
Alen terus melangkah keluar dari Bandara, ia fokus pada Ponselnya karna menghubungi Cullen yang tak juga mengangkat Telfonnya, ia sudah beberapa kali memulai panggilan namun tetap juga sama membuat Alen tak bisa diam dan digeluti rasa khawatir.
"Kau kenapa, ha? tak biasanya kau begini!"
Umpat Alen mengacak rambutnya Frustasi, ini sudah jam 2 Dinihari dan pasti Nareus sudah diperjalanan pulang membuat Alen harus memecah Rencananya untuk mencari Sang adik.
Alen terus melangkah menuju Mobilnya di Loby sana, ia tak tahu karna sudah sangat ngantuk dan lelah saat Mobil berarah dibelakang sana melaju kencang menuju tubuhnya Alen-pun tak menyadarinya.
Tittt..
Alen terkejut mendengar Klakson keras itu, ia menoleh kebelakang dan seketika matanya melebar melihat Mobil Tangki besar yang kehilangan kendali menuju kearahnya.
Ia ingin mengelak namun waktu tak cukup untuk memberinya jarak.
Brakkk..
Truk itu lansung menghantam Beton didepan sana dengan ledakan api yang menelan Mobil Alen yang ada disampingnya. Alen yang tadi sempat ditarik lengan kekar seseorang pun lansung pucat menatap siapa yang sekarang sedang membelit pinggangnya dengan wajah keras diselumbungi amarah itu.
"Kau ingin mati, Ha?"
"Na..Nareus!"
Grett,..
Nareus menarik tangan Alen kasar menuju mobilnya, untung saja ia cepat datang kalau tidak sedetik saja matanya tak tajam, maka Tubuh wanita itu sudah dihantam Mobil besar sana.
"Re..Reus, Lepas!!"
"Kau memang menginginkan ini!"
Geram Nareus mendorong Alen kasar masuk kedalam Mobil, ia menutup pintu mobil itu kasar membuat Alen menutup telinganya yang berdengung.
"Untuk apa kau pergi kesana, ha?"
"A..Aku hanya..!"
"Apa untuk mencari Pria itu???"
Bentak Nareus membuat Alen ciut, dua kali ia melihat kemarahan pria ini dan penyebabnya sama, Stephen, tapi pria itu tak melakukan apapun, tak seharusnya Nareus begini.
"Jangan salahkan dia disetiap Perdebatan kita!"
"Ouh! kau mulai membelanya sekarang!"
Geram Nareus menahan emosinya, ia tak marah pada Stephen melainkan sikap Alen yang selalu mengutamakan orang lain dibanding Perasaannya.
"Aku datang kesini, hanya untuk memastikan apa Step itu pergi atau tidak karna aku..!"
"Karna itu kau Membohongiku!!"
Brakk..
Alen terperanjat saat Nareus memukul kaca mobil disampingnya membuat Alen bergetar, wajah Nareus sudah memerah menahan amukan dengan tatapan yang seakan menelan Alen yang mulai berkeringat dingin
"Kau tak pernah menghargaiku!"
"Na..Nareus! aku..aku hanya!"
"Akan ku tunjukan sisi ini padamu!"
Nareus mengeluarkan pisau disakunya lalu menyeringai menatap Alen yang beringust merapat ke jendela mobil, ia sama sekali tak bisa bernafas menahan aura kuat dari tubuh Nareus yang sudah tak mampu untuk bersabar.
"Kau harus tahu, Aku juga punya..!"
Sret..
Nareus menarik kerah jaket Alen yang lansung tertarik hingga wanita itu mendekat ketubuh Nareus yang sudah dingin dengan mata yang menyala-nyala.
"Na..Nareus!"
"Sudah berapa kali ku bilang untuk MENURUT?"
Geram Nareus mengukir pisaunya didada Alen yang menringis sakit mencengkram paha Nareus kuat membuat Smith yang ada didepan sana hanya diam.
__ADS_1
Ia tahu, Lordnya sudah tak punya cara lain untuk mengendalikan Nyonyanya, wanita ini selalu membuat masalah dan seakan tak mengindahkan ucapan Sang Suami.
"Na..Nareuss!!"
"Sakit? kau sakit?"
