
"Ternyata dia benar-benar bisa di andalkan!" puji Tegar pada Soraya dalam hatinya. Tentu saja Tegar tak mengungkapkan pujiannya itu langsung pada Soraya, Tegar tidak akan membiarkan Soraya besar kepala mendengar pujian darinya.
Selesai rapat, keduanya pergi ke sebuah restoran bersama peserta rapat lainnnya.
Soraya sengaja duduk berjauhan dari Tegar, karena melihat Tegar sibuk bicara dengan klien mereka, Soraya duduk bersama para staf lainnya. Soraya senang berada di antara mereka, rasa bosan dan jenuh langsung hilang dengan gurauan dari mereka, sedangkan Tegar masih terlihat serius bicara dengan kliennya.
"Malas juga jadi pimpinan!" keluh Soraya melihat Tegar.
Tegar melirik ke arah Soraya, Soraya terlihat bahagia sekali bersama yang lain, sedangkan dirinya masih sibuk dengan urusan pekerjaan.
Tegar merasa dirinya berbeda saat ini, dari dirinya yang sebenarnya, Tegar biasanya tak pernah terganggu dengan hal-hal yang tidak bermutu seperti guyonan-guyonan bersama rekan kerjanya, Tegar lebih suka mempercepat menyelesaikan pekerjaan lalu beristirahat, tanpa niat untuk berkumpul, tapi melihat Soraya yang tersenyum lebar bahkan suara tawanya yang renyah terdengar di telinganya, amat mengganggu dan menggelitik hatinya, untuk ikut bergabung bersama Soraya dan lainnya, tapi karena gengsi Tegar menahan rasa itu.
Tepat di saat itu Soraya menoleh ke arah Tegar, hingga kedua mata mereka akhirnya saling bertemu setelah sebelumnya mereka hanya saling melirik.
Mata mereka bertaut untuk beberapa saat, banyak kata yang terlihat di ucapkan oleh mata mereka.
"Hai" sapa seorang klien pada Soraya, mengalihkan pandangan mata Tegar dan Soraya, Soraya tersenyum pada klien itu, klien itu duduk di samping Soraya, bahkan duduk berdampingan dengan Soraya.
"Kamu asisten Tuan Tegar?" tanyanya.
"Aku dengar bekerja dengan Tuan Tegar sangat menyulitkan, karena selama ini aku dengar Tuan Tegar lebih menyukai bekerja sendiri!" lanjutnya.
Soraya hanya sedikit tersenyum menjawab perkataan klien itu.
"Aku benar-benar terkejut saat mendengar Tuan Tegar akan datang bersama asistennya dan apalagi ternyata asistennya itu seorang wanita, wanita cantik lagi" ucap klien itu lagi.
"Bilang saja Anda ingin memujiku, jangan berbelit-belit seperti itu!" timpal Soraya, membuat klien itu tertawa.
"Ternyata kamu pandai juga, pantas Tuan Tegar menjadikan kamu asistennya" balas Klien itu.
Soraya mengeluarkan tawanya yang renyah itu, sampai Soraya tak sadar jika ada kepalan tangan di bawah meja milik seseorang yang melihat dan mendengar obrolan mereka.
"Bisa kita bertemu di luar jam kerja?"
Soraya tersenyum lalu mengangguk pelan membuat ekspresi wajah klien itu bahagia, terbalik dengan ekspresi pemilik wajah lain yang berada di bangku lain saat melihat Soraya mengangguk.
"Apa kamu benar mau keluar dengan saya?" tanya klien itu sekali lagi tak percaya.
"Tentu saja!" jawab Soraya. "jika memang aku punya waktu, tapi sayang besok aku harus kembali!" bisik Soraya.
__ADS_1
Klien itu tertawa terbahak-bahak, lalu di sela tawanya Klien itu berkata "kamu melambungkan hatiku, lalu menjatuhkan aku dengan kuat!"
"Maaf!!" balas Soraya.
Tegar yang melihat interaksi antara Tuan Rizal dengan Soraya tersenyum sinis, bagaimana mungkin Soraya bisa menerima ajakan dari orang asing?! bagaimanapun seharusnya Soraya menolak nya.
Tegar menyesal telah mengizinkan Tuan Rizal mendekati Soraya, tadi dia bertaruh dengan Tuan Rizal bahwa Soraya akan menolak ajakannya, tapi kenyataannya Soraya malah dengan tegas menerima ajakan Tuan Rizal itu, dan itu membuat Tegar marah.
