Memikat Cinta Nona Arogan

Memikat Cinta Nona Arogan
Kain menjadi Selendang emas?


__ADS_3

Kegelapan itu mulai menelan Tubuh pria yang sedang melangkah ke Sebuah tempat penuh dengan aura Misteri yang kuat, ia tetap santai melangkah membelah keheningan malam ini.


Jika sekilas memang terlihat biasa, namun setiap Kibaran jubah dengan lambang Api itu membuat rerumputan hijau yang berada disekitarnya meredup tunduk, dialah Sang Lord yang memimpin Klan Devil di Perbatasan Antara Wilayah King Latina dan Lord Devil ini.


Tanah-Tanah dengan bercakan darah itu sudah biasa mereka tapaki, hanya remangan bulan diatas sana serta lulungan anjing hutan yang selalu terngiang jika masuk kedalam Gerbang Neraka ini.


"Selamat datang Lord!"


Nareus hanya mengangguk dibalik Maskernya, melangkah menuju sebuah lorong yang sangat amis, dan berbau, tentu Nareus tak asing lagi dengan Suasana begini.


"Tuan! Tuan jangan!!"


Brakk..


Suara teriakan para tawanan yang masih dipenjara dengan Anggota iblis yang menjadi Algojo didalam sana, Nareus menyeringai puas melihat semua kandang-kandang manusia tak berguna ini telah terisi penuh apalagi bagian atas menara Pemantau itu juga akan diledaki berbagai Kehancuran.


"Kapan Bomnya akan dikirim?"


"Lord, pemasok Peledak bersumber khusus dari kita! Pihak Pemerintah juga menginginkan Peledak dari anda!"


Nareus menghentikan langkahnya sejenak, pemikirannya tertuju pada Anggota kepolisian Negara, tentu ia punya rencana untuk ini.


"Aparat yang mana?"


"Police Manter USA! Pradicol Schine dari Australia, dan Lab Forensic Medical dari Argentina! masih ada banyak lagi, Lord! tapi tak memenuhi Kriteria!"


Nareus manggut-manggut mengerti, Lorong besar yang mengurungnya sekarang seketika mengeluarkan sebuah Suara yang teredam oleh alat Spesialis, bagian atas atap kepala mereka terbuka dengan ruangan bawah yang naik keatas menunjukan sebuah Lift yang sudah di Desain khusus bagi Pria berkuasa ini.


"Lord! semua Bisnis anda telah tercium Oleh pemerintah! mereka mengancam kalau anda tak ..!"


Dorrr..


Smith terperanjat saat Nareus menembak Menara di puncak sana dan benar saja seorang pria berpakaian hitam itu jatuh kebawah hingga lansung tercebur ke Kandang Buaya dibawahnya.


"Lanjutkan!"


Anggota Nareus yang ada dibelakang sanapun menegguk ludahnya kasar, pria ini selalu tahu apa yang sedang mengincar dari jauh.


"Mereka mengancam kalau anda tak Meng Exspor setengah Persen dari yang diminta, maka mereka akan membawa kasus ini ke dunia Hukum!"


Nareus menyeringai bengis, memangnya siapa yang mencoba untuk mengintai Bisnis Ilegal nya ini? benar-benar mencari mati.


"Exspor 50%!"


"Baik. Lord!"


Smith memerintahkan aanggotanya yang lain untuk melakukan titahan Lordnya, ia yakin pria ini punya taktik tersendiri untuk membungkam Lintah Pemerintah itu.


"Apa King sudah datang?"


"Belum, Lord! Adlen masih dikirim kemari!"


"Hm!"


Nareus masuk kedalam Lift bawah sana seraya memainkan Ponselnya, ia menyeringit saat melihat sesuatu. Alen tak di kamarnya, wanita itu pergi menuju arah Bandara.


"Cari tahu apa yang dilakukan istriku di Bandara!"


"Anggota yang lain sudah saya bentuk, Lord! sekarang mereka menguntit Nyonya!"


Nareus hanya diam, ia sudah menduga kalau Alen tak akan mengindahkan ucapannya, wanita itu selalu keras kepala dan tak ingin diatur, ia hanya ingin melihat sejauh mana Alen berbuat nekat membohonginya.


