
Amanda masuk ke dalam rumah Fernando, ternyata rumah ini walau terlihat bagus dari luar tapi di dalam amat sangat berantakan seperti tak berpenghuni dalam jangka waktu yang lama.
"Rumah atau kandang binatang!" sindir Amanda.
"Jangan protes!! aku laki-laki tak pandai membersihkan rumah"
Amanda tertawa kecil "uang kamu kan banyak, bisa menyewa seorang pelayan untuk membersihkan rumah, dasar pelit!"
"Dengar aku tak akan membiarkan sembarangan orang masuk ke dalam rumahku!!" sentak Fernando kesal mendengar kebawelan Amanda.
Amanda terdiam lalu bertanya "di mana kamarku?"
"Jangan harap kamu dapat tidur di salah satu kamar di rumah ini, tidurlah di sofa itu!" ucap Fernando sinis.
Amanda duduk di sofa yang di tunjuk oleh Fernando, lalu membersihkan barang-barang yang ada di atasnya.
"Empuk tak masalah aku tidur di sini"
"Baguslah dan ingat jangan keluar tanpa seizin aku, aku dengar kamu sudah menjadi target polisi"
Amanda mendengar apa yang dikatakan Fernando terkejut, tubuhnya sedikit gemetar, ketakutan.
"Kenapa kamu takut?" tanya Fernando sinis.
"Tidak! lagi pula sepertinya aku di dalam penjara tak akan sendirian!!"jawab Amanda, Fernando mendengar itu menjadi geram Fernando mendekati Amanda menarik baju Amanda dan mengancamnya.
"Jangan pernah berani mengancamku, atau hidup kamu akan sengsara di sini, karena jangan harap kamu bisa keluar dari sini tanpa seijin aku"
Amanda melihat ada kilatan yang mengerikan dalam mata Fernando, bulu kuduknya sedikit berdiri, Amanda tersenyum untuk menenangkan hatinya, dan menunjukkan pada Fernando bahwa dirinya tidak takut padanya.
Fernando melepaskan baju Amanda, dan mendorong Amanda hingga jatuh di atas sofa lagi. Amanda terhenyak lalu menarik nafas lega saat Fernando meninggalkan nya. Amanda melihat keadaan rumah ini yang begitu kacau, Amanda bangun sedikit demi sedikit Amanda bersihkan, Amanda merasa dengan melakukan ini, pikirannya agak tenang.
Hampir tengah malam Amanda baru berhenti bergerak, karena merasa tubuhnya mulai lelah dan juga mengantuk. Amanda duduk di atas Sofa lalu merebahkan diri di sana, mencari rasa nyaman dan akhirnya tertidur pulas.
Fernando yang terbangun pagi seperti biasanya, berniat akan ke rumah Tegar, untuk melihat keadaan di sana, apakah masih di selimuti rasa duka atas kematian tantenya.
Fernando terkejut melihat keadaan ruang tamu rumahnya yang terlihat berbeda.
"Ada untungnya juga dia tinggal di sini!" ucap Fernando pelan.
__ADS_1
Fernando pergi tanpa membangunkan Amanda terlebih dahulu. Tak lama Fernando sampai di rumah Tegar.
Fernando melihat Tegar semuanya sedang berkumpul di meja makan, wajah mereka terlihat agak murung.
"Aku dengar kamu mencari Amanda?"
"Begitulah" jawab Tegar.
"Ada masalah apa? Kemarin pun aku tidak melihat Amanda di pemakaman" lanjut Fernando.
"Dia yang mendorong ibu, hingga jatuh ke bawah tangga!" jawab Tegar.
"Dari mana kamu tahu hal itu?" tanya Fernando penasaran.
"Cctv yang di pasang di rumah"
Fernando terhenyak mendengar itu, dia tidak tahu jika di rumah ini ada Cctv, tapi sepertinya Tegar tidak melihat dirinya di sana, saat kejadian itu terjadi, Fernando menarik nafas lega.
"Jika kamu bertemu Amanda cepat telepon aku atau polisi" pesan Tegar dengan geram.
Soraya menatap ke arah Tegar yang terlihat tegang karena masalah ini.
