
Tuan Adlen menyeringai tipis menatap bagaimana Konfoi dan Bentroknya Masyarakat tentang Berita yang ia naikan ke Publik setengah hari ini, ia sangat puas, bahkan begitu bahagia karna seorang Presedir Nareus dianggap melindungi sang ayah atas Ketidak ada Respon sedikitpun dari pria itu.
"Lihatlah, bahkan Jabatanmu sebagai seorang Presedir di pertanyakan disini, Nareus!"
Gumam Tuan Adlen tersenyum puas seraya menegguk segelas Alkohol ditangannya dengan sangat nikmat, setelah semua orang mendesak Nareus untuk turun dari jabatannya maka ia akan menjadikan Step sebagai Pengganti lalu ia akan dengan mudah menguasai segalanya.
"Kau pikir aku Bodoh, hm? kau ingin melawanku, urusan Rumah Tanggamu saja belum selesai!"
Gumam Tuan Adlen merasa hari ini ia akan berpesta Sore, ia harus melihat pagi nanti apakah Nareus akan dihakimi dan diarak oleh semua warga karna Ketidak adilan yang ia terima.
.......
"Kalian tak pantas di Sebut Keluarga Terhormat!!"
"Yah, Kalian mencoreng nama baik Negara ini!!!"
Para Masyarakat yang memakai Mantel tebal itu sedang berdombong dilapangan Perusahaan MCC yang dikilapi berbagai lampu hingga mereka bisa melakukan Tindak Pemberontakan.
"JELASKAN PRESEDIR!!!"
Teriak mereka seraya melempar apapun ke Gedung besar itu, pihak keamanan sudah berupaya menangai tapi tak ada yang mampu menengahi, Masyarakat semangkin melakukan Anarkis dengan kekecewaan yang mendalam.
Mereka meminta keadilan bagi Tuan Besar Kedua Hotmartew sebagai Putra dari Negara ini. mereka juga meminta Pengakuan jelas dari Tuan Besar Pertama Supaya mereka tak dibohongi lagi.
"PRESEDIR!!!"
Sedangkan Nareus yang sudah datang diatas sana hanya menatap kerumunan dibawah sana dengan datar, rasanya sudah cukup untuk diam, bahkan tak sedikit yang mempertanyakan Dadynya.
"Buka Gerbangnya!"
"Tapi Presedir..!"
Petugas itu lansung mengangguk saat tatapan Nareus seakan menusuknya, ia memerintahkan Kemananan sana untuk membuka gerbang dengan Nareus yang melangkah turun dengan Penjagaan ketat dari semua Anggota dengan Asisten Buron yang mengurus tentang penyebaran Rekaman ini.
"Lakukan ketika aku sudah menyuruhnya!"
"Baik, Tuan!"
Asisten Buron menganggukinya seraya menatap Smith yang selalu sedia didekat Lordnya, ia mengawal Pria ini hingga turun menuju Loby Perusahaan.
"Maaf! tapi ini sangat berbahaya, Presedir!"
"Buka Pintunya!"
Petugas Kemanan itu lansung membuka pintu keluar dengan semua orang tadinya berteriak seketika terdiam saat melihat sesosok gagah memepesona dengan aura menyeramkan itu sudah berdiri dengan sangat Berkharisma.
Mereka saling pandang diam, tak ada yang berani mengeluarkan sepatah katapun, bahkan Kertas-Kertas yang mereka peggang seketika turun dengan kepala yang menunduk.
Kemana nyali itu? Kemana suara yang tadi melengkikng memecah tenggorokan dan sekarang hilang begitu saja ditelan angin.
"Kemana suara kalian?"
Mereka hanya bisa diam, lidah itu keluh seakan ditimpali batu besar, tak ada yang mampu menatap lama Nareus yang berdiri dengan kedua tangan yang masuk disela sakunya, tampak sangat berkharisma dan mengundang tatapan penuh damba.
