
Momy Carolin terlihat berusaha menjauh dari Tuan Adlen yang sedari tadi seakan mencoba mendekatinya, ia melihat barang-barang dapur dan pria itu melangkah mendekati Kulkas seraya mata yang menatap liar membuat Momy Carolin risih.
"Albert!!!"
Pangil Momy Carolin pada Dady Albert yang lansung mendekati istrinya, pria paruh baya itu terlihat menatap geram Adlen yang berusaha mendekati istrinya.
"Ada apa, Sayang?"
"Apa Reus dan Alen sudah pulang?"
"Sudah, tapi Nareus pergi bekerja dan Alen dikamarnya bersama Alicia!"
Momy Carolin mengangguk lalu mengaduk secangkir Kopi ditangannya lalu memberikannya pada Dady Albert yang dengan senang hati menerima buatan sang istri.
"Terimakasih, Sayang!"
"Sama-Sama!"
Tuan Adlen mengepalkan tangannya kuat, ia sudah tak tahan lagi melihat kemesraan dua Manusia ini bahkan urat kebiruan itu bergelut dipergelangan tangannya yang mengepal erat.
"Ayo kita ke kamar!"
"Albert!"
Dady Albert lansung bersiaga mengeratkan belitannya kepinggang Momy Carolin yang juga tak ingin jauh karna tatapan Tuan Adlen sangatlah penuh arti.
"Ada apa?"
"Mari berbincang sebentar!"
"Aku tak punya waktu untuk itu!"
Keduanya ingin melangkah pergi tapi Tuan Adlen kembali berusuara membuat Momy Carolin terhenti ditempatnya.
"Kau terlalu Na'if Carolin!"
"Maksudmu?"
Tanya Momy Carokin berbalik menatap Tuan Adlen yang menyeringai tipis seakan hari ini ia akan membuat rumah tangga saudaranya hancur.
"Kau terlalu percaya pada, Suamimu!"
"Dia suamiku! tentu aku percaya padanya! lalu apa masalahmu?"
"Cihh! dia itu Pembohong Besar!"
Momy Carolin lansung terdiam menatap wajah Dady Albert yang gugup membuat ia semangkin dilanda rasa khawatir dan Penasaran yang kuat.
"Sayang! apa maksudnya?"
"Dia hanya membual! ayo pergi!"
"Ohowww!!! Kau mau menutupi kesalahanmu, ya?"
Momy Carolin lansung mendekati Tuan Adlen yang juga suka dengan wajah cantik Wanita puja'annya ini. tampak seperti singa yang sangat menantang.
"Kau laki-laki, bicara yang jelas dan jangan berteleh-tele!"
"Shitt, inilah yang membuat kau jadi Primadona!"
Momy Carolin hanya mengetatkan rahangnya kuat seraya menunggu apa yang ingin dikatakan Tuan Adlen yang mengeluarkan selembar kertas yang masih rapi dibalik Jasnya.
"Kau masih ingat ini Saudaraku?"
Deggg..
Dady Albert meneggang ditempatnya, itu surat perjanjian dulu, kenapa pria ini masih menyimpannya bahkan sudah lewat berpuluh tahun lamanya?
Hatinya mulai digeluti keresahan dengan wajah yang tak bisa menjelaskan pada Momy Carolin yang bingung berada diantara keduanya.
"Kalian ini kenapa? dan kau Albert, apa yang dia katakan? aku tak mengerti!"
"Di..Dia! Dia hanya bercanda, Sayang! ayo kita pergi!"
Momy Carolin menolak menepis halus tangan Dady Albert yang ingin menariknya, ia butuh kejelasan dalam semua ini. bahkan kelihatannya Tuan Adlen membawa masalah yang besar.
"Katakan!"
"Benarkah kau ingin mengata..!"
Srett..
Momy Carolin merampas surat itu kasar dengan gesit seraya membacanya teliti, seketika ia terkejut melihat surat yang ia rampas dari Adlen. ia berdiri kaku seraya wajah yang menatap tak percaya akan apa yang ia lihat sekarang ini, tubuhnya lemas keatas kursi Pantri sana seraya mata yang menggenang.
"A..Apa maksudmu?"
"Kenapa suaramu begitu Lembut untuku, hm?"
"Apa Maksudmu, Adlen???"
Bentak Momy Carolin menyala-nyala, sungguh ia sekarang sedang mendidih akan hak yang baru saja ia baca, Perjanjian apa ini? sebuah prinsip kotor dan sangat licik.
"Kau tanya pada Suamimu, Sayang!"
"Albert! Je..Jelaskan!"
Dady Albert terdiam kaku seraya tak berani menatap wajah istrinya, sungguh ia tak bermaksud melakukan ini tapi ia hanya tak ingin kehilangan Istrinya, hanya itu.
__ADS_1
"A..Aku..!"
