
Alen terdiam bungkam dengan wajah kosongnya yang seakan menelan habis keberaniannya untuk mengatakan ini, hatinya bergetar mendengar kata itu dengan pandangan yang lurus seakan ia dikekang sebuah kehangatan namun ia suka dengan kata itu.
Perlahan Alen berbalik dengan wajah gugupnya menatap Nareus yang menunggu jawaban darinya, pria itu menarik lembut tangannya untuk berkalung keleher kokoh Nareus yang tak memutus tatapan intensnya pada Alen yang mencari kebohongan disana, tapi tidak, ia tak menemukan apapun selain Cinta, Kasih dan ketulusan yang lansung membuat ia terbuai dalam.
"Aku mencintaimu! ini bukan hanya sekedar kata, aku serius dan tak akan mempermainkan hatimu!"
"A..Aku..!"
Alen tergagap dengan Nareus yang menagkup pipinya seraya merapatkan tubuh keduanya, Alen semangkin di buat gugup, jujur ia tak pernah begini, bersama Step ia hanya ceplos saja, tapi kenapa saat Nareus yang memperlakukan sebagai ratu ia jadi sangat gugup, bahkan keringat dingin itu mulai menetes di keningnya membuat Nareus khawatir kalau wanita ini terpaksa bersamanya.
"Kau tak merasakan hal yang sama?"
"A..Aku..!"
"Sudahlah, tak usah memaksakan! lagi pula aku tak menekanmu!"
"Aku mencintai Mu!!"
Deggg..
Alen lansung berbalik berjongkok memeggangi dadanya yang terasa bergetar kuat seraya aliran darah yang mengalir deras, wajahnya meradang tersembunyi dari balik telapak tangannya yang menutup wajah merahnya.
"A..Apa?"
"Aku malu!!"
Nareus tersenyum tak percaya lalu berjongkok dihadapan Alen yang masih menutup wajah memerahnya itu, tangannya terulur menggenggam tangan Alen yang masih enggan menunjukan wajahnya.
"Tanganmu dingin, Sayang!"
"Hmm!!! jangan menggodakuu!!!"
Pekik Alen kuat membuat Nareus terkekeh senang dengan perasaan yang lepas, rasa sesak yang selama ini ia tahu hilang sudah dengan jawaban wanita ini.
"Sayang!! Aku Mencintaimu, Mencintai kau dan Baby!!"
"Hm, aku juga! tapi jangan bilang siapa-siapa ya?"
"Kau masih mencintai, Step?"
Alen membelo malas, ia hanya rasa Kepedulian antara teman saja dengan pria itu, tak ada satupun bahkan setengah rasa pun yang masih tersisa karna Perjuangan Nareus yang memikat hatinya.
"Kenapa kau terlalu Pencemburu, hm?"
"Aku tak suka jika kau Memperhatikan dia dari pada aku!"
"Mana ada? Aku selalu memperhatikanmu, kau saja yang tak peka!"
Nareus hanya memasamkan raut wajahnya lalu berbalik menatap Lautan sana seraya sepatunya yang dijadikan Alas duduk, Alen juga ingin melakukan hal yang sama, namun Nareus mengangkat ringan tubuhnya lalu mendudukan bokong wanita itu ke punggung kakinya.
"apa kau benar mencintaiku?"
"Hm! Aku tak tahu kenapa aku selalu panas kalau kau di dekati wanita lain! aku tak suka kau acuh dan aku tak ingin kau berpaling!"
__ADS_1
"Benarkah?"
Alen mengangguk lalu membalikan tubuhnya menatap Nareus seraya posisi duduk yang masih sama membelit betis Nareus sebagai peggangan.
"Lautnya sangat segar, Sayang!"
"Hm! tapi aku lebih suka menatapmu!"
Nareus terkekeh geli mencubit pipi tirus Alen yang tersenyum padanya, keduanya sekarang sudah lega dengan Nareus yang berusaha menormalkan kegila'an didalam dirinya.
"Boleh aku berteriak?"
"Untuk?"
"Hanya ingin!"
"Kita bersama saja!"
Nareus mengangguk dan keduanya menyiapkan suara keras itu dengan Alen yang sudah mengambil ancang-ancang.
"I..2.. 3..!"
"Aaaaaaaaaa!!!!!!! Aku sangat mencintai Istriku!!!!"
Prufff..
Nareus mengumpat saat ia saja yang berteriak tapi Alen tidak membuat ia malu sendiri, namun setidaknya ia sangat bahagia hari ini.
"Hey, jangan cemberut begitu! ayo aku akan ikut kali ini!"
