
Soraya terkejut dengan apa yang di lakukan Tegar saat ini, wajahnya memerah melihat Mang Juna menatapnya sambil tersenyum malu-malu, kemudian dengan pengertian Mang Juna meninggalkan Soraya berduaan dengan Tegar, Tegar melepaskan pelukannya, mengangkat wajah Soraya yang tertunduk agar melihat ke arahnya.
"Dari mana?" tanya Tegar penasaran.
"Hanya berputar-putar" jawab Soraya.
"Meninggalkan aku!"
"Maaf tadi aku melihat kamu tidur sangat nyenyak aku tak tega membangunkan kamu" jelas Soraya.
"Lalu handphone kamu?"
"Mati!" jawab Soraya sambil menunjukkan handphonenya yang mati.
Tegar menarik Soraya kembali dalam pelukan nya, Tegar heran mengapa selalu merasa tenang jika memeluk Soraya, Soraya melepaskan pelukan Tegar, lalu berkata.
"Jangan lakukan ini, kasihan Amanda"
"Hush, aku ingin hari ini kita melupakan Amanda, izinkan aku untuk dekat denganmu, karena aku tidak tahu mengapa hatiku sangat terikat padamu" Jelas Tegar, dengan wajah memohon.
Soraya menatap Tegar, mata mereka kembali bertemu, Soraya berpikir haruskah menyetujui ucapan Tegar, bukankah Tegar kemarin memintanya untuk dekat dengan Fernando, ingat itu Soraya yang merasa kesal melepaskan pelukannya dari Tegar, lalu melangkah hendak meninggalkan Tegar, Tegar terkejut melihat perubahan pada diri Soraya
"Ada apa?" tanya Tegar menahan langkah Soraya.
"Bukankah kemarin kamu yang meminta aku dekat dengan Fernando?" ucap Soraya sedih.
Tegar membalikkan posisi Soraya agar menghadap dirinya, dan memeluk Soraya kembali.
__ADS_1
"Maaf, aku ini bingung dalam ingatan aku Amanda adalah calon istriku satu-satunya jadi seharusnya aku tidak berselingkuh dengannya, aku tak ingin menyakiti Amanda, aku mungkin orang yang sangat tahu bagaimana perasaan orang yang di selingkuhi oleh orang yang kita sayang" Tegar menghentikan ucapannya.
"Jika memang begitu seharusnya kamu tak di sini bersamaku!" ucap Soraya dengan nada parau, sedih rasanya mendengar dirinya di sebut Tegar selingkuhan, dalam mimpi pun tak pernah dirinya berniat menjadi selingkuhan siapapun.
Tegar menarik Soraya kembali dalam pelukannya, saat merasa Soraya bergerak ingin lepas darinya.
"Memang seharusnya seperti itu, tapi entah kenapa hati dan pikiran aku selalu berisi tentang kamu, bahkan hatiku menolak kehadiran Amanda, karena itu aku menyusul kamu, karena bayangan kamu selalu mengikuti ku!dan aku tak tahan!" ucap Tegar jujur, Soraya menenggak kan kepala menatap wajah Tegar yang kebingungan, Soraya bahagia ternyata dalam hati dan pikiran Tegar dirinya memang ada, namun kenapa Tegar bisa tak ingat dirinya? Tegar pasti kebingungan sekali saat ini! pantas Soraya sering merasa kadang Tegar sangat memperhatikan bahkan sedikit posesif padanya di bandingkan pada Amanda, kadang cuek pada dirinya jika sedang bersama Amanda.
Soraya memeluk Tegar erat, ternyata bukan hanya dirinya yang merasakan cinta itu ada tapi juga Tegar.
"Baiklah, sepertinya kita memang harus sering berduaan untuk memastikan perasaan kita masing-masing, karena sesungguhnya aku pun menyukai kamu!" ucap Soraya perlahan dan pelan.
Tegar melepaskan pelukan lalu mengangkat wajah Soraya agar melihat ke arahnya.
"Apa itu benar?"
"Kamu tahu, jika mata kita bertemu seperti ini rasanya selalu ada magnet yang menarik aku untuk mendekati kamu, jadi bolehkah aku menciummu?" tanya Tegar.
Wajah Soraya memerah mendengar pertanyaan Tegar,
Soraya terdiam tidak mengangguk ataupun menjawab pertanyaan Tegar, Soraya hanya menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya, Tegar yang penasaran mengangkat wajah Soraya, dan tersenyum lebar saat melihat wajah Soraya yang memerah.
