
Soraya menghentikan Isak tangisnya, dia memandang ke arah Fernando yang sedang menatapnya tajam, Fernando sebenarnya merasa iba melihat keadaan Soraya dengan kedua matanya yang bengkak ini, Fernando tahu sejak Tegar sadar Soraya banyak menangis.
Sebenarnya ada perasaan senang Tegar melupakan Soraya dalam hati Fernando, kerena dengan begitu ada kesempatan dirinya untuk mendekati Soraya, karena dirinya menyukai Soraya, tapi juga ada rasa sakit di hatinya melihat Soraya terus menangisi Tegar yang telah melupakan dirinya, bahkan sampai tak ingat akan dirinya.
"Ingat pekerjaan di kantor sudah menumpuk, kamu tak bisa meninggalkan nya!" lanjut Fernando, menyembunyikan perasaan yang juga sebenarnya sangat sedih melihat wanita yang di sukai nya menangisi pria lain.
***
Tak terasa hari cepat berlalu sudah seminggu lebih Tegar sadar dan kini tubuhnya pun sudah bisa bergerak dengan normal, tidak lemas seperti kemarin.
"Pagi Bu!!"
"Ayah!!" sapa Tegar pagi itu, yang telah siap pergi ke kantor.
"Sarapan dulu!" balas ibu Tegar.
Entah sadar atau tidak Tegar berjalan dan duduk di bangku yang kosong di sebelah Soraya, membuat semuanya terkejut.
"Sayang tempatmu di sini, bukan di situ" tegur Amanda, Tegar menoleh ke arah Soraya lalu Amanda.
"Tapi aku biasa duduk di sini!" protes Tegar.
"Soraya kamu pindah di sini, biar aku saja yang pindah ke sana!" ucap Amanda kesal, Soraya dengan berat menuruti keinginan Amanda.
"Aku nyaman duduk di sini!" lanjut Tegar.
"Iya sayang, terserah kamu!" balas Amanda sambil tersenyum lebar pada Tegar.
Selesai sarapan, Tegar yang sudah siap ke kantor menunggu Soraya di dalam mobil.
"Lama sekali!!" tegur Tegar.
"Iya maaf, aku tadi biara sebentar dengan ibu!" jawab Soraya.
Soraya membuka pintu mobil untuk segara masuk ke dalam, tapi terhenti saat Tegar berkata.
"Kamu duduk di depan, mana ada asisten duduk sama bos nya!!" protes Tegar, Soraya menatap Tegar sesaat, lalu mengikuti apa yang Tegar inginkan.
Untuk permata kali Soraya duduk bersama sopir di depan sedangkan Tegar di belakang, Soraya merasa aneh.
"Mari pak!!" ucap Soraya, mempersilahkan Tegar berjalan di depannya.
Semua orang kantor, sejak kemarin, telah mempersiapkan acara penyambutan Tegar kembali ke kantor. Mereka dengan sengaja berdiri berderet untuk menyambut kedatangan Tegar pagi ini
__ADS_1
Soraya tersenyum bahagia melihat bagaimana antusias nya para karyawan menyambut kedatangan Tegar.
Sampai di ruangannya Tegar merasa heran mengapa di ruangannya ada dua meja dan dua kursi.
"Kenapa di sini ada dua kursi dan meja?"
"Karena kita biasa bekerja berdua di sini!" jawab Soraya.
"Begitukah?" tanya Tegar lagi.
Soraya mengangguk, Tegar mengerutkan keningnya kenapa kebiasaannya banyak berubah? karena biasanya Tegar sangat tak suka di ruangannya ada orang lain, Tegar menjadi penasaran dengan apa yang terjadi saat dia koma.
Tegar menatap Soraya, yang sedang merapihkan meja, Tegar pun merasa sama sekali tak mengenal siapa Soraya, Soraya bukan teman sekolah, kuliah ataupun teman bermainnya, Tegar merasa sama sekali tak mengenal siapa Soraya? Soraya sosok asing yang baru datang dalam kehidupannya tapi sudah masuk ke dalam ruang kerjanya? membuat Tegar curiga.
*Aku akan membiarkan nya bekerja di sini dulu bersamaku, sepertinya aku bisa mencari tahu apa yang terjadi selama koma dari nya* bathin Tegar.
"Pak ini berkas yang harus bapak tanda tangani dan juga saya mau mengatakan, seluruh staf sudah menunggu kedatangan bapak di ruang rapat" cerocos Soraya.
