
Kepala wanita itu tertunduk didepan seorang Pria gagah dengan tubuh kekar itu sedang berdiri dengan kedua tangan yang masuk kekedua saku celananya, tampak sangat berkharisma membuat ia tak bisa berkutik.
Inilah yang ia takutkan, Kingnya akan bertanya dan pasti akan marah besar jika tahu akan kecerobohan yang ia lakukan, Perjalanan yang cukup panjang dari Perancis sana melalu jalur pintas Wilayah Kingnya membuat ia terus dilanda kegugupan.
Bagaimana jika nanti King bertanya? apa yang harus ku jawab, dan apa ia akan menyuruhku Pulang kembali?
"King!"
"Hm!"
"Sa..Saya.!"
"Kau pikir aku tak tahu apa yang kau perbuat!"
Degg..
Alen lansung tercekat kuat dengan tubuh yang tampak sangat memprihatinkan, namun Mark tak perduli, ini resiko dari apa yang telah Alen perbuat sendiri.
"Ma..Maafkan saya, King!"
"Aku tak ingin ikut campur dalam urusan Rumah Tangga kalian! bahkan, seharusnya kau tak datang kesini!"
"Sayang!"
Shena yang tadi terdiam di sudut sanapun lansung menghampiri Mark yang mengulur tangannya membelit pinggang Sexsi sang istri.
"Jangan bicara begitu! Alen sedang terpuruk,Sian!"
"Itu semua karna dia sendiri! bukan karna orang lain, aku tak pernah mengajarkan hal sebodoh ini pada Anggotaku!"
"Ki..King, Maaf..Maafkan saya!"
Shena semangkin dibuat prihatin, keadaan tubuh Alen sudah sangat parah, apalagi wanita ini sedang mengandung, batinnya sangat tertekan, ia seorang wanita dan tentu ia merasakan semua ini.
"Tenanglah, cobalah bersikap Dewasa, hm?"
Ucap Shena lembut mendudukan Alen diSofa sana seraya ia mengelus punggung wanita itu dengan lembut, betapa sakitnya luka bakar ini tapi Alen tetap tak pernah mengeluh, hal yang membuat Shena salut.
"Sekarang kau mau apa?"
"Ki..King! Saya hanya ingin pergi!"
Shena lansung terlonjak kegat seakan ia tersentak dari harapannya, lalu bagaimana dengan Nareus? pria itu sudah sangat mencintai Alen.
"Alen! kau jangan salah langkah, kalian rundingkan bersama karna bukan Nasip kalian saja yang akan putus tapi anak kalian juga!"
"Tapi saya.. saya ingin ketenangan, Nyonya!"
"Kau membenci Nareus?"
Alen menggeleng cepat dengan isakan kecil itu yang tak mampu ia tahan, rasanya masih saja sesak meski ia sudah berusaha melupakannya, bahkan Pikirannya tak berhenti pada pria itu.
"Sa..Saya sangat mencintainya, Nyonya hiks! Saya..Saya bahkan ingin melihat dia bahagia!"
"Dengan pergi?"
__ADS_1
Alen terdiam lalu menatap wajah cantik Shena yang selalu saja membuat siapapun menjadi hanyut, kuasa wanita ini memang tak akan pernah bisa terbantahkan, bahkan senyumannya saja sudah membuat Alen mematung.
"Dia tak akan bahagia jika kau pergi! Cinta itu sangat menyakitkan jika berjahuan, karna ada Penyakit RINDU dalam hati kalian!"
"Tapi aku hanya belum siap!"
Seketika Mark dan Shena saling pandang, mereka tak bisa memaksa kalau sudah begini, lagi pula pasti suasana di Kediaman Nareus sana sudah sangat rumit.
"Kau serius dengan ucapanmu?"
"Ia..Iya, King! Saya serius, saya ingin anda membantu mengubah Identitas dan menghilang semua jejak saya, King!"
Mark terdiam sesaat, ia memikirkan kalau Nareus tahu semua ini maka pria itu akan marah besar, tapi Alen adalah bagian dari Klannya, ia bertanggung jawab atas Kelansungan dan Perlindungan yang ia berikan bagi wanita ini.
"Baiklah, Pergilah ke Wilayah Wuton dan mereka akan menangani Lukamu!"
"Tapi bagaimana dengan kandungan saya, King?"
Mark berfikir sejenak, setelah Alen melahirkan maka akan bisa dilakukan Operasi besar, tapi kalau masih seperti ini ia tak yakin bisa menyelamatkan Penerus Moureen itu.
"Hiduplah sesuai keinginanmu! jika sudah saatnya, Prof.Jayenley akan melihat cara selanjutnya!"
Alen lansung tersenyum dan mengangguk, ia membungkukan tubuhnya hormat pada Mark yang hanya mengangguk datar saja, ia tak menduga kalau Kingnya tak akan marah, tentu saja itu berkat Shena yang selalu menebar Aura Positif disini.
"Apa kau pergi Malam ini juga?"
"Iya, Nyonya! saya tak bisa menunda waktu!"
"Biarkan saja, selagi kau tak Plin-Plan dengan keputusanmu maka akan ku bantu, dan jangan menyesali apapun!"
"Baik, King!"
"Antar dia ke Pelabuhan, siapkan penjaga'an dan Dampingi dengan Dokter khusus!"
