
21+.. Mohon pengertian ya say..
...............................
Kibaran rambut pendek wanita itu tampak berkibar lembut dibelai oleh sang angin yang begitu mengerti akan gejolak hati yang semangkin membuncah, ia merasa ingin menemui Stephen karna tahu kalau Pria itu sedang mencarinya sekarang, ia tak bisa bersembunyi terus begini.
Grrrr..
Suara Perutnya yang bergejolak akibat belum memakan apapun Pagi ini, ia tak bernafsu makan melihat berbagai hidangan yang lezat menurut orang namun tak dengannya yang sama sekali tak berminat.
"Hey! ayolah, kenapa jadi mengingat Pria itu?"
Umpat Alen saat sekilas bayangan Nareus yang dulu menyiapkan makanan untuknya, liurnya jadi lumer akibat membayangkan bagaimana lihai dan Lezatnya Pasta yang dulu Nareus buat.
"Tidak! dia tak disini, jadi berhentilah untuk berharap!"
Alen duduk diatas kursi sana dengan wajah masamnya, ia menopang kaki angkuh lalu menatap keselilingnya, ia terlihat gusar karna tak bisa mengalihkan pikirannya dari makanan dan Wajah Pria itu.
"Aaaaa Reussss hiks!"
"Apa?"
Deggg..
Alen yang tadi berteriak frustasi seketika terlonjak kaget mendengar suara bass itu, ia menolah ke belakang namun tak ada orang, lalu ia juga menoleh kesamping kirinya juga tak ada membuat dahinya mengerut.
"Sayang!"
Cup..
Alen yang tadinya menoleh ke samping kanannya lansung terkejut spontan tak sengaja mengecup bibir Pria tampan dengan pahatan sempurna itu karna wajah Nareus sangat dekat dengan wajahnya.
Untuk sesaat keduanya saling tatap mesra dan lembut dengan bibir yang masih menyentuh tapi tak bergerak, hela'an nafas itu menerpa wajah masing-masing dengan mata yang terus menatap Intens.
Sudut bibir Nareus tertarik saat melihat wajah penuh damba dan Kerinduan wanita ini yang tak bisa disembunyikan sama sekali.
"Sudah puas menatapku, hm?"
"Eh!"
Alen menjauhkan wajahnya yang berusaha tetap seperti biasa tak terjadi apapun, padahal jantungnya sudah mengoyak dadanya sekarang ini.
"Ke..Kenapa kau kesini?"
"Melihatmu!"
Jawab Nareus seraya duduk disamping Alen yang berusaha tenang, ia mengumpat kenapa jantungnya malah tak tenang saat pria ini datang, apalagi tubuhnya yang bergetar setiap Nareus mendekatinya apalagi menyentuhnya,
"Bagaimana dengan Baby?"
"Jangan menyentuhku!"
Alen menepis tangan Nareus yang mengelus perut datarnya, ia semangkin menjauh dari Nareus, namun pria itu juga mendekat setiap ia menggeser hingga Alen sekali lagi bergeser ke pinggir sana hampir saja ingin terjatuh.
Srett..
"Reus!!"
Pekik Alen lansung menarik leher Nareus yang dengan cepat mengangkat Alen ringan kepangkuannya dengan wajah Alen yang pucat.
"Ini semua karna kau!"
Plakk..
Nareus hanya diam menerima tamparan tertahan Alen yang sama sekali tak sakit baginya, ia membiarkan Alen menarik rambutnya meluapkan kekesalannya.
"Kenapa kau datang tiba-tiba, ha? kau membuat ku Jantungan,"
"Karna aku tahu, Istriku ini sangat merindukan aku!"
"Mana ada! kau itu terlalu Percaya diri!"
"Benarkah?"
Tanya Nareus sengaja mendekatkan wajahnya ke wajah Alen yang ingin menjauhkan wajahnya namun Tengkuknya ditahan tangan kekar Nareus yang begitu kuat.
"Kau.. Tak merindukanku! benarkah?"
"Em, I..Iya ta..tapi aku..!"
Cup..
Nareus mengecup lama dan penuh penekanan bibir Alen yang tersentak kaget namun tak bisa melawan, ia bahkan tak membuka mulutnya namun Nareus begitu lihai menggigit bibirnya hingga ia hanya pasrah bibirnya dilahap pria ini dengan lembut.
Grerr..
Bluss..
Alen begitu malu suara gaib dari Perutnya itu berbunyi membuat Nareus terkekeh kecil melepas pangutannya seraya menyelipkan helaian rambut Alen ketelinga wanita itu.
"Lapar, hm?"
"Tidak!"
Nareus hanya menggeleng saja melihat keangkuhan wanita ini, dengan satu uluran tangan panjangnya Nareus menyambar Paper-Bag yang tadi ia letakan dibelakang Sofa sana membuat dahi Alen mengkerut.
"Itu apa?"
"Lihatlah!"
Alen membukanya dengan pelan hingga matanya terbelalak kaget melihat kotak rapi yang didesain sangat manis dengan pita berwarna biru itu.
