
Lulungan Anjing didekat Penangkaran Park Weters sana begitu nyaring menyambut suasana gelap dan Mendung, Dingin yang mulai menusuk tulang dengan kilatan beberapa petir yang berakar diatas sana menyertai suara gemuruh menandakan akan turun hujan di Kota ini.
Namun, Sialnya keadaan ini membuat Wanita didalam selimut tebalnya itu terganggu dan menggeliat karna angin dingin yang lolos dari Fentilasi kamarnya.
Tangannya terulur meraba tempat disampingnya karna merasa tak ada lagi kehangatan yang mendekapnya erat, tak ada lagi belaian yang biasa membuat ia terlelap nyenyak.
"Reus!"
Gumam Alen lansung membuka matanya saat tak ada tonjolan otot itu yang terasa oleh kulitnya hingga ia merasa sangat kosong menatap kesemua sudut kamar yang remang ini.
"Reus!! kau dikamar mandi?"
Namun tak ada jawaban membuat hati Alen gelisah, ia melangkah turun dari ranjangnya lalu melangkah menuju Walkcloset dan tak ada orang sama sekali membuat ia mulai dilanda kekosongan.
"Katanya dia tak akan meninggalkan aku sendiri, lalu ini apa?"
Umpat Alen pergi kekamar Mandi lalu mencuci wajah dan keluar lansung menyambar Blezernya, perutnya begitu lapar padahal ia makan sangat banyak Malam tadi.
Ia keluar melewati pintu Apartemen dengan leluasa, dahinya mengkerut karna tak ada penjaga'an disini, bisanya Anggota Nareus selalu mengawasinya.
Grrr..
"Haiss! Momy tahu kau lapar, tapi tak Dini hari juga, Baby! Dadymu tak ada!"
Ucap Alen mengelus perut datarnya yang berbunyi nyaring, rasanya ingin sekali memakan-makanan pedas saat ini.
"Sebaiknya aku ke Pantri!"
Alen melangkah menuju Lift sana menuju Resto didekat sini, ia berharap ada Tempat makan yang Ajaib bisa buka hingga Dinihari.
Namun, Alen tak menyadari ada sesosok Pria yang selalu mengintainya hingga membuat ia sedikit meremang dengan aura menyeramkan ini.
"Kenapa Liftnya tak bisa digunakan?"
Gumam Alen yang memencet tombol disamping sana tapi tak bisa juga membuat ia sangat bingung, tapi sayangnya sang Bayi didalam sana terus mendesak hingga Alen begitu kelaparan.
"Apa aku lewat tangga saja?"
Gumam Alen berfikir dan seketika melangkah menuju Tangga di samping sana seraya kaki yang terus menapaki petakan itu begitulah jeli mata Sang Elang yang entah dari mana memantau si Bumil ini.
"Kau penghalangku!"
Pria itu lansung mengikuti Alen dari belakang dengan langkah yang sangat pelan bahkan sama sekali tak terdengar, ia begitu tak sabar saat wanita ini tergelincir dari lantai ini ke Lantai 1 dibawah sana yang sudah ia beri olesan minyak dan Beling.
Ia pastikan wanita ini akan lenyap bersama Janin yang dikandungannya, ia tahu segalanya karna tak seorangpun mampu menebak kemana ia melangkah.
"Selamat tinggal!"
Bughh..
Pria itu lansung menendang kuat punggung Alen yang menyeringai lalu meloncat kepeggangan tangga disamping kanannya dengan cepat membuat pria itu terkejut akan kegesitan wanita ini.
"Jangan bersembunyi di Kegelapan, jika kau memang berani padaku!"
Geram Alen menatap Intens sudut gelap dibelakangnya seraya mata yang waspada, ia sudah menduga ada yang menguntitnya karna Instingnya tak mungkin salah.
__ADS_1
"Kau penghalang terbesarku!"
Pria itu melempar Pisau pada Alen yang mengelak lalu mengambil kembali benda itu dan melemparnya tepat ketitik gelap sana hingga suara detakan itu muncul.
"Jangan lari kau brengsek!!"
Umpat Alen ketika melihat sekilat bayangan pria itu melewati tangga dengan cepat, ia tak habis pikir kenapa pria itu sangat liar dan gesit menghilang begitu saja.
"Shitt! aku harus mengejarnya!"
Alen dengan cepat melangkah ke bawah tangga mengejar pria itu, ia harus mendapatkannya hingga tahu siapa sebenarnya bajingan itu.
Namun, ketika ia sampai ke Bawah tangga terakhir, ia melihat Nareus yang sedang berdiri memeggang leher seseorang dengan wujud yang sangat mengerikan membuat ia sedikit meremang.