Tegar menyentuh bibir Soraya yang lembut dengan jemarinya membuat Soraya memejamkan matanya, Tegar ingat saat dia mencium Soraya saat itu, sebuah bayangan muncul, bayangan dirinya sedang mencium seseorang seperti yang sedang Tegar lakukan saat itu, tapi saat itu Tegar belum bisa melihat dengan jelas siapa?.
Tegar mulai mendekatkan wajahnya dengan Soraya, bibirnya mulai menyentuh bibir Soraya yang lembut itu, kecupan lembut Tegar berikan untuk Soraya, Soraya membuka matanya, hingga mata mereka bertemu, Tegar tersenyum begitu pula Soraya, tegar kembali memberikan kecupan lembut di bibir Soraya, semakin lama semakin kuat dan akhirnya mereka saling ******* panjang, mata mereka berdua mulai terpejam merasakan ciuman yang membuat hati mereka berdua bergetar dan menghangat, bahkan Tegar melihat bayangan itu lagi sebuah bayangan yang lebih jelas dari kemarin kemarin hanya bayangan hitam, kini bayangan itu berubah menjadi seseorang, Tegar mulai melihat tangan bayangan itu, dengan seksama Tegar melihat tangan gadis itu, tangan gadis itu menggunakan gelang berwarna merah muda berliontin burung, kemudian bayangan itu terus sedikit demi sedikit memperlihatkan wujudnya, Tegar pun lebih mempererat ciumannya, berharap bayangan itu lebih cepat memperlihatkan wujudnya, bahkan telinga dan rambutnya mulai terlihat.
Tiba-tiba bunyi handphone Tegar berdering keras membuat konsentrasi keduanya teralihkan, Tegar mencoba tetap Fokus, dengan mengabaikan bunyi handphonenya tapi bunyi handphonenya tidak juga berhenti mau tidak mau Tegar dan Soraya melepaskan ciuman mereka seketika bayangan itu menghilang membuat Tegar terpaku, Soraya terkejut melihat ekspresi dari Tegar itu.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Soraya pelan, Tegar menggeleng pelan, Tegar segera mengambil handphonenya, nama Amanda tertulis di dalam handphonenya.
"Amanda" ucapnya pada Soraya.
"Angkat saja"
Atas perintah Soraya, Tegar menerima telepon dari Amanda.
"Halo"
"Halo, kamu di mana?" tanya Amanda
"Memangnya kenapa?" tanya Tegar, tanpa menjawab pertanyaan Amanda.
"Orang tuaku ada di sini di rumah kamu, mereka meminta kita untuk segera menikah katanya!" lanjut Amanda.
Tegar merasa jantungnya langsung berhenti mendengar itu, Tegar menatap ke arah Soraya, apa yang harus dia lakukan sekarang, tak mungkin dirinya menolak Amanda tanpa alasan yang jelas, bahkan Amanda telah lama tinggal di rumahnya.
Tegar tanpa berkata apapun memutuskan sambungan teleponnya dengan Amanda lalu memeluk Soraya, Soraya hanya diam berada dalam pelukan Tegar, menunggu apa yang akan di katakan oleh Tegar, setelah menerima telepon dari Amanda barusan.
Setelah merasa detak jantungnya normal, Tegar melonggarkan pelukannya pada Soraya, menatap Soraya sebentar lalu mulutnya dengan berat mulai terbuka walau belum bersuara, Tegar merasa tenggorokannya tersedak, hingga suara Suli keluar. Tegar menatap Soraya kembali menarik nafasnya mencoba untuk mulai bicara lagi pada Soraya.
Soraya melihat gelagat Tegar yang gelisah bahkan begitu sulit membuka suaranya, menebak jika itu bukan berita bagus untuknya, hatinya menjadi berdebar menunggu berita yang akan Tegar sampaikan padanya, Soraya mencoba menguatkan dirinya sendiri.
"Orang tua Amanda ada di rumahku, mereka menuntut aku untuk segera menikahi Amanda" ucap Tegar terbata-bata.
Soraya merasakan sebuah batu besar menghantamnya, baru saja dia sangat bahagia mengetahui Tegar pun memikirkan dan ingin mencoba memahami perasaan yang ia rasakan pada dirinya, sekarang perasaan senangnya berubah langsung menjadi kesedihan yang mendalam.
__ADS_1