
Fanya menggendong Putrinya Faby yang sedari tadi tak mau diam di tempatnya, bayi itu terus merangkak menangis karna tak bisa tidur mengenang sang Ayahnya yang jauh di Negara orang membuat batin Fanya menjadi gelisah melihat anaknya.
"Dady hiks!"
"Nak, Faby jangan nangis, Sayang! nanti dady akan cepat pulang!"
Ucap Fanya menggendong si Mungil berusia beberapa bulan itu dalam gendongan hangatnya, ia tak tahu kenapa jika rasa resah itu juga ia miliki sekarang, Pikirannya melayang pada Step yang tak kunjung membalas Pesan singkat darinya tadi.
"Dady hiks!"
"Sutt! kita Telfon Dady ya, Nak?"
Fanya menggapai Ponselnya lalu mencari kontak sang suami, ia sangat mudah mencarinya karna hanya ada nama Stephen di dalam Ponselnya.
Tutttt..
Sambungan Telfon yang berbunyi, namun tak ada yang mengangkat bahkan hanya suara Operator yang berbunyi, Fanya terus mencoba dengan wajah yang benar-benar gelisah menatap Jam di dinding sana menunjukan Pukul 9 malam.
"Ayolah angkat, Sayang!"
Fanya beberapa kali menelfon tapi tetap sama membuat ia benar-benar dilanda kekhawatiran dengan Kilatan beberapa bayangan yang untuk pertama kali melewati pikirannya.
"Haiss! kenapa aku malah berfikir kalau Step berselingkuh? Bodoh Fanya, Bodoh!"
Umpat Fanya mengetuk kepalanya lalu menggendong Baby Faby keluar, ia berusaha tetap tenang namun ia seketika terdiam saat melihat foto Keluarga di dekat Lantai 3 sana.
Hela'an nafasnya muncul merasa kembali mengingat kejadian kelam itu, namun ia bersykur karna ada Pria sebaik Stephen yang mau menerimanya walau itu bukanlah kesalahan dari pria itu.
"Kau sangat berbeda dengan Kakak mu!"
Fanya mengelus foto dimana dua pria bertubuh hampir mirip namun dibedakan oleh wajah dan karakter, yang satu berandalan dan yang satu terlihat manis dan kalem membuat hatinya mendesir hangat.
.............
Momy Carolin tampak membulatkan matanya melihat Kamar Nareus dan Alen yang berantakan dengan kedua Mahluk itu sedang tertidur diatas karpet dibawah sana dengan sangat manis namun ada pertanyaan besar yang mengganjal di hati Momy Carolin.
"Kenapa dengan kamar ini?"
Gumam Momy Carolin menyibak beberapa selimut yang tergorok didepan langkahnya dengan pecahan kaca bahkan meja yang seperti dihantam sesuatu yang keras.
Melihat Nareus dan Alen yang tampak lelah dan terlelap nenyak membuat Momy Carolin tak tega membangunkannya, ia merapatkan Tirai besar dikamar itu, niat hati ingin menghalang cahaya yang masuk tapi sang mentari diatas sana malah muncul mendesak masuk menyinari wajah kedua mahluk itu.
"Ma..!"
"Sutt!"
Nareus segera menyuruh Momy Carolin untuk diam karna takut Alen terbangun, tangannya ia jadikan pelindung dari sinaran matahari yang seakan ingin sekali mengusik lelapnya wanita ini.
Momy Carolin tersenyum melihatnya lalu mengacungkan kedua jempolnya pada Nareus yang tersenyum pelit saja memandangi kepergian momynya.
"Ehmm!"
"Sutt, Sutt! Tidurlah lagi!"
Alen menggeliat didalam pelukan Nareus yang menjadikan lengannya sebagai bantalan kepala batu wanita ini, ia mengelus punggung Alen yang sungguh merasa nyaman dengan semua ini hingga ia tak bisa bangun dari mimpinya.
Drett..
Ponsel Alen menyala dengan nama Step yang tertera disana membuat Nareus kembali meradang dengan wajah yang mengeras, ia memejamkan matanya menormalkan rasa panas yang kuat.
"Step!"
Gumam Nareus lalu mematikan Ponsel itu dan melemparnya keatas ranjang sana tanpa ingin memberi tahu Alen apapun, ia sejenak terdiam menatap wajah tenang dan damai Alen.
"Kenapa kau tak menurut saja, hm? kau pasti akan lebih manis!"
Nareus memeggang dagu Lancip Alen lalu mengecup kilas bibir wanita itu, ia tak bisa memaksakan kehendak sebelum Alen menentukan pilihannya sendiri.
"Sussss!!!!"
Suara Grandma Zamlya yang membuat Nareus mengumpat kesal menutup telinga Alen dengan tangannya, sampai kapan wanita tua itu harus mengatur hidupnya?
"Sus!"
Nareus pura-pura tidur memejamkan matanya mengeratkan pelukan yang membuat Alen benar-benar ditutupi tubuh kekar dan berotot yang dibaluti kemeja yang sudah terbuka semua kancingnya itu menampakan dada bidang dan tonjolan otot Sexsi ditubuhnya.
"Sus! Kau..!"
__ADS_1
Grandma Zamlya yang tadi ingin memberi tahu Nareus kalau ia minta ditemani ke tempat Dance pun terkejut dan menggeram mematung didepan pintu sana melihat Moment mesra namun mengundang Kegelisahan itu.
"Apa-Apa'an ini?"
Nareus hanya diam seakan benar-benar tidur, bahkan ia dengan pelan menyelumbungi tubuh keduanya didalam selimut tebal sana membuat Grandma Zamlya meradang murka.
"Reus!!!"
"Hm!"
