
Stephen lansung melangkah masuk kedalam Kediaman besar ini karna Permintaan dari Nareus yang ternyata masih perduli akan kehidupannya meski terkadang ia merasa jengkel dengan pria itu.
Di sepanjang jalan, Fanya hanya diam menatap seluruh sudut bangunan megah ini, dara rasa takut dihatinya jika Stephen sampai bertemu dengan Alen, tapi apalah dayanya yang tak ingin bersikap egois dengan mengambil keputusan yang akan merugikan nantinya.
"Selamat datang, Tuan Muda kedua!"
"Terimakasih!"
Jawab Stephen ramah lalu masuk menuju Ruang Tamu, dan tepat saja disana sudah ada anggota keluarga lain yang terlihat lansung menyonsongnya.
"Step! kenapa kau baru datang sekarang, hm?"
"Maaf, Mom aku baru sempatnya sekarang!"
Momy Carolin mengangguk tersenyum memeluk Stephen dan juga Fanya yang tak kalah senang dengan perlakuan terbuka manusia disini, tapi perhatian Stephen tertuju pada si Mungil yang sedang di pangku Kakek Moureen yang tampak senang bermain dengan si kecil itu.
"Siapa si cantik itu?"
"Dia, Baby Zilla!"
Stephen mendekat dan melihat dengan Intens pahatan wajah ini, dan seketika ia tercekat mendapati Wajah Alen serta bola mata tajam dikelilingi bulu mata lentik seperti Nareus.
"Dia putri Nareus dan Alen!"
Fanya tersenyum menatap wajah Stephen yang tampak biasa saja namun percayalah Fanya tak pernah percaya pada sikap tenang pria ini.
"Dia sangat cantik, sama seperti Momynya!"
"Kami ikut berduka atas kematian Putrimu! dan maaf kalau semua atas kesalahan Saudaraku!"
Fanya hanya mengangguki ucapan Dady Albert, tapi sejujurnya ia masih terluka bahkan sangat merindukan si kecil yang sama dengan Baby Zilla, tapi apalah dayanya yang hanya bisa terdiam membendung rindu yang teramat.
"Bo..Boleh aku menggendongnya?"
Mereka saling pandang prihatin mendengar suara bergetar itu, apalagi Stephen yang paham betul akan kondisi Fanya saat ini.
"Gendonglah, bahkan kau bisa bermain dengannya!"
"A..Apa Alen tak marah?"
Momy Carolin menghela nafas, ia menggenggam tangan Fanya yang sudah mengembun menatap Baby Zilla yang membuka rentangan tangan itu seakan menyambut kedatangan Sang Aunty.
"Anty!!"
"Dia menyukaimu!"
"Ouhh, Baby!"
Fanya menggendong Baby Zilla yang tersenyum menghapus lelehan bening itu dengan tangan mungilnya membuat Fanya semangkin dilanda kerendungan.
"Anty!!"
"Yah hiks!"
Fanya menangis membuat Stephen lansung merangkuh tubuh rapuh ini, ia mendudukan Fanya di Sofa sana seraya Baby Zilla yang merasakan betul betapa kehilangannya wanita ini terhadap sang putri yang juga berumur tak jauh dari Baby Zilla.
"Sudahlah! Baby pasti sudah bahagia disana, kau jangan menangis!"
"A..Aku hanya merindukannya hiks, Fa..Faby!"
__ADS_1
"Suttt! Lihat, Ponkanmu malah ikutan menangis!"
Fanya menatap Baby Zilla yang mecibir dengan bibir yang bergetar membuat Fanya tersenyum mengecup pipi gembul itu dengan penuh kasih sayang, ia memeluk tubuh mungil ini seakan ia merasakan kehadiran sang putri meksi hanya sesaat.
"Dimana Nareus?"
"Entahlah, tadi dia disini! tapi pergi lagi, Nak!"
Stephen manggut-manggut mengerti, ia sedang mencari Alen untuk mengucapkan selamat dan beberapa kata yang selama 2 Tahun ini bersarang di benaknya, itupun hanya ingin memperjelas hubungannya dan Fanya.
"Dimana, Alen?"
"Mau apa kau dengan istriku?"
Sambar Nareus yang menatap tajam Stephen dengan aura dingin itu, ia sama sekali tak suka dengan Stephen yang masih mengharapkan Istrinya.
"Kau sudah pulang?"
"Hanya ada berkas yang tertinggal!
Jawab Nareus pada Momy Carolin yang lansung mendekati Nareus, sepertinya kedua pria ini memang tak ditakdirkan untuk saling bersahabat, selalu saja mengibarkan bendera perang yang sedari dulu tak kunjung terselesaikan.
"Putrimu cantik!"
"Cihh! Modusmu memang terlihat nyata!"
Ketus Nareus melangkah keatas sana dengan Asisten Buron yang mengikutinya namun seketika terdiam karna Lordnya tak pergi keruang kerja.
"Tuan!"
