Memikat Cinta Nona Arogan

Memikat Cinta Nona Arogan
Dia sudah memiliki Istri!!


__ADS_3

Mereka terkejut saat melihat Alicia tergeletak dilantai kamar sana dengan Infus dan Nampan makanan yang tadi diletakan disana seketika berantakan dengan ceceran buah yang terlempar ke Depan pintu sana.


"Alicia!!!"


Momy Carolin yang tadi baru datangpun lansung berlari menggapai tubuh Alicia yang sudah tergeletak dibawah sana dengan pergelagangan tangan yang berdarah karna tersayat Pisau buah.


"Ci..Cia, Nak!!"


Alen yang tadi lansung menghubungi Nareus pun segera melakukan Pertolongan pertama mengambil Kota obat dengan Dady Albert yang menggendong Alicia naik keatas ranjang sana.


"Mo..Momy!"


"Momy disini, Sayang!"


Momy Carolin memeluk Alicia yang begitu pucat dengan darah yang berceceran di Sprey putih itu membuat Dady Albert menggeram akan keadaan sang anak.


"Mo..Momy hiks, Cia..Cia takut Mom!"


"Sutt!"


Momy Carolin terus menenagkan Alicia yang terus menangis dengan lirihan lemah itu membuat Grandma Zamlya mematung ditempat dengan wajah yang penuh keteggangan, tatapan Momy Carolin menusuk terhadapnya membuat ia menggeleng tak tahu.


"Bu..Bukan aku!"


"Pergi kau dari sini!!!"


Bentak Momy Carolin yang sangat membenci Grandma Zamlya, ia tak tahan lagi mendiami wanita tua ini hanya karna Statusnya sebagai Mertua.


"Mom, tenanglah!"


Alen menengahi suasana dengan Dokter Andrew yang datang lansung menangani Alicia, ia tertegun dipinggir ranjang sana menatap seluruh sudut di tempat ini.


"Apa kalian tak bisa menjagga tempat ini, ha? Lihat apa yang terjadi pada Putriku!!"


Suara kegeraman Dady Albert yang meruak naik mengubun, Cullen yang baru datangpun lansung mendekati Alen yang masih diam dengan wajah tenangnya.


"Siapa yang melakukan ini?"


"Yang jelas ini Orang dalam!"


Cullen terlihat bingung, ia sedari tadi tak melihat apapun yang mencurigakan, apalagi kamar Alicia dijaga ketat, tak mungkin ada yang bermain dengan Lord Devil disini.


"Kau jaga disini!"


"Baik, Kak!"


Alen melangkah pergi keluar sana dengan Grandma Zamlya yang tak berani masuk hanya berdiri diambang pintu sana, ia sangat takut jika semua orang menyalahkannya.


..........


Alen terus melangkah keluar untuk menemui Nareus yang tak kunjung datang membuat ia curiga apa yang dilakukan oleh Pria itu sekarang.


Brak...


Terdengar suara reruntuhan disamping Taman sana, dengan cepat Alen berlari dengan Pelayan yang menjerit kuat saat melihat seorang Pria yang terlempar membusuk kedalam Koridor Taman.


"Reus!!"


Alen terkejut saat melihat Nareus yang memukuli seorang Pria dengan wajah Tampannya yang memerah panas dengan guratan angkara murka yang nyata, urat-urat Keggeraman itu seakan muncul membuktikan seberapa kuat emosi yang ditahan.


"Reus! Reus!"

__ADS_1


"Bawa dia ke Marskas!"


"Baik, Lord!"


Smith yang lansung mengarahkan Anggota yang lain membopong Tubuh berlumuran darah Pria berseragam Pengawal itu menuju Mobil dengan tangan Nareus yang terkepal berlumuran darah yang menetes tragis.


"Dia siapa dan..!"


"Dia ingin Alicia mati"


"Siapa?"


Nareus memejamkan matanya mengendalikan amarah yang membeludak, ia yakin target selanjutnya adalah Alen istrinya, sungguh Nareus sangat ingin melenyapkan semuanya tapi itu berhubungan dengan darah Keluarganya.


"Reus!"


"Jangan Keluar dari Kediaman ini!"


"Tapi kenapa?"


Nareus menghela nafas berat seraya mencuci tangannya di air Kran sana dengan Pelayan yang mengulurkan handuk dan Alen sambar cepat untuk mengelap tangan sang suami.


"Alen!"


"Hm?"


"Untuk Sementara Pergilah dengan Step!"


Deggg..


Alen lansung meneggang ditempatnya menatap Nareus penuh rasa keterkejutan dengan Asisten Buron yang mengerti akan rencana Lordnya.