Nareus menggeleng merasa sangat jengkel sedari semalam Alen selalu mengerjainya membuat ia merasa wanita ini terlalu berani, tapi juga sangat menggemaskan.
"Ayolah!! satu kali lagi!"
"Tidak!"
Alen menghrea nafas lalu mulai bersiap untuk berteriak seraya mengadah menatap langit mendung diatas sana.
"Hey kau mau..!"
"Aaaaaa!!!!! Aku Mencintaimu Reus Sayang!!!!!"
"Aku juga Mencintaimu Alen Istriku, Tersayang!!!!"
Keduanya berteriak lalu tertawa girang karna merasa kalimat itu terlalu lebay dan menggelikan, bahkan Alen tak kuasa menahan binaran lalu berlari menyusuri garis pantai, keduanya saling mengejar dan melempar pasir lembut itu lalu tertawa bersama karna penampilan yang sangat kotor bak kena Kubangan.
"Hey!! Jangan lari!!"
"Ayo kejar!! Lumayan main filim India, Sayang!!"
Teriak Alen terkikik sendiri dengan Nareus yang mengejarnya membuat keduanya seakan seperti anak kecil.
Aku tak pernah sebahagia ini! bahkan satu dalam peristiwa hidup aku Tertawa dengan seorang wanita.
__ADS_1
Batin Nareus yang sedang bermain dengan Cinta kasih hidupnya ini, ia memeluk Alen erat memutar tubuhnya membuat wanita itu berputar dengan tawa yang pecah karna saling menjahili.
Wajah Alen sangat bahagia, tak ada cela untuk bersedih sama sekali dengan begitu lepas menunjukan kalau inilah Suamiku, ini kehidupanku, aku sangat bahagia dan tak seorangpun yang bisa merampas ini.
Namun, sayangnya semangkin mereka terlihat dekat dan saling mencintai dengan keterbuka'an, disitulah para Musuh yang akan menyerang sampai tandas.
"A..Apa aku salah? ka..katakan padaku?"
Lirih Stephen bersandar dibalik pohon kelapa sana menatap pilu Alen dan Nareus yang terlihat memang saling mencintai, tak raut kepura-pura'an sama sekali membuat Stephen lelah.
"A..Aku akan tetap mencintaimu! itu pasti, dan Selamat atas Cintamu!"
Gumam Stephen menghapus lelehan bening itu lalu melangkah pergi, ia akan bicara pada Dadynya Adlen aggar bisa melepas dendam itu, ia tak sanggup lagi jika harus menyaksikan ini semua, batinya sangat tersiksa dan menolak untuk melangkah maju.
"Berhentilah Menangis!!"
Geram Stephen berusaha mengendalikan dirinya, kenapa ia sangat mudah menangis? ia benci seperti ini, ia ingin seperti Nareus, pria gagah sempurna yang memiliki Fisik bak Pangeran, sangatlah berkharisma, tak pernah menangis sama sekali.
Brakk..
"Hentikan semua ini!!"
Umpat Stephen menendang tong sampah disampingnya hingga benda itu tergorok menuju kaki seseorang yang berdiri tepat dihadapannya.
"Da..Dad!"
"Sakit, hm?"
Stephen hanya diam mengalihkan tatapannya kearah lain, ia sudah tak ingin seperti ini lagi, ia akan pergi kembali kenegaranya menata hidup dengan Fanya yang sudah lama ia tinggalkan, ia akan berusaha menerima wanita itu dan Faby kesayangannya juga.
"Aku tak ingin bermain Peran lagi!"
"Memangnya siapa yang menyuruhmu memainkan Peran, hm?"
"Dad! Lupakanlah semua itu! lagi pula yang salah disini bukan mereka, Momy meninggal itu karna Takdir!"
Plakkk..
Tamparan keras mengenai pipi Stephen yang lansung tertoleh kasar membuat sudut bibir pria itu terkoyak tragis.
"Jaga bicaramu!"
"Terserah kau mau apa! tapi jangan pernah sakiti Alenku!"
Tekan Stephen lalu melangkah pergi, ia berubah pikiran sekarang, ia tak bisa kembali ke Negaranya untuk sementara waktu karna Dady Adlen bisa saja menghancurkan kebahagiaan Alennya.
"Aku yakin Dady Adlen punya rencana lagi!"
Gumam Stephen merasa pria itu sangat licik, meski ia belum tahu mana yang baik dan benar yang jelas baginya hanya Alen, wanita itu harus bahagia.
.......
Vote and Like Sayang..
__ADS_1