"Sore tadi Nyonya di Telfon oleh seseorang! yang jelas itu bukan Nomor Tuan Stephen!"


"Lalu?"


"Dia memberi pesan-pesan yang sangat Intim, Lord!"


Nareus mengepalkan tangannya kuat, bisa-bisanya wanita itu tak membicarakan ini padanya, dan malah pergi dalam diam tanpa bicara apapun.


"Lalu?"


"Itu karnanya Nyonya Pergi ke Bandara memastikan apa Tuan Stephen pergi atau tidak!"


"Untuk?"


Smith terdiam, ia tak tahu apa Maksud Nyonyanya merahasiakan ini, sudah jelas kalau Lordnya sangat tak suka Kebohongan dan tak akan pernah mengampuninya.


Titttt..


Suara Lift yang terbuka, Nareus melangkah keluar dengan emosi yang mulai bergelut, ia berfikir kuat, untuk apa Alen melakukan ini semua? apa wanita itu masih mengharapkan Stephen atau tidak?


"Jangan cegah dia! biarkan dia melakukan apapun yang dia mau, tapi Awasi kalau itu berdampak buruk!"


"Baik, Lord!"


Nareus masuk keruangan khususnya, semua anggota dari Klan Nareus tampak berkumpul menyambut sang pimpinan, namun Nareus tak ingin berbicara sekarang, ia hanya ingin Alen mengerti posisinya.


"King Latina sudah ada di Tempat Penyiksaan, Lord!"


Nareus mengangguk datar memakai sarung tangannya dan Topi khasnya itu, ia harus menyelesaikan ini sebelum masalah semangkin berlarut.


"Siapkan semua alat dan Persenjataan!!"


"Siap, Lord!!!"


Mereka berderu melangkah keatas Menara sana, ada sebuah hamparan tempat luas yang digunakan untuk Menyiksa para Tawanan yang memberontak.


Nareus menggapai satu besi didekat tangga sana seraya menyeret benda itu melewati tangga hingga bunyi nyaring itu tercipta mengerikan, Smith hanya menegguk ludahnya kecil karna merasa Lordnya akan melampiaskan amarah itu pada orang yang tepat.


Setelah beberapa lama, mereka sampai keatas sana dengan Lift yang tadi ada di ujung tangga, Nareus hanya diam, namun percayalah wajahnya sudah mengeras seakan ini adalah malam yang sangat mengerikan bagi semua tawanan yang akan di Exsekusi.

__ADS_1


"Lord!!!"


Anggota King Latina yang berderet rapi menyapa Nareus yang juga memberi salam sesuai Kehormatan yang ada, ia melangkah penuh wibawah menuju Mark yang seperti biasa selalu menciptakan aura Intimidasi yang kuat.


"Sepertinya Singamu lepas lagi?"


"Hm, Itu semua karna ajaranmu!"


Mark hanya menarik sudut bibirnya kecil dibalik Topeng khasnya itu, ia juga memakai Jubah kebesarannya membuktikan kalau keduanya memang benar-benar penguasa.


"Mana dia?"


"Janson!"


Janson lansung memerintahkan Anggota mereka untuk menurunkan Sebuah Bangkar yang dibawah melalui Helychopter sana, lampu menara ini mulai menyala menyorot siapa yang dibaluti kain hitam itu.


"Kau apakan?"


"Hanya Menyentrum!"


Smith bertambah gugup berada didekat dua Manusia iblis ini, ia tak bisa membayangkan bagaimana rupa Tikus yang baru saja keduanya tangkap. dan aura yang menakutkan dari keduanya sangatlah menundukan.


"Buka, Kainya!"


Srettt..


Deggg..


Anggota Nareus lansung tercekat melihat Tubuh Tuan Adlen yang sudah tak berpakaian dengan sayatan luka dimana-mana. kedua kaki tangan pria itu dirantai dengan wajah pucat dan beberapa bagian tunuh yang lebam, terlihat juga didekat paha pria itu seperti ada sengkangan benda keras.


"Kau bercocok tanam lagi di pahanya?"


"Hm! Tak baik mendiami lahan yang kosong!"