"Untuk saat ini, Kau bisa bersamanya!"


"Apa kau gila, ha?"


Bentak Alen melempar handuk ditangannya dengan wajah yang mengeras menatap Nareus yang tetap mempertahankan wajah datar namun penuh guratan itu.


"Hanya untuk saat ini!"


Senyum miris dibibir Alen tercipta dengan mata yang menggenang membuktikan ia sangat berdenyut mendengar kalimat itu, ia suka melihat Nareus yang cemburu tapi pria ini malah membiarkannya bersama Step.


"Aku pikir kau Berbeda dengan Step!"


Geram Alen meludah kasar lalu melangkah pergi dengan dada yang bergemuruh, ia sangat mengharapkan Nareus memperjuangkannya namun pria itu malah lepas tangan begitu saja.


Melihat itu Nareus hanya menghela nafas, ia harus memancing Pria itu keluar sendiri tanpa mata-mata, kalau Alen masih disini maka wanita itu akan mempersulit Rencana Musuh, kalau ia memindahkan Alen ke Apartemen maka ia juga tak akan bisa menjalankan rencananya yang sudah di tata rapi.


"Tuan!"


"Aku yakin Istriku bisa menjaga diri!"


Ucap Nareus lalu melangkah pergi, ia harus segera menuntaskan ini baru ia membawa Alen Kekediamannya karna Semuanya sudah terungkap, ia baru saja mengetahui kenyataan yang mungkin melibatkan Percintaan Momy dan Dadynya.


Langkah Nareus terus menguntit Alen yang terlihat naik pitam menyebarkan setiap amarahnya disepanjang jalan yang kaki jenjang itu lewati.


"Menyingkir!!"


"Ba..Baik, Nyonya!"


Para Pelayan sana menghindari dari jalan Alen yang sungguh tak terima, ia menganggap Nareus mempermainkan Perasaannya yang sudah ingin membuka.

__ADS_1


"Sayang!"


Alen hanya diam seraya masuk kekamarnya, ia lansung membuka Lemari dan menurunkan Koper dari lemari sana.


"Hey!! Hey dengarkan aku dulu!"


Alen hanya diam, ia bersumpah tak akan kembali lagi kesini, niatnya ingin membantu malah membuat Pria ini melukai hatinya yang tadi ingin memberi tahu kecuriga'annya.


"Alen!"


"Lepas!!"


"Dengarkan aku dulu, Sayang!"


"Apa????"


Bentak Alen menepis kasar tangan Nareus yang memeggang lengannya, matanya sudah memerah menahan emosi dengan Nareus yang merasa lega melihat sesuatu dari netra tajam wanita ini.


"Aku seharusnya tahu, Kau itu hanya ingin membuat Momymu senang!!"


"Bukan begitu! aku..!"


"Kau lebih Brengsek dari Step yang meninggalkan aku sedari 7 Tahun!"


"Dengarkan aku Dulu!!!"


Prankk..


Bentak Nareus menggeleggar membuat gelas dimeja sana terjatuh pecah dengan dengungan yang kuat menggetarkan gendang telinga.


Namun, Alen hanya diam dengan dengan kedua tangan yang mengepal, ia ingin menangis sungguh, ia ingin Nareus memperjuangkannya tapi pria itu malah melepasnya.


"Kenapa kau selalu membandingkan aku dengan Orang lain?"


"Kar..Karna kau itu..Kau itu!"


Grepp..


Nareus memeluk Alen yang tak kuasa menahan tangis, entah kenapa ia sangat merasa sesak, saat bersama Nareus ia seakan lupa dengan Step, tapi ia tak terima kalau Nareus yang menyatakan Cinta malah melepasnya.


"Ja..Jadilah seperti, King!"


Nareus hanya diam mengecup puncak kepala Alen yang terisak tertahan, wanita itu masih menahan diri untuk tak mengeluarkan segala rasa itu.


"Aku mohon mengertilah! Disaat ini kau bisa memilih, Aku atau Step!"


"Reus, hiks! Ta..Tapi aku bingung, aku tak tahu!"


"Lalu kau anggap aku apa?"


Tanya Nareus lembut, ia tak ingin digantung terus sedangkan masalah semangkin dalam menerjang, ia takut ia tak bisa menggenggam Alen lebih lama kalau tak tahu kemana arah Alen sebenarnya.


"Ba..Bagaimana dengan Step?"


"Dia sudah memiliki Istri!"


Duarrrr..


.....


Vote and Like Sayang...

__ADS_1


__ADS_2