Tanya Nareus terus mengukir Inisial namanya disana, tapi hanya goresan tipis namun masih menciptakan luka dan mengeluarkan darah, ia ingin Alen mengerti kalau ia tak bisa di Perlakukan begini, ia tak pernah sesabar itu pada wanita, bahkan rasanya harga dirinya yang selalu dipermainkan wanita ini setiap saat, kata-katanya hanya dianggap angin lalu saja.
"A..***, Hiks!"
Nareus mengatupkan rahangnyanya kuat, ia juga menggenggam pisau itu hingga tangannyapun terluka. bahkan lebih dalam dari apa yang ia lakukan pada Alen.
"Ns..Nareus!"
"Sekali lagi kau melakukan ini! aku bersumpah akan benar-benar Melepasmu!"
Degg..
Alen meneggang ditempatnya, bibirnya bergetar dengan mata yang menggenang, ia kesini hanya untuk memastikan itupun demi hubungan mereka.
"A..Aku! A..Aku hanya..!"
"Belajarlah untuk berfikir! aku memang Mencintaimu, tapi lambat laun rasa itu juga akan hilang!"
"Nareus hiks, Jangan katakan itu!"
Lirih Alen dengan air mata yang luruh, ia menjadi sosok yang sangat lemah, ia tak ingin Nareus marah padanya, ia pikir ia bisa menyelesaikan ini tanpa Nareus tahu.
Nareus membuang muka merahnya, ia tak sejalan dengan hatinya, ia hanya ingin Alen lebih takut dan membuktikan kalau Cinta itu memang ada.
"Aku sangat ingin memukulmu!"
"Ma..Maka lakukan!"
"Tapi aku tak bisa!!"
Bentak Nareus meluapkan segalanya, ia tak bisa menyakiti Alen tanpa menyakiti dirinya sendiri, bahkan luka didada wanita ini seakan merobek kulitnya sendiri, ia merasakan segalanya yang tak pernah dimengerti oleh Alen.
Nareus menggeram lalu mencengkram pecahan kaca sana, ia sangat jantungan saat melihat wanita ini dalam bahaya, apalagi ia sangat Mencintai Calon anaknya, ia menantikan buah hati mereka itu hadir dan semangkin memperkuat hubungannya dan Alen, hanya itu yang ia mau.
"Nareus!"
Gumam Alen saat Nareus melepas belitan tangannya kasar, pria itu membuka pintu mobil dengan serpihan kaca yang ia singkirkan dari tubuh Alen.
"Renungkan apa yang ku ucapkan!"
"A..Aku..,,Reus!!! Nareus kau kemana, Sayang??"
Teriak Alen saat Nareus melangkah pergi membuat ia khawatir, ia mencoba turun dari Mobil namun Pintu ini di kunci, ia berusaha keluar dari kaca pecah ini namun sayang Smith telah menekan Tombol pengganti kaca yang tadi pecah membuat Alen terkurung dalam mobilnya seraya berteriak memanggil Nareus yang hanya diam tanpa menoleh kearahnya.
"Reus!! Reus buka, Aku..Aku janji akan Menurut!! Nareus!!"
Nareus tetap bungkam dengan tangan yang terkepal menahan Desakan rasa, ia begitu merindukan wanita itu tapi rasa marahnya membuat Nareus tak ingin menyakiti Alen lebih parah dari ini.
"Kirim Hamley ke Kediaman!"
"Baik, Tuan!"
Asisten Buron yang lansung menghubungi Dokter Andrew untuk mengirim Suster, ia paham Lordnya sedang digeluti masalah yang rumit, Penjahat itu saja masih belum ditemukan, masih banyak yang harus mereka urus.
"Nareus!!!"
Degg..
Nareus terkejut saat melihat Alen yang berlari dari jalan sana mendekatinya dengan darah yang terus menetes di tangannya membuat Asisten Buron benar-benar pucat melihat wajah Lordnya, sudah pasti wanita ini melakukan hal yang sama pada kaca mobil itu.
"Kau memang ingin Mati!!"
"Pulang! ayo pulang!"
Alen menarik Nareus mengikti langkahnya, Nareus tetap berdiri ditempat membuat Alen sungguh sangat lelah dan begitu lemas.