Grandma Zamlya melangkah mendekati Nareus yang hanya diam semangkin membatu seakan tak bernyawa saja, ia malas untuk berdebat pagi-pagi begini, apalagi dengan Grandma Zamlya yang pasti tak ingin disalahkan.
"Bangun!"
Nareus hanya diam dengan Alen yang mulai menggeliat terganggu, wanita itu mengerijab beberapa kali seketika mengkerutkan dahinya menatap Selumbungan Selimut yang menutupi wajahnya dan Nareus yang tersenyum padanya.
Plapp..
"Susst!"
"Hm?"
Nareus mendekatkan wajah keduanya setelah Alen menaboknya tadi hingga selimut itu membungkus rapat dengan gerakan yang ambigu membuat Grandma Zamlya menduga apa yang terjadi.
"Reus! Sesak ah!"
Alen menggeliat namun wajah Nareus sudah menempel tepat bahkan bibir keduanya kembali berbenturan dengan hidung yang merapat, Alen tak masalah karna ia sudah biasa, namun ia bingung kenapa pria ini jadi aneh bermain dalam Selimut.
"Kau kenapa?"
"Grandma!"
"Hm?"
"Grandma di sampingmu!"
Aken seketika menoleh menatap selimut dibelakang sana, ia melihat kaki Grandma Zamlya yang sedang menahan geram menyaksikan mereka.
"Dia yang membawa Nenek sihir itu, kan?"
Alen seketika menyeringai, ia sangat geram dengan Wanita semalam yang seakan mempertanyakan ajaran keluarganya, kalau memang tak suka ya mari bertarung, tapi dia malah mengandalkan mulut busuk itu.
"Akhh, Reus!"
Nareus terkekeh mendengar ******* manja lembut itu, ia hanya diam membiarkan Alen mempermainkan Grandma Zamlya yang pucat mendengar suara itu.
"Akh Akh Sss Reuss, hm!"
"Hentikan!!! Wanita ******!!"
"Akhh, Sayang!"
Nareus tak tahan untuk tak terkekeh melihat wajah Alen yang seakan benar-benar ia gagahi, meski birahinya terpancing tapi Nareus berusaha menganggap ini hanya mainan.
"Kau gila ha? berhenti!!"
"Fa..Faster Baby, Akh ss!"
Sumpah demi apapun Narus ingin tertawa melihat Alen yang menggeliat seperti cacing kepanasan itu seraya menggerayai tubuhnya membuat Grandma Zamlya lansung berteriak murka.
"Dasar wanita sialan!"
Bugh..
Nareus menghalangi kepala Alen yang ingin ditendang Grandma Zamlya hingga wanita tua itu melangkah keluar dengan amarah yang memuncak meninggalkan kamar itu.
"Apa dia sudah pergi?"
"Hm! Tapi Desahanmu boleh juga!"
Plakkk..
"Kau mendesah saja jarang!"
Ketus Alen menyibak selimut itu kasar lalu beringsut duduk merapikan rambutnya yang berantakan.
"Mana Ponselku?"
__ADS_1
Narsus menaikan bahunya acuh lalu menggulung selimut itu lalu mmbawanya kekamar mandi dengan Alen yang naik keatas ranjang sana mencari Ponselnya.
"Pasti Step tadi menelfon!"
Gumam Alen menemukan Ponselnya, sayangnya benda itu mati membuat ia heran, tadi Batrainya Full tak mungkin habis secepat ini.
"Haiss! Reusss!!!"
"Hm, ada apa?"
Tanya Nareus dalam kamar mandi sana seraya menggosok giginya, ia hanya tersenyum licik setelah merusak Ponsel wanita itu.
"Kenapa Ponselku mati?"
"Entahlah!"
Alen mengumpat kesal mencarsnya kembali namun tak juga bisa hidup, padahal Nomor Step tak ia hafal kemaren.
"Bagaimana ini?"
"Apanya?"
Alen hanya diam seraya mengotak-atik Ponselnya, ia tak memperdulikan Nareus yang memantau setiap gerak-geriknya meski pria itu terlihat sibuk sendiri.
"Pergilah mandi!"
"Ha?"
"Mandi! berikan Ponselmu padaku!"
Alen menggeleng menyembunyikan benda itu, ia yakin Nareus masih marah soal kemaren, tak mungkin pria itu bersikap baik begitu saja.
"Kesinikan!"
"Nanti kau rusak!"
"Itu sudah rusak, ayo berikan!"
Pinta Nareus seakan ia tak melakukan apapun hingga mau berbuat baik, tapi sesungguhnya ia punya rencana sendiri untuk menentukan kemana hubungan mereka kelak dengan memposisikan Alen ke situasi yang memilih.
"Belikan yang baru!"
"Kau punya uang sendiri!"
Plakkk..
"Pelit!"
Ketus Alen setelah menabok pipi Nareus lalu melangkah turun menuju kamar mandi dengan Nareus yang menggeleng saja melihat perlakuan kasar istrinya itu terkadang menjadi Manja dan menjadi singa secara bersama'an.
"Reus!!"
"Hm?"
"Dimana Sabunku?"
"Diatas dekat keranjang, Pakaian!"
Alen merasa bingung, ia tak tahu apapun tentang Sabun, hanya Nareuslah yang mengurus keperluannya di Tempat ini.
"Yang biru atau putih? ini sama saja!"
Gumam Alen mengambil kedua Bungkus Sabun cair khasnya itu lalu membawanya keluar berdiri didepan pintu kamar mandi sana.
"Reus!"
"Apa?"
"Yang Biru atau yang putih?"
"Yang putih, kalau yang Biru untuk malam!"
Alen mengangguk kembali masuk kedalam kamar mandi sana seraya menghidupkan Shower diatasnya.
.........
Vote and Like Sayang..
__ADS_1