"Berteriaklah!"
"Pre..Presedir!"
"Hm!"
Satu anggota pemimpin yang sedang memeggang Karton dengan Tulisan 'Traitor Of The Country(Penghianat Negara)' itu mendekat kearah Nareus yang tetap tegap tanpa menciut sama sekali.
"Kami hanya ingin, Keluarga Moureen dan Hotmartew yang selama ini Warga Negara Perancis Banggakan dengan Kehormatan tanpa kasus itu menjelaskan apa yang telah terjadi! anda Seorang Pemimpin, Presedir! begitu juga Keluarga Anda! jika kalian saja berlaku tak Hormat begini, maka akan banyak anak-anak muda yang akan meniru Perilaku Keluarga Kalian!"
Nareus mengangguk tegas dan sangat mengerti akan Asumsi Masyarakat yang begitu Perduli akan Kehormatan Keluarga mereka.
"Ada lagi yang ingin bertanya?"
Mereka saling pandang lalu menatap seorang pria tua yang membawa sebuah Nampan kecil berisi segelas air, tadinya pria itu ingin melempar ini, tapi ia tak seberani itu.
"Apa Benar Keluarga Anda telah mengucilkan Tuan Besar dan kalian berperilaku tak Manusiawi atas Beliau, Didalam Perjanjian itu kami melihat kalau..!"
Ia membuka kertas yang sudah disalin dari Media sana, Nareus sangat geram, sudah pasti surat itu sudah diModifikasi karna kalau surat sebenarnya itu dengan jelas tertera kalau disini Adlenlah yang salah.
"Kalau Tuan Besar Albert merembut Nyonya Muda Carolin dan membuat Perjanjian yang tak masuk akal, dia juga mengalami Kekerasan di Keluarga kalian, apa benar itu Presedir?"
Para Media sana lansung menyorot Nareus yang tersenyum kecil lalu menatap Smith yang mengangguk.
"Semua berita itu bukan berarti Kebenaran! Kalian bisa dengan malam nanti, biarkan Media yang menyrbar luaskan ini semua!"
Smith berucap lantang lalu memberikan beberapa Berkas dan juga Sebuah Kotak kecil yang membuat mereka bingung, sungguh mereka tak tahu apa isi dari benda itu.
"Pulanglah! Silahkan kalian lihat pagi ini, Siapa yang berbohong dan Tidak!"
"Baik, Presedir!"
Mereka melangkah pergi dengan Media News Propertiry yang tinggal untuk berbicara lansung dengan Nareus yang juga ikut ambil dalam semua ini.
"Aku ingin kau menyebarkan ini hingga ke Penjuru Dunia! jangan libatkan Anggota Keluargaku dan Jangan biarkan Media mengincar Stephen, ini hanya untuk mengungkap Pria tua itu!"
__ADS_1
"Tapi, apakah Tuan Muda Stephen tak akan Bersedih jika mengetahui ia hanya seorang anak wanita yang di Perkosa Ayahnya, Presedir?"
Nareus terdiam, sebenarnya ia tak tega pada Sepupunya satu itu, tapi mau bagaimana lagi, Stephen juga harus tahu semua ini.
"Sembunyikan tentang Kelahiran Stephen! kau buat saja Adlen telah memperkosa banyak Wanita setelah meninggalkan istri pertamanya!"
"Baik, Presedir!"
Mereka melangkah pergi dengan kawalan ketat Anggota Nareus yang tak bisa membiarkan Bukti-Bukti itu lepas tanpa penjagaan.
"Kalian harus,..!"
"Aaass!!"
Pekikan seorang wanita dari samping sana, semua Anggota Nareus berkumpul lalu berpencar mencari asal suara itu membuat Smith aggak aneh karna suaranya sangat familiar.