Tegar mendengarkan Soraya lalu mengangguk dan meminta Soraya menyimpan berkas yang di pegangnya ke atas meja kerja milik nya.
"Pagi Bu!!"
"Pagi sudah siap berkas rapat hari ini?"
"Bagus, kurasa rapat sudah bisa di mulai"
Soraya mempersilahkan Tegar untuk membuka rapat kali ini. Tegar menatap Soraya, merasa terkejut melihat bagaimana Soraya telah begitu dekat dengan para staf nya, bahkan mereka sangat menghormatinya.
"Pak!!" panggil Soraya melihat Tegar hanya memandang ke arahnya.
"Iya!" jawab Tegar sambil berdiri, Tegar pun segera membuka rapat tersebut.
Soraya yang baru melihat bagaimana Tegar yang nyata membuka rapat, air matanya sedikit keluar dari matanya, tapi segera di seka nya. Soraya merasa terharu dan terpesona melihat hal ini, selama ini Tegar hanya selalu berdiri di sampingnya membisikan kata-kata yang harus di ucapkan oleh nya saat memimpin sebuah rapat.
Rapat kali ini pun selesai Soraya dan Tegar pun kembali ke ruangan kerja mereka.
Soraya seperti biasa langsung duduk di kursinya, lalu mulai bekerja, sedangkan Tegar terdiam memandang ke arah Soraya, merasa aneh bekerja berdua di ruangan yang sama.
"Kenapa pak?" tanya Soraya mengejutkan Tegar.
Tegar menatap tajam Soraya, lalu berkata "tolong ceritakan bagaimana bisa ada dua meja di ruangan ini?" tanya Tegar.
Kini giliran Soraya menatap tajam Tegar, Soraya mengerutkan keningnya lalu berkata "apa bapak akan percaya cerita saya?" Soraya bertanya.
__ADS_1
"Tentu saja jika cerita itu masuk akal!" jawab Tegar.
Soraya terdiam memikirkan perkataan Tegar barusan, kemudian berkata "jika begitu aku tak bisa menceritakan apapun karena ceritanya tak masuk akal, karena bapak tak akan percaya itu, jadi percuma rasanya jika saya tetap melakukan hal itu" jawab Soraya lalu melanjutkan pekerjaan nya.
Tegar menatap tajam ke arah Soraya, ternyata Soraya berani juga padanya.
"Kamu ternyata berani juga!" ucap Tegar sinis.
"Maksud bapak apa?"
"Membalikkan ucapan saya!"
"Maaf pak, aku hanya tak ingin buang waktu!"
"Apa maksud kamu!!" nada bicara mulai tinggi.
"Maaf" ucap Soraya, Soraya menghentikan kegiatannya, lalu menatap ke arah tegar dan berkata "baiklah aku akan cerita semuanya"
Soraya mulai cerita bagaimana dia bisa berada dalam satu ruangan bersama Tegar.
"Apa cerita itu benar semua?" tanya Tegar
"Iya!" jawab Soraya cepat, Tegar mengerutkan keningnya bertanya apa benar selama koma roh nya mengikuti Soraya.
"Jadi selama aku gentayangan hanya kamu yang bisa melihat dan mendengar wujud serta suara ku?" tanya Tegar.
"Iya"
"Bahkan Bapak hanya bisa menyentuhku!" lanjut Soraya lagi
"Aku tak bisa menyentuh barang apapun, aku dengar selama ini berkas-berkas tetep di tanda tangani oleh ku, bagaimana ceritanya itu bisa terjadi?" tanya Tegar penasaran.
"Apa kamu memalsukan tanda tanganku?" lanjut Tegar, Soraya langsung melotot ke arah Tegar dan menggelengkan kepala perlahan.
"Bapak sendiri yang melakukannya, asal kita berpegangan tangan atau saling bersentuhan maka Bapak pun bisa menyentuh barang apapun" jawab Soraya.
Tegar mengerutkan kening nya lagi, merasa aneh dengan cerita yang sedang Soraya ceritakan.
"Jika bapak tak percaya, tanyakan itu pada kedua orang tua bapak sendiri" lanjut Soraya kesal karena melihat Tegar masih tak percaya dengan ceritanya.
Soraya melanjutkan pekerjaan, Tegar pun berhenti bertanya, Tegar masih mencoba mencerna cerita yang baru saja di dengar nya.
"Aneh?? Apa itu semua benar-benar terjadi?? aku memang harus bertanya lagi pada orang lain" ucap Tegar pelan.
__ADS_1