"Kau mempermainkan Pernikahan!!!"
"Sayang! aku tak pernah berniat melakukan ini, Adlen mendesakku menandatangani itu karna dia juga mencintaimu!"
Momy Carolin mengepalkan tangannya kuat seraya mata yang sudah menggenang berusaha menahan cairan bening itu, bagaimana dengan Putranku? Pria itu pasti sangat terluka jika harus mengalah dengan semua ini.
"Suamimu yang bodoh! ia berlagak cerdas seakan dia memang seorang pria yang sama seperti Putranya, kua sangat tak beruntung Carolin!"
"Kau mencintaiku?"
"Yah! tentu saja aku..!"
Plakkk...
Tamparan keras itu menggelegar membuat Grandma Zamlya yang baru datangpun lansung terkejut melihat Momy Carolin yang berani menampar Putranya.
"Carolin!!!"
Grandma Zamlya mendekati Momy Carolin yang tampak meradang merah dengan kemarahan yang meledak itu, ia menarik lengan Momy Carolin kasar namun wanita itu tegap kekeh menatap Tuan Adlen yang menelan kegeraman.
"Berani sekali kau menampar, Putraku!!!"
"Dia bukan Manusia!! Dia ini Bajingan!!"
Plakkk..
Satu tamparan lagi melesat ke Pipi Momy Carolin yang juga tak gentar, ia akan meminta penjelasan yang tetap dari dua saudara ini.
"Jaga bicaramu, Wanita sialan!!"
"Kau yang harus menjaga Etikamu!!"
Bentak Momy Carolin menentang Grandma Zamlya yang sungguh naik darah dengan Perlawanan menantunya ini, ia sama sekali tak pernah menyukai Carolin sama sekali, sedikitpun tak akan pernah.
"Kau membiarkan kedua Putramu masuk kedalam jalan yang salah!"
"Kaulah awal mula masalah ini! kau yang membuat mereka memperebutkanmu!!"
"Oh yah?"
Tanya Momy Carolin lalu menatap Tuan Adlen dan Dady Albert yang hanya diam melihat perdebatan kedua Wanita ini.
"Apa aku menyuruhmu jatuh cinta, padaku?"
"Sayang aku..!"
"Jawab aku Albert!!"
"Apa kau tak pernah berfikir, ha??? Kau tak pernah berfikir kalau anakmu besar nanti apa ia akan Jatuh Cinta apa tidak!!!"
"Ma..Maafkan aku, Sayang! maaf!"
"Kalian Egois hiks! Dia..Dia anak-anakku, mereka punya masa depan! dan kalian malah menjadikan ini Permainan!!"
Momy Carolin meluapkan segala rasa sesak dan Prihatin itu, berarti selama ini Albert membohonginya, pria ini hidup ditengah Kebohongan yang bisa saja merenggut kebahagiaan anak-anaknya.
"Sebenarnya apa yang kau bicarakan?"
"Baca ini!"
Momy Carolin melempar kertas ditangannya kewajah Grandma Zamlya yang membacanya dengan teliti, seketika matanya melebar menatap Adlen putranya bergantian dengan Albert.
"Kalian melakukan ini hanya..!"
"Aku tak bisa mengubur rasa Cintaku! dan tak akan pernah!"
"Itu bukan Cinta! Itu hanya Obsesimu karna Albert mempunyai segalanya dibanding kau!!"
"Jaga bicaramu, Carolin!!"
Dady Albert menyambut tangan Tuan Adlen yang ingin menampar wajah istrinya, ia sudah menduga kalau pria ini tak mencintai Carolin dengan tulus.
"Sudah cukup kau membodohiku!"
"Kau itu tak akan pernah bangkit! Tuhan begitu sayang hingga dia memberimu Putra selicik itu!"
Geram Tuan Adlen menarik tangannya kasar dari genggaman Dady Albert yang berusaha untuk tak membiarkan istrinya sendiri.
"Dan sekarang, aku ingin kau memilih salah satu! Pernikahanmu, atau Putramu!"
Dady Albert hanya diam, pilihan paling sulit dan tak akan pernah ia lakukan, biar saja ia di Penjara sekalipun itu tak masalah baginya.
"Tak ada yang memilih?"
"Aku tak perduli! aku siap Menerima hukum Negara ini, tapi tak akan berpisah dan memisahkan siapapun!"
Tekan Dady Albert menarik Momy Carolin melangkah pergi meninggalkan Grandma Zamlya yang masih belum keluar dari rasa terkejutnya. ia tak tahu tentang perjanjian ini, yang ia tahu hanya percintaan kedua putranya saja.
"A..Adlen!"
"Jangan sok perduli padaku!"
Geram Tuan Adlen lalu melangkah pergi, dengan wajah geram itu, ia bersumpah akan membuat Albert mendekam dipenjara atau memilih antara satu dari Pilihan itu.