Namun berbeda dengan Nareus yang lansung melangkah menuju Tembok sana. wajahnya mengeras menduga siapa yang terpekik diluar sana apalagi cuaca disini sangat dingin karna Waktu yang mulai memasuki Musing Dingin.
"A..***..Akan ku bunuh kau, kemana kau lari ha?"
Alen yang sedang memakai Mantel dan Masker itu sedang memanjat diatas Pohon belimbing disamping sana dengan semut yang mulai mengerogotinya.
"Alen!"
Degg..
Alen meneggang ditempatnya mendengar suara geram itu, ia yang masih bergelantungan di Pohon sana dengan gugup menutupi wajahnya dengan Topi mantel yang ia pakai, untung saja ia memakai sarung tangan hingga peggangannya tak licin.
"Re..Reus!"
"TURUN!"
Tekan Nareus yang meloncat dari Tembok sana seraya menahan amarah karna Wanita ini selalu membuat ia jantungan, ia pikir Alen akan menurut ditinggal di Kediaman Moureen sana karna ia ada urusan diluar.
Tapi wanita ini malah menguntit dalam diam, bahkan parahnya Alen nekat memanjat, sungguh Nareus sudah sangat hilang kesabaran sekarang.
"TURUN kataku!!"
"I..Iya!"
"Turun, Alen!"
"Haiss! Bersabarlah sebentar, aku susah bergerak ini!"
Gerutu Alen seraya hati-hati menggapai cabang-cabang besar ini, ia menahan gatal dan perih karna semut yang mulai masuk kedalam Pakaiannya.
"Aaaa!!"
Grepp..
Nareus dengan sigap menangkap tubuh Alen yang hampir saja jatuh diatas semak berduri disamping sana membuat dada pria itu bergemuruh lamas dengan gertakan gigi yang beradu nyaring.
"Apa kau sudah tak waras, ha? Ini tinggi Alen dan banyak sekali Ranting Runcing dan ini..kau ini memang membuat aku Mati!"
"Reus, kenapa kau marah-marah begitu? aku tidak apa-apa sayang!"
"Tapi..!"
Nareus menahan geram lalu mengusap wajahnya kasar merasa ini sangat menjengkelkan, bisa-bisanya ia kecolongan menjaga wanita ini.
"Haisss!! Tapi ini salah, kau bisa bilang kalau ingin ikut!"
"Siapa yang ingin mengikutimu?"
"Maksudmu?"
Tanya Nareus seraya meneggendong Alen yang menolak, wanita itu menatap keatas dedaunan sana dimana ada Belimbing hijau Prancis yang sangat asam tapi liurnya tak sanggup menahan.
"Mau itu!"
"Apa??"
Suara Nareus tercekat saat melihat kearah telunjuk Sang istri, itu Belimbing mentah yang selalu berbuah disini, seketika lidah Nareus keluh membayangkan betapa Asamnya buah itu.
"Sayang, jangan bercanda! ayo pulang!"
"Haa Reus!! Aku mau itu! Aku tak mau pulang jika kau tak mengambilnya!"
"Tapi..!"
"Reus!"
Alen menunjukan wajah manis itu tanpa ada kegalakan sama sekali membuat Nareus aggak sedikit menyeringit dan meremang.
"Tapi itu Asam, Sayang! makan yang lain saja, ya? nanti perutmu sakit!"
"Cihh! Suami tak berguna!"
Glekk..
__ADS_1
Smith menelan ludahnya kasar melihat wajah Lordnya yang seketika berubah merah meradang mendengar ucapan Arogan wanita ini.
"Kauuu..!"
"Apa? Ingin marah? ya marah saja, kau itu tak ada bakat sama sekali! memanjat saja kau tak bisa, Minggir!"
Alen turun dari gendongan Nareus yang memejamkan matanya untuk bersabar dengan deru nafas yang memburu, kalau bukan karna ia Mencintai wanita ini, sudah ia tarik lidah tak bermoral itu.
"Semunya sangat banyak! kau tega membiarkan aku digigit Semut. ha?"
