
Tegar terkejut saat Soraya berlari memeluknya, ada getaran yang tiba-tiba muncul dari dalam tubuhnya, bau harum tubuh Soraya terasa amat dia kenal dan amat di rindukan olehnya, hingga tanpa sadar Tegar menghirupnya.
Kehangatan pelukan Soraya langsung menjalar ke dalam tubuhnya, hingga secara perlahan Tegar mencoba membalas pelukan Soraya, Tegar benar-benat penasaran dengan siapa Soraya, kenapa Soraya selalu ada di pikiran dan hatinya, apakah dirinya pernah memeluk tubuh ini juga.
Tubuh Tegar kaku seketika ketika dirinya memeluk Soraya, Tegar saat ini merasa pernah memeluk tubuh ini, tapi entah kapan? tubuh yang begitu pas dalam lingkaran tangannya, tubuh yang mengeluarkan rasa hangat pada hatinya.
"Kamu sudah ingat peristiwa itu?" tanya Soraya, sambil memandang wajah Tegar.
Tegar yang sedang menikmati hangatnya pelukan Soraya, terkejut dan segera melepaskan pelukannya.
"Peristiwa apa maksud kamu?" tanyanya pada Soraya, ekspresi wajah Soraya yang gembira saat itu seketika berubah kembali sedih, mendengar pertanyaan Tegar, secara perlahan Soraya pun melepaskan tangannya yang melingkar erat di pinggang Tegar. Soraya menjauh dari Tegar, dan terduduk lesu di atas sofa.
"Dia tidak ingat peristiwa itu, dia memang tidak ingat aku!aku baginya hanya bayangan
masa lalunya yang tak akan pernah dia ingat!" ucap Soraya dengan sedih, air matanya menetes, merenungi nasibnya yang telah jatuh cinta pada orang yang telah lupa akan dirinya, yang pernah hadir dalam hidupnya sebagai cinta sejatinya.
Tegar menatap Soraya, dengan ekspresi kebingungan, melihat Soraya menangis meneteskan air matanya sambil memandang ke arah dirinya.
Ibu dan Ayah Tegar melihat semua ini merasa apa yang terjadi, tak adil buat Tegar dan Soraya, kenapa mereka harus berpisah? padahal mereka saling mencintai, bahkan Soraya dan Tegarl merupakan pasangan sejati tapi kenapa tak bisa saling bersatu? Sedihnya mereka, mereka bahkan tak tahu harus berbuat apa, untuk menyatukan Tegar dan Soraya lagi.
Ibu Tegar memeluk Soraya erat, dia sangat mengerti apa yang di rasakan oleh Soraya, dirinya saja tak sanggup melihat semua ini, padahal dirinya adalah saksi cinta di antara Tegar dan Soraya yang tahu bahwa cinta Soraya benar-benar tulus hingga bisa membuat Tegar kembali dari tidurnya, yang panjang.
Tegar yang tak mengerti dengan apa yang terjadi pada ibu dan Soraya, yang berpelukan sambil menangis mematung di tempatnya, sampai sentuhan ayah di pundaknya, membuat nya terkejut dan sadar.
"Apa yang terjadi Ayah?" tanya Tegar.
"Mereka hanya ingat seseorang yang saat ini sedang pergi" jawab Ayah.
Tegar mengerutkan keningnya, seseorang yang sedang pergi? siapa dia? seingat Tegar ibu dan Ayah nya hanya memiliki dirinya
"Siapa ayah?"
"Cinta sejati Soraya" jawab Ayah.
Cinta sejati Soraya? maksud ayahnya Soraya punya kekasih! tanya Tegar dalam hatinya
__ADS_1
"Deg" jantung Tegar seakan berhenti saat itu juga menyadari hal itu, Tegar memegang dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri, hati Tegar seperti di tikam belati saat ini, sakit sekali rasanya.
Tegar menatap Soraya yang sedang menangis begitu sedihnya, apa Soraya begitu mencintai kekasihnya itu? Tegar mengepalkan kedua telapak tangannya kuat-kuat menahan rasa sakit dan marah dalam hatinya.
Soraya menatap ke arah Tegar, melihat Tegar sedang menatapnya juga, Soraya merasa sakit tak sanggup rasanya melihat Tegar ada di hadapannya, Soraya melepaskan pelukan ibu Tegar dan berlari masuk ke dalam kamarnya.
Meratapi nasibnya yang begitu tragis, karena pertama kali jatuh cinta, namun cintanya itu melupakan dirinya yang selalu ada di dekatnya.
