
Soraya turun dari tempat tidur, lalu berjalan keluar dari kamar tersebut, Tegar panik lalu mengikuti Soraya, tapi Soraya berbalik hingga akhirnya mereka terpaksa saling bertubrukan. "Aaaaaa!" teriak Soraya, Tegar yang terkejut, segera menahan pinggang Soraya kuat-kuat, agar Soraya tidak terjatuh, tangan Soraya spontan memeluk Tegar erat-erat sambil memejamkan matanya karena takut jatuh, tapi setelah beberapa detik, Soraya merasa dirinya baik-baik saja, segera membuka matanya dan melihat dirinya sedang dalam pelukan erat Tegar, Soraya segera melepaskan diri dari pelukan Tegar "cari kesempatan dalam kesempitan!" omel Soraya, lalu masuk ke dalam kamar mengambil sebuah bantal lalu keluar lagi dan membaringkan tubuhnya di atas Sofa.
Tegar tersenyum melihat tingkah Soraya itu "gadis yang lucu!" gumam nya.
"Kamu tidur di kamar saja, biar aku yang di sini!" ucap Tegar, Soraya membuka matanya, lalu menatap tegar dengan pandangan tajam.
"Serius?" tanya Soraya, melihat Tegar menganggukan kepalanya Soraya pun segera berlari ke kamar lagi lalu menutup pintu kamar rapat-rapat, agar Tegar tidak masuk lagi ke dalam kamarnya.
"Aman! dia tak akan bisa kemari sekarang!" ucap Soraya.
"Plak!" Soraya menepuk jidatnya sendiri.
"Bodoh!! bukankah dia bisa masuk lewat manapun, jadi percuma pintu di kunci!" ucap Soraya membodohi diri sendiri.
Soraya menutupi dirinya dengan selimut rapat-rapat ini adalah perlindungan terakhir dirinya.
Tegar menahan tawanya melihat tingkah Soraya dalam kamar tadi, Tegar ternyata diam-diam mengintip Soraya dari balik tembok yang bisa dia tembus.
Tegar kembali ke sofa, tertawa terbahak-bahak, kemudian setelah puas Tegar puas, dia membaringkan tubuhnya di atas sofa, saat memejamkan matanya,Tegar segera terbangun karena saat dia melihat bibir tipis milik Soraya, ada di dalam kepalanya.
"****! kenapa bibir dia, ada di kepalaku" umpat Tegar.
Tegar pun tidak jadi tidur, dia terduduk menunggu pagi, karena tak bisa menghilangkan bayangan bibir tipis milik Soraya, dalam ingatan nya.
"Tok, tok, tok" Tegar terkejut ketika mendengar pintu kantor di ketuk dari luar, Tegar menerobos masuk ke dalam kamar Soraya untuk membangunkan Soraya, Soraya terbangun dan terkejut Tegar ada di dalam kamarnya.
"Ada apa!?" tanya Soraya sambil menatap Tegar tajam.
"Pintu kantor ada yang mengetuk! dasar kebluk!" ucap Tegar, Soraya tidak membalas ucapan Tegar, dia segera bangun lalu ke luar dari kamar, membuka pintu kantor dan melihat siapa yang datang "ada apa pak?" tanya Soraya saat melihat seorang security di depan pintunya.
"Ada titipan buat ibu!" jawab security itu.
Soraya mengambil paperbag yang di pegang oleh security itu lalu segera menutup pintu setelah mengucapkan terimakasih kepada security tersebut.
__ADS_1
Soraya segera melihat isi paper bag itu, di dalamnya ada satu set pakaian ganti dan juga sarapan pagi, dan secarik kertas
"Jangan lupa sarapan nya di habiskan, semangat bantu Tegar! Karin aman sama ayah dan ibu!" pesan ibu
Soraya tersenyum membaca tulisan itu, tegar yang melihat Soraya tersenyum, mendekati Soraya, membaca kertas yang ada di atas meja.
"Ibu perhatian sekali sama kamu!" ucap Tegar sinis.
"Kenapa memang?" tanya Soraya.
"dulu kepada ku ibu tidak seperti itu!" protes Tegar.
"Mana aku tahu, tanyakan saja sendiri pada ibu mu!" balas Soraya.
Tegar terdiam, lalu menatap ke arah Soraya yang malah diam di tempatnya.
"Ayo mandi! Kita harus mempersiapkan pertemuan kita pagi ini!" ucap Tegar mengingatkan. Soraya segera bangun, dari tempatnya masuk ke dalam kamar, Soraya akan mandi di dalam kamar mandi yang ada dalam kamar itu.
