
Alen lansung meneggang ditempatnya menatap Nareus dengan penuh kekecewa'an, hatinya mencolos kuat seraya sayatan luka yang tergambar jelas dari matanya yang mulai meneteskan air bening itu kembali luruh.
"Su..Sudah?"
"Hm! Istriku sangat cantik!"
Bibir Alen bergetar mendengarnya, itu karnanya ia selalu pergi karna tak ingin mendengar Nareus mengatakan ini, bahkan rasanya lebih sakit untuknya mendengar ini dari mulut Nareus sendiri.
"Ka..Kau mencintainya?"
"Yah!"
"Lalu kenapa kau mencariku, ha??? hidup saja dengannya dan jangan mengangguku!!!"
Bentak Alen menyala-nyala mencoba lepas dari pelukan Nareus yang tetap membelit pinggangnya, ia tak habis pikir dengan Nareus yang tega melakukan ini padanya.
Jika kau sudah menikah, untuk apa kau cari aku Nareus, hiks? kau membuat aku berharap banyak lalu kau hapuskan begitu saja.
"Aku sangat mencintainya! bahkan rasanya tak cukup untuk menjabarkan rasa ini!"
"Lepas!!"
Alen memberontak kuat, ia akan pergi bahkan tak akan pernah kembali lagi, sekarang sudah jelas baginya siapa ia dan Nareus sekarang ini.
"Kenapa kau suka sekali pergi dan pergi tanpa meminta pendapatku?"
"Lepaskan aku!!!! hiks, Lepasss!!"
Alen menjerit kuat semangkin menyentak tubuhnya kasar namun Nareus juga dengan kuat membelit tubuhnya membuat Alen kaulahan hingga terdiam dengan nafas yang tersendat, ia menatap Nareus penuh permohonan karna ia tak ingin berada di posisi ini.
"A..Aku mohon lepaskan aku, Nareus hiks! aku..aku janji tak akan mengusik hidupmu lagi, a..aku berjanji!"
"Kau mencintaiku?"
Alen mengangguk lalu menunduk merasa ia sudah lelah untuk memberontak, sekuat apapun ia mencoba lepas maka Nareus juga akan sekuat tenaga membelitnya kembali.
"A..Apa istrimu tak akan marah jika kita begini?"
"Menurutmu?"
Tanya Nareus pada Alen yang menghela nafas berat, wanita itu berbaring terlentang menatap langit-langit kamar ini dengan sendu, ia menganggap inilah hari terakhirnya bersama Nareus.
"Maafkan aku!"
"Untuk?"
"Segalanya!"
Jawab Alen dengan lirihan, apa ia harus rela membiarkan Nareus bersama wanita lain sedangkan hatinya masih terpaut dalam? memang ia sekuat tenaga menepis bahkan mengubur Cintanya tapi ia tak sekuat itu untuk bertahan lebih lama.
"Sekarang kita akan apa?"
"Maksudmu?"
Alen menatap Nareus yang lansung menarik kepalanya hingga terbaring ke bahu kokoh Nareus yang juga terlentang menatap langit kamarnya dengan wajah tak terduga itu.
"Istriku tak akan tahu kalau aku Selingkuh!"
"Na..Nareus! kita tak seharusnya begini, aku yang salah membuatmu terluka dan..dan kau tak bisa bersamaku lagi, Sayang!"
"Tapi aku ingin kau!"
Ucap Nareus memainkan surai pirang panjang ini dengan jarinya, banyak hal yang telah berubah dari Fisik wanita ini tapi menurutnya apapun yang dimiliki Alen itu sangat luar biasa dan tak bisa ia pungkiri memang cantik dan bahkan menyatu bersama Alen yang dulu.
"Kau tak boleh begitu, Dia istrimu bukan?"
Nareus mengangguk saja meski ia sudah tak bisa menahan melihat raut wajah sendu mencoba kuat ini, dengan tubuh Alen yang terpapar nyata dibalik Mantel yang sudah tersingkap itu.
"Apa dia..?"
"Dia kenapa. hm?"
"Apa dia pernah menyentuhmu?"
Nareus terdiam sesaat, sepertinya mengerjai wanita ini sangatlah menyenangkan, apalagi sedari dulu Alen sangat sulit untuk dipermainkan, sekilat ide licik itu memenuhi memori otak Nareus yang berfantasi liat dikeadaan ini.
"Hm!"
"A..Apa?"
"Dia menguasai tubuhku setiap bercinta!"
Alen lansung meneggang kuat menatap bagian bawah Nareus yang menjadi pemfokusannya, ia mencengkram seprey dibawahnya kuat menahan amarah, benci dan sakit membayangkan Percintaan panas ini.