"Siapa yang memasak?"
__ADS_1
"Kau makan saja dulu!"
Alen mengangguk dengan Nareus yang membuka Kotak makananya, di dalam benda Persegi dengan bagian kotak kecil khusus untuk sayuran itu tampak penuh dengan berbagai jenis makanan sehat.
Dari mulai Sup Dagging sapi bercampur Wortel, belum lagi dengan Nasi dan Sosis yang dipanggang dengan olesan Saos tomat di Kotak satunya, tampak sangat menggiurkan dengan Minuman sebotol susu yang Stand-Bay didalam Paper-Bag itu.
"Buka mulutnya?"
Alen yang sudah begitu laparpun menurut membuka mulutnya menerima Suapan dari Nareus yang hati-hati menarik Sendoknya.
Mata Alen terbelalak merasakan aliran masakan yang sangat khas, penuh dengan rempah dan ketajaman rasa dari masing-masing bumbu itu mengalir menyusuri kerongkongannya.
"Kau yang memasak?"
"Hm, apa tidak enak?"
"Tidak! rasanya pahit!"
Ketus Alen tapi masih membuka mulutnya melahap suapan dari Nareus yang hanya bisa tersenyum miring, apa salahnya memuji sedikit saja?
"Aku minta Resepnya dari Shena!"
"Masalamam nyam.., uhukk!"
Nareus lansung meminumkan Segelas susu ditangannya ke Mulut Alen yang tadi tersedak membuat ia tersulut geram.
"Makanya kalau makan itu hati-hati! bagaimana kalau tenggorokanmu sakit? kau ini sangat keras kepala!"
Cerocos Nareus menyuruh Alen membuka mulutnya lebar supaya ia bisa melihat apa lidah atau mulut wanita ini terluka atau tidak.
"Apa tadi lidahmu tergigit?"
Alen menggeleng seraya membiarkan Nareus membersihkan mulutnya lalu kembali menyuapkan makanan itu.
"Reus!"
"Hm?"
"Aku ingin keluar!"
"Kemana?"
Tanga Nareus yang masih melakukan Aktifitasnya dengan telaten hingga Alen tak tega harus membuat Mood Pria ini kembali memburuk akan apa yang ia bahas.
"Step tadi menelfon!"
Nareus menggantung sendoknya dengan wajah yang berubah dingin membuat Alen menghela nafas halus mengelus rahang Nareus lembut.
"Aku hanya ingin memutuskan Hubungan dengan pasti!"
"Kau yakin?"
Alen menganggukinya lalu mengecup kilas bibir Nareus yang selalu cemburu akan hal itu, tapi ia tak mungkin mempermainkan Stephen juga.
"Jangan memujinya!"
Sarkas Nareus dengan wajah kesal itu, ia jadi tak bersemangat hari ini, apalagi Stephen yang pasti akan memeluk Istrinya.
"Kalau begitu kau ikut saja sekalian!"
"Tidak bisa!"
Alen lansung mengkerutkan dahinya menatap Nareus yang menghela nafas berat serata melepas Sarbet di paha Alen lalu meremas dada sintal Sang istri.
"Kalau aku bersaing dengan kekuasaan, berarti Semuanya tak Adil!"
"Tapi bagaimana lagi, Reus? dia juga harus tahu suamiku!"
Bantah Alen membiarkan Nareus menggerayai dadanya hingga Tangtop itu sudah lepas hingga pinggang membuat bagian atas Alen begitu Sexsi menantang mata.
"Aku akan menemanimu! tapi sebagai Pria biasa, itu lebih baik!"
Alen hanya mengangguk lalu mengelus kepala Nareus yang asik pada dadanya, ia tersenyum geli melihat hasrat yang begitu besar terlonjak naik.
"Kau mau, hm?"
"Apa?"
Serak Nareus menatap Alen yang menyadari kalau ia sudah sangat keterlaluan pada Pria ini, padahal Nareus begitu menghormati bahkan menghargainya hingga tak pernah bersikap lebih kalau ia tak mau.
"Hanya Penyemangat, hari ini!"
"A..Apa boleh?"
Alen mengangguk membuat wajah Nareus berbinar cerah seakan mendapat siraman rohani pagi menjelang siang ini.
Dengan ringan Nareus menggendong Alen masuk kedalam kamar sana seraya bibir yang saling menyambar mesra menyulut pemantik api yang membara di Tubuh masing-masing.
"Eughh!"
Alen melenguh saat cumbuan Nareus turun menggerayai lehernya membuat matanya sayu-sayu menikmati sentuhan membuayi ini.
Nareus berusaha selembut mungkin meski ia sudah terasa bergetar menyentuh tubuh wanita ini, ia takut sang bauh hati didalam sana malah terluka karna Aktifitas ini.
Cup..
"Kau siap, Sayang?"
Serak Nareus setelah mengecup bibir Alen kilas menatap intens mata sayu wanita ini, Alen hanya pasrah mengangguk, ia pun tak bisa menolak kalau sudah begini.
"Pelan-Pelan!"
"Hm!"
