
Alen terus menggendor pintu itu dengan sekuat tenaga hingga bagian bawah dekat Engsel itu pun jebol membuat Nareus yang ada didalam sana menjadi khawatir takut wanita itu terluka.
"Reus!!! Kau tak bisa melakukan ini padaku!!"
Brakkk..
Alen seakan menggila menerjang pintu itu membuat Cullen yang risih mendengarnya pun lansung mendekat, ia sungguh terkejut akan apa yang dilakukan Kakaknya.
"Kak! Kau kenapa?"
"Reuss!!!"
Momy Carolin hanya diam mematung, ia yakin Putranya memiliki alasan yang kuat hingga membuat Alen begini, tak mungkin pria itu menyerah begitu saja.
"Alen! kau beri dia waktu untuk berfikir jernih, Nak!"
"Ta..Tapi aku hanya ingin memperjelas, Mom!"
Lirih Alen menunduk, bukan maksudnya untuk pergi meninggalkan Nareus, tapi ia ingin menemui Step dan membicarakan segalanya hingga ia bisa menatap masa depan dengan pria itu.
Ia sadar selama ini ia terlalu Egois menggantung hubungan mereka sedangkan Nareus sudah sangat tulus mencintainya.
"Re..Reus!"
Nareus hanya diam didalam sana memejamkan matanya dengan kepalan tangan yang menguat menahan derasnya rasa luka dan sesak, aku berjanji, setelah aku menyelesaikan semuanya aku akan menjemputmu, Sayang!
"A..Aku tahu kau marah, ta..tapi jujur aku mencoba mencari Posisimu!"
"Pergilah! aku mohon!"
Gumam Nareus mencengkram rambutnya kuat menahan rasa nyeri diatas kepalanya, ia akan berusaha, walau nanti entah apa yang akan terjadi kedepannya.
Mendengar itupun Alen semangkin dilanda kekelutan batin, ia yakin Nareus menyembunyikan sesuatu darinya. dan ia akan mencari tahu itu sampai keujung kebenaran.
"Mom!"
"Istirahatlah ke Kamar Tamu. Nak!"
"Jangan biarkan Alicia sendiri! dan Cobalah Momy rajut kembali hubungan dengan Dady Albert!"
"Ma..Maksudmu?"
Alen menghela nafas halus, walaupun Nareus menyuruhnya pergi, ia tak akan menurutinya, ia harus kembali membuat Pria itu memperjuangkannya.
"Aku akan Keluar dalam beberapa hari!"
Degg..
Mendegar itu Nareus lansung ditikam sembilu, bayangkan saja Alen akan selalu bersama Step, bahkan ia tak bisa lagi memeluk wanita itu ketika Tidur dan tak bisa saling bercanda lagi.
"A..Alen!"
"Seharusnya Aku memang tak menikah dengan Reus!"
"A..Alen!"
Gumam Nareus merapatkan dirinya kepintu sana dengan wajah yang pucat pasih, ia seakan merasakan hati yang berdenyut perih, ia sama sekali tak menyesal Menikah, bahkan ia sangat menikmati masa-masa memikat Cinta wanita itu.
"Mungkin Nareus sudah lelah!"
"A..Aku tak lelah! Tidak, Sayang!"
Gumam Nareus menggeleng, hanya seutas harapan yang akan ia rajut kembali nantinya, ia hanya perlu Waktu dan Rencana untuk kembali membangun Keluarganya.
"Selamat tinggal!"
Alen melangkah pergi berlari cepat sesekali ia menghapus lelehan bening itu takut semua orang melihatnya Menangis, ia terus melangkah keluar dari Bangunan besar ini dengan Nareus yang berlari ke Balkon kamarnya melihat wanita itu dari atas sini.
Hatinya mencolos menatap Alen yang terhenti didekat gerbang sana, wanita itu terlihat bergetar mencengkram peggangan Gerbang.
Degg..
Sekali lagi hati keduanya mendesir kuat saat mata itu mulai bertemu, Nareus sekuat tenaga mempertahankan wajah datar Dingin itu dengan Alen yang tersenyum merasa pria itu hanya bermain peran dengannya.
Namun senyuman itu seakan menikam Batin Nareus yang tak sekuat itu menahan Cintanya yang memberontak, ia tak ingin membuat Wanita itu malah ikut dalam Masalah Percintaan yang belum selesai antara Kedua orangtuanya.