Darah itu terus keluar dari mulut Pria berperawakan kurus dengan wajah tirus itu, sepertinya Pria ini telah membuat ulah hingga Nareus membuatnya begini.
"Lo..Lord!!"
Greett.,
Nareus semangkin menguatkan cekikannya hingga kukunya sampai masuk kedalam kulit leher pria itu mencari nadi yang akan ia tarik sendiri.
"Berani sekali kau Menyabotase Tempat istriku!"
Bughh..
"Reus!!"
Alen menarik Nareus yang menendang kuat kepala pria itu hingga terhempas ke tangga disamping mereka membuat lumeran darah yang keluar seiring tergulingnya Mahluk yang sudah tak bernyawa itu.
"Aku..!"
"Apa dia melukaimu? dimana? katakan padaku!"
"Reus aku...!"
"Dia tadi membuntuti mu! tak mungkin dia tak melukai..!"
"Sayang!!"
Pekik Alen saat Blezernya malah ditarik Nareus hingga hanya memakai Tangtop dan Hotpans yang begitu Sexsi membuat Smith dan Asisten Buron lansung membalikan tubuhnya membelakangi Nareus yang melihat setiap sudut kulit istrinya.
"Seharusnya kau tak keluar, Sayang! kalau butuh apapun bisa kau Telfon aku, kau punya Ponsel kan? bagaimana kalau kau jatuh, apalagi kau pasti tadi melompat dan..!"
Cup..
Alen mengecup bibir Nareus kilas untuk menghentikan ocehan pria ini lalu menagkup pipi Nareus yang sangat jantungan saat menyadari Pria itu berhasil lolos entah dengan cara apa lagi.
"Aku baik-baik saja!"
"Tapi..!"
"Sudahlah, aku sangat lapar! dan ayo kita ke bawah!"
"Kita kekamar saja!"
__ADS_1
Nareus menggendong Alen ringan naik kedalam Lift di sudut sana, ia hampir saja membahayakan Keselamatan Alen yang memang bisa menjaga diri, tapi yang ia takutkan Wanita ini nekat menyerang hingga akan terluka nantinya.
"Sayang, benar kau tak apa-apa?"
"Iya, lagi pula tadi aku hanya meloncat ringan!"
"Lain kali jangan begitu lagi! kau membuatku jantungan!"
Alen tersenyum mengecup pipi Nareus lalu menatap pakaian Pria ini yang ber Stelan hitam membuat ia menduga Nareus baru saja selesai Membungkam seseorang.
"Dari mana saja?"
"aku tadi keluar! Dan mengatur Kedatangan Mark!"
"Apa???"
Pekik Alen kuat melengking ditelinga Nareus yang lansung merasa berdengung akan suara keras itu membuat Alem mencengir kuda meniup telinga suaminya.
"Sayang! kau ini..!"
"Maaf! aku terlalu bahagia!"
"Cihhn! mereka akan Tiba Pagi ini, dan tentu kita harus ke Bandara!"
"Yesss!! Terimakasih sayang!"
"Apapun untukmu!"
Alen semangkin mengeratkan pelukannya dengan Nareus yang akan memanfaatkan kedatangan si kembar, ia bisa menyibukan wanita ini dengan itu semua hingga ia bisa Mengendel Stephen.
.........
Sedangkan didalam kamar yang sunyi dengan porak-porandanya semua barang yang mengelilingi tubuhnya.
Ia bersandar ke samping ranjangnya dengan wajah sembab dan tatapan kosong ke arah Tumpukan kertas san Dokumen yang diberikan Pria tadi, ia digeluti kebingungan.
"A..Apa aku harus melakukannya?"
Gumam Stephen yang tak tertidur sama sekali, ia terus berfikir mencari jalan keluar dari keterpurukannya.
Apa aku terlalu jahat jika melakukan ini? tapi aku tak ingin kehilangan Alen.
Batin Stephen bergelut, namun seketika ia kembali geram saat mengingat ucapan Pria itu tadi, ia tak terima jika Alen hanya dijadikan Alat Pria berkuasa itu.
"Tidak! aku harus membawa Alen pergi! yah, ini demi Alen!"
Gumam Stephen lalu lansung mempersiapkan segalanya, ia akan hadir sebagai Putra dari Pewaris kedua Keluarga Hotmartew hingga ia bisa leluasa membawa Alen pergi.
"Sayang! aku janji akan membawamu pergi!"
Ucap Stephen mantap, ia akan melawan siapapun supaya Alen tak di Peralat begitu, kalau memang Nareus tulus mencintainya, ia tak akan begini.
....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1