
Momy Carolin terdiam dengan wajah mengeras dan dingin itu, ia menatap lurus tanpa menghiraukan Sang suami yang duduk disampingnya.
Marah? yah, dia sangat marah, sebagai seorang wanita ia merasa sangat hina dipermainkan begini, apalagi ia seorang Ibu, bayangkan saja bagaimana malunya ia pada sang anak yang malah dibebankan dengan urusan Percintaan kedua orang tuanya.
"Sayang! Kau jangan begini!"
"Tak akan ku biarkan Kalian berdua mengusik kehidupan Putraku!"
"A..Aku tak melakukan apapun, Sayang! aku mohon mengertilah!"
Momy Carolin masih kekeh dengan wajah datarnya menatap tajam Grandma Zamlya yang juga terlihat tak tahu lagi berbuat apa, meneggur Adlen sama saja mencari mati.
"Kau diam?"
"Lalu aku harus apa? kau sedari tadi menyalahkan aku, Carolin!"
Momy Carolin tersenyum miris menatap penampilan Grandma Zamlya yang begitu menunjukan kelas dan tentu terhormat, namun sikap dan perlakuan wanita ini tak lebih dari seorang wanita gelap mata.
"Seharusnya kau bisa menengahi kedua anakmu!"
"Kau pikir aku Tuhan, Ha? aku hanya manusia biasa!"
"Seorang ibu itu bertanggung jawab untuk menilai Anak-Anaknya! dan punya kewajiban menasehati mereka jika salah, dan kau! Ibu macam apa kau ini!!"
"Kau memang mencari mati, Carolin!!"
"Kalau bukan memikirkan Status, tak akan ku biarkan kalian menginjak Kediamanku!!"
Degg.,
Dady Albert lansung merasa tersayat, ia merasakan kemarahan yang besar dari tatapan dan kata-kata Istrinya yang sudah tak bisa menahan Kemurkaan hingga semua orang disini pun tak bisa berkutik olehnya.
"Dan selama kalian membahayakan Kehidupan anak-anakku, aku tak akan pernah menganggap kalian Keluarga!"
"Mom!"
Suara berat datar Nareus dari ambang pintu sana menatap mereka semua tajam dengan aura kelam itu, Tuan Adlen menyeringai licik duduk bersilang kaki dengan begitu angkuh di kursi sana menatap Nareus dengan penuh seringaian.
"Mom! kenapa kau meradang begini, hm?"
Tanya Nareus lembut mengelus pipi Momy Carolin yang mulai mengembun hingga menjatuhkan cairan bening itu ketelapak tangan Nareus.
"Ma..Maafkan, Momy hiks! Maaf, Nak!"
Nareus memeluk Momy Carolin yang menangis membuat dadanya sesak, wajahnya benar-benar mengeras menatap penuh Kemurkaan dan aura membunuh itu pada Tuan Adlen yang hanya santai.
"Siapa yang membuatmu begini?"
"Maafkan momy hiks! Mo..Momy membuatmu terbeban dengan masalah ini dan..!"
Bughhh..
"Reus!!!"
Mereka terkejut saat Nareus menghajar Tuan Adlen yang tersungkur karna tinjuan panas pria ini, bahkan Grandma Zamlya sangat Syok melihat api kemarahan yang dikobarkan Nareus membuat mereka gemetar.
__ADS_1
"Berani sekali kau menganggunya!"
Nareus menghajar penuh meluapkan rasa panas itu, ia seakan menggila memojokan Tuan Adlen yang berusaha melawan namun Nareus begitu gesit membaca gerakannya hingga ia babak belur dengan lebam dimana-mana.
Brakkk..
"Reus!!"
Nareus melempar Tuan Adlen kelemari kaca disamping sana hingga deretan Furniture mahal itu pecah berserakan dilantai dengan darah yang terus keluar di bibir dan hidung Tuan Adlen yang tak ingin membuat Nareus bertambah murka.
Grettt..
Nareus mencengkram leher Tuan Adlen kuat dengan gertakan gigi menahan emosi, wajah Tampannya sudah meradang merah dengan kepalan tangan yang mengeras.
"Aku diam bukan berarti kau lepas begitu saja!"
"Cihh! memangnya apa yang kau bisa. hm?"
"Membunuhmu!"
Brakk..
Nareus menendang tubuh pria itu kuat hingga benar-benar tersungkur sampai ke sudut ruangan sana membuat mereka diam tak berani berucap satu kata pun.
