Mencari Cinta Sejati

Mencari Cinta Sejati
bab 11. di akui menantu


__ADS_3

Damara terdiam mendapat pertanyaan seperti itu, baru kali ada wanita cantik yang begitu tegas menolaknya.


"Kita teruskan bisnis kita!" jawab Damara, Soraya tersenyum mendengar ucapan Damara.


Damara dan Soraya akhirnya berjabat tangan, tanda kesepakatan telah di tanda tangani, Damara memandang ke arah Soraya lekat-lekat, tapi Soraya tidak bergeming membuat Tegar tersenyum lebar.Soraya terlihat sangat memukau di matanya Tegar, hari ini tak ada rasa grogi di wajah Soraya, saat menghadapi intimidasi dari Damara tadi.


Tegar segera menuntun Soraya menuju ke mobil mereka dengan cepat, Tegar tidak sabar ingin merayakan ini dengan Soraya.


Ketika Tegar dan Soraya sudah masuk ke dalam mobil, Tegar langsung memeluk Soraya erat "terimakasih" bisik Tegar. Soraya terdiam dalam pelukan Tegar, bahkan Tegar mengelus pipi Soraya pelan, memandang wajah Soraya tajam, lalu mencium ke dua pipi Soraya, membuat Soraya terkejut dan syok, tapi Soraya tidak memprotes apa yang di lakukan oleh Tegar, karena Soraya menganggap itu sebagai ungkapan rasa bahagia dari Tegar, saat ini.


***


Soraya dan Tegar pulang ke rumah dan di sambut dengan gembira, walaupun Soraya yang menerima pelukan dan ciuman dari kedua orang tuanya, Tegar tetap tersenyum dan bahagia, karena ia sangat merasa bangga pada Soraya hari ini, Tegar sangat terpesona dengan cara bagaimana Soraya mengatasi klien seperti Damara, yang sangat menjengkelkan itu.


"Tegar selamat!" seru ayah Tegar.


"Terimakasih ayah!" jawab Soraya, mewakili Tegar.


"Cepatlah kembali ke ragamu, jangan terlalu lama, di sana! Ibu dan ayah sangat rindu sama kamu" ucap Ayah Tegar lagi.


Soraya menoleh ke arah Tegar, menanti jawaban dari Tegar, tapi Tegar diam saja, Tegar menundukan kepalanya, dalam-dalam.


Soraya menoleh ke arah ayah Tegar, yang juga dalam posisi yang sama dengan Tegar bahkan terlihat bersedih, lalu Soraya menoleh melihat ke arah ibu yang juga sedang bersedih, Soraya terduduk di sofa dengan lemas.


"Maafkan ayah, karena selama ini selalu mengatur kamu,ayah menyesal!" ucap Ayah Tegar tiba-tiba.


"Maafkan ibu juga, yang kurang memperhatikan kamu, ibu terlalu sibuk dengan urusan ibu sendiri, sampai melupakan kamu!" ucap ibu, yang mulai menangis, terisak-isak.


Melihat situasi yang sedih seperti ini Soraya dan Karin hanya bisa terdiam, mereka saling berpelukan, karena mereka berdua juga tahu bagaimana rasanya kehilangan dan merindukan orang yang kita sayangi.

__ADS_1


"Soraya apa, Tegar mendengar kata-kata ibu tadi?" tanya ibu Tegar, Soraya mengangguk.


"Ibu kangen Tegar Soraya, bisakah ibu memeluk Tegar!" ucap ibu.


Soraya berdiri lalu menarik Tegar, agar mendekati ibunya dan segera memeluk ibu nya, mereka berdua menangis dalam pelukan itu.


Soraya dan Karin ikut menangis, mereka membayangkan jika mereka dapat memeluk kedua orang tua mereka kembali, saat ini.


Tegar yang melihat Soraya dan Karin ikut menangis, melepaskan pelukannya pada ibu.


"Ada apa?" tanya Tegar.


"Ingat ayah dan ibu!" jawab Soraya sambil menangis tersedu-sedu, Tegar menggeleng pelan.


"Kalian ini! sudah banyak melakukan akting menangis, sekarang ada kami, di sini! biar kedua orang tua kalian tenang di sana! kita sekarang satu keluarga, anggap saja ayah dan ibu ku adalah ayah dan ibu kalian, dan aku sebagai kakak kalian!" ucap Tegar.