"Dia..Dia menciummu?"
"Yah! bahkan lebih liar dari apa yang ku bayangkan, dia sangat pandai bermain dan bisa memuaskan!"
Alen menatap bibir Nareus dengan penuh rasa cemburu, rasa tak terima itu meluap memenuhi dada dan pikirannya yang terbakar panas.
__ADS_1
Tidak, Na..Nareus hanya miliknya, Pria ini hanya boleh dicumbu olehnya, bukan wanita lain.
Cup..
Ciuman kecil itu lansung terlempar ke sudut bibir Nareus yang hanya diam mematung menerima setiap apa yang direspon wanita ini, hati Nareus sudah sangat berbunga entah apa yang telah meracuni otaknya hingga ia hanya ingin Alen selalu memanjakannya begini.
"Apa begitu?"
"Lebih liar!"
Alen lansung mengepalkan tangannya kuat, berarti wanita itu mencoba menyainginya dalam segi seperti ini, dan sumpah demi apapun hatinya sangat panas seakan tersulut api yang bergejolak.
"Kau tahu liar kan? dia Menciumku dengan sa..!"
Cup..
"Ahmm!"
Nareus bergumam setengah tertekan karna raupan bibir Alen yang menekan bibirnya kuat meneroboskan lidahnya untuk membelit benda kenyal didalam sana dengan sangat liar. bahkan Nareus sampai memeggang pinggir ranjangnya karna tersigap akan serangan mendadak ini.
Alen terus menghisap lembut namun sangat membayang diseluruh tubuh Nareus yang tak kuasa untuk bertahan akan serangan yang sangat ganas dari Alen yang membakar darahnya.
Keduanya saling memangut mesra dengan tangan Alen yang sudah meraba tonjolan otot yang tergapai oleh tangannya, ia seakan membuktikan kalau pelayanannya sangat berbda dan lebih dari yang Nareus rasakan.
Ditengah ciuman itu Nareus terkejut saat air mata Alen tumpah ke pipinya dengan pangutan yang terhenti namun bibir mereka masih bertemu.
"Sa..Sayang!"
"Kau jahat hiks!"
Alen menjauhkan tubuhnya dari Nareus yang sudah bernafas berat memburu, tatapannya juga melemah menatap Alen yang menangis karna merasa Nareus tega membagi miliknya dengan wanita lain.
"Sayang!"
"Kenapa kau memberikan tubuhmu padanya? ha hiks! a..aku tak pernah membiarkan seorangpun me..menjamah tubuhku selain kau, ta..tapi kau!"
"Memangnya disana kau tak pernah begini?"
"Kau pikir aku disana bersantai! bersenang-senang, ha? ba..bahkan sekilas saja bayangan kau selalu mengangguku!!"
Bughh..
Alen memukulkan guling disampingnya dada Nareus yang bergemuruh, ia sudah kapalang senang mendengar pernyataan itu, apalagi Alen terlihat sangat mencintainya membuat rasa itu semangkin terpupuk subur.
"Dasar Pria brengsek!"
Alen hanya membuang muka kesalnya seraya sekugukan kecil itu membuat Nareus bertambah gemas dan sangat berbunga.
"Sayang!"
"Jauh-Jauh dariku!"
"Tapi aku ingin dekat-dekat denganmu, Bagaimana?"
Tanya Nareus meletakan kepalanya ke paha Alen seraya terlentang menatap wajah sembab dan hidung merah wanita ini terlalu membuat ia tak bisa mengendalikan diri.
"Bermanja saja pada istrimu!"
"Hm, aku akan Bermanja, kau tenang saja dan aku akan melakukan ini..!"
Cup...Cup..Cup..
Nareus mengecup perut dada hingga bibir Alen kilas lalu kembali bersantai dipaha Alen yang mendecih seraya menghapus ciuman Nareus dibibirnya dengan wajah jengkel itu, ia merasa sangat kesal dan panas saat Nareus memuji-muji istri barunya itu.
"Ayolah! Senyum!"
"Tidak! kau pergi saja Pulang, Temui istri kesayanganmu itu, siapa tahu dia menunggumu disana!"
Ketus Alen menepis tangan Nareus yang masuk kedalam Mantelnya mencari Squishi kenyal yang bisa ia mainkan dengan sangat gemas dan penuh kasih.
"Sayang!"
"Hm!"
"Aku mau!"
"Minta pada istrimu!"
"Ya Sudah, aku pulang dulu!"
Krett..
Alen lansung naik keatas tubuh Nareus yang tadi ingin bangkit dan seketika kembali terbaring karna Alen mengungkung tubuhnya dengan erat, Nareus hanya diam menyaksikan pemandangan indah yang terpampang jelas didepan matanya.
