Mencari Cinta Sejati

Mencari Cinta Sejati
bab 51.


__ADS_3

Cukup lama Soraya dalam posisi tersebut, hingga akhirnya Soraya mendengar suara tawa geli seseorang di telinganya. Soraya memberanikan diri membuka matanya melihat dari mana asal suara tawa tersebut, mata Soraya melebar dua kali lipat saat melihat Tegar yang sedang tertawa geli di depannya, Soraya sampai terpaku melihatnya, baru kali ini Soraya melihat wajah Tegar yang lain, wajah Tegar yang sangat hangat tidak dingin seperti yang selalu Tegar tunjukan selama ini.


Tegar menghentikan tawanya saat melihat Soraya berjalan mendekati tembok kaca yang menghubungkan kamar mereka. Tegar masih tertawa kecil melihat Soraya dengan wajah kesal menghampirinya.


Entah kenapa melihat Soraya ketakutan saat masuk di rumah ini, muncul ide jahil untuk mengusili Soraya yang sedang ketakutan itu, Tegar tak menyangka efeknya pada dirinya sangatlah besar, sudah lama dirinya tidak tertawa geli seperti ini, sejak kematian adik satu satunya yang dia punya. Mengingat adiknya, Tegar teringat peristiwa itu, peristiwa sedih karena harus berpisah dengan adiknya untuk selamanya, karena sakit yang di derita Adik kecilnya. Adik kecilnya yang cantik mengidap kanker darah yang sudah stadium akhir, hingga kedua orang tuanya sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Sejak saat itu bukan hanya sekedar kehilangan adik tersayangnya, tapi Tegar pun kehilangan teman bermain dalam rumah ini, Tegar ingat dinding kaca ini adalah penghubung dirinya dengan adiknya, yang sejak di ketahui sakit parah selalu saja di jaga ketat, tak boleh keluar dari kamarnya, dinding kaca ini membuat Tegar selalu bisa melihat adiknya serta ayah dan ibunya yang selalu menemani adiknya. Sejak kematian adiknya kedua orang tuanya berubah menjadi dingin karena rasa bersalah mereka yang tak bisa menolong putri mereka, hingga akhirnya membuat mereka berdua saling menyalahkan satu sama lain, sampai lupa memperhatikan ada Tegar yang masih butuh perhatian dari mereka berdua, rumah ini yang dulu hangat pun seketika berubah menjadi dingin seperti tak berpenghuni, karena penghuninya sibuk dengan urusan masing-masing, tinggal Tegar yang masih kecil sendirian di rumah itu.


Soraya memperlambat jalannya melihat perubahan ekspresi di wajah Tegar, yang semula bahagia karena berhasil membuatnya ketakutan kini bersedih bahkan terlihat mulai menangis.


Soraya mengetuk pelan dinding kaca, memanggil Tegar, Tegar menoleh ke arah Soraya mendengar ketukan di kaca, Soraya yang dengan sengaja menempelkan wajahnya kuat-kuat di kaca itu, menimbulkan efek yang lucu buat Tegar, spontan Tegar terkejut melihatnya, kini gantian Soraya yang tertawa geli, Tegar menatap tajam ke arah Soraya, Soraya melirik dan melihat itu, tapi seakan tak perduli dengan arti tatapan Tegar padanya, Soraya terus saja tertawa.


Melihat Soraya yang terus tertawa, tatapan tajamnya kini berubah dengan tatapan penuh kekaguman dengan apa yang sedang di perlihatkan wajah cantik milik Soraya saat ini di depan matanya, wajahnya mengkerut saat tertawa seperti sekarang, membuat hatinya seketika menghangat, menguapkan rasa sedih yang tadi sempat hinggap di hatinya karena teringat masa lalu.

__ADS_1


Setelah puas tertawa Soraya pun menghentikan tawanya, menatap ke arah Tegar yang sedang menatapnya, membuat kedua matanya bertemu dengan kedua mata milik Tegar, Tegar seketika merasa dirinya seperti tertarik oleh Soraya hingga akhirnya tanpa sadar berjalan merapat ke arah dinding kaca dan kini Tegar berada rapat dengan dinding kaca di mana Soraya juga berdiri di sana, wajah mereka saling berhadapan-hadapan jika tak ada dinding kaca itu mungkin kini wajah mereka saling bertemu, kedua mata mereka masih saling menatap Tegar mengangkat tangan kirinya perlahan menyentuh telapak tangan kiri Soraya yang menempel pada dinding kaca hingga tangan mereka bertemu dalam posisi sejajar, sedangkan tangan kanan tegar bergerak seakan-akan menyentuh bibir tipis Soraya, Soraya memejamkan matanya, merasa kan seakan-akan jari-jarinya tegar bergerak di atas bibirnya. Soraya membuka matanya terkejut melihat bibir Tegar menempel di dinding kaca, Soraya menahan tawanya, ia tahu apa yang sedang Tegar lakukan dengan posisi seperti itu, Soraya menatap bibir Tegar, Soraya bermaksud untuk mendekatkan bibirnya juga di dinding kaca, sehingga terlihat seperti sedang berciuman tapi di urungkannya, melihat betapa lucunya bibir Tegar saat ini, hingga akhirnya Soraya tertawa kecil dan tak dapat menahan tawanya lagi, Tegar membuka matanya perlahan dan terkejut saat melihat Soraya sedang tertawa sambil memandang ke arahnya.


