
1 Bulan kemudian ...
" Nyonya, sarapan nya saya letakkan di atas meja. " ucap wanita setengah baya sembari menata isi nampan yang tadinya bergeser karena guncangan saat membawa nya menaiki tangga.
wanita setengah baya itu keluar dan menutup rapat pintu kamar.
Didepan pintu kamar Rifan dan Pak Hendy sudah berdiri berdampingan.
" Bagaimana mbok? Shiera ada respons? " selidik pak Hendy.
wanita yang di panggil si mbok itu pun menggeleng kan kepalanya.
Seketika raut kecewa menyelimuti wajah kedua pria itu.
Sudah 1 bulan berlalu sejak kejadian terakhir kali di Bali, Shiera terus menutup diri dan enggan berbicara sepatah kata kepada orang rumah. kecuali Miko dan Fero.
Bagi Shiera,di bohongi oleh orang-orang terdekatnya adalah satu hal yang tidak bisa Ia terima.itu sudah cukup melukai batinnya.terutama suaminya.
Semua orang pun bak di hantui rasa bersalah setiap harinya dengan sikap diam nya sejak kepulangan nya ke rumah.
...***...
__ADS_1
Jam menunjukkan pukul 23.00 wib, Rifan memasuki kamar dan mendapati tempat tidur masih tersusun rapih dimana selimut bantal belum tersentuh sama sekali sejak diberesi si mbok pagi tadi.
Shiera masih duduk termenung memandangi langit malam yang kelabu. kabut tipis pun menyelimuti sekitaran rumah efek dari hujan sejak sore.
seakan mati rasa, tubuh shiera tidak bergeming sedikit pun meski hawa dingin berhembus masuk kedalam kamar melewati jendela.
Rifan mendatangi Shiera yang sejak tadi dipandanginya.
Ia memeluk wanitanya itu dari belakang dan mencium rambutnya.
"Sayang, ayo kita tidur ..." ajak Rifan dengan suara lembut .
Setelah mengunci jendela dan menutup tirai, Rifan segera kembali menghampiri Shiera yang diam membisu.
Rifan menyelimuti tubuh Shiera yang membelakanginya.setelah itu Ia juga merebahkan tubuhnya sambil merangkulkan tangan kirinya pada pinggang shiera.
Lima menit setelah sama-sama terdiam, tiba-tiba tangis Rifan pun pecah. Ia tak kuasa menahan sesak di dadanya melihat keadaan Shiera.
" Maaf kan Aku sayang ... maafkan Aku ...! " ucapnya lirih.😞
hampir setengah jam Rifan menangis, dan kini ia tertidur lelap karena kelelahan.Shiera yang membelakangi nya sedari tadi, ternyata diam-diam juga menangis.
__ADS_1
Dengan mata sembab nya, Shiera membalikkan badan kearah Rifan.
Ia pandangi wajah suaminya itu, ingin sekali rasa nya shiera mengelus pipi Rifan, memeluknya dan mencium nya. namun rasanya seperti ada tembok yang membatasi mereka berdua yang kini berjarak hanya beberapa senti.
...***...
Senin pagi di rumah sakit ...
Para dokter muda dan dokter-dokter spesialis saat ini sedang berkumpul di aula rumah sakit untuk pemilihan posisi wakil direktur yang saat ini telah kosong karena wakil direktur yang lama sudah pensiun.
Diantara dokter-dokter lainnya, tak luput dari Devon dan Rifan. dua pria kesepian itu pun hanya turut mengikuti prosedur yang di adakan. namun tidak disangka-sangka nama Devon keluar sebagai kandidat wakil direktur.
Rifan dan Devon pandang-pandangan dan tersadar dari lamunan masing-masing, voting pun akan segera dimulai dalam waktu 10 menit.
Setelah voting dan perhitungan suara, maka suara terbanyak jatuh pada Devon sebagai wakil direktur rumah sakit kedepannya.
Suara tepuk tangan bergema memenuhi aula pertemuan.
" Congratz " bisik Rifan ditelinga Devon
Devon hanya menebar senyum terpaksa nya keseluruh teman-teman sejawat nya.
__ADS_1