"


Alen menghapus air matanya dengan pasti, sekugukan itu semangkit kuat mencekat lehernya seraya menatap Nareus lembut.


"A..Aku..Aku yakin kau bisa! Kau tak akan pusing lagi memikirkan aku dan.. dan aku..!"


Alen menunduk mencengkram Mantelnya kuat, ia tak kuat berada diposisi ini sedangkan ia begitu mencintai Nareus sepenuh hatinya.


"A..Aku akan bahagia!"


"Benarkah?"


"Hmm!"


"Kenapa kau harus menyakiti dirimu sendiri?"


Degg..


Alen lansung tertegun diam memahami apa yang dimaksud Nareus barusan, apa ia salah? ia pikir Nareus sudah memiliki orang lain membuatnya menjauh.


"A..Aku tak mengerti!"


"Karna pikiranmu sempit!"


Alen terdiam sesaat meremas jari-jemari tangannya seraya menunduk membuat Nareus menghela nafas berat, membaringkan Alen dengan lembut dengan lengannya yang menjadi bantalan wanita ini diatas ranjang sana.


Alen masih diam seribu bahasa karna tak mengerti bahkan sangat tak paham dengan apa yang Nareus katakan padanya.


"Kau rela aku dimiliki wanita lain?"


Alen hanya diam, kalau bukan karna ia merasa bersalah sumpah demi apapun ia tak rela, bahkan ia bisa membunuh siapapun yang mendekati suaminya.


Melihat keraguan dari gelagat Alen membuat Nareus tersenyum kecil, disinilah ia melihat bagaimana sisi lain dari Wanita keras kepala batu ini.


"Bayangkan saja jika aku harus Bercinta setiap saat dengannya! apa aku harus memperlakukannya sama seperti mu? atau aku akan lebih..!"


"Tidak Boleh!!"


Pekik Alen membekap mulut Nareus dengan tangannya karna tersulut panas, ia tak bisa membayangkan Wanita lain yang mencumbu tubuh sempurna suaminya, apalagi Nareus akan mencintai wanita lain.


"Aku akan menciumnya, memberinya pijatan ha..!"


"Aku akan membunuhnya jika itu sampai terjadi!"


Geram Alen kehilangan kendali hingga menunjukan rasa cemburu itu membuat hati Nareus bergejolak dipenuhi mawar yang bermekaran menyambut mentari pagi, akhirnya ia bisa membuat wanita secemburu ini, bahkan Alen terlihat sangat terbakar dengan ucapannya barusan.


"Kau tersenyum? dimana dia menyentuhmu?"


Geram Alen bergambah panas melihat senyum kecil itu, ia menduga Nareus benar-benar sudah menikah membuat hatinya benar-benar meledak jika pria ini mengakuinya.


"A..Apa kau sudah menikah?"


"Sudah!"


Duarr...


........

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2