
Tegar menatap Soraya, menarik nafas panjangnya, merasa lega karena Soraya baik-baik saja.
"Katakan padaku, kenapa kamu.melakukan semua ini?" tanya Tegar, sambil melirik ke arah Soraya yang terlihat agak pucat.
"Tenanglah aku ada di sini!" ucap Tegar
Soraya menatap Tegar, Tegar yang masih memakai jas pengantin terlihat gagah dan sangat tampan, pasti Tegar tadi sedang menunggunya di depan penghulu.
Tegar melihat Soraya tersenyum lebar,walau sedikit acak-acakan tapi Soraya tetap cantik dalam balutan baju putih pernikahan.
"Maafkan aku" ucap Soraya.
Soraya berpikir dialah penyebab semua ini terjadi, jika saja tadi dia mengikuti apa perkataan bibinya agar tidak naik mobil itu, pasti semua ini tak akan pernah terjadi.
"Bukan salah kamu!"
"Tapi aku yang ceroboh!"
"Tenanglah, berdoa saja!" ucap Tegar mencoba tenang, walau hatinya sendiri merasa tidak menentu.
"Maaf mengganggu, tapi perlu aku ingatkan jika tempat ini bukan tempat di mana kalian bisa bicara!" ucap Laras. Soraya menatap Tegar, mata mereka saling bertemu, mulut mereka memang kini bungkam namun mata mereka bicara, bahkan terlihat sangat romantis, Laras mendengus kesal melihat adegan itu.
Laras menarik pelatuk senjatanya nya, dua kali dia arahkan ke atas, namun kali ini Laras mengarahkan senjatanya lurus ke depan ke arah Tegar dan Soraya.
Laras mengarahkan senjatanya pada Soraya kemudian pada Tegar, membuat situasi menjadi agak tegang untuk di lihat.
Sedangkan Soraya dan Tegar masih asyik dengan dunia mereka, seperti tak perduli ada bahaya di sekitar mereka, jika cinta sudah bicara dua serasa milik berdua itu istilah yang tepat untuk Soraya dan Tegar saat ini.
Laras di buat tambah kesal oleh sikap yang di perlihatkan oleh Soraya dan Tegar padanya, Laras perlahan menggerakkan jari telunjuknya.
"Dor!" bunyi letusan senjata api kembali terdengar, kali ini di sertai pergerakkan dari Soraya dan Tegar, Soraya berlari ke arah Tegar, sedangkan Tegar berlari ke arah Soraya mereka berdua melakukan aksi pasang badan untuk melindungi orang yang mereka cintai.
__ADS_1
Soraya dan Tegar saling menatap lalu tersenyum, merasa bahagia karena mengetahui jika orang yang mereka cintai mencintainya juga.
Soraya tersenyum lebih lebar lagi pada Tegar, saat dia merasa sakit di bagian belakang badannya, Soraya tahu dia sedang terluka saat ini, itu pasti karena peluru yang di tembakkan oleh Laras barusan telah mengenainya.
Tegar merasa aneh dengan senyum Soraya, menatap Soraya lekat-lekat, senyum Soraya tiba-tiba menghilang, di ganti dengan ekspresi kesakitan, Tegar segera memeluk Soraya, melihat Soraya limbung, hampir jatuh.
Tegar terkejut merasa tangannya sangat basah begitu menyentuh bagian belakang tubuh Soraya.
"Darah!!" lirih Tegar melihat tangannya penuh dengan noda merah.
Tegar menatap wajah Soraya, tidak! ini tidak boleh terjadi! amarah dalam diri Tegar bereaksi, Tegar langsung mengangkat Soraya dan berlari menuju mobilnya.
"Tegar tunggu kamu mau kemana!" teriak Laras, namun seperti tidak mendengar teriakkan itu, Tegar terus berlari membawa Soraya.
"Dor!!" bunyi letusan senjata api terdengar lagi.
Tegar mengehentikan langkahnya sesaat setelah bunyi senjata api itu, tapi kemudian meneruskan langkahnya.
Soraya menatap ke arah wajah Tegar yang terlihat tegang, ada sedikit rona kemarahan di wajah Tegar, Soraya terus menatap Tegar.
"Tegar!! mungkin tadi tembakan aku meleset tapi percayalah saat ini senjata api ku tepat mengarah padamu dan pasti kamu akan terluka juga, jadi berhenti!!"
Tegar terdiam mendengar teriakkan Laras, Tegar menatap Soraya yang kini menatap sayu padanya, wajahnya terlihat sangat pucat mungkin darahnya yang sudah keluar banyak.
