Memikat Cinta Nona Arogan

Memikat Cinta Nona Arogan
Lagi?


__ADS_3

Langkah lebar Nareus lansung menapaki satu persatu tangga menuju pintu besar masuk kedalam Kediaman Mark yang dijaga ketat oleh para anggota inti lainnya, ia hanya mengangguk datar saja saat para penjaga dan pelayan disana menyambutnya dengan penuh hormat.


"Selamat datang Tuan Muda Moureen!"


"Hm!"


Gumam Nareus datar tanpa ingin berbicara lebih, mereka semua seakan ditimpa bunga yang merebak saat melihat wajah tampan Pria ini yang selalu bisa melelehkan hati para wanita, tentu mereka sangat puas bekerja disini, selain bisa melihat King yang super Tampan itu apalagi teman-teman sejawatnya juga menunjukan kuasa kesempurna'an, entahlah meski hanya melirik kilas itupun sudah termasuk hadiah untuk malam ini.


Nareus menatap datar seluruh sudut Bangunan mewah Kediaman Mark yang tak diragukan lagi bagaimana Desain Interiornya yang sangat memukau, dipenuhi pilar-pilar kokoh yang seakan menopang kejayaan di Kota kekuasaan King Latina itu, namun tujuannya sangat berbeda dengan apa yang terpapar dihadapannya sekarang.


"Nareus!"


"Dimana Mark?"


Sambar Nareus pada Shena yang baru turun menggendong Baby Rea yang tersenyum menatap wajah lembut Nareus yang selalu menyukai anak-anak dari Abinya.


"Sian diruang kerjanya! memangnya kenapa?"


Mata Nareus menyipit menatap Shena yang gelagapan, wanita itu tak bisa berbohong dari arti tatapan Nareus yang seakan menekannya untuk berbicara, tapi ia tak tahu harus membicarakan apa karna yang berperan disini hanyalah Suaminya.


"Kau tahu sesuatu?"


"A..Aku! Itu.. !"


Nareus mendekati Shena yang mulai gugup dengan Asisten Buron yang hanya diam menunggu perintah dari Lordnya.


"Sekali lagi kau melangkah! kau tak akan melihat Istri dan anakmu setelahnya!"


Suara Mark yang begitu berat dan berkharisma diatas sana seakan menghalang langkah Nareus yang mendekati Shena, wanita cantik itu lansung mendekati Mark yang membelit pinggangnya mesra.


"Aku ingin bicara denganmu!"


"Hm, ikut aku!"


Nareus hanya diam mengikuti Mark yang melangkah sendiri keatas dimana Ruang khusus bekerjanya yang tak jauh dari ruang kerja Shena untuk Mendesain jika ingin.


"Katakan yang sebenarnya!"


"Tentang?"


Tanya Mark seraya duduk diatas kursi kerjanya dengan bertopang kaki angkuh, sama halnya dengan yang dilakukan Nareus sehingga ruangan ini begitu serius karna dua penguasa Benua itu saling bertentangan dengan aura khasnya sendiri.


Nareus bersandar dikursinya menatap Mark tajam dengan kemarahan, kegeraman yang menyulut emosi darinya, bahkan ia sangat jengkel dengan semua ini.


"Nona Lucister, Identitas Pengganti, Istriku!"


"Lalu?"


"Mark! aku tak sedang bercanda!!"


Geram Nareus seakan menelan Mark yang mengerti, tapi ia bingung kenapa Nareus tak melakukan ini sejak lama sedangkan ia sudah tahu segalanya dari dulu.


"Kau pikir aku bodoh? kau yang mengirim mata-matamu Kekediamanku hingga Istriku tak nyaman disini!"


"Itu salahmu, kenapa kau malah membuat Istriku pergi!!"


Perdebatan dari keduanya sangatlah penuh rencana, sedari mula Mark tahu kalau Nareus menyebar semua Penguntit di Kediamannya, pria ini sudah tahu kalau ia yang menyebabkan Alen pergi tapi tak tahu kemana wanita itu melarikan diri.


"Itu salahmu sendiri yang tak bisa menjaganya!"


"Kauu..!"

__ADS_1


Nareus melempar Vas bunga disampingnya ke wajah Mark yang mengelak gesit lalu menendang meja dihadapannya namun sayang Nareus juga melakukan hal yang sama membuat benda keras itu harus menjadi mainan dua Manusia berkuasa ini.


"Katakan yang sebenarnya!"


"Kau ingin meminta tapi kau seakan ingin berperang!"


"Akan ku lakukan jika kau memulai!"


"Kau pikir aku takut, hm? Alenmu dengan mudah ku ambil karna dia masih bagian dari anggotaku!"


"Mark!!!"


Brakkk..


Nareus menendang meja dihadapannya kuat membuat Mark lansung meloncat dari kursinya ke samping sana dengan Laptop, serta beberapa berkas yang berantakan kelantai sana membuat Asisten Buron tak tahu lagi harus berbuat apa.


Nafas Nareus memburu berdiri menghadap Mark yang hanya diam, ia hanya ingin melihat bagaimana Nareus mencintai Alen yang seharusnya juga paham akan kondisi ini.


"Katakan!"


"Dia istrimu!"


"Dan?"


"Dan Dia putrimu!"


Degg..


Nareus lansung berdenyut mendengar kata itu, senyumnya memekar kecil merasa ia sudah sangat benar, Zilla adalah putrinya dan Alen adalah istrinya.