"Cihh!"


Nareus mendecih kasar, tapi ia belum puas dengan semua ini, Pria inilah yang membuat awal kehancuran bagi Momynya, dan Pria ini juga yang menjadi musuh dalam dagging bagi semua Keluarganya.


"Buka Bangkarnya!"


Greett..


Bangkar itu terbuka dengan Smith yang menarik rantai yang membelit kaki Tuan Adlen mendekati Nareus yang menggenggam kuat baja ditangannya. ia sangat lapar dan haus akan aroma darah pria ini.


"Na..Nareus!"


Lirihan itu keluar dengan mata yang sayu-sayu mencoba mencari kegelapan dari sinaran lampu yang menyorot wajah tak manusiawi itu, pelipisnya berdarah dengan bibir yang pecah, sungguh ia sangat tak bisa menahan siksaan lagi.


"Apa kabarmu?"


"Na..Nareus!"


"Sudah berapa Wanita yang kau bunuh?"


Tuan Adlen merasa kurang jelas dengan suara itu, telinganya sudah berdengung akibat pukulan dari Wilayah Iblis yang berdiri dibelakang Nareus.


Bughhh..


"Assss!!!"


Nareus menghantam leher Tuan Adlen dengan baja panjang yang ia peggang, urat-urat kegagahan itu bergelut di lengannya tampak sangat kekar karna mengangkat bobot baja besar dan berat ini.


"Tak menjawab, hm?"


"Ka...Kau..!"


Bughh..


Sekali lagi hantaman benda keras itu mematahkan bahunya membuat Tuan Adlen memekik tertahan, darah itu mulai keluar disela terlinga dan mulutnya membuat pria ini sangatlah menyedihkan.


"Dia masih hidup atau tidak?"


"A..Aku..Aku tak ta..!"


Krakk..


"Aaaa..aaass !!"


Nareus menginjak bahu yang tadinya sudah patah dengan suara keras itu membuat Pria na'as ini memekik sekuat tenaga, ia tak menyangka Nareus sekuat ini, ia pikir Nareus juga sama dengan Albert masih ada Kebodohannya.


"Kau pantas Mati!"


Grett..


"Ha..Hahaha. Uhukk!


Bugh..


Nareus kembali menghantam pipi Tuan Adlen yang lansung membengkak dan sobek, pria ini menjerit kuat namun ia sekuat tenaga untuk bersikap santai.


"Ka..Kau tahu, a..ada musuh yang le..lebih kuat dari aku, uhukk!"


Nareus terdiam sejenak, ada lagi hal yang tak ia ketahui sekarang, sepertinya kali ini musuh yang sangat besar.


"Kau tahu?"


"Te..Uhukk! Tentu, a..aku..aku tahu!"


Jawab Tuan Adlen tertawa berat dengan deru nafas yang tercekat, ia sungguh sudah tak mampu menerima pukulan lagi.


"Katakan!"

__ADS_1


Bukannya menurut, Tuan Adlen malah menggeleng seraya memejamkan matanya dengan senyum miris dan bengis itu.


"A..Aku seorang Penjahat haha!! Aku..Aku tahu siapa.. siapa yang.. uhukk! Aku..Dan dia hihi, aku. dan dia!"


Mark mengepalkan tangannya kuat menahan amarah, wajah Kotor pria ini memang tak pantas disebut sebagai Keluarga apalagi Manusia.


"Katakan!"


"A..Aku itu, Cerdik! A..Aku. Aku menyulap sebuah kain menjadi Selendang emas, hihi hukk..dan.!"


Tuan Adlen terhenti sejenak menatap sayu tak pasti Nareus dan menunjuk wajah tampan tertutup Masker pria itu dengan Penuh Arti.


"Kau akan Hancur! Sehancur, Hancurnya!"


"Kauuu...!"


"Mark!"


Nareus memeggang Bahu Mark yang ingin menghantamkan Batu besar sana ke wajah Tuan Adlen yang seperti Manusia tak waras terkikik sendiri lalu menatap Nareus sinis dan licik.


"Dia hanya memancing!"


