
Tegar berniat akan bertanya tentang hal ini pada Ayah dan ibu nya, di rumah nanti.
Tepat jam lima sore Tegar dan Soraya tiba di rumah, mereka berdua di sambut Amanda yang tersenyum lebar.
"Kamu cape sayang" ucap Amanda pada Tegar, sambil mengapit tangan Tegar.
"Sedikit" jawab Tegar.
"Ingat jangan terlalu capek!" pesan Amanda, Tegar yang gemas pada Amanda mencubit gemas pipi Amanda, tapi hal itu berhenti saat melihat Soraya sedang mencium tangan ke dua orang tuanya bahkan mereka saling berpelukan, Tegar melihat mereka saling tertawa kecil, melihat hal itu Tegar merasa aneh, yang Tegar ingat kedua orang tuanya satu sama lain selalu saja bertengkar, tapi saat ini Tegar melihat mereka saling memeluk, ternyata banyak yang terjadi yang dirinya tak ketahui selama dirinya koma.
"Soraya yang bukan siapa-siapa memang sangat di sayang oleh kedua orang tua kamu, kadang aku iri, karena aku calon menantu mereka kadang di biarkan begitu saja oleh mereka" keluh Amanda kesal.
Tegar menoleh ke arah Amanda yang sedang mengerucutkan bibirnya karena kesal.
"Sore ayah, ibu!" sapa Tegar.
"Bagaimana kerja di hari pertama?" tanya Ayah Tegar.
"Baik, Soraya banyak membantu"
"Tentu saja Soraya banyak membantu, karena selama ini, dia yang mengurus perusahaan kamu" jawab Ayah lagi.
"Iya, karena dia yang cuma bisa melihat kamu" lanjut ibu Tegar, Amanda makin cemberut mendengar semuanya membicarakan tentang Soraya.
"Bukankah itu memang tugasnya!!" ucap Tegar.
Amanda yang mendengar itu langsung merubah ekspresi wajahnya.
"Tentu saja sayang, dia di gaji di sini!" ucap Amanda seakan-akan tak ingin melewatkan kesempatan untuk menjatuhkan atau menjelekkan Soraya.
"Tegar benar ibu, jika Tegar sudah sehat benar, mungkin aku juga tak akan di butuhkan lagi untuk membantu Tegar!"
"Tidak sayang, jika Tegar tak membutuhkan kamu lagi, kami yang akan mempekerjakan kamu, agar kamu tetap di sini" jawab ibu cepat.
Tegar melihat ke ayah dan ibunya, yang biasanya selalu bertolak belakang kini terlihat bersatu untuk Soraya, hal yang tak pernah Tegar lihat seumur hidupnya selama tinggal bersama kedua orang tuanya.
Karin menatap kearah Tegar dan berkata "kakak sudah tidak jadi hantu lagi, yah?" tanya Karin pada Tegar dengan polosnya.
__ADS_1
"Memangnya aku jadi hantu selama ini?" tanya balik Tegar pada Karin.
"Sayang, sudahlah jangan dengarkan dia anak kecil itu!" ucap Amanda sambil menatap tajam ke arah Karin, tapi Karin sepertinya tidak perduli.
"Iya, kakak bikin kakak Soraya seperti orang gila selalu bicara sendiri"
"Ternyata kakak ganteng, Kakak Soraya bilang kakak menyeramkan" ucap Karin lalu tertawa kecil mengingat bagaimana Soraya cerita saat itu.
"Terima kasih hadiah nya juga ka, sejak ketemu kakak Karin selalu dapat hadiah" lanjut Karin, tak berhenti bicara.
Tegar tersenyum kecil, pada Karin ternyata selama dirinya koma banyak yang terjadi tapi kenapa semuanya tak ada yang dia ingat.
Tegar lalu menatap ke arah Soraya yang berdiri di apit kedua orang tuanya, Tegar merasa apa yang di ceritakan Soraya bukan kebohongan, dan dia harus mencari lebih dalam lagi nanti lewat Soraya.
"Sore!!" Sapa Fernando yang baru saja pulang bekerja.
"Kamu baru pulang, dari mana?" tanya Soraya dengan ramahnya pada. Fernando.
"Makan bersama teman-teman!" jawab Fernando.
"Curang aku tak di ajak!" protes Soraya.