Tegar menatap tajam ke arah Soraya yang sedang menahan tawanya, Soraya langsung membalikkan badan lalu segera berlari ke arah tempat tidur nya dan berbaring di atas nya, di sertai tatapan tajam dari Tegar, Soraya Tersenyum lebar pada Tegar yang masih menatapnya, membuat Tegar makin terpaku di tempatnya, Soraya merasa lega karena malam ini Soraya tidak akan pernah merasa ketakutan, karena dari tempat tidurnya dia bisa melihat Tegar dengan jelas. Soraya tersenyum lebar sekali lagi, kemudian menutup wajahnya dengan bantal menghindari tatapan Tegar yang masih mengarah padanya.


Tegar merasa kesal sekali dengan tingkah Soraya malam ini, dan Tegar berjanji akan membalasnya esok hari. Tegar pun akhirnya berjalan menuju tempat tidurnya, melihat Soraya sepertinya sudah tertidur lelap.


***


Fernando yang kesal malam itu kembali ke hotelnya, kekesalan nya kini bertambah saat tahu Tegar tidak membawa Soraya kembali ke hotel, entah kemana mereka pergi saat ini, Fernando mencoba menghubungi Soraya namun tak ada balasan dari Soraya, dan itu membuat Fernando sangat murka, Fernando menghubungi Amanda malam itu juga dan memberitahukan apa yang terjadi, Amanda yang tidak mengetahui kepergian Tegar pun terkejut mendengar cerita Fernando, Amanda merasa sudah tak bisa lagi mengendalikan Tegar, dia harus bisa membuat rencana yang membuat Tegar terikat padanya hingga tak bisa berkutik.


"Sudah ku bilang dia akan menjadi milikku, bahkan kamu Tegar! nanti tak akan bisa menyangkal hal itu!" ancam Fernando, wajahnya memerah menahan amarah di dalam dadanya pada Tegar.

__ADS_1


***


Malam itu Tegar pun tidur sambil tersenyum karena dirinya bisa melihat Soraya malam itu. Tegar merasa tak sabar menunggu esok hari tiba banyak rencana dalam kepalanya yang akan di lakukannya bersama Soraya, Tegar benar-benar melupakan tentang Amanda saat ini.


Begitu bunyi ayam berkokok, Tegar bangun lalu membersihkan diri, Tegar tak ingin buang waktu untuk segera bertemu dengan Soraya. Tegar begitu keluar dari kamarnya langsung Soraya di depan pintu kamar, keluar dari kamarnya, Tegar langsung mengetuk pintu kamar Soraya yan letaknya bersebelahan dengan kamarnya, tapi entah sudah beberapa kali mengetuk, tapi tak ada jawaban apapun dari Soraya, Tegar menjadi kesal, Tegar memutar handle pintu kamar Soraya dan terkejut saat tahu ternyata pintu itu tidak terkunci, Tegar segera masuk ke dalam kamar Soraya, tapi Soraya tak ada di sana.


Tegar segera keluar dari kamar Soraya, dan mulai mencari keberadaan Soraya, tapi Tegar tetap saja tidak bisa menemukan Soraya, Tegar pun sudah mulai terlihat panik.


Tegar mencari Mang Juna, penjaga rumah, berharap Mang Juna tahu di mana Soraya berada, tapi Mang Juna pun tidak berhasil Tegar temukan, Tegar segera kembali ke kamarnya mencari handphonenya lalu menelepon Soraya, tapi telepon nya tidak tersambung, Tegar mengacak rambutnya kesal. Tegar segera keluar dari kamarnya lagi, Tegar kini benar-benar sangat panik sekarang.


"Seharusnya semalam aku tidak membiarkan dia tidur sendirian!!" ucap Tegar pada diri nya sendiri.

__ADS_1


"Seharusnya aku tidur bersamanya" lanjut Tegar sambil membayangkan dirinya tidur sambil memeluk Soraya, pasti nyaman pikir Tegar, hingga sebuah senyum lebar hadir di bibirnya, Tegar pasti begitu bahagia nya jika itu benar-benar terjadi.


Tegar segera turun kembali ke lantai bawah dan keluar dari rumah nya, Tegar berjalan mengelilingi pekarangan rumah, berharap bertemu dengan Soraya. baru saja satu putaran Tegar berjalan, matanya seketika membesar saat melihat Soraya berjalan tepat di belakang Mang Juna, Tegar setengah berlari menghampiri Soraya, lalu menarik Soraya dalam pelukannya.


__ADS_2