Memikat Cinta Nona Arogan

Memikat Cinta Nona Arogan
Penyesalan!


__ADS_3

Tatapan tajam Alen lansung menusuk Nareus yang hanya bisa diam, mengelak pun ia tak akan bisa karna Alen tak akan semudah itu ia bohongi, bahkan semua orang juga masih belum paham apa yang sebenarnya terjadi pada Dua Mahluk berparas Bak Dewa dan Dewi ini.


"Kau Minum?"


"Sayang! itu karna..!"


Alen melepas selimut ditubuhnya dengan kasar lalu melangkah menuju tangga diatas sana membuat Nareus tercekat alan kemarahan yang dikobarkan mata sang istri padanya.


"Alen, Sayang! dengarkan aku dulu!"


Mereka lansung saling tatap bingung dengan Alicia yang tercekat mulai tahu apa yang sebenarnya terjadi, ia menutup mulutnya tak percaya saat menatap Intens wajah Mungil Tembem Baby Zilla yang menatap mereka tajam seakan si kecil ini tak suka dengan Rhose yang sedari tadi risih dibuatnya.


"Ja..Jadi ini!"


"Dia anaknya Nareus dan Alen?"


Sambar Nenek Victoria lansung duduk disamping Baby Zilla yang masih bermain dengan Dasi ditangannya, ia menjauh dari semua orang yang menatapnya begitu sendu dan haru, begitu juga Momy Carolin yang begitu tak bisa menahan kerinduan pada Cucunya ini.


"Nak! ini Oma sayang!"


Nenek Viktoria yang memeluk Baby Zilla, Momy Carolin masih mematung memperhatikan bagaimana bentuk pahatan wajah dan netra tajam namun bulu mata lentik itu sama dengan Putranya, sungguh perpaduan yang sangat sempurna.


"Kalian jangan tertipu! mungkin saja ini..!"


"Heyy! memangnya kau siapa berani mengatakan itu disini?"


Ketus Nenek Victoria pada Rhose yang seketika terdiam mengepalkan tangannya kuat, ini tak bisa dibiarkan, semua orang mulai melupakan kebenciannya pada Alen, ia harus berbuat sesuatu untuk memanaskan kembali amarah Momy Carolin.


"Mom! kau tak bisa luluh begini saja, Alen itu sangat licik! dia pasti belum berubah, Mom!"


Momy Carolin hanya diam, entah apa yang ada dikepala Wanita cantik itu merekapun tak pernah tahu, bahkan Dady Albert sama sekali tak mengerti akan sikap Istrinya.


...........


Prankk...


Pecahan botol-botol Alkohol dari lemari sana lansung berserakan dilantai sana, air beraroma menyengat itu lansung menusuk hidung dengan lemparan yang tak berhenti dari Alen yang sangat murka melihat isi Kamar Nareus hanya benda ini dan beberapa obat tidur membuat ia naik darah.


"Kau meminum Benda sialan ini, ha? aku sudah bilang jangan diminum, Nareus!!!"


Bentak Alen menyala-nyala, Tablet obat tidur itu juga ia genggaman dengan kuat dengan deru nafas yang memburu menelan habis sosok kekar ini, ada genangan air dipelupuk mata Alen yang berusaha mengendalikan dirinya tapi ia tak bisa, bekas botol-botol yang sudah terpakai itu hampir satu keranjang, dan Obat-Obat ini bukanlah baik untuk kesehatan Pria ini.


"Kau ingin mati meminum ini semua? jawab aku Nareus!!"


"A..Aku tak bisa hidup tanpa ini!"


Jawab Nareus mengambil Sebotol Alkohol dan Satu Tablet Obat tidur yang selalu ia konsumsi karna matanya tak pernah ingin terpejam karna tak lepas dari Kenagan yang menyakitkan ini.


"Kau pergi, Sayang! kau meninggalkan aku yang tentu kau tahu betapa aku Mencintaimu dan anak kita! Kemana aku harus melarikan luka itu kalau tak ke semua ini?"


Sret..


Hati Alen tercabik mendengarnya, bibirnya bergetar dengan tetesan air bening yang mulai membasahi pipinya dengan nyata keluar membuktikan rasa sesak atas kenyataan ini tak mampu ia telan.


"Ta..Tapi jangan begini, Sayang hiks!"


"Lalu aku harus apa, hm?"


Tanya Nareus berjongkok dihadapan Alen yang duduk diPinggir ranjangnya, mata sembab wanita ini menyayat hati Nareus yang tak bisa berkutik, ia juga takut Alen akan semangkin terluka jika mengetahui ia Merokok.


"Ma..Maafkan aku, hiks! Maaf, Reus!!"


"Suttt! sudahlah, aku berjanji tak akan Minum lagi dan mengonsumsi ini! tapi kau jangan menangis, Sayang!"


"Tapi..!"


Alen menghentikan kalimatnya saat melihat satu tempat yang belum ia lihat dan itu adalah Balkon, seketika Nareus berdiri menelan ludahnya berat menatap Alen yang juga memandangnya tajam.


"Ada..Ada lagi yang kau pakai?"