Ayah dan ibu Tegar saling pandang, sejak Tegar mengalami koma, dan mereka berdua lebih banyak di rumah sakit, telah membuat mereka sedikit menyesal telah menyia-nyiakan kehidupan mereka dengan hal yang tidak bermanfaat hanya demi memuaskan ego masing-masing, sekarang dengan kehadiran Soraya yang membawa Tegar kembali pada mereka, walau hanya roh nya, tapi mereka harus tetap bersyukur.


"Tentu saja" jawab ibu.


Soraya memeluk ibu Tegar, begitu juga Karin.


Tegar tak menyangka kehidupannya yang dulu sepi di rumah ini, kini ramai dengan kehadiran Soraya dan Karin, Tegar pun bahagia melihat kedua orang tuanya sekarang telah berubah.


Tegar merasa, ingin cepat kembali ke dalam tubuhnya berkumpul dengan keluarga nya.


"Kata Tegar aku dan Karin adalah adik-adiknya" ucap Soraya lagi.


"Kamu dan Tegar, adik dan kakak?" tanya ibu Tegar.

__ADS_1


"Begitu kata Tegar" ulang Soraya, Ayah dan Ibu Tegar saling memandang, tapi kemudian tersenyum.


"Terserah Tegar saja! tapi jangan menyesal kamu nanti, Tegar!" ucap Ayah kepada Tegar.


Tegar mengkerutkan keningnya tidak tahu apa maksud dari ucapan ayahnya.


"Kakak, Karin ngantuk!" rengek Karin tiba-tiba, Soraya segera membawa Karin ke dalam kamar mereka, sedangkan Tegar menatap ayahnya yang sekarang sedang terduduk lesu di Sofa.


"dia menganggap gadis itu adiknya, yah!" ucap ibu.


"Iya, aku tahu!" sentak Ayah.


"Padahal kita sudah, sepakat kalau Soraya yang akan menjadi menantu kita!" ucap ibu lagi, Tegar yang mendengar itu terkejut, lalu tertawa kecil "mana mungkin aku menikahi gadis kecil seperti Soraya" bathin Tegar.


Tegar dan Soraya memang terlihat jauh berbeda,Soraya seperti gadis kemarin sore sedangkan, dirinya seperti lelaki matang yang siap akan segala hal, karena sudah pasti banyak pengalaman dalam segala hal.


Tegar naik ke atas menuju kamarnya, Tegar melihat Soraya sudah berganti pakaian nya, dengan pakaian tidur "gadis itu hanya pantas menjadi adikku!" bathin Tegar.


Soraya tersenyum, saat melihat Tegar sedang melamun, Soraya mendekati Tegar perlahan lalu membuatnya terkejut.


"Angkat tangan!!" Teriak Soraya mengagetkan Tegar, hingga Tegar terpeleset jatuh karena sedang dalam posisi tidak seimbang, untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh terlalu keras, spontan Tegar menarik tangan Soraya, Soraya yang tidak kuat menahan berat badan Tegar , tidak dapat di tahan lagi, ikut terjatuh menimpa tubuh Tegar, untuk beberapa menit mereka masih terkejut dengan kejadian yang menimpa mereka barusan, hingga tidak sadar posisi mereka saat ini, Soraya menatap wajah Tegar yang saat ini tepat ada di depan wajahnya, mata mereka bertemu, hidung mereka saling bergesekan, satu sama lain, menimbulkan perasaan aneh dalam diri mereka.


"Soraya! kenapa tiduran di sana!" seru ibu, ketika melihat Soraya ada di lantai dalam posisi tengkurap.


Soraya terkejut segera bangun, namun tertahan karena tangannya di tahan oleh tegar, hingga akhirnya bibir Soraya menyentuh pipi Tegar tanpa sengaja. Soraya dan Tegar untuk kedua kali dalam posisi yang aneh, Soraya segera menyadari hal itu, lalu bangun secara perlahan.


Ibu yang sudah ada di dekat Soraya berbisik "kamu jatuh di atas Tegar!" ucap ibu, wajah Soraya seketika mengangguk dengan wajah memerah menahan malu.


Ibu tertawa kecil, lalu memeluk Soraya, erat. Entah mengapa ibu langsung merasa dekat dengan Soraya dan yakin Soraya akan jadi menantunya kelak.

__ADS_1


__ADS_2