"Kamu masih membelanya!! Aku sendiri yang melihat dalam rekaman itu Amanda yang telah mendorong ibu!!" bentak Tegar, Tegar bangkit lalu meninggalkan meja makan pagi itu.
Soraya menundukkan kepalanya, ada rasa bersalah di hatinya, kenapa bisa mengatakan yang tahu pasti akan membuat Tegar marah.
"Jangan di ambil hati, emosinya sedang tidak stabil, jadi belum bisa melihat yang lain" ucap Ayah Tegar.
"Iya ayah, maafkan aku, aku bukan membela Amanda tapi hanya yakin pasti di sana saat itu ada sesuatu yang terjadi!" jelas Soraya.
"Iya, Ayah tahu hal itu, Ayah pun belum melihat rekaman itu, nanti setelah agak tenang, Ayah pasti juga akan melihatnya"
"Ayah baik-baik saja kan?" tanya Soraya merasa khawatir.
"Tentu saja! jangan khawatir ayah pasti kuat, ada kalian bersama ayah walau ibu telah pergi"
Karin turun dari kursinya lalu memeluk ayah Tegar erat, mencium pipi ayah Tegar.
"Jangan tinggalkan Karin ayah, Karin nggak mau jadi yatim piatu lagi"
__ADS_1
"Tentu saja sayang!"
***
Siang itu Tegar terlihat sibuk dengan pekerjaannya, tanpa sadar jam istirahat sudah terlewat begitu saja, Soraya terlihat bingung di ruangannya, kenapa Tegar tidak keluar dari ruangannya sama sekali siang itu, Soraya menjadi khawatir, ingin melihat Tegar di dalam ruangannya takut Tegar marah, beberapa hari ini setelah kematian ibu dan mengetahui Amanda adalah penyebab kematian ibunya, Tegar menjadi dingin, tak ada senyum, sapa atau obrolan lagi dari mulut Tegar, membuat Soraya sedih, Soraya juga tidak tahu harus melakukan apa?
Soraya dengan ragu mengetuk pintu ruangan Tegar.
"Masuk"
Soraya menarik nafas lega saat mendengar suara Tegar.
"Ini aku bawakan makan siang!" ucap Soraya pelan.
"Taruh saja di situ!" ucap Tegar, lalu meneruskan apa yang sedang dia lakukan.
Soraya berdiri kaku di tempatnya, semua menjadi serba salah, Soraya ingin bicara tapi takut Tegar marah.
"Tidak ada lagi bukan? keluarlah aku sedang sibuk!" lanjut Tegar melihat Soraya masih berada di tempatnya.
"Baiklah, tapi jangan lupa makan makanan ini! jangan sampai sakit!"
"Pergilah!!" usir Tegar.
Mata Soraya berkaca-kaca, Tegar benar-benar berubah.
***
Amanda baru saj bangun dari tidurnya, merasakan perutnya perih minta di isi, Amanda mencari sesuatu di dalam dapur rumah Fernando, tapi tak ada makanan apapun di sana, bahkan Amanda melihat barang-barang di dapur itu sudah berdebu tak pernah tersentuh.
Amanda menahan nafasnya, lalu Amanda melihat ada sebuah kulkas di sebelahnya, senyum Amanda terlihat di bibirnya, Amanda segera membuka kulkas itu.
"Aaaaa!!" teriak Amanda, Amanda terkejut saat membuka kulkas seekor kecoa keluar dari sana, kulkasnya mati dan juga kotor, tak ada makanan yang ada cuma sampah bekas makanan yang sudah membusuk.
"Keterlaluan!!" maki Amanda, Amanda mengusap perutnya, Amanda keluar dari dapur itu dengan lemas, lalu terduduk lesu di sofa tempat dia tidur semalam.
"Ini bukan rumah, tapi gudang" ucap Amanda lagi.
Amanda menatap ke atas ke lantai dua rumah ini, di atas sana terlihat lebih rapi di bandingkan di bawah tempat Amanda sekarang berada, Amanda bangun berniat untuk menaiki anak tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua, langkah Amanda terhenti saat ingat perkataan Fernando kalau dirinya tidak boleh naik ke atas, Amanda bermaksud mengurungkan niatnya untuk naik, Amanda memutar tubuhnya.
__ADS_1
"Aaaaa" jerit Amanda