"Bicaralah padanya!" lirih Soraya.
"Sudah tak ada waktu, kamu harus segar ke rumah sakit"
Tegar benar-benar mengabaikan ancaman dari Laras, Tegar berlari ke arah lain lalu segera masuk ke dalam mobilnya, aksi Tegar itu, membuat Laras terpaku. Tegar benar-benar sudah berubah, Tegar yang dulu selalu meremehkan orang lain, kini sangat memperhatikan bahkan rela berkorban walau dirinya sendiri sedang terluka dan dalam bahaya, kedua mata Laras berkaca-kaca, Laras menjatuhkan senjata api yang berada dalam genggamannya.
Tubuh Laras melemas hingga terjatuh, Laras menangis sedih, kenapa hatinya begitu rapuh hingga melukai orang yang di cintai ya, hanya karena orang itu tak membalas cintanya, Tegar benar aku memang tak layak jadi kekasihnya, bathin Laras.
__ADS_1
Sakit hati yang selalu dia rasakan kini berganti dengan penyesalan melihat perubahan sikap Tegar, saat ini.
"Wanita itu benar-benar telah merubah Tegar, Tegar pasti benar-benar terpaksa menikahinya, karena jika tidak Tegar pasti akan merugi" ucap Laras sambil menangis.
Tegar mengemudikan mobilnya dengan cepat, mencari rumah sakit terdekat, Tegar langsung membopong Soraya begitu tiba di depan rumah sakit.
"Tolong selamatkan dia, dia terkena tembakan di punggungnya dan sudah banyak mengeluarkan darah"
Selesai berkata Tegar menatap Soraya lalu terjatuh lemas di lantai rumah sakit, sambil melihat ke arah Soraya yang di bawa ke dalam sebuah ruangan.
"Sepertinya anda juga terluka, dan harus segera di obati" ucap salah seorang perawat.
"Jangan perduli kan aku, tolong selamatkan dia, jika terjadi apa-apa padanya, hidupku pun sudah tidak berarti!" rintih Tegar.
"Tenanglah istri anda sudah di tangani oleh ahlinya" ucap perawat itu lagi.
Tegar menatap sebentar ke arah ruangan di mana Soraya di bawa masuk oleh para perawat dan dokter, sedangkan Tegar mengikuti langkah perawat yang memapahnya, karena luka di lengannya pun ternyata cukup besar.
Tegar menatap pintu yang tertutup yang ada di depannya, begitu lama pintu itu terbuka dan begitu lama pula Soraya berada di dalam sana, rasa putus asa sudah mulai berkembang di hatinya Tegar, tanpa terasa air mata mulai membasahi pipi, Tegar terbangun dan melangkah gontai meninggalkan tempat duduk yang sejak lama di duduki olehnya menunggu Soraya.
Tegar menatap kosong ke depan pintu di mana Soraya berada, harapan di hatinya begitu tipis kini, Tegar berjalan gontai tanpa arah meninggalkan tempat itu, Tegar merasa hatinya terasa sakit membayangkan hal yang tak di inginkan olehnya terjadi pada Soraya, hatinya sudah merasa hampa saat ini juga.
Tegar terus berjalan lurus tanpa tujuan, Tegar terduduk lemas di bangku taman rumah sakit, mengusap dadanya yang sejak tadi berdenyut, kenapa? kenapa semua harus terjadi?.
"Aaaaaa!" jerit Tegar sekuat-kuatnya.
"Tidak! kamu tidak boleh pergi! ku mohon jangan tinggalkan aku!!" bathin Tegar menjerit membayangkan hal buruk terjadi pada Soraya.
"Bagaimana nanti hidupku tanpa mu? Aku tak bisa kehilanganmu!" ucap Tegar lalu segera bangkit dari duduknya dan segera kembali ke tempat semula.
"Kakak!" panggil Karin, memanggil Tegar saat melihatnya, Karin berlari masuk ke dalam pelukan Tegar dan memeluk Tegar erat-erat.
__ADS_1
"Maafkan Kaka, Kaka tidak bisa menjaga Kaka mu dengan baik, hingga dia terluka!" bisik Tegar.
Karin menangis sedih, pelukannya pada Tegar semakin erat, seakan-akan meminta Tegar agar menguatkan dirinya, Tegar membalas pelukan Karin, dengan sekuat tenaga yang tersisa, karena sebenarnya hatinya pun kini sudah tidak berdaya.