***
Tegar dan Soraya beriringan menuju kamar hotel mereka, walau di antara mereka tidak terjadi perbincangan tapi hati mereka banyak bicara.
"Wanita apa, yang mau di ajak langsung oleh orang asing?" ucap Tegar dalam hatinya.
"Beraninya bertaruh tentang diriku!" ucap hati Soraya.
"Harusnya dia menolaknya!"ucap hati Tegar lagi.
"Rasain aku buat kamu kecewa!" ucap hati Soraya lagi.
"Wanita murahan!!" maki Tegar dalam hatinya,
diri masing-masing, kemudian saling membuang muka ketika tepat di depan pintu kamar hotel masing-masing, lalu tanpa berkata-kata mereka langsung masuk ke dalam kamar mereka.
Soraya serta merta melempar tasnya ke atas tempat tidur sambil mengumpat kesal.
"Beraninya dia membuat aku bahan taruhan!! memangnya karena dia seorang bos! jadi berhak mempertaruhkan anak buahnya!! enak saja!! minta di cincang habis dia!!"
Sedangkan Tegar di dalam kamarnya, menjatuhkan diri di atas tempat tidurnya, dengan wajah kesal, dia mengambil handphonenya, membukanya lalu berkata "apa benar kamu cinta sejatiku?!" ucap Tegar kesal, melihat sebuah foto yang terpampang nyata di handphonenya.
Keduanya dengan berbalut perasaan kacau akhirnya tertidur pulas di kamar di tempat tidur masing-masing.
Hingga esok harinya, mereka akhirnya bertemu kembali dengan ekspresi wajah yang baru, seakan-akan melupakan masalah mereka kemarin.
Soraya dan Tegar akan pulang hari ini, tapi sebelumnya Tegar dan Soraya menghadiri sebuah rapat terakhir, sehubungan dengan proyek yang akan di laksanakan.
Soraya tersenyum saat Klien yang bernama Rizal menyapanya, bahkan berjalan bersamanya di samping dirinya, mereka berbicara akrab.
"Jadi kalian pulang sekarang?" tanya Rizal
__ADS_1
"Tentu saja! kenapa?"
"Sebelum pergi bisa kita bicara sebentar?"
"Tentu saja!"
Rizal dan. Soraya berjalan beriringan masuk ke dalam ruang rapat, sedangkan Tegar yang tadi meninggalkan Soraya, terkejut saat melihat Soraya masuk dengan Rizal. Soraya duduk di sebelah Tegar. Tegar pun akhirnya membuka mulutnya karena rasa penasaran yang menyelimuti hatinya.
"Apa yang kalian bicara kan?"
"Maksudnya?"
"Tuan Rizal tadi mengatakan apa padamu?" ulang Tegar.
"Tidak ada!" jawab Soraya, merasa apa yang di katakan oleh Rizal adalah privasi dirinya.
"Tapi tadi kalian tertawa bersama!"
Soraya menatap Tegar, dengan tatapan bingung, kenapa Tegar menjadi cerewet setelah perbuatannya kemarin.Tanpa menjawab pertanyaan Tegar, Soraya berdiri lalu membuka rapat, karena sudah waktunya. Rapat yang dibuka oleh Soraya, akhirnya selesai dengan diakhiri sebuah tanda tangan yang dilakukan oleh Rizal dan Tegar.
"Jam berapa kalian akan pergi?". Tanya Rizal.
"Memangnya kenapa?" tanya balik Tegar.
"Tidak hanya ingin tahu saja!"
"Mungkin nanti sore, kami ingin berjalan-jalan dahulu, membeli oleh-oleh untuk orang di rumah" jawab Tegar
"Aku akan mengajak Soraya, apa boleh?" tanya Rizal membuat Tegar terkejut.
"Tapi tadi sudah aku bilang kami akan mencari oleh-oleh" jawab Tegar cepat.
"Memangnya kamu tak bisa membeli nya sendiri?"
"Tidak bisa!! Jawab Tegar cepat dengan nada dingin.
Rizal menghela nafas panjang menelan kekecewaan yang mendalam, lalu dia meninggal kan Tegar.
Tegar bicara meminta Soraya, agar mengikutinya.
__ADS_1
Tegar tak akan memberikan celah kepada Rizal untuk mendekati Soraya, Soraya mendengar permintaan Tegar langsung mengikutinya.