Lelaki mana yang sanggup melewatkan Tonjolan ini, dengan santai dan tenang Nareus menjadikan kedua tangannya bantalan kepala seraya menatap dada dan bagian inti Alen yang jelas terlihat olehnya.
"Akan ku bunuh istrimu, jika kau berani mencumbunya!"
"Memangnya kau berani?"
__ADS_1
Serak Nareus seraya menarik pinggang Alen merapat kebagian intinya yang sudah mengeras, ia hanya menunggu Moment dimana Alen menyadari maksudnya.
"Dia hanya sebutir debu, bagiku!"
"Dia cantik sayang! dan..!"
Nareus menatap wajah cantik Alen yang tepat diatas wajahnya hanya setipis kertas dengan hidung yang bergesekan memudahkan Nareus mencari cela di netra tajam wanita ini.
"Dan Sexsi!"
"Apa aku kurang Sexsi?"
Tanya Alen nyaris seperti bisikan, otaknya telah hilang entah kemana dengan permainan gila sang suami yang masih belum ia duga karna raut wajah Nareus begitu serius.
"Kau Sexsi!"
"Tapi kenapa kau masih menginginkannya? kau punya aku kan?"
"Karna Istriku sangat menantang! lain kali akan ku kenalkan dengannya!"
Alen hanya diam meluruhkan tubuhnya diatas tubuh kekar Nareus dengan wajah yang terletak diatas dada bidang pria itu, pikiran Alen digeluti rasa kacau, ia tak tahu harus bagaimana lagi.
"Aku juga Sexsi, Sayang!"
"Istriku lebih Sexsi!"
Jawab Nareus mengulum senyum geli, entahlah ia sangat suka mengerjai wanita ini, meski Alen akan marah besar padanya nanti ia pun sangat menunggu saat itu.
"Reusss!!"
"Apa?"
"Kau ikut aku, kita pergi berdua sama Baby! tinggalkan saja Istrimu!"
"Kau jahat sekali, Sayang!"
"Tapi sekarang aku harus bagaimana? Status kita tak jelas dan kau mau aku atau dia?"
Alen yang mulai Frustasi dengan wajah memerah itu menatap Nareus yang lansung mengeluarkan Ponselnya.
"Kau yakin ingin tahu bagaimana Istriku?"
"Hm! Cepatlah,"
"Bukalah! dia selalu mengisi tempat dimanapun dalam hidupku!"
Alen hanya manyun tak menentu dan mengambil Ponsel Nareus, ia masih menatap Nareus tajam dengan duga'an besarnya.
"Foto Polosnya, ya?"
"Kau lihat saja, Sayang!"
Deggg..
Alen seketika terlonjak kaget dengan tubuh yang lansung duduk diperut keras Nareus yang menahan geli melihat wajah terkejut dan berapi-api Alen yang lansung menatapnya membunuh.
"Dia istriku, dan dia sangat sempurna karna telah memberiku Putri yang cantik sama sepertinya!"
"Kauuuu!!"
Bughh..
Alen memukul dada Nareus kuat membuat Pria itu terbatuk mengundang kekhawatiran dari Alen yang gelagapan.
"Uhukk! Sa..Sayang!"
"Maaf! Maaf, Reus!"
Alen mengelus dada Nareus yang sebenarnya tak apa-apa, pria itu hanya mencoba mengurangi raut marah sang istri saja. dengan sangat panik Alen mencoba berfikir apa yang harus dia lakukan, apalagi mengingat Nareus memiliki riwayat Alergi, bisa saja pukulannya berpengaruh.
"Ma..Maaf! Maaf, aku.. a..apa yang harus aku lakukan, Sayang?"
Nareus terdiam sesaat lalu mengelus kepala Alen yang masih merasa bersalah dan khawatir padanya.
"Mau menua bersamaku dan anak kita?"
Alen tertegun mendengarnya, tatapan keduanya saling pandang kuat menembus jantung masing-masing, perlahan Nareus menghapus lelehan bening itu seraya menagkup pipi Alen lembut.
"Ba..Bagaimana dengan Momy?"
"Setuju atau tidak! dia yang menempatkan aku kejalan ini, kau tetap Istriku! So.. Mau atau tidak, hm?"
Alen mengangguk tersenyum membuat Nareus lega dan lansung memeluk tubuh Alen yang juga terkurung akan dekapan pria ini, bahkan rasanya hati itu sudah kembali mekar menyonsong Mahligai kebahagiaan.
"Aku mau! dan sangat ingin!"
.........
Vote and Like Sayang..
__ADS_1