Tegar terkejut melihat Soraya berlari masuk ke dalam kamar setelah melihat ke arahnya, Tegar bersiap untuk mengejar tapi di cegah oleh Ayahnya.
"Biarkan dia sendiri, dia sangat memerlukan hal itu" ucap Ayah, seketika Tegar pun menghentikan langkahnya, lalu menatap ibunya yang mengangguk padanya. Tegar menundukkan kepalanya, antara bingung, sedih dan juga sakit hati.
Tegar keluar dari rumah Soraya, masuk ke dalam mobilnya.
"Pulanglah bersama Tegar, ibu akan di sini menemani Soraya" ucap ibu, membuat Ayah mengangguk.
***
Tegar menatap kosong ke arah kaca depan mobilnya, jalan di depannya begitu kosong seperti hatinya, begitu lengang seperti pikirannya, begitu dingin seperti perasaan.
Tegar menyandarkan punggungnya, menarik nafas dalam-dalam, memejamkan kedua matanya, mencoba melepaskan pikirannya dari Soraya.
Sedangkan Soraya di dalam kamar, menangis sekuat-kuatnya untuk bisa melupakan perasaan nya pada Tegar dan berharap semuanya menjadi lebih baik setelah menangis, bukankah setelah hujan, matahari pun akan bersinar lagi, ucap hatinya.
***
Dua hari kemudian...
Amanda menunggu Tegar di ruang makan untuk sarapan, Tegar yang memang belum Tidur, turun menuju ruang makan, sebenarnya Tegar tadi bermaksud hanya ingin mengambil air saja, karena entah mengapa pagi ini perutnya tidak merasa lapar, tapi melihat Amanda duduk di kursi makan, menunggunya, Tegar dengan terpaksa ikut duduk di samping Amanda.
"Roti bakar coklat?" tanya Amanda.
"Iya" jawab Tegar pelan.
"Pagi!" sapa Ayah Tegar, lalu duduk di tempat biasa.
__ADS_1
"Apa ibu belum kembali, ayah?" tanya Amanda.
"Belum" jawab Ayah.
"Soraya sepertinya belum bisa masuk kerja lagi hari ini" lanjut Ayah.
"Memangnya kenapa ayah? apa Soraya sakit, bisa minta alamatnya? aku ingin ke sana!" potong Fernando.
"Tidak, Soraya hanya ingin berlibur lebih lama di rumahnya dan ibu dengan senang hati menemaninya di sana, kata ibu di sana pikirannya jadi tenang" jelas Ayah.
Tegar terdiam tidak menanggapi apapun perkataan ayahnya, ia meneruskan sarapan nya sedikit demi sedikit, entah mengapa roti di depannya menjadi sulit sekali di telan olehnya, mendengar nama Soraya.
"Kamu kenapa sayang? mau minum?" tanya Amanda melihat Tegar seperti sedang tersedak roti di tenggorokan nya.
Tegar mengangguk, tanpa membuka suaranya, Tegar merasa roti di dalam mulutnya memang perlu di dorong oleh air, Tegar pun segera minum air putih yang di berikan oleh Amanda dengan cepat, hingga membuatnya malah terbatuk-batuk.
"Pelan-pelan saja sayang, ada apa dengan kamu?" Seru Amanda kebingungan.
Tegar pun tidak tahu apa yang terjadi dengannya, akhirnya dengan kesal Tegar berdiri dan meninggalkan ruang makan itu, dan tidak menghabiskan makanannya.
"Ada apa dengan Tegar Ayah?" tanya Amanda dengan ekspresi wajah penuh rasa khawatir.
"Mungkin sedang banyak kerjaan" jawab Ayah.
"Ayah benar, kenapa juga Soraya cuti nya lama sekali, kasihan Tegar!" keluh Amanda.
Ayah dan Fernando saling menatap mendengar ucapan Amanda tapi tidak berkomentar apapun.
Tegar di kamar, dengan kesal memasang dasinya, memandang dirinya di cermin, ini hari kedua dia tak akan melihat Soraya seharian penuh, kemarin saja tanpa Soraya bekerja di samping nya, entah mengapa jam kantor lama sekali berputar hingga membuatnya hampir mati kebosanan.
"buat apa dia ingat kekasihnya yang sudah melupakan dirinya!! cewek bodoh!!" umpat Tegar pada Soraya.
"Bodoh!!" ulang Tegar
"Bodoh dan bodoh!!" maki Tegar lagi pada Soraya, karena ingat bagaimana Soraya menangisi kekasihnya yang telah melupakan dirinya, kemarin.
__ADS_1