Nareus lansung menghela nafas berat lalu membuka Mantelnya dan ia balutkan ketubuh Alen dengan kepala yang menggeleng menatap wanita ini.
"Aku saja yang memanjat!"
"Kau yakin?"
"Sayang, sebenarnya kau ini mau menyiksaku. ya? kalau tak ku lakukan kau marah-marah!"
Decah Nareus dengan suara yang menggelikan, untung saja disana hanya Smith yang terbiasa mendengarnya, setidaknya ia sudah kebal.
Melihat itu semua Alen tersenyum menagkup pipi Nareus lalu mengecup lama bibir pria itu, Nareus pun sangat senang mendapatkan Sumber Energinya itu.
"Mau?"
"Baiklah, tapi jangan dekat-dekat disini, banyak Duri!"
"Siap, Presedir!!"
Nareus hanya mengulum senyum geli lalu mendudukan Alen kedekat Tembok rendah dengan tempat duduk yang aman bagi wanita ini.
"Jangan kemana-mana, hm?"
Alen hanya mengangguk, tapi ia tak menjamin karna disini banyak sekali hal yang ingin ia ambil, apalagi disekitar Taman Perusahaan Nareus banyak buah-buahan yang terawat.
"Sayang! yang kau mau yang mana?"
Namun tak ada jawaban dari Alen, Nareus masih sibuk memanjat dengan lihainya hingga ia rela digigiti semut-semut ganas itu hanya demi mendapatkan Belimbing permintaan wanita ini.
"Lo..Lord!"
"Sayang! cepatlah, kau mau yang mana? kalau yang ini tidak usah, banyak semut!"
Ucap Nareus sendiri memilih buah yang bagus untuk Istrinya, sesekali ia menepis serangga yang menggerogoti lehernya.
Sedangkan Smith tampak pucat berusaha meneggur Alen yang malah melangkah turun ke Taman seberang sana.
"Nyo..Nyonya!"
Namun Alen sudah lebih dulu menghilang dibalik tembok sana membuat Smith bingung apa yang harus ia lakukan sekarang?
"Alen!"
"Lo..Lord!"
"Hm!"
Jawab Nareus seraya meneliti buah yang ia genggam, ia masih belum menyadari kalau Alen sudah hilang menuju Keramaian sana.
"Nyonya Pergi!"
Bughh..
Nareus melempar Smith dengan Belimbing hujau ditangannya dengan wajah geram itu, ia menatap ke tempat dimana ia mendudukan Alen tadi, dan benar saja, sesosok Liar itu tak ada lagi disanan.
"Aku menyuruh kau memantaunya, kan?"
"Ma..Maaf, Lord! tapi Nyonya sudah hilang kesana!"
Nareus mengumpat lalu menggapai 3 Buah ketangannya dan meloncat gesit kebawah sana dengan wajah yang benar-benar naik pitam.
"Peggang ini!"
Nareus melempar buah-buah itu ke wajah Smith yang lansung menangkapnya dengan Sang Lord yang sudah berlari menuju arah Alen pergi tadi.
"Shitt! Kemana wanita itu? dia menyiksaku hari ini!"
Umpat Nareus menyangka keringat yang mengalir di dahinya dengan mata yang liar menatap kesekeliling tempat ini, ia terus mengumpat kasar namun tentu ia tak akan membiarkan wanita itu pergi.
"Cari istriku sekarang!"
"Baik, Lord!"
Anggota Inti Nareus lansung menyebar keseluruh tempat ini, terutama jalan-kalan besar dikeramaian dekat dengan Mall sana, sungguh mereka sudah beberapa kali kecolongan dengan Aksi Nakal Istri Lordnya itu.
....
Vote and Like Sayang..
Author kasih yang manis-manis dulu, nanti baru yang Duarrr hihi.. adalah pokoknya, nikmatilah😂😂
__ADS_1