Ruangan ini berubah Meneggangkan dengan Nareus yang berusaha menahan karna ia tak ingin membuat Momy Carolin bertambah panik dan Khawatir.
"Uhukk! Ayo..Ayo pukuli aku lagi Keponakanku tersayang! aku menerimanya!"
Deru nafas Nareus memburu dengan dada yang naik turun menahan amukan, ruang keluarga ini sudah seperti kapal pecah dengan serakan beling dimana-mana.
Momy Carolin menggeleng saja, ia menyimpan keluhannya sejenak karna takut kalau Nareus benar-benar marah hingga hilang kendali ditempat ini.
"Ayolah Albert! kau pilih sekarang! ayo, karna Putramu ada disini!"
Tuan Adlen yang meracuni pikiran Dady Albert yang hanya diam membuang muka, pria ini pasti telah merencanakan penyebaran surat itu.
"Akan ku hancurkan kalian semua, jika tak menuruti aku!!!"
Nareus hanya menyeringai seraya genggaman tangannya ke Plastik pembingkus makanan itu menguat, ia tak sadar kalau Makanan yang ia bawa sudah remuk didalam sana.
"Lakukan apa yang kau mau!"
Ucap Nareus dingin, ia tahu pria ini akan membuat gempar seluruh jagad Maya, tapi tentu ia juga harus memberi serangan balasan.
"Nak! tanganmu!"
"Ini luka kecil!"
Jawab Nareus pada Dady Albert yang sangat tahu kalau tangan Nareus terluka karna pecahan beling itu, ceceran darahnya pun terlihat menetes menandakan luka itu cikup dalam.
"Jangan biarkan dia mengusik, Momy! dia itu Benalu disini!"
Mereka mengangguk dengan Nareus yang melangkah kedalam Lift menuju Kamar tamu, ia tak bisa menemui Alen dalam kondisi begini, pasti wanita itu akan bertanya dan akan membalas hal yang sama pada Adlen.
"Shitt, kenapa aku bisa se ceroboh ini?"
__ADS_1
Umpat Nareus melihat makanan yang ia bawa malah remuk dan tak layak dimakan,bahkan bentuknya saja sudah tak terkira apa berselera atau tidak nantinya.
"Lord!"
"Belikan ini yang baru! Pastikan semuanya sama persis dengan yang aku ambil"
"Baik, Lord!"
Smith melangkah pergi dengan sendirinya,entah dari mana pria itu datang dan pergi hanya Nareus yang tahu.
........
Suara Operator dari Ponsel pria itu selalu bebunyi, wajah teggang, khawatirnya bercampur aduk karna tak bisa menghubungi Nomor Ponsel Fanya, bahkan ini sangat membingungkan.
Stephen berlalu lalang didepan kamarnya dengan pikiran yang melayang, apa yang terjadi? kenapa panggilan ini sama sekali tak Aktif? apa Fanya sedang tidur, tapi sejak pagi juga tidak Aktif.
Batin Stephen bertanya-tanya seraya terus mengulang panggilan, namun tetap sama membuat ia mendesah kasar melempar tubuhnya keatas ranjang sana.
Rasanya sangat merindukan Baby mungil itu, sudah lama ia tak mendengar suara menggemaskan dari sang anak membuat Stephen bertambah gusar.
"Apa Fanya bekerja? tapi tak mungkin, aku sudah Memindahkan mereka Ke Manshion, bukan Apartemen, apalagi semua kebutuhannya sudah ku jamin disana, lalu kenapa tak Aktif?"
Stephen teringat tentang Oskar hingga ia mulai mencari Kontak pria itu dengan wajah penuh harap akan mendapatkan jawaban.
Tutt..
Panggilan tersambung membuat Stephen berbinar karna seakan mendapat harapan besar.
"Oskar! dimana Istri dan anakku?"
"Tu..Tuan!"
"Yah! dimana mereka? katakan kalau akau akan pulang 2 hari lagi!"
"Nyo..Nyonya!"
"Kau kenapa?"
Tanya Stephen bingung mendengar suara gemetar Oskar diseberang sana, ia mulai merasa sangat dingin dan kaku jika terjadi sesuatu saat ia pergi.
"Oskar!"
"Nyonya Di Rumah sakit!"
Stephen terlonjak kaget dan lansung bangun dari baringannya dengan wajah yang panik dan bergurat kacau.
"Bagaimana bisa? siapa yang sakit dan kenapa bisa..!"
"Nona Kecil meninggal dunia dan..!"
Duarrrr...
,.,
Vote and Like Sayang.
__ADS_1