"A..Aku! i..itu hanya..!"


"Dia merokok!"


Degg,..


Alen lansung terkejut setengah mati lalu lansung menatap Momy Carolin yang mendekatinya dengan wajah geram dan benci itu, satu kotak Rokok ditangannya membuktikan kalau ucapan Wanita ini benar.

__ADS_1


"Mo..Mom!"


"Apa? Lihatlah, dia ini sekarang Pecandu, Alen! kau tak usah sok perduli pada Putraku! Minuman, Merokok, Obat-obat tidur bahkan ia jarang meminum Obat Alerginya, bukankah itu hal yang menakjubkan?"


"Mom! berhenti bicara begitu!"


"Apa? kau mau membelanya, ha? Kau Pria bodoh yang pernah Momy kenal, Nareus! kau rela hidup dikegelapan begini hanya untuk menunggu wanita Brengsek ini pulang dan menyambutmu dengan kebahagiaan!"


"Mom!!!!"


Bentak Nareus menyala-nyala, namun tidak dengan Alen yang sudah terisak merasa Perbuatannya sudah sangat keterlaluan, pantas saja Momy Carolin membencinya karna ia menyebabkan Nareus tak lagi perduli akan hidupnya.


"Kau menangis? untuk apa, Alen? jangan sok perhatian pada Pria malang ini, bukankah kau sangat patuh pada Kingmu itu? dari pada Putraku, maka untuk apa kau bersikap seakan kau Menganggap kehadiran Nareus-ku?"


"Ma..Maaf hiks! Maafkan aku, Mom! Maaf!"


"Sangat mudah bagimu meminta maaf! a..aku seorang ibu, Alen! betapa sakitnya aku melihat Putraku malah menghancurkan dirinya sendiri hanya demi Keegoisanmu, ha? aku Ibunya dan aku tahu segalanya!!! a..aku tahu segalanya hiks hiks!"


Momy Carolin mengeluarkan segala kekesalan didalam hatinya, Nareus putra satu-satunya dan ia sangat menyayangi pria ini, tapi setiap saat ia hanya melihat luka dimata Nareus membuat ia menjadi tak becus sebagai seorang Ibu menjaga Putranya dengan baik.


"Mom! aku tahu kau menyayangiku, tapi jangan menangis begini!"


"Na..Nareus! Momy ha..hanya ingin kau seperti dulu hiks, hanya itu, Nak!"


Nareus memeluk Momy Carolin yang begitu merindukan sosok putranya yang begini, Nareus yang tak acuh dan mau bicara padanya, bukan Nareus yang pencandu dan jarang di Kediaman ini membuat ia terus gelisah.


"Dan kau! aku tak perduli kau berubah seperti apa hingga Fisikmu begini, tapi yang jelas! aku tak akan pernah setuju jika kau masih mempermainkan Putraku!"


"A..Aku! Aku bersumpah akan, akan menjalankan Tugasku dengan baik, Mom!"


"Bahkan Rhose pun bisa melakukannya!"


Nareus lansung melepas pelukannya, ia tak suka dengan nama itu dibawa-bawa dalam perdebatan mereka, Rhose bukanlah anggota keluarga ini dan tak akan pernah.


"Aku tak akan pernah menikahi siapapun Selain istriku! dan sekali lagi Momy mengatakan itu, aku tak akan segan pergi dari Kediaman ini!"


"Pergi saja, tapi Cucuku akan tetap bersamaku! terserah kalian mau kemana!"


Momy Carolin berucap tegas lalu menatap Alen yang masih terdiam memandang sendu kotak rokok yang ada ditangan Momy Carolin, ia tak bisa membayangkan betapa hancurnya hidup pria ini karnanya.


"Aku akan memutuskan! kau atau Rhose yang akan menjadi menantu dikeluarga ini, tapi kalian harus bersaing!"


"Jika kau bunuh dia, sama saja kau takut akan semua ini! apa kau sudah tahu kalau Alenmu tak akan pernah bisa bersaing dengan Rhose yang sempurna itu, hm?"


"Aku akan lakukan!"


Nareus lansung menatap Alen terkejut, untuk apa melakukan hal tak berguna seperti itu, ia saja tak pernah menganggap Rhose diKeluarga ini.


"Bagus! ku tunggu bagaimana Kelebihanmu itu!"


"Sayang! Momy itu hanya marah sebentar, kau tak perlu melakukan ini!"


Ucap Nareus memandangi Momy Carolin yang sudah pergi keluar dari kamar ini meninggalkan Alen yang masih memikirkan dampak besar kedepannya.


"A..Apa benar kau merokok?"


Nareus lansung menghela nafas berat, ia mengeluarkan sesuatu dibalik Jasnya dan benar saja benda itu membuat Alen semangkin tersiak menatap wajahnya pilu.


"Hm, kalau tak Merokok kepala ku pusing!"


"Ja..Jadi setiap malam kau mengatakan kalau ada pekerjaan! ta..tapi ternyata kau Merokok hiks, kau jahat hiks!"


"Sayang! aku tak bisa berhenti kalau untuk yang satu ini, sangat susah! karna aku sudah Kecanduan melakukannya!"