"Aku! Aku mohon pulanglah!"
__ADS_1
"Tidak!"
"Na..Nareus aku Moho..!"
Alen lansung tumbang dengan sigap Nareus menggendongnya ringan dengan wajah yang benar-benar mengeras, ia tak tahu lagi harus bersikap bagaimana.
"Pu..Pulang, ya?"
"Kenapa kau melakukan ini?"
Alen hanya diam lalu menangis dengan sendirinya, ia sangat tak tahu harus bagaimana, ia sangat takut jika Nareus benar-benar meninggalkannya.
"Jangan! Jangan bicara seperti Tadi hiks, aku mohon!"
Nareus hanya terdiam, ia tak yakin dengan pembicaraan wanita ini, sudah beberapa kali ia terlena akan ucapan manis Alen yang terkadang akan terbuang sia-sia.
"Aku tak percaya padamu!"
Degg..
Hatinya semangkin berdenyut mendengar itu, ia juga berusaha untuk bersikap menurut tapi ia tak bisa, terkadang Pemikirannya spontan untuk pergi dan sangat tak bisa menahan diri.
Nareus menggendong ringan Alen yang hanya bisa lunglai dipelukan kekar ini, ia selalu menatap sayu wajah keras Nareus yang benar-benar mereasa khawatir, tapi pria itu menutupinya karna tak ingin Alen semangkin menganggapnya lemah.
"Maaf!"
Gumam Alen lalu merangkuh leher kekar itu dan menyembunyikan wajahnya disana, ia merasa sangat lelah dan mengalami kantuk yang luar biasa berat hingga ia tertidur.
"Kotak obat!"
Asisten Buron memberikan Kotak Obat yang selalu ada di Mobil, pria itu membaringkan Alen dikursi yang sudah ia turunkun kebawah hingga wanita ini bisa leluasa berbaring.
"Tangan anda, Tuan!"
"Ini hanya luka kecil!"
Jawab Nareus yang hanya mengelap darah yang bercecer ditangannya dengan Tisu, ia lebih fokus pada goresan yang ia buat ke dada Alen dan tangan wanita ini, sebenarnya ia tak tega tapi ia hanya ingin bersikap tegas.
"Hmm!"
Alen meringis saat obat itu menyentuh permukaan kulitnya, rasanya begitu perih namun seketika ia diam dan kembali hanyut dalam mimpi itu saat hembusan nafas Sang suami yang meniup luka itu penuh kasih sayang.
"Tahanlah sedikit!"
Gumam Nareus lalu menyudahi pengobatannya, ia mengambil selimut dibelakang sana dan membalutkannya ke tubuh Alen yang hanya mencari kehangatan darinya hingga ia harus berbaring menjadi bantalan wanita ini.
............
Diruangan sunyi itu, terlihat beberapa manusia yang sudah menyusun strategi yang sangat tepat, banyak hal yang akan mereka lakukan hanya untuk membalas seseorang.
Salah satu yang paling Mendominasi adalah seorang wanita berpakaian begitu mewah sedang menatap Intens semua laporan yang tersedia di mejanya.
"Kita bisa melakukan ini, Besok!"
"Hm, Iya Nyonya! saya akan mengurus segalanya hingga mereka tak akan tahu apa yang sebenarnya terjadi!"
Wanita itu hanya mengangguk datar dengan wajah tak sabaran itu, rasanya sangat tak sabar melihat Hubungan keluarga itu hancur, ia sudah membuat semuanya dengan sangat teliti memanfaatkan sikap seorang wanita sebagai umpan dari rencananya.
"Aku ingin, kau buat dia hancur sesuai rencana!"
"Baik!"
Bawahannya melangkah pergi meninggalkan wanita itu dengan rona bahagia yang terpancar dari wajah kencangnya.
"Lihatlah, apa yang tak bisa ku dapatkan, hm? aku tahu kalian begitu licik, tapi kelemahan terbesar itu adalah..!"
Wanita itu menatap foto dihadapannya, seorang Pria tampan yang dengan berwibawahnya berdiri ditengah-tengah orang penting.
"Cinta!"
........
Vote and Like Sayang..
__ADS_1