
Tegar pagi-pagi sudah bangun, Tegar ingin menyapa Soraya terlebih dahulu. Tegar memanggil Soraya dari balik pintu, Tegar tak ingin kejadian semalam terulang lagi, bisa di bunuh di tempat dia oleh Soraya, Tegar membayangkan itu, bergidik ngeri.
Soraya membukakan pintu untuk Tegar, dan membiarkan Tegar masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa?" tanya Soraya masih kesal dengan kejadian semalam.
"Hari ini aku akan ke kantor bersama kamu" jawab Tegar.
"Bagus, banyak surat yang harus di tanda tangani" balas Soraya.
Lalu mereka terdiam, keduanya saling bungkam, lidah mereka terasa kelu, tak tahu harus berkata apa. Soraya dan Tegar saling memandang sebentar, dan akhirnya Tegar yang mengalah dengan berkata "aku tunggu di meja makan" ucapnya, sambil pergi keluar dari kamar Soraya, Soraya menghela nafas panjang memandang kepergian Tegar dari kamarnya.
Akhirnya pagi itu Tegar pergi ke kantor bersama Soraya sedangkan Amanda masih tertidur lelap saat itu.
Soraya dan Tegar di dalam mobil masih merasa kikuk satu sama lain, karena setelah seminggu lamanya mereka tidak bersama-sama, lagi pula Soraya merasa harus menjaga jarak dengan Tegar, karena Amanda tidak menyukainya jika dirinya terlalu dekat dengan Tegar, Soraya tidak marah dengan hal itu, Soraya mengerti perasaan Amanda.
Tepat jam kantor Soraya dan Tegar tiba, mereka langsung mengerjakan tugas masing-masing, diantara mereka masih hening, kalaupun ada suara itu seperlunya saja lalu hening kembali.
"Akhirnya selesai juga" ucap Tegar, lalu menyerahkan beberapa berkas pada Soraya.
"Setelah ini kamu bisa bebas lagi menemani Amanda!" ucap Soraya.
"Apa maksud kamu?!" tanya Tegar merasa Soraya tak suka dirinya bekerja bersamanya.
"Tidak ada, aku hanya mengatakan yang sebenarnya" jawab Soraya, Tegar menatap tajam ke arah Soraya, mereka saling bertatapan untuk beberapa saat.
"Pagi Bu bos!!" tiba-tiba Fernando masuk, lalu menghampiri Soraya, mengalihkan apa yang sedang terjadi di antara Soraya dan Tegar.
"Wow! Kamu bekerja keras hari ini ya!" seru Fernando melihat tumpukan kertas di atas meja Soraya, Soraya tersenyum mendengar nya.
"Sedikit" jawab Soraya.
"Kita makan siang bersama, ok!" ajak Fernando, sambil mengusap bahu Soraya dengan lembut, lalu keluar lagi dari kantor Soraya.
Tegar berdiri terpaku melihat keakraban yang terjadi di antara Soraya dan Fernando, Tegar sungguh terkejut di buatnya.
"Kalian sudah akrab, kelihatan nya" ucap Tegar sinis, begitu Fernando keluar.
"Maksudnya?" tanya Soraya tak mengerti.
"Banyak kemajuan ternyata hubungan kalian, selama aku tak ada" lanjut Tegar.
"Aku tak mengerti maksud kamu!" balas Soraya kesal.
"Kamu dan Fernando tambah dekat!" ulang Tegar.
__ADS_1
"Tentu saja! dia yang banyak membantuku saat kamu tak ada!" jawab Soraya dengan jelas.
Tegar terdiam, lalu tersenyum lebar "jadi selama aku tak ada kalian ambil kesempatan untuk berduaan?!" Lanjut Tegar merasa tak puas meluapkan perasaan nya.
"Kamu kenapa, sih?! aku tak mengerti!" sentak Soraya mulai kesal dengan tingkah Tegar.
"Kamu berdua jadian?!" tanya Tegar akhirnya dengan wajah kesal.
"Aku tak mau jawab! pergi sana! Aku harus mengurus semua ini, lagi pula kamu ini aneh! urus saja Amanda tersayang kamu itu! aku tak mau bikin dia tambah marah sama aku!" cerocos Soraya, sambil merapihkan berkas-berkas yang telah selesai di kerjakan oleh Tegar.
"Kamu mengusir aku!" sentak Tegar.
"Tidak!" jawab Soraya cepat.
"Tapi kamu tadi_" ucapan Tegar berhenti, melihat Soraya keluar, meninggalkan dirinya begitu saja.
Tegar dengan kesal keluar dari ruangan Soraya, mungkin tadi lebih baik dia mengikuti Amanda saja, yang selalu menghiburnya dengan tingkah lakunya, dari pada dengan Soraya yang selalu membuatnya kesal, dengan perasaan jengkel Tegar mencari Amanda.
***
Tak butuh waktu lama akhirnya Tegar menemukan Amanda, setelah seminggu lebih ini mengikuti Amanda, Tegar jadi tahu kebiasaan Amanda.
Amanda hobi sekali belanja, dan Tegar tahu Mall mana yang menjadi favorit Amanda, dan siang ini Amanda memang sedang berada di sana.