"Kau ingin tahu posisimu?"
Nareus hanya diam mencengkram pinggir besi Balkon sana dengan wajah yang benar-benar merah menahan sesak.
"A..Aku bersumpah, Aku tak akan membiarkan kau Lepas dariku!"
Ucap Alen lalu melangkah pergi ke Luar Gerbang beton itu hingga Nareus kelagapan tak lagi melihat Seulat tubuh Wanitanya itu.
"Smith!!!"
__ADS_1
"Iya, Lord!"
"Kau kawal Istriku!"
Smith mengangguk lalu menghilang pergi secepat mungkin dari arah belakang sana, ia tahu Lordnya tak semudah itu melepas Alen dengan patuh saja pada Masalah yang ada.
"Kenapa bisa begini?"
Umpat Nareus kasar mencoba menyusun rencana baru, ia harus menangkap pria itu dan membawanya ke Dady Albert yang akan menyelesaikan semua Masalah yang bermula dari Kisah yang lalu.
"Reus!"
Nareus segera menormalkan raut sajahnya, ia tahu Momy Carolin tak tahu apapun tentang Perjanjian antar Keluarga Bangsawan itu.
"Mom!"
"Kenapa?"
Nareus hanya diam menarik nafas halus dan mengelap wajahnya dengan Tisu sana seraya bergestur biasa saja, namun Momy Carolin adalah seorang ibu, ia tahu bagaimana Kegelisahan dan Kesedihan yang merendung Putranya.
"Kenapa?"
"Tidak ada, Mom!"
"Tatap Momy!"
Momy Carolin menangkup pipi Nareus lembut membuat Pria itu tertegun melihat wajah Momynya, Kau tahu Mom? seandainya dulu kau menyadari kalau dua Saudara yang memperebutkanmu itu sekarang ingin kembali meminta Keadilan.
"Kau kenapa melakukan ini?"
"Mom!"
"Jawab, Momy!"
Nareus terdiam sesaat, bukan ia yang pantas menjelaskan ini, tapi Dady Albert lah yang harus bertindak tegas.
"Aku hanya merasa tak cocok!"
"Sedari awal kalian juga tak Sama!"
"Mom, Sudahlah! biarkan aku mengurus semuanya!"
Momy Carolin lansung terbungkam, ia menatap wajah Tampan Nareus dengan penuh tanda tanya dan Keabuan dalam pikirannya yang tak pasti.
"Kau tak bisa pergi dari Alen!"
"Kau tak bisa, Reus! Lihat apa yang dia lakukan untuk menarikmu kembali!"
Nareus hanya diam menatap kepergian Momy Carolin, jika memang Perjanjian itu tak bisa dirundingkan, jalan satu-satunya hanya ia yang harus mengalah.
.............
Alen melangkah cepat turun dari Taxsi yang mengantarnya menuju Apartemen Stephen, ia mendapatkan Alamat Stephen dari Laptop Nareus kemaren hingga ia dengan leluasa masuk kedalam Bangunan megah ini.
"Mis!!! Missss!!!"
Resepsionis yang memanggil Alen keras karna menerobos begitu saja, para Penjaga diluar sana juga kelagapan akan Wanita ini.
"Mis, anda tak bisa masuk! ini kawasan Terlindung!"
Alen mencoba menahan emosi yang meluap, ia mendekati Resepsionis itu dengan wajah yang begitu menakutkan dan aura yang kelam.
"STEPHEN! Berikan Nomor Kamarnya!"
"Tapi saya tak bisa karna..!"
Alen menunjukan Kartu nama Nareus yang ia curi beberapa waktu lalu hingga ia mudah melakukan segalanya hingga membungkam Manusia-Manusia ini.
"Ka..Kamar 304!"
Alen lansung melangkah pergi dengan Kegeraman yang tersulut dalam hatinya, kalau memang Stephen melakukan itu, berarti Pria itu telah mempermainkannya semenjak bertemu kemaren.
"Mis!!"
Alen hanya diam saat ada beberapa Stap Apartemen yang menyapanya karna mereka kenal Alen sebagai pengawal yang di Beritakan itu sering mendampingi Presedir Nareus.
Brakk..
"Step!!!"
Alen berteriak setelah menerjang pintu kamar ini, ia ingin meminta kejelasan hinggal akal sehatnya pun tak berfungsi sekarang.