"Kau bergantung pada Putramu! Cihh, diapun tak akan berkutik Albert!"
__ADS_1
........
Nareus terlihat sibuk menatap Berkas dimejanya, pekerjaannya sangat banyak karna beberapa hari ini menemani Alen sedangkan Tugasnya untuk melihat Laporan semua Perusahaan pun tertunda.
Pekerjaan ini khusus hanya ia yang bisa melakukannya, itu karnanya Asisten Buron hanya mengerjakan apa yang ia kuasai sedangkan Nareus sendiri harus memeriksa inti hal-hal yang ia seleksi.
"Apa Perusahaan Husein masuh berjalan?"
"Masih, Tuan! bahkan sekarang Direktur Step mampu memyebarkan Keluasan Produk Otomotif dari Perusahaannya kenegara tetangga kita!"
Nareus manggut-manggut mengerti, ia berusaha untuk acuh dihadapan Stephen, namun ia juga membantu pria itu karna ia sadar, disini bukanlah Step yang patut disalahkan, lagi pula urusan Pribadi dan Urusan Pekerjaan tak bisa dicampur adukan.
"Aku ingin kau melacak dimana keberadaan wanita itu! bisa saja Adlen akan menjadikannya alat untuk mempengaruhi Step kembali!"
"Baik, Lord!"
Smith yang lansung melangkah pergi dengan titahan itu, Nareus masih belum percaya dengan Stephen, tapi ia akan tetap berjaga dari Adlen yang tak bisa dianggap remeh.
"Baca ini!"
Asisten Buron mengambil berkas dimeja Nareus yang membuka Ponselnya untuk melakukan panggilan pada Sang istri yang sudah beberapa jam ia tinggalkan.
"Kemana dia?"
"Nyonya sedang Tidur di Kamarnya bersama Nona Muda. Tuan!"
"Apa dia sudah makan?"
"Saya rasa belum, karna anggota bilang kalau Nona ..!"
"Bukan Nona!"
Asisten Buron menunduk mendengar suara dingin itu, ia tak tahu apa ia salah bicara atau bagaimana.
"NYONYA! dia NYONYAmu sekarang!"
"Baik, Tuan!"
Nareus mengangguk seraya mengulum senyum kecil karna mengingat bayangan dimana ia menyatakan Perasaannya dan Alen pun tak menolak.
Sungguh, ia sekarang sangat merindukan wanita itu, bahkan sedetik saja tak bisa ia lupa bagaimana wajah manis namun galak itu selalu menatapnya khas.
"Sepertinya aku sudah mulai gila!"
Umpat Nareus mengusap wajahnya kasar lalu menatap Walpaper Ponselnya, sudut bibirnya tertarik manis seakan ini adalah penyemangatnya.
Dreett..
Ponsel Nareus lansung berbunyi dengan nama Alicia yang tertera disana, tentu Nareus mengangkatnya seperti biasa.
"Iya!"
"Sayang, Huammm!!"
Wajah Nareus kembali berbinar mendengar suara serak khas bangun tidur itu dengan Asisten Buron yang pamit pergi karna tak ingin menganggu.
"Sudah bangun. hm?"
"Iya, Kau kapan pulang?"
"Memangnya Momy sudah merindukan Dady?"
Terdengar kekehan diseberang sana membuat senyum diwajah Nareus tak lagi tersembunyi seraya bersandar kekursi kerjanya, Nareus menatap langit-langit ruangan itu namun khayalannya menuju pada Si Wanita Batangannya itu.
"Momy mau Dady cepat Pulang!"
"Sebentar lagi, Sayang! 1 ja..!"
"10 Menit!"
"Apa? memangnya kau mau apa, Sayang?"
"Aku lapar! Aku mau camilan yang di Toko tadi!"
"Tapi itu tak baik di Konsumsi terus menerus! yang lain saja, ya?"
Nareus mencoba membujuk, Camilan itu tak terlalu sehat jika di Konsumi secara berkepanjangan, lagi pula banyak makanan lain.
"Tapi maunya yang itu! dan kau harus belikan, Titik dan tak ada tanda baca lain!"
"Baiklah! tapi mau Buah juga kan?"
"Hm, iya! ingat Pribahasa mengatakan, Suami yang baik adalah suami yang menurut pada Istrinya!"
"Iya, Sayang! dan a..!"
Tutt..
Nareus terkejut saat sambungannya dimatikan, ia mencoba kembali menelfon tapi tak ada jawaban membuat ia mengumpat kesal.
"Sial!! Wanita ini memang menguji kesabaran!"
Nareus lansung menyambar Jasnya lalu melangkah pergi, Titahan Ratu seberang sana itu Mutlak, tak bisa dibantah sama sekali.
....
Vo
__ADS_1