Soraya tertawa mendengar itu, Soraya seakan-akan melupakan Tegar yang berdiri di sana, bahkan Soraya pamit kepada kedua orang tua nya lalu berjalan bersama Fernando menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Tegar menyentuh dadanya, mengapa hatinya begitu marah melihat keakraban yang terjadi antara Soraya dan Fernando.
"Ayo sayang aku antar kamu ke kamar juga, kamu bau!" ucap Amanda membuat Tegar terkejut, lalu mengangguk.
Tegar berjalan bersama Amanda sambil memperhatikan Soraya yang sedang berjalan bersama Fernando di depannya.
"Ok, besok kita makan bersama yang lain" pesan Soraya pada Fernando tepat di depan pintu kamarnya.
Tegar yang mendengar itu merasa tambah kesal, mengapa juga mereka harus janjian seperti itu.
"Sayang kenapa,jangan lihat ke sana terus, biarkan mereka lebih dekat, mereka terlihat serasi bukan?" ucap Amanda, Tegar terdiam lalu mengangguk pelan.
"Sayang aku kangen kamu!"ucap Amanda langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Tegar, hendak mencium bibir Tegar, tapi entah sengaja atau spontan Tegar menolehkan wajahnya hingga pipinya yang terkena ciuman oleh Amanda, Amanda mengerucutkan bibirnya kesal.
__ADS_1
"Maaf sayang, aku lelah saat ini, mungkin karena hari ini pertama kalinya aku kerja lagi, kepala ku juga sedikit agak pusing!" ucap Tegar.
Amanda menghembuskan nafasnya, menahan rasa yang bergejolak di dalam tubuhnya, sudah seminggu lamanya tubuhnya tak bersentuhan dengan siapapun sejak Tegar sadar, membuat hatinya galau karenanya.
"Baiklah kamu istirahat saja" ucap Amanda tidak memaksa Tegar, Amanda mencoba mengerti keadaan Tegar.
Amanda segera keluar dari kamar Tegar menuju kamarnya, di sana Amanda menumpahkan segala perasaannya, dengan menelepon seseorang yang akan memenuhi semua keinginan nya sekarang juga.
Sedangkan Soraya yang sudah membersihkan tubuhnya, segera turun untuk makan malam. Setengah berlari Soraya turun dari tangga, Soraya berniat membantu ibu Tegar menyiapkan makan malam, tapi karena kurang hati-hati kakinya terkilir hingga Soraya pun hampir terjatuh jika tak berpegangan pada tiang tangga.
"Makanya hati-hati!" omel Tegar, membuat Soraya terkejut, ternyata Tegar sudah berada di belakangnya.
Soraya mencoba untuk berdiri tapi kakinya terasa sakit "sepertinya aku terkilir" ucap Soraya.
"Bisa bantu aku berjalan sampai ke sofa itu" lanjut Soraya, Tegar tanpa buang waktu memapah Soraya menuju sofa.
"Ada apa ini?" tanya ibu Tegar dengan setengah berteriak, karena terkejut dan rasa khawatir.
"Aku terkilir Bu, bisa panggilkan tukang urut Bu?"
"Tapi ibu tak punya kenalan tukang urut" jawab ibu Tegar.
"Aku punya, cuma handphone ku ada di kamar"
"Akan aku ambilkan!" ucap Fernando yang baru saja datang dan melihat keadaan Soraya, secara spontan Soraya langsung tersenyum lebar pada Fernando.
"Di atas meja di sisi tempat tidur" ucap Soraya, memberitahukan di mana dia menyimpan handphonenya.
"Aduh!!" keluh Hana meringis kesakitan.
"Tadi saja tersenyum padanya, sekarang meringis kesakitan!" gerutu tegar.
Soraya sedikit mendengar ucapan Tegar, hingga menoleh ke arah Tegar dengan sedikit memicingkan matanya.
"Apa maksud kamu berkata seperti itu?" tanya Soraya.
"Tidak ada, aku hanya berkata yang sebenarnya" jawab Tegar, membuat Soraya menajamkan tatapannya pada Tegar .
__ADS_1
"Ini handphone nya!" Fernando, Soraya langsung menoleh ke arah Fernando sambil tersenyum menerima handphone yang di berikan Fernando.
"Tuh, benar kan yang aku katakan!!" sindir Tegar, membuat Soraya menoleh lagi padanya dengan tatapan tajamnya.