Tegar terdiam di tempatnya, menunggu Soraya selesai dengan urusannya, Tegar menatap bekal makanan yang di siapkan ibu, untuk Soraya, ingin sekali membukanya, tapi Tegar tak bisa menyentuhnya, Tegar mendekatkan matanya pada bekal itu, lalu tersenyum melihat isi nya.
"itu makanan buat Soraya atau aku, kenapa isinya semua makanan kesukaan aku!" ucap Tegar sambil tersenyum.
"Rupanya ibu masih mengingat dirinya" bathin Tegar dengan rasa bahagia.
Soraya keluar dari kamar dengan keadaan sudah rapih, untuk kesekian kalinya, Tegar terpana oleh kecantikan alami Soraya.
"Ada apa?" tanya Soraya saat mengetahui Tegar sehat menatap ke arahnya.
"Makan dulu sarapannya, kasihan ibu sudah menyiapkan nya!" ucap Tegar tanpa menjawab pertanyaan Soraya.
Tegar melihat Soraya yang duduk di dekatnya melahap sarapan itu dengan nikmatnya, membuat hatinya berbunga-bunga, karena Soraya juga menyukai makanan kesukaannya.
Tangan Tegar mulai menuntun Soraya kembali saat mereka sedang berada di luar kantor saat ini, untuk menemui seorang yang penting.
__ADS_1
Soraya dan Tegar di antar menemui orang yang di sebut oleh Soraya pada resepsionis, mereka menaiki lift, Soraya menoleh ke arah Tegar, Tegar menggenggamnya lebih erat, tak lama pintu lift terbuka lalu dengan cepat Tegar menarik tangan Soraya, Soraya segera mengikuti Tegar.
Mereka di antar ke sebuah kamar dan di persilahkan masuk ke dalam kamar tersebut. Tegar merasa heran kenapa pertemuan bisnis di lakukan di kamar hotel, Tegar menunggu dengan gelisah, karena perasaan tidak enak mulai menyerangnya.
"Kenapa?" tanya Soraya yang melihat ke tidak nyaman Tegar.
"Entahlah, aku tiba-tiba merasa tidak enak hati!" begitu Tegar menyelesaikan ucapannya, seseorang keluar dari dalam kamar di dalam kamar itu.
Seorang pengusaha muda yang tampan dan gagah, Soraya sampai terpana di buatnya, Tegar tak suka dengan situasi ini, Tegar menekan pergelangan tangan Soraya agak keras, lhingga Soraya, mengeluh kesakitan.
"Ada apa?" tanya Damara pada Soraya yang tiba-tiba menjerit.
"Tidak ada apa-apa, maafkan aku! sepertinya seekor semut menggigitku!" ucap Soraya sambil menepuk tangannya.
"Silahkan duduk!" ucap Damara.
Damara memperhatikan Soraya dengan seksama *wanita yang masih sangat muda, tapi sudah mewakili Tegar, si hebat itu, apa wanita ini sehebat Tegar juga* bathin Damara.
Tegar memperhatikan bagaimana Damara terus memperhatikan Soraya yang terus berbicara tentang proyek mereka, Tegar merasa Damar tidak memperhatikan apa yang Soraya bicarakan, tapi Damara lebih banyak memperhatikan Soraya, Tegar memincingkan matanya, ke arah Damara ada yang tidak beres di sini, bathin Tegar.
Soraya yang merasa Damara terus memperhatikan nya, terdiam "apa anda mendengarkan, saya?" tanya Soraya., Damara terdiam tidak menjawab pertanyaan Soraya.
"Baiklah, jika anda tak ingin saya bicara kita sudahi saja, kerjasama ini!" ucap Soraya membuat Tegar dan Damara menatap tajam ke arahnya.
"Apa maksudnya!" sentak Damara.
"Anda tertarik dengan saya atau proyek saya?" tanya Soraya langsung membuat Damara terbatuk-batuk, sedangkan Tegar tersenyum lebar.
"Keduanya" jawab Damara dengan santai, Soraya terdiam lalu berbicara lagi.
"Maaf, tapi saya tidak suka dengan orang serakah!" Damara yang sedang menenggak minumannya seketika tersedak, sedangkan Tegar mengacungkan dua jempolnya pada Soraya, sedangkan Damara menatap tajam ke arah Soraya baru kali ini ada wanita secara terang-terangan menolak diri nya.
"Kita teruskan atau kita sudahi sampai di sini?" tanya Soraya.
__ADS_1