"Steppp!!!"
Suara keras Alen membuat Penghuni didalam sana tersentak kaget dan membuka Pintu kamarnya, namun seketika ia terkejut sekaligus senang melihat siapa yang mengunjunginya.
__ADS_1
"Sayang!!"
Dengan senyum merekah itu Stephen terlihat sangat bahagia menatap Alen yang hanya menatapnya datar lansung mendorong pria itu masuk menjauhi Kerumunan.
"Sayang, aku sangat merindukanmu!"
Alen menepis tangan Stephen yang ingin memeluknya dengan kasar membuat pria itu terlonjak kaget dan menatap Aneh Wajah cantik keras Alen.
"Sa..Sayang! Kau kenapa?"
"Jawab pertanyaanku dengan Benar!"
Stephen menyeringitkan dahinya seraya menarik Alen untuk duduk dipinggir ranjang itu dengan wajah yang tetap lembut.
"Ada apa, Sayang?"
"Apa kau sudah menikah?"
Duarrrr...
Stephen seketika tersambar petir dengan pertanyaan yang Alen tanyakan, wajahnya pucat dengan tatapan kelut mulai gelisah.
"Sa..Sayang! aku..aku itu..!"
"Jawab dengan benar!"
Stephen menggenggam erat tangan Alen, rasa takutnya mulai naik kepermukaan membuat ia memikirkan hal yang tentu sangat membuat Duga'an Alen membenar.
"Sa..Sayang! A..Aku menyiapkan ini, aku..aku ingin kita menikah dan..!"
"JAWAB AKU!!!"
Bentak Alen membuat Step benar-benar dilanda ketakutan seraya menggaggam erat kotak cincin ditangannya menatap Alen penuh kasih.
"A..Aku! Aku bisa jelaskan, Sayang! aku..!"
"Jadi kau sudah memiliki istri?"
Bibir Alen bergetar menatap penuh rasa muak pada Step yang sungguh ingin mati menatap Alen yang sangat kecewa.
"Alen, Sayang! aku mohon maafkan aku, aku terpaksa sayang! aku terpaksa!"
Step berjongkok dihadapan Alen yang hanya diam, ia tak marah jika Step benar-benar memiliki istri, tapi kemana pria ini selama beberapa hari di Negara ini dengan kebohongan besar itu.
"A..Aku berjanji, Aku akan menceraikannya dan..!"
"Apa kau gila, Haa????"
Bentak Alen membuat Stephen sungguh sesak, ia tak sanggup jika harus kehilangan Alen untuk yang kedua kalinya, ia tak sanggup untuk itu.
"Al..Alen sayang! aku mohon jangan tinggalkan aku! Jangan sayang!"
"Kau tahu, Step! Sejak kau Pergi, saat itu kau yang meninggalkan aku!"
"Tapi aku berusaha Berjuang memenuhi Permintaan Orang Tuamu!!"
Jawab Stephen tak sanggup, ia sangat mencintai Alen, tak pernah ia lupa dengan wanita ini, bahkan 7 tahun itu ia lalui dengan rasa keterpurukan dalam bayangan Cinta tulus masa sekolahnya.
"Dan kau...Kau tak bisa meninggalkan aku! tak akan!"
Stephen memeluk Alen yang terisak didalam kehangatannya, batin Alen bergelut, ia sadar Cintanya bukan lagi milik Step, ia terlalu larut dalam Cinta masa kecilnya.
"A..Aku tak bisa Step!"
Deggg.
Stephen tertegun kosong menatap kelut wajah Alen yang terlihat tak lagi menatapnya sebagai seorang Step yang di Cintai itu.
"Ti..Tidak, Tidak jangan! Jangan rubah namaku, Tidak Alen hiks! Jangan..!"
Stephen seakan menggila memeluk Alen erat bahkan ia tak membiarkan Alen untuk mencari cela untuk keluar dari belitannya.
"Ka..Kau Cintaku, kau..kau hidupku sayang hiks, kau hidupku!"
"Aku mohon lepaskan aku!"
"Tidak!!!"
Bentak Stephen mengecup puncak kepala Alen yang sungguh teriris dengan Perlakuan Stephen, kenapa ia harus menyakiti dua Pria yang bahkan begitu tulus mencintainya.
"A..Aku sudah menikah, Step!"
Duarrr,..
.....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..