__ADS_1
Nareus melepas Kaos dan Jaketnya kesembarang arah hingga menunjukan tubuh berotot sexsi itu membuat Alen semangkin meradang menyentuhnya abstrak.
"Kau suka?"
"Yah!"
Jawab Alen lirih seraya merangkuh leher Nareus yang melepas bagian bawah mereka dengan penuh kehati-hatian, setiap sentuhan itu seakan membayang ditubuh Alen yang memejamkan matanya meresapi semua ini.
Apa dengan seperti ini kau Membuatku istimewa saat malam itu?
Apa kau begitu memperlakukan aku Penuh cinta begini?
Batin Alen bertanya penuh dengan arti, ini untuk pertama kalinya mereka melakukan dengan kesadaran yang jernih tanpa pengaruh apapun.
Pemanis setiap cumbuan yang diringi Cinta namun berbeda Pendeskripsian yang bertujuan sama.
"***, Pelan-Pelan!"
"Apa masih sakit?"
Tanya Nareus saat ia menekan sedikit tapi Alen mendesis, ia paham karna ini yang kedua, tentu masih terasa nyeri karna ukuran Benda perkasa itu kembali mengoyak luka disana.
"Hanya nyeri!"
Nareus mengangguk mengecup kening Alen memberi kenyamanan yang hangat seraya berusaha memulai penyatuan dengan pelan.
Ia mendorong pelan seraya memperhatikan wajah Alen yang terngangak akibat sengkangan benda itu kembali ia rasakan dalam keadaan sadar.
"Ouhhh, Shitt!"
"Kau merasakannya?"
Alen seketika menyembunyikan wajah malunya ke ceruk leher Nareus membuat pria itu tersenyum puas setelah menggoda wanita ini, setidaknya Alen tak menyembunyikan raut menggemaskan itu.
"Ehm, Reus!"
"It's Me, Baby!"
Nareus berbisik serak berat karna menahan ritme gerakan, keduanya sama-sama memeluk erat dengan Alen yang meloloskan ******* halus itu.
"Akhs, Reus..mm!"
Nareus sedikit mempercepat hentakannya namun masih menahan karna Perut Alen yang rentan, wajahnya sudah merah meradang dengan deru nafas yang berat dan memburu.
"Wa..Wajahmu, merah akhmm!"
"Ini.. Ini semua karna kau, Sayang!"
Bisik Nareus kembali menggerayai leher sang istri, ia begitu tak puas membuat jejak di tubuh wanita ini membuat Alen begitu melayang.
"Fa..Faster hm, Faster, Reuss!!"
Nareus mengangguk memeggang pinggang Alen untuk menjaga Perut wanita ini dengan pompa'an yang cepat membuat Alen terpekik keras mencengkram bantal dibawahnya.
"Reus!!! Reus akhh Sayang!!"
"Yeaah, Panggil namaku, Yeaah!"
Keduanya larut dalam percumbuan dengan Nareus yang dibuat meledak untuk yang kesekian kalinya setelah Pergumulan panas dulu.
Ia mengerang panas tak bisa menghentikan Cumbuannya, bahkan ia sangat menikmati ini karna Alen yang sama-sama Mendominasi membuat ia begitu lepas tanpa beban.
Keduanya larut dalam Pembakaran keringat dengan berbagai Posisi yang membakar Batin keduanya, selama berjam-jam Nareus masih tahan untuk menjadi Pejantan sedangkan Alen hanya bisa mengeluarkan suara erotis itu mengiringi pacuan sang suami.
"Reussssss, Akhmm!"
"A..Aku..!"
Nareus mengigit bibir bawahnya saat merasa Pusakanya didalam sana berkedut dan ingin memuntahkan sesuatu membuat Alen semangkin menjerit akan pendakian yang mencapai puncak.
"A..Aku.!"
"Akhhhh!!"
Lenguhan panjang keduanya dengan Alen yang tumbang diposisi rangkakannya dengan tubuh yang bergetar diselingi keringat yang bercucuran.
Nareus menormalkan deru nafasnya lalu membawa Alen kedalam pangkuannya seraya bersandar ke Kekepala ranjang sana dengan wajah yang begitu bercahaya.
"Apa perutmu, sakit?"
"Ti..Tidak!"
Namun Nareus malah memijat Pinggangnya lembut seraya mengusap perut datar itu dengan penuh kasih sayang darinya.
"Tak usah memikirkan apapun, kau fokus saja pada Bayi kita!"
"Hm, Kau juga! lakukan apa yang menurutmu itu benar!"
Ucap Alen mengelus pipi Nareus yang hanya diam mengangguk saja, ia tahu pasti Adlen itu akan mempengaruhi Stephen untuk melawannya.
"Jangan terlalu dekat dengan, Step!"
"Kau cemburu?"
"Menurutmu?"
Tanya Nareus seraya melepas penyatuan mereka dengan hati-hati dan menggendong Alen menuju kamar mandi sana.
........
Vote and Like Sayang☺
Author hanya bisa menghela nafas😂
__ADS_1