
Tegar melihat ke arah cermin dan melihat Soraya yang sedang konsentrasi bekerja, Tegar tersenyum lebar, lalu Tegar pun mulai mengambil berkasnya yang ada di atas meja dan mulai bekerja mengikuti Soraya, Tegar beberapa kali melihat ke arah cermin, tapi Soraya di sana masih terlihat belum berganti posisi, padahal dirinya sendiri sudah beberapa kali melakukan gerakan untuk mengurangi rasa pegal di pinggangnya, karena terlalu banyak duduk.
"Kuat sekali dia!!" puji Tegar pada Soraya, karena bekerja sangat baik.
***
Malam pun tiba, keluarga Soraya berkumpul di meja makan untuk makan malam kecuali Fernando yang belum pulang entah kemana? Setelah pulang bekerja tadi.
Soraya duduk di meja makan menikmati makan malamnya, kebetulan makan malam kali ini terdapat makanan favorit nya, hingga Soraya tak sadar jika semua yang ada di sana sedang menatap ke arahnya
"Apa kamu tidak takut gemuk?" tanya Amanda.
Soraya menoleh ke arah Amanda yang bertanya, lalu menggeleng lemah lalu berkata.
"tak ada waktu untuk memikirkan hal itu, aku bahkan ingin makan semua makanan kesukaan aku jika aku bisa"
Semua orang yang di sana tertawa kecil, termasuk Karin. Soraya seperti tidak perduli dengan orang di sekeliling nya, bahkan setelah selesai makan Soraya langsung beranjak dari duduknya meninggalkan yang lain.
Soraya berjalan perlahan menuju kamarnya sebentar lalu tak lama Soraya pun keluar dari kamarnya lagi, tanpa basa basi atau pamit Soraya langsung keluar dari rumah.
Semua yang berkumpul di meja makan terkejut saat mendengar pintu gerbang rumah di buka, tapi tak ada yang mencari tahu hanya sedikit terjadi perbincangan tentang hal itu.
"Siapa malam-malam begini keluar rumah?" tanya ibu Tegar.
"Paling mang Somad" jawab Tegar.
__ADS_1
Sesudah itu tak ada lagi pembahasan tentang hal itu, sampai Mang Somad berjalan di depan mereka.
"itu Mang Somad! lalu tadi yang membuka gerbang siapa?"
Mang Somad yang mendengar pertanyaan itu menghentikan langkahnya.
"Non Soraya Tuan!" jawab Mang Somad, jawaban Mang Somad itu membuat semua terdiam tak percaya, benarkah Soraya yang keluar malam-malam begini? mau kemana! Tak biasanya Soraya keluar rumah tanpa pamit pada mereka, bahkan tadi mereka tidak mendengar suara mobil keluar.
"tapi tidak ada suara mobil?" tanya Tegar.
"Non Soraya pergi pakai motor den!" jawab Mang Somad.
Tegar mengkerut kan keningnya, untuk apa Soraya keluar malam-malam begini pakai motor? Tegar menyudahi makan malamnya, kemudian berjalan keluar rumah, menatap jauh keluar pagar rumahnya, di luar sangat gelap, walau banyak lampu di sekitarnya.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Amanda.
Tegar kembali masuk ke dalam rumah, melihat jam di dinding, kenapa hatinya menjadi gundah seperti ini, jika Soraya tidak ada di dekatnya.
Soraya dengan mengendarai motor masuk ke sebuah kedai makanan, setelah puas berputar keliling kota di malam yang dingin. Soraya merasa harus sering melakukan hal ini untuk menenangkan hatinya yang kacau belakangan ini.
Soraya memesan beberapa gorengan dan teh manis hangat di dalam kedai itu, Soraya menatap langit di atas sana, banyak sekali bintang yang sedang bersinar, sebuah senyum terlihat di bibir Soraya.
"Aku sangat menyukai suasana seperti ini, ayah dan ibu tunggulah, sepertinya kita sebentar lagi akan berkumpul kembali!" ucap Soraya tanpa mengalihkan perhatiannya pada bintang-bintang yang ada di atas langit.