Alen terdiam sesaat menatap Sebungkus Rokok yang ada ditangan Nareus, ia harus apa agar pria ini tak kecanduan lagi akan Rokok dan Minuman seperti itu.


"Sejak kapan kau memakainya?"


"Sejak kau pergi! rasanya hanya nyaman, setelah itu aku bisa meracau sesuka hati dan Tidur!"


"Kau tak memakai Obat terlarang, kan?"


Nareus menggeleng, membuat Alen lega mengelus kepala pria dengan lembut, Nareus hanya menurun menjadi kusing yang tak bisa berkutik akan pertanyaan wanita ini.


"Apa aku boleh Merokok? aku janji tak akan Minum atau yang lainnya!"


"Tidak bisa! kita punya anak dan tak baik untuk kesehatan!"

__ADS_1


"Tapi aku janji akan jauh-jauh, Sayang! hanya satu batang satu hari!"


"Satu batang dan Satu hari kau tak bersamaku dan Putri kita! maka merokoklah kalau kau mau!"


Nareus lansung menggeleng melempar Rokok ditangannya ke lantai sana, ia memeluk Alen yang sedang berfikir keras sekarang ini.


"Aku tak akan merokok, jika kau melarang!"


"Hm! Jika pusing bilang saja padaku, jangan ditahan-tahan, hm?"


Nareus mengangguk mengecup lama bibir Alen yang juga melayani hisapan mesra sang suami, namun seketika ia teringat akan sesuatu dan menatap wajah Nareus yang masih mencumbu bibirnya mesra.


"Sayamm!"


Nareus melepas hisapannya lalu menatap Alen yang terlihat serius memeggang pipinya lembut, jujur Alen hanya takut Nareus marah jika ia membahas ini.


"Ada apa, hm?"


"Bagaimana dengan Step? dia juga Putra Kedua Keluarga Hotmartew kan?"


Nareus mendengus kesal dengan pertanyaan itu, tapi ia juga telah lama berfikir tentang ini, Stephen juga punya hak menempati posisi itu.


"Lord!"


Smith yang tiba-tiba datang dari arah Balkon sana menunduk menatap Nareus yang memandangnya datar seraya menyandarkan kepala Alen ke dada bidangnya.


"Ada apa?"


"Saya sudah menghubungi Tuan Step! dia akan datang besok pagi dan untuk Pemberitaan itu saya butuh Identitas asli dan Identitas yang sekarang Nyonya Miliki!"


"Ada lagi?"


"Tuan Dayle membuat surat rekrutan Nona Lucister untuk melanjutkan kerja samanya!"


Grett..


Gertakan gigi Nareus terdengar nyaring, banyak sekali yang mencoba merebut wanita ini darinya, namun Alen hanya diam, lagi pula Tuan Dayle tak masalah baginya.


"Kau senang?"


"Tidak!"


"Kau pasti senang, kan? dia begitu mengidolakanmu!"


Ketus Nareus lalu berdiri melempar Jasnya ke wajah Alen dengan halus membuat Alen hanya mengumpat berbaring keatas ranjangnya seraya menatap wajah kesal pria ini.


"Aku bekerja saja! lagi pula dendanya sangat besar, 20 Triliun itu banyak, Sayang!"


"Cihh! Dasiku saja harganya melebihi itu!"


"Dasar Sombong! Pergilah urus semuanya, aku ingin tertidur! kau merusak pemandangan!"


Ketus Alen seraya menutup wajahnya dengan Jas Nareus yang sangat wangi, pantas saja Baby Zilla menyukai aroma ini ternyata sangat menenagkan.


"Sayang! aku pergi, Istirahatlah dan Pelayan akan datang membersihkan ini dan membantu keperluanmu!"


"Hm! cepat pulang, kalau tidak aku akan mencari suami baru!"


Nareus hanya tersenyum kecil menepuk bokong bulat itu lalu menyelimuti Alen dengan selimut tebal diatas ranjang ini, sedangkan Smith hanya diam, ia baru tahu rasanya menjadi Nyamuk yang diceritakan Asisten Buron kemaren padanya.


"Smith!"


"Iya, Nyonya!"


"Tolong bawa satu pelayan khusus untukku!"


Nareus mengkerutkan dahinya mendengar itu semua, ia sedang memasang Jaket pun lansung terhenti menatap Alen yang entah apa rencana wanita ini.


"Apa satu itu cukup? kalau tidak 3 atau 5 saja sayang, biar kau tak kerepotan!"


"Tidak, aku hanya butuh satu! apa kau bisa mencarikannya? tapi tubuhnya harus tinggi melebihiku!"


"Baiklah! kau tidur saja, Baby pasti dijaga oleh Momy dan yang lainnya!"


Alen mengangguk dan memejamkan matanya mencoba menyusun rencana, ia tahu ada sesuatu yang akan direncanakan Rhose nantinya, maka ia butuh peran pendamping.


....

__ADS_1


Vote and Like sayang..


Author harap kalian tak bosan membacanya, kalau Bosan silahkan bilang karna Author tak akan memperpanjang cerita ini😊


__ADS_2