Mark menyentak bahunya kasar, sungguh ia tak bisa menahan emosi ini, nafasnya sudah memburu namun sekuat tenaga ia kendalikan, ia sangat geram karna Istrinya merasa kehilangan dengan Perginya Keponakannya itu.


"Aku Pergi!"


"Hm!"


Mark melangkah pergi, lebih baik ia tak disini dari pada harus bersabar seperti Nareus yang bisa saja mengendalikan diri dalam suasana begini.


"King! jangan di tembak!"


Dorrr..


"Mark!!!"


Bentak Nareus saat Mark hampir saja menembak kepala Tuan Adlen dan untung saja hanya tengkuk pria itu yang terkoyak kejam.


"Bu...Bunuh aku, Tuan!"


Mark hanya mencabik naik keatas Helychopternya, setidaknya peluru Timah ini sudah menyengkak di tengkorak pria itu.


"Ka..Kau takut, hm?"


Pancing Tuan Adlen pada Nareus yang hanya diam memperhatikan gelagatnya, Kain menjadi Selendang emas, berarti ada yang telah di ubah oleh Pria ini hingga bisa setenang ini.


"Stephen itu Putramu!"


"Ha Ha Ha!!!"


Tuan Adlen terbahak keras hingga semburan darah itu keluar, namun pria itu tak perduli karna Tujuannya yang sebenarnya akan segera tercapai.


"Yah! Bu..Bukankah aku sangat hebat, hm? Membunuh Ibunya lalu memperbudak Anaknya, Cuihhh!! Dia bodoh. se..seharusnya dia bukan keturunanku dan dia hanya anak seorang Pengemis!"


Srett..


Glekk..


Anggota Nareus menelan ludahnya berat saat jantung pria itu terbelah akan sabitan pedang tajam dari Nareus yang terjiprat cairan pekat itu, Tubuh Tuan Adlen lansung terbelah dengan beberapa usus yang terpotong di ujung Pedangnya.


"Hanya 5 Menit waktumu bicara!"


Gumam Nareus melempar asal Pedangnya lalu mengambil Handuk yang diberikan Anggotnya, ia menatap Yosep didekat tembok sana yang merekam segalanya.


"Kirim itu ke Putranya!"


"Baik, Lord!"


Nareus membuka mantelnya dan Masker itu, darah Tuan Adlen tak terjiprat kekulitnya karna ia memakai Pakaian lengkap.


"Kau cari tahu siapa yang dimaksud Pria itu!"


"Baik!"


Nareus tertegun sejenak, ia rasa Pria ini masih punya hutang untuk negara ini.


"Bawa Tubuhnya ke Zoo Park di Tengah kota, pastikan ini terlihat seperti Bunuh diri!"


Smith lansung bersiap, sepertinya nasip pria ini kurang beruntung, Niat Lordnya tadi akan diberikan ke Stephen tapi karna tak bisa menahan emosi akhirnya nyawa si Tikus ini hilang ditempat.


..........


Alen melihat Daftar di Staf Irlend ini, ia begitu teliti memeriksa Untaian List penerbangan kemaren, namun ia tak menemukan nama Stephen, dan sudah pasti pria itu pergi, yah jika di baca oleh orang awam, namun Alen mengerti, tak mungkin Stephen tak pergi karna ia melihat dengan jelas kalau Stephen sangat menyayangi Putrinya.


"Apa anda mencari sesuatu, Nona?"


"Tidak, Terimakasih!"


Ucap Alen lalu melangkah pergi, baiklah, anggap saja Stephen tak pergi, tapi kenapa saat aku bicara tadi dia tak membuka suara?seharusnya Stephen tak perlu begitu.


"Hais! Cullen, kau seharusnya ada disini!"


Umpat Alen kasar, Cullen berbakat dalam Menelusup kearea manapun, ia bisa meminta Pria itu untuk melihat dan memantau apa yang telah terjadi.


"Aku yakin ada yang ingin mengadu domba Step dan Nareus!"


Gumam Alen melirik kilas kesekelilingnya, ia merasakan firasat buruk tentang Cullen, ia tahu pria itu pasti sedang mengalami sesuatu yang besar.


.....


Vote and Like Sayang,,,

__ADS_1


__ADS_2