Senyum memang terlihat di bibir Soraya, tapi ekspresi yang di tunjukkan Soraya, sangat berbeda, kesedihan terlihat jelas di sana, bahkan setetes air mata terlihat. keluar dari matanya, hanya saja tak ingin i lihat orang lain jika dirinya menangis Soraya segera mengusap air matanya itu.
__ADS_1
Soraya mengalihkan pandangannya memperhatikan kedai yang ternyata kedai ini makin malam makin ramai, terlihat meja yang awalnya kosong kini terlihat penuh, baguslah ternyata dia tidak salah pilih tempat, karena Soraya malam ini berniat untuk tidak kembali ke rumah, Soraya harus benar-benar memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya, agar dia tidak menyesal kemudian.
Sedangkan Tegar melihat jam di dinding kamarnya, sudah tengah malam tapi Soraya belum juga kunjung datang, sudah beberapa kali Tegar mencoba menghubungi Soraya, tapi sepertinya Soraya sengaja tidak membawa handphonenya, karena ketika Tegar tadi masuk ke dalam kamar Soraya handphone Soraya tergeletak di atas tempat tidur, alasan apa yang membuat Soraya tidak membawa handphonenya saat keluar rumah.
"Bodoh jika tak mau di ganggu bilang! jangan bikin panik seperti ini!" maki Tegar.
"Tok, tok, tok" suara pintu kamar di ketuk.
"Soraya belum pulang?!" tenyata Ayah dan Ibu Tegar yang berdiri di depan pintu, Tegar menggeleng lemah menjawab pertanyaan mereka.
"Apa ada masalah antara kalian?" tanya Ibu.
"Tidak!" jawab Tegar dengan cepat.
"Aneh tidak biasanya Soraya berbuat seperti ini" lanjut Ayah, ibu mengangguk membenarkan perkataan suaminya.
Tegar dan kedua orang tuanya tidak bicara lagi, mereka langsung pergi dari kamar Tegar, di pintu lain ada seseorang yang memperhatikan tingkah mereka mendengus kesal sambil mengumpat pelan "jika saja aku yang pergi seperti itu, mereka pasti tidak akan pernah merasa cemas seperti itu!".
Tegar yang kesal, akhirnya keluar mengeluarkan mobilnya dari garasi, lalu melajukan mobilnya. Tegar berputar jakarta malam itu mencari di mana Soraya berada, menebak-nebak tempat mana yang akan di kunjungi Soraya malam ini tapi semuanya nihil, karena merasa lelah Tegar berhenti sejenak di sebuah kedai yang terlihat masih ramai malam-malam begini, Tegar berniat untuk beristirahat sejenak di sana.
Tegar duduk di pojok kedai agar bisa melihat semuanya, baru saja Tegar duduk, matanya langsung membesar saat melihat pasangan sedang duduk berduaan tangan Tegar mengepal kuat, melihat pasangan yang sedang mengobrol asyik itu, terlihat senyum yang sangat lebar mereka perlihatkan, membuat iri yang melihatnya, dunia mungkin hanya milik mereka saat ini, hingga tak sadar jika mereka tertawa agak keras, Tegar terpaku di tempatnya melihat pasangan itu, memperhatikan gerak gerik mereka yang menyebalkan menurut Tegar, ingin rasanya Tegar menghampiri mereka tapi di tahan olehnya, Tegar ingin tahu sejauh mana mereka bertingkah, Tegar mencoba sekuat tenaga menahan rasa marah dan dongkol dalam hatinya melihat pasangan tersebut, mereka tak terlihat kedinginan walau malam kian larut, mereka masih asyik mengobrol dan tertawa.
Tegar tak bergerak di tempatnya, melihat pasangan tersebut "apa mereka mau bermalam di kedai ini?" tanya Tegar dalam hatinya dengan sinis, ketika melihat jam di tangannya sudah jam 2 pagi. Tegar lebih menguatkan kepalan kedua tangannya menyadari kenyataan itu. Tegar merasa sudah tak kuat lagi menahan rasa marah saat melihat sang pria membetulkan rambut si wanita yang berantakan, Tegar langsung berdiri lalu berjalan ke arah mereka dengan wajah merah padam.
"Ternyata kalian di sini!!" bentak Tegar tak tahan lagi ingin meluapkan segala kemarahan dalam hatinya.
__ADS_1
.