"Kau saja yang pergi! lanjutkan pekerjaan tadi!"
"Moodku sudah hilang, kau saja yang pergi!"
Asisten Buron seketika mengangguk menghela nafas berat, beginilah kalau rasa cemburu buta itu sudah datang membuat ia kelimpungan dengan pekerjaan yang begitu banyak, namun Pria ini tak akan fokus jika Istri liarnya itu tak ada bersamanya.
"Nareus!"
Rhose yang melangkah mendekati Nareus yang sama sekali tak menatapnya, pria itu hanya mematung memeriksa Ponselnya yang tadi ada pesan yang masuk.
"Nareus! apa kau sudah makan, Siang?"
"Buron! apa Permintaan istriku kemaren sudah datang?"
"Sudah, Tuan!"
Nareus menggut-manggut datar, lalu menatap dingin Rhose yang benar-benar menguji kesabarannya, kalau bukan karna Sang Momy, ia tak akan membiarkan wanita ini naik kelantai Kediamannya.
"Apa kau sudah makan?"
"Ku tekankan sekali lagi! KAU bukanlah apapun disini, jadi sebelum aku menghancurkan kau sampai titik yang terendah, maka Keluarlah dari Kediamanku!"
Degg,,
Rhose lansung tercekat menatap kepergian Nareus yang sama sekali tak bisa ia sentuh, ia sudah sangat frustasi bahkan tak bisa lagi berbuat halus, sejak dari pertama hingga Nareus membunuh Momynya ia sangat bergejolak menghancurkan keluarga ini.
"Lihat saja, akan ku pastikan Istrimu akan mati tepat dihadapanmu!"
Geram Rhose lalu melangkah pergi, ia harus menemui Pembunuh bayaran yang mau menghabisi wanita itu, dari segi apapun Rhose akan membuat Alen hancur dan hanya ialah yang akan menjadi Menantu di Kediaman besar ini.
__ADS_1
"Rhose! kau mau kemana?"
"Mom! aku ketempat GYM dulu, nanti aku akan kembali!"
Momy Carolin mengangguk sedangkan mereka lansung mengumbar tatapan tak suka itu seakan mencabik Momy Carolin yang menaikan bahunya acuh, namun ada senyum sinmark dibalik wajah cantik Momy Carolin yang sama sekali tak dimengerti semua orang.
"Carolin! dia itu lintah, kau tahu seorang anak tak akan diam saat ibunya terbunuh begitu saja!"
"Dan sekrang Ibu tak akan diam saat nyawa anakny terancam begitu saja!"
Jawab Momy Carolin lalu mendekati Fanya, mereka saling pandang bingung tak mengerti akan ucapan ambigu wanita ini, dan sekarang mereka mulai menyeringit karna tak ada Alen di Kediaman Moureen.
"Kemana Alen?"
"Kakak Ipar tadi keluar! dia bilang mau belanja, tapi aku tak tahu pasti, Kek!"
"Coba Telfon Kakakmu!"
Alicia mengangguk dan menghubungi Alen, namun tak ada yang menjawab selain suara Operator yang sibuk, ia mencobanya berulang kali tapi tetap sama membuat Mereka mulai Khawatir.
"Bagaimana ini? Nomor Kakak Ipar tak Aktif!"
"Dia pergi bersama siapa?"
"Kak Olivia, Kek! aku juga kurang tahu pasti mereka pergi ke Mall mana!"
Grandma Zamlya terlihat gelisah, entahlah ia mulai takut terjadi sesuatu pada wanita menyebalkan itu, apalagi Alen sudah sangat membantunya dalam segi Kehormatan yang dipertahankan.
.................
Alen terlihat sibuk berbicara dengan seseorang di Telfonnya, ia berdiri ditepi jalan kota yang membeku seraya Mantel yang masih ketat menempel di tubuh wanita itu.
Sedangkan Olivia, ia hanya diam berdiri disamping Alen yang entah apa yang dilakukannya didekat Persimpangan Bus ini.
"Kau sudah siap?"
"Su..Sudah, Nona!"
"Jangan gugup! kau tenang saja, anggap saja ini adengan Filim!"
"Ba..Baik, Nona!"
Alen mematikan sambungannya seraya menatap Olivia yang menenteng Paper-Bag dengan beberapa barang yang ia beli, sesekali Alen melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya, wajahnya begitu khawatir dengan hembusan udara yang dingin dari hidungnya.
"Kapan Nareus menjemputku?"
"Mungkin sebentar lagi, Nona!"
Alen mengangguk, ia menatap Toko roti dihadapannya dengan *****, tentu saja perutnya sudah lama tak kesana.
"Aku kesana dulu, ya?"
Olivia mengangguk namun ia terkejut saat melihat Mobil yang melaju dari arah kanan sedangkan Alen fokus dengan Ponselnya membuat ia kelagapan berlari mendekat namun sayangnya.
" Nona!!!"
Brakk..
....
__ADS_1
Vote and Like