
Seketika mereka terdiam saat dua Wanita yang terlihat saling tatap penuh aura permusuhan dengan wajah yang sama-sama geram, ada benteng besar yang membatasi hubungan keduanya dengan Dady Albert yang terdiam bungkam menyaksikan Persiteggangan Istri dan Ibunya.
"Kemana Nareus?"
"Memangnya kenapa?"
Tantang Momy Carolin yang pagi ini terintrogasi oleh Pertanyaan-Pertanyaan dari wanita tua yang begitu menyulut emosinya, ia menahan diri untuk tak berbuat kasar sama sekali.
"Berani sekali lau begitu padaku!"
"Memangnya kenapa? bukan berarti kau ibu mertuaku aku harus Tunduk dengan injakanmu itu!"
"Kau...!"
"Cukup!!!"
Dady Albert menengahi keduanya dengan wajah yang sudah lelah, ia berdiri menarik Momy Carolin dari hadapan Grandma Zamlya.
"Sayang! aku tahu kau marah, tapi aku mohon setidaknya kau Sopan pada Momyku!"
Momy Carolin mengepalkan tangannya kuat menatap Grandma Zamlya yang begitu licik memanfaatkan Putranya untuk segala hal.
"Kalau dia menghargaiku! maka aku akan LEBIH menghargainya!"
Tekan Momy Carolin pada Dady Albert yang kehabisan kata-kata, berdiri ditengah-tengah manusia yang sama-sama keras membuat ia tak bisa berbuat banyak selain mematung dan menyaksikan segalanya.
"Lihatlah! bahkan kau lebih memilih Istrimu dari pada Momy!"
"Mom! sudahlah!"
"Kau itu salah, Albert! Keluarga ini bukanlah Keluarga yang terhormat!"
Seketika bara kemarahan yang tersulut dihati Momy Carolin meruak naik dengan langkah cepat ingin menghantam wajah tua ini.
"Carolin!!!"
"Apa?"
Jawab Momy Carolin yang mempunyai watak yang keras, ia tak akan pernah berdamai dengan Siluman berbentuk manusia ini.
"KEMBALI kekamarmu!"
"Tapi aku tak salah, Albert! Momymu yang mencari perkara!"
"Aku bilang kekamar!!!"
Bentak Dady Albert menggelegar membuat semua orang dan pelayan disana terdiam menunduk, tak pernah suara keras itu meninggi apalagi pada seorang Momy Carolin yang tak akan pernah mau di atur kalau ia tak salah.
Rahang Momy Carolin mengetat dengan mata yang mengembun, sumpah demi apapun ia belum melupakan sikap tak bersahabat ini.
"Seharusnya kau memukulku!"
Dady Albert seketika melemah menggapai tubuh istrinya namun Momy Carolin sudah melangkah pergi ke tangga sana membuat senyum di wajah Grandma Zamlya mekar melihat rumah tangga Putranya kembali di gentarkan.
"Albert kau..!"
"Mom!"
Lirih Dady Albert tak ingin berdebat, ia tak mau Perdebatan ini malah berujung pada anak-anak mereka seperti dulu hingga Alicia pergi bersama Umi Aisyah.
Namun, Grandma Zamlya menyeringai licik melirik seorang Gadis bercadar yang sedang menatap mereka dengan linangan air mata itu dari atas sana, terlihat sekali netra malang itu sangat sakit dengan Pertengkaran ini.
"Aku benci Tinggal disini!"
Desis Alicia berlari kekamarnya, Kakek Moureen dan Nenek Vitoria sudah kembali ke Vilanya hingga ia disini hanya sendiri, sedangkan Cullen begitu sibuk dengan aktifitasnya sendiri.
"Cihh! Sampai kapanpun, aku akan mengambil Putra dan Sus-ku kembali!"
__ADS_1
Batin Grandma Zamlya melangkah pergi, ia harus membuat Alen dan Nareus berpisah, bagaimanapun caranya Putra dan cucunya harus kembali Kekediamannya hingga ia bebas melakukan apapun.
"Nyonya!"
"Apa Roselina ada di Negara ini?"
Pengawal itu terlihat berfikir lalu menatap Ponselnya, ia tadi mencari Informasi tentang wanita yang dicari Grandma Zamlyla dan tentu saja wanita itu Primadona di Tempat Dansa Fowers.
"Nona itu ada di Sini, Nyonya!"
..........
Pelukan kedua tubuh itu mengerat karna dinginnya pagi yang membuat bulu kuduk meremang, selimut tebal yang semalam menjadi saksi bisu Percumbuan penuh damba itu seketika membalut tubuh polos keduanya yang enggan untuk membuka mata pagi ini.
Raut berbinar, cerah merona dengan kelepasan batin yang masih tersisa membekas di wajah masing-masing, tubuh yang sama-sama lelah dan lengket itu baru saja di istirahatkan Dini hari tadi setelah jatuh bangun Pertempuran yang terus memimpin.
Ketika lelah berhenti, namun sayangnya hasrat itu begitu besar hingga tak bisa membagi waktu tanpa bercumbu mesra.
"Ehmm!"
Alen menggeliat dari pulukan hangat lengan kekar Nareus yang masih enggan membuka mata, wanita itu tampak nyaman dengan dada bidang dan tubuh gagah yang mengurung tubuhnya sepenuhnya.
Namun, seketika ia terbelalak saat melihat wajah bantal dengan rambut acak-acakan itu sedang memeluknya erat dengan kedua tubuh tanpa pakaian.