"Baik, King!"
Alen memberi salam terakhirnya dan melangkah pergi meninggalkan Shena dan Mark yang menatapnya dengan guratannya sendiri, Shena yang tampak Prihatin dan bersedih itu lansung di buat tak enak hati jika merahasiakan ini dari Nareus.
"Sian! apa kita tak salah menyembunyikan ini?"
Sudut bibir Mark terangkat sedikit lalu menarik lembut Shena untuk duduk dipangkuannya, ia membelai surai hitam panjang ini dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Aku seorang Pemimpin, aku wajib melindungi Anggotaku dan Menerima Permintaan yang layak untuk ku penuhi, Sayang! apalagi Alen anggota terbaik, dia tak pernah meminta apapun padaku, dan baru pertama kali dia mengadu dan apa aku harus lari dari Tanggung jawabku?"
Shena menggeleng mengecup kilas bibir Mark yang selalu melengkung setiap bersama dengannya.
"Aku mendukung apa yang menurutmu baik, Sian!"
"Itu baru Rubahku!"
Shena lansung terkekeh seraya bermanja dengan Mark yang juga tak segan untuk bermesra'an begini, keduanya begitu karut dalam cinta, Mark yang berubah menjadi pria yang penuh kasih membelai tubuh istrinya dan juga Shena yang berubah menjadi penenang bagi sang suami, keduanya saling membutuhkan dan terikat satu sama lain. apalagi ketiga Baby itu telah dibawa Vian karna Amanda sudah tak bisa menahan rindu.
Alen yang mengintip dari kejahuan sana lansung terdiam dengan mata yang menggenang, peggangannya ke Daun pintu itu menguat seakan ia sangat terluka dan haru berkesinambungan.
"A..Apa ini yang kau rasakan saat melihat mereka, Reus?"
__ADS_1
Gumam Alen mencengkram dadanya, betapa irinya ia melihat itu semua, bahkan sikap Shena yang begitu terkontrol membuat ia sebagai seorang wanita menjadi tertegun.
"Mereka seperti itu karna saling percaya dan mengerti satu sama lain! kau hanya butuh waktu untuk merubah diri, jadikan ini pelajaran, Alen!"
"A..Apa aku bisa?"
Janson hanya menghela nafas ringan lalu melangkah mendekati Alen yang terlihat sangat rapuh, wanuta ini benar-benar telah merasakan jatuh Cinta.
"Inilah Cinta yang sebenarnya! kalau kau belum merasakan sakit dan Pengorbanan itu bukanlah, Cinta! cobalah mencari kesalahanmu, dan jadikan itu buah kebaikan untuk masa depan, kau punya anak, bukan?"
Alen mengangguk mengelus perutnya, setidaknya bagian dari pria itu menyatu dengannya dan akan tetap bersamanya.
"Terimakasih!"
"Hm, Wuton itu tempat Ber Make-Up!"
Degg..
Alen lansung menatap Janson yang mendelik gerah melihat tatapan terkejut Alen yang masih saja tak suka dengan kata itu.
"Ma..Make-up?"
"Hm, disana adalah Kota khusus bagi Wanita Feminim, dan jauh dari keramaian Negara ini!"
"Ta..Tapi aku! Aku ini..!"
"Jika kau Protes, kau akan di keluarkan dari Klan Latina!"
Alen lansung dibuat gugup, ia kira itu tetap perang dan bela diri seperti biasanya, Wuton adalah jenis kota yang banyak ia dengar, dan kata itu terdengar Exstrem dan menantang membuat Alen tadi berfikir ia akan menempa hidupnya kembali, tapi dengan Feminim.
........
Semilir angin itu tak berhenti membelai wajah sendu seorang pria yang sedang duduk diatas Pasir keabuan ini seraya menatap luasnya pantai yang kemaren menjadi Saksi hampa bagaimana Pernyataan cinta darinya, disini ia pernah menjadi seorang Nareus yang begitu ceria, bahagia dan merasakan Cinta yang besar, tapi rasanya sekarang ia seakan ditelan kesunyian.
Kenapa waktu begitu cepat memutar arah? dulu dia ku peluk disini, dia mengatakan Cinta padaku disini, dan sekarang dia dimana? bahkan tawa, senyum cantik itu masih membekas dipenglihatannya.
"*Sayang! Ayo kerjar, aku!!"
"Hey, jangan berlari*!!!"
Nareus tersenyum melihat bayangan kejadian itu, ia masih melihat senyum lepas dan tawa menggema wanita berambut pendek itu, seakan ia menjadi saxsi kisah yang telah lampau.
"Hey!!"
Nareus tersigap saat ia melihat bayangan dimana ia memutar tubuh Alen yang masih tertawa dengan girangnya membuat Narus sangat merindukan wanita itu.
"A..Aku sangat merindukanmu!"
Gumam Nareus menekuk lututnya seraya wajah yang kembali bersedih, ia tak bersemangat bekerja bahkan rasanya ia hanya ingin disini menikmati kenangan yang masih kental membekas dihati.
Sedangkan Smith yang melihat Lordnya menjadi kacau begitu pun tak kuasa untuk bertindak, ia hanya bisa diam memantau jika hal nekat yang bisa saja Lordnya lakukan dalam keadaan rapuh itu.
....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1