
"Kita pulang sekarang!" ucap Tegar.
"Bukannya nanti sore?"
"Tidak jadi, kita harus cepat pulang!'
Tanpa banyak bicara lagi Soraya mengikuti apa yang di inginkan oleh Tegar, tak lama Soraya sudah ada di depan Hotel.
"Sudah siap?" tanya Tegar
"Sudah"
Tegar dan Soraya saat itu juga kembali ke Jakarta.
***
Amanda yang sudah menunggu, kedatangan Tegar, menyambut Tegar, dengan senyum yang lebar, Amanda langsung menarik Tegar dari sisi Soraya, Soraya memandangi kepergian Tegar dengan wajah sedihnya.
Tak lama Fernando mendekat lalu menyapa Soraya, dan mengantar Soraya ke kamarnya, Fernando rasanya ingin sekali memeluk Soraya, karena dua hari tak bertemu, rasanya rindu sekali, tapi perasaan itu di tahan oleh Fernando.
Hari ini Tegar dan Soraya hanya bersantai di rumah, Soraya sekarang sedang berada di dapur membantu ibu Tegar menyiapkan makan malam, sedangkan Amanda entah tidak tahu ada di mana.
Tegar mencari Amanda, tapi tidak di temukan di manapun.
Tegar pergi ke dapur, hendak menanyakan tentang Amanda, tapi terkejut saat melihat Soraya ada di sana, hingga Tegar mengurungkan niatnya.
Tegar menatap ke arah Soraya yang sedang membantu ibunya, wajahnya terlihat senang begitu juga ibu, selama ini Tegar tak pernah melihat wajah ibu seperti itu, saat ini senyum selalu menghias bibirnya.
Makan malam pun tiba, Tegar merasa aneh mengapa Amanda tidak turun untuk makan malam juga, apa yang di lakukan oleh nya di dalam kamar membuat Tegar penasaran.
Sesudah makan malam Tegar langsung pergi ke kamar Amanda, Tegar mengetuk pintu kamar Amanda, seperti biasa pintu itu tetap tertutup rapat, padahal semua orang tahu Amanda tidak pergi kemana pun.
Karena merasa kesal pintu kamar tak juga di buka oleh Amanda, Tegar memutuskan untuk membukanya dengan kunci cadangan yang dia punya.
Tegar terkejut melihat kamar Amanda kosong, kapan dan ke mana Amanda pergi malam-malam begini.
"Mencari Amanda?" tanya Fernando
"Aku melihatnya keluar tadi!" lanjut Fernando.
"Kapan Amanda keluar nya?"
"Tadi saat aku mau turun untuk makan malam" jawab Fernando.
"Kamu seharusnya lebih memperhatikan calon istri kamu"
__ADS_1
"Apa maksud kamu?"
"Tidak ada!" balas Fernando lalu pergi meninggalkan Tegar.
Tegar memikirkan apa maksud dari perkataan Fernando, mungkin kah dia kurang perhatian pada Amanda, atau ada yang lainnya, Tegar tak mau pusing, Tegar amat lelah saat ini, jadi dia putuskan masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
***
Amanda dengan mengendap-endap masuk ke dalam rumah, dengan sebisa mungkin Amanda berusaha tidak menimbulkan suara saat masuk ke dalam rumah, malam ini.
Amanda menarik nafas panjang ketika dia berhasil membuka kunci pintu kamarnya, Amanda pun segera memutar handle pintu, lalu segera mendorong pintu kamarnya perlahan.
"Aaaaa!" teriak nya, seseorang menyentuh pundak nya perlahan, membuatnya merinding ketakutan, siapa tengah malam begini yang belum tertidur?.
Amanda tak berani menoleh ke belakang, tubuhnya gemetaran.
"dari mana kamu, tengah malam begini baru pulang?!" tanya Tegar pelan.
Amanda yang mengenal milik siapa suara itu segera membuka matanya lalu berbalik badan.