"Reus!!"
Bughh..
Nareus tersigap terkejut hingga jatuh kelantai sana akibat tendangan kuat dari kaki jenjang Alen yang lansung menggapai selimut menutupi tubuh polosnya dengan Nareus yang sudah tergorok tanpa busana di bawah sana.
"A..Apa yang kau lakukan? Brengsek?"
Nareus yang setengah sadar itu mengerijap beberapa kali lalu menguap merasa ia sangat ngantuk, ia menggeleng beberapa kali menornalkan dunianya.
"Reus!!!"
"Hm!"
Ia terlejut setengah mati dengan keadaan tubuhnya, bokongnya yang merah dengan bibir yang bengkak serta aroma Parfum Maskulin Nareus yang menempel lengket ke tubuhnya.
"Na..Nareus! A..Apa yang kau lakukan?"
"Kau bilang apa?"
Pekik Nareus dari bawah sana seraya berdiri tanpa malu menunjukan Tubuh berotot kekar itu pada Alen yang tercekat melihat tubuh Nareus yang seperti terkena cakaran harimau dan gigitan lintah.
"I..Itu!"
"Kau menyalahkan aku? ini..Ini..dan ini!"
Nareus menunjuk pipi, dagu, leher hingga sampai pada paha, dada bahkan perutnya yang sudah seperti sisik ikan merah dan membiru membuat Alen tertegun dengan perasaan bersalah, marah dan sedih yang berkelanjutan.
"A..Aku..!"
"Aku tak melakukan apapun padamu! Kau yang memperkosaku semalam!"
Duarrr..
"Ti..Tidak mungkin, Reus! Aku..!"
Nareus menghela nafas berat melihat mata Alen mulai mengembun, ia duduk disamping Alen yang mengeratkan selimut itu ketubuhnya dengan wajah yang pucat pasih.
"Kau takut? hm!"
Alen mengangguk membenamkan wajahnya kebelahan dada bidang Nareus yang sudah habis dengan kismark darinya, ada rasa senang saat mel8hat bekas itu, tapi ada juga kekhawatiran yang mendalam.
"A..Apa yang ku lakukan?"
__ADS_1
"Kau yang memaksaku melakukan itu! lagi pula semalam kau yang lebih menguasaiku, Alen! aku bukan pria brengsek yang memanfaatkan keadaan!"
Jelas Nareus lembut mengecup puncak kepala Alen seraya mengelus punggung polos itu, ia tak menyesal melakukannya, bahkan rasanya ingin lagi dan lagi, tapi ia sadar kalau Alen tak mungkin mau mengulangnya.
"Ba..Bagaimana kalau dia tak menerimaku?"
Nareus terdiam dengan wajah yang kembali mengeras, kenapa di setiap pembicaraan selalu ada nama itu dan hal tentang pria itu? ia sangat muak dan bosan.
"Reus! A..Aku takut kalau dia menolakku dan..!"
"Cukup!!!"
Bentak Nareus yang lansung menagkup pipi Alen dengan tegas dan yakin, ia seakan menjanjikan Kebahagiaan dan Hidupnya untuk wanita ini.
"Kau ada aku! Aku yang membuat kau begini, maka aku yang bertanggung jawab!"
"Ta..Tapi..!"
Nareus lansung turun dari ranjang dengan rasa marah itu, ia tak bisa menekan Alen untuk melupakan Stephen tapi ia juga panas setiap kali membahas nama dan nama pria itu lagi.
"Reus!!"
"Hm!"
Alen terdiam sesaat, kenapa rasanya lebih sakit melihat wajah Tampan Nareus terluka? kenapa ia tak sakit saat mengetahui apa yang terjadi semalam?
"Ouhh Shitt! apa yang terjadi padaku?"
Umpat Alen merasa sangat bimbang, tak mungkin ia mencintai Nareus, Cintanya pada Stephen sangatlah besar tapi kenapa? dan kenapa sekarang.. aaaahhh ini sangat rumit!!!
Kekesalan Alen yang tak tahu apapun hingga ia memaksakan tubuhnya untuk bergerak meskipun itu sangat sakit.
"A..A..Asss Sakit!"
Mendengar itu Nareus lansung keluar dari kamar mandi dengan tubuh polosnya yang belum sempat menjangkau air.
"Reus!!"
Pekik Alen saat Nareus membuka pahanya selebar bahu, wajah datar Nareus tampak berusaha menahan hasrat tapi pria itu khawatir kalau bagian yang terkoyak ini malah semangkin sakit.
Plapp..
"ALEN!"
"Jangan menantapnya begitu!!"
"Lalu aku harus apa? kau sedari tadi menyalahkan aku, ini bukan salahku!"
"Ini salahmu!!"
Kekeh Alen setelah menggampar pipi Nareus yang terus menjadi sasaran tangan lentik ini membuat pria malang itu hanya pasrah akan kuasa wanita batangan ini.
"Hati-Hati!"
"Berisik!"
Plakkk..
"Alen!!!"
Geram Nareus saat tamparan itu kembali Alen layangkan tapi tak keras, hanya mengungkapkan rasa tak suka dari suara datar Nareus yang tak berpengaruh padanya.
Nasip sendiri mempunyai istri bergaya laki-laki ini, rasanya seperti Boxing setiap hari.
........
Vote and Like Sayang..
__ADS_1