Tegar menghampiri Amanda dan segera duduk di depan Amanda. Tegar duduk tepat saat di mana handphone Amanda berbunyi.
"Halo" ucap Amanda.
"Bagaimana?"
"Aku akan bagi lokasi di mana aku berada sekarang" jawab Amanda.
"Aku sudah tidak sabar ketemu sama kamu" suara di balik telepon, membuat Amanda tersenyum lebar, lalu mematikan sambungan teleponnya.
Amanda kemudian mengetik sebuah pesan
"Kita harus hati-hati! ingat kita tak bisa melihat Tegar ada di mana?"
"Terus aku harus bagaimana?"
"Nanti aku kasih tahu, sekarang kita pura-pura menjadi teman saja dulu"
"Ok, tapi kita masih bisa bergulat di atas tempat tidur dan menikmati jatah yang selalu Tegar berikan padamu kan?" pesan di baca Amanda
"Iya!" sebuah pesan di kirim Amanda, Tegar mengerutkan keningnya melihat Amanda mengetik pesan dengan senyum-senyum aneh, karena rasa penasaran Tegar iseng berdiri di belakang Amanda hingga bisa membaca dan tahu pesan yang di ketik Amanda, dan Amanda tak tahu soal itu.
__ADS_1
Tegar yang ada di belakang Amanda terkejut membaca semua pesan itu, Tegar sempat berdiri terpaku sebentar di tempatnya, tak percaya apa yang telah di lakukan Amanda di belakang nya, rupanya Amanda benar-benar bukan cinta sejatinya! Tegar pun segera berlalu meninggalkan Amanda dengan sedih, Tegar berjalan terus tanpa arah sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, hatinya benar-benar sakit saat ini.
Rasanya seperti di tikam berpuluh-puluh pisau, kecewa, sakit hati dan pupus harapan menjadi satu, membuat Tegar jatuh terduduk lemas saat itu juga, Tegar pun mulai menangis kembali sambil berteriak kesal, menumpahkan segala rasa yang ada di dalam hatinya.
"Bodoh!!"
"Wanita tak setia!!"
"Pelacur!!" teriak Tegar mengetahui apa yang telah di lakukan Amanda selama ini. Tegar merasa telah jatuh ke titik terendah dirinya saat itu juga, rasanya dia tak ingin bangun lagi setelah ini.
Hidupnya benar-benar hancur, tak ada lagi yang ingin dia perjuangkan, Amanda yang semula jadi tujuan hidupnya mengkhianatinya, bahkan sekarang dirinya hidup di dunia berbeda sendirian dan tak punya tujuan, Tegar menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Pria kok sering kali menangis!" ledek seseorang, suara itu terdengar jelas di telinga Tegar, tapi itu bukan suara milik Soraya, Tegar menghentikan tangisnya lalu, mengusap air mata yang mengganggu pandangan matanya, kemudian menoleh ke arah asal suara, Tegar terkejut saat tahu siapa yang sedang berdiri di hadapannya.
"Kamu!!"serunya.
"Abang masih ingat aku?" seru balik gadis itu.
"Tentu saja, kita pernah bertemu di hotel saat itu!" jawab Tegar.
"Betul!! rupanya abang masih gentayangan, ingat waktu abang tinggal sedikit lagi, segera temukan cinta sejati Abang itu, kalau tidak bersiaplah melepas dan kehilangan semua yang Abang sayangi di dunia nyata" lanjut gadis itu.
Tegar terdiam mendengar ucapan gadis itu, lalu berkata "kamu bohong!!" sentak Tegar.
"Tidak!!" jawab Gadis itu dengan jelas.
"Buktinya calon istriku tak bisa membangunkan aku dengan ciumannya!" ucap Tegar menjelaskan.
"Berarti dia bukan cinta sejati Abang!" balas gadis itu cepat, Tegar terdiam apa yang di katakan gadis itu memang benar, Amanda bukan cinta sejatinya buktinya dia mengkhianati dirinya, secara diam-diam.
"Lalu siapa cinta sejati dirinya?" bathin Tegar bertanya-tanya.
"Selain dia tak ada lagi wanita yang dekat denganku!" ucap Tegar.
"Coba Abang pikir lagi, selain ibu Abang, Abang dekat dengan wanita mana, tanyakan pada hati Abang, lakukan itu segera, aku melihat sinar putih itu sudah mendekat ke arah Abang" cerocos gadis itu.
"Sinar putih?" tanya Tegar tak mengerti.
"Iya! sinar putih, yang akan membawa Abang ke dunia lain, dan saat itu Abang tak akan bisa kembali ke dunia nyata" jelas gadis itu.
Tegar terdiam, lalu memandang tajam ke arah gadis tersebut, gadis itu tersenyum lalu tanpa berkata apa-apa lagi menghilang begitu saja dari hadapan Tegar, Tegar terpana melihat hal itu.
Tegar masih terduduk lemas di tempatnya, lalu terdiam mengingat apa yang di katakan oleh gadis aneh itu padanya.
"tanyakan pada hatiku??" ucap Tegar.
__ADS_1