"Pu..Putriku!"


"Dia..Dia putriku kan, Mark?"


"Tidak! Dia Putri Asistenmu!"


Nareus hanya mendecah kesal lalu memeluk Mark jantan dengan Mark yang juga mengerti ikut bahagia, ia paham sebagai seorang ayah, bagaimana senangnya memiliki anak dan memanggilnya ayah.


"Lain kali ku pecahkan kaca Perusahaanmu!"


"Aku tunggu itu!"


Ucap Nareus menepuk bahu Mark yang geram karna ruang kerjanya jadi berantakan gara-gara amarah Nareus yang mudah sekali tersulut karna Anak dan Istrinya, hal yang sama dengan yang ia rasakan dulu.


"Diamana Bukti Operasinya dan Keterangan lahir Putriku?"


"Hmm, Ini!"


Mark memberikan satu Amplop ketangan Nareus yang lansung membukanya melihat lembaran-lembaran USG dan hasil bedah dati wajah Alen, dari semula hingga sempurna seperti sekarang.


Namun, Nareus terkejut melihat foto Alen yang asli, tangannya bergetar menatap Mark yang mengangguk membuat tubuhnya lemas ke kursi sana.


"Ja..Jadi dia..!"


"Hm! Kau pikir dia tega mengugurkan kandungannya? bahkan dia menderita selama 9 bulan sampai anakmu lahir, barulah dia bisa diobati dengan serius!"


Srett..


Hati Nareus tercabik mendengarnya dengan tubuh yang begitu lunglai, ia memaki wanita itu saat Alen pun membutuhkan dukungan darinya, tak seharusnya ia menghakimi Alen ditengah ketidakberdaya'an wanita itu.


"A..Apa yang aku lakukan?"

__ADS_1


Umpat Nareus mengusap wajahnya kasar merasa sangat tak berguna, seharusnya ia mengerti posisi Alen dan menbari solusi dengan baik, tapi dia malah..


"Dia memintaku untuk menyembunyikan semuanya darimu!"


"Ke..Kenapa?"


"Karna dia sangat mencintaimu!"


Degg..


Nareus semangkin dibuat tercabik, ia menatap wajah Alen yang dulu, terlihat sangat mengerikan dengan kulit yang tak bisa dikenali lagi, tapi kenapa pikiran wanita itu terlalu sempit hingga pergi darinya.


"Kenapa dia malah pergi? seharusnya dia bicara padaku, Mark!!"


"Kau tanya padanya! itu bukan hakku lagi,"


Jawab Mark melangkah pergi meninggalkan Nareus yang sudah mengembun, dada pria itu sesak dan dicampur rasa geram yang teramat.


"Dia harus menjawab semua ini!"


Nareus melangkah pergi dengan cepat karna ingin Alen memberitahunya semuanya, tak ada lagi yang disembunyikan darinya bahkan ia benci sikap Alen yang tak pernah ingin mengetahui pendapatnya.


..............


Netra cantik wanita itu mengerijap dan berkedut karna begitu ngantuk hingga tak bangun sampai detik ini, raut wajah bantal itu masih setia diwajahnya dengan menatap sang buah hati yang juga tertidur disampingnya.


Namun, ia terkejut saat melihat ranjang dan sekeliling tempat ini dengan mata yang membulat sempurna.


"Ka..Kamar?"


Gumam Alen beringsut kekepala ranjang, ia juga tercekat saat melihat tubuhnya yang polos dan ada bekas Kismark diseluruh kulitnya, apalagi tulang-tulangnya serasa remuk dan bagian inti yang masih pegal.


"A..Apa aku?"


Alen lansung menutup mulutnya menduga apa yang tekah terjadi, bahkan ia semangkin gemetar takut membayangkan siang tadi ia dan Nareus menghabiskan tenaga dan waktu untuk bercumbu diruangan Meeting Tuan Dayle.


"Ti..Tidak! aku..aku tak boleh disini!"


Alen menggeleng menyambar Mantel disampingnya, ia takut jika nanti Istri Nareus datang dan malah marah besar membuat kehidupan Pria itu kembali hancur hanya karnanya.


Namun, Alen tersigap saat melihat Baby Zilla yang memeluk Jas Nareus dengan erat, terpa'an nafas halus si kecil itu membuat Alen tersayat sakit.


"Ma..Maafkan Momy, Nak!"


Bisik Alen mengelus kepala mungil putrinya, ia harus kembali pergi karna ini sudah sangat melampaui rencananya, ia tak ingin menganggu kehidupan Nareus apalagi menghancurkan rumah tangga orang lain.


"Mo..Momy janji, Baby hiks! kita..kita akan bertemu dengan dady Zilla tapi tak secara lansung, Sayang!"


Isak Alen tak mampu untuk bertahan, ia dengan hati-hati mengambil Baby Zilla dalam gendongannya membuat si mungil itu merengek karna Jas yang ia peluk tak lagi ia rasakan.


"Dady hiks hiks, Dady laa!"


"Suttt! Ini Momy, Sayang! kita harus pergi dari sini,"


Alen menyambar tas dan Ponselnya, ia menghubungi Olivia untuk segera menyiapkan Pesawat untuk pergi ke Kediaman Momynya.


Hatinya sangat berat meninggalkan tempat ini, tapi apalah daya karna ia tak lagi memiliki Nareus dan tak akan pernah bersama lagi.


......


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2