"Kamu belum tidur?" tanya Amanda balik, tidak menjawab pertanyaan Tegar sebelumnya.
"Dari rumah teman, maaf kemalaman macet!"
"Handphone kamu tidak aktif?" tanya Tegar lagi.
"Aku khawatir sekali" lanjut Tegar.
"Tumben!" balas Amanda.
"Apa maksud kamu?"
"Biasanya kamu hanya perduli dengan Soraya itu, asisten kamu! yang katanya banyak berjasa banyak pada kamu itu!" ucap Amanda kesal.
Mendengar perkataan Amanda, Tegar teringat ucapan Fernando tentang Amanda, Tegar jadi bertanya dalam hatinya, mungkin benar dirinya kurang memperhatikan Amanda.
Amanda merasa selama tinggal di rumah ini, tak ada yang memperhatikan dirinya, Amanda merasa tinggal sendirian di rumah ini, semua orang selalu menganggap hanya Soraya yang berjasa, sedangkan dirinya hanya seorang asing yang numpang tinggal di rumah mereka.
"Orang tuaku tidak begitu!!" bela Tegar.
"Mungkin kedua orang tua kamu tidak begitu, tapi Soraya asisten kamu itu selalu saja menghasut mereka agar menjauhi aku"
"Soraya tidak seperti itu!!" sentak Tegar.
"Tuh, kan! kamu juga membela dia!!" ujar Amanda kesal, sambil menutup pintu kamarnya, tapi kaki Rizal menahannya, "bukan begitu maksud aku! Aku hanya mengatakan yang sebenarnya"
__ADS_1
"Dia hanya pura-pura baik di hadapan kalian, sebenarnya dia itu berwajah dua!!" sentak Amanda marah.
"Jangan suka menuduh sembarangan!!" balas Tegar, Amanda menatap tajam Tegar, Amanda sangat kesal karena Tegar lebih membela Soraya.
"Ya, sudah kalau tidak percaya! aku mau tidur, ngantuk!!" bentak Amanda sambil membanting pintu kamarnya.
Tegar terdiam di tempatnya, Amanda belum menjawab darimana dia malam-malam begini, rumah teman? teman siapa? memangnya di sini Amanda punya teman? Tegar merasa dirinya harus mencari tahu tentang hal itu, karena sepertinya Amanda tak mungkin memberitahukan itu padanya, dan Tegar pun baru menyadari jika dirinya memang kurang memperhatikan Amanda.
Amanda di dalam kamar menarik nafas dalam-dalam, antara kesal, marah sekaligus lega perasaan nya bercampur aduk menjadi satu.
Amanda merasa Tegar sudah menyadari jika dirinya sering keluar rumah, entah siapa yang bilang, atau Tegar sendiri yang menyadari hal itu.
"Sepertinya aku harus sedikit mengurangi perjumpaan ku dengan Sopyan, kalau tak ingin ini terbongkar"
Amanda menggaruk kepala nya yang tidak gatal, sebenarnya dirinya menyadari kesalahannya tapi gairah dalam dirinya tak bisa di tahan terlalu lama, jika Tegar selalu bersikap dingin seperti belakangan ini, hubungannya dengan Sopyan akan terus berlanjut, tapi jika di lanjutkan pasti akan ketahuan dan itu tidak diinginkan oleh Amanda, hidupnya sekarang sudah nyaman, dengan fasilitas yang di berikan Tegar padanya.
"Aku harus cepat-cepat menjadi istrinya kalau seperti ini!"
"Tapi bagaimana caranya, agar Tegar cepat menikahinya?" kening Amanda berkerut, tapi kemudian bibir Amanda tersenyum lebar, sebuah ide bagus muncul di kepalanya.
***
Amanda pagi itu, entah angin dari mana pagi-pagi sudah ada di dapur dan ruang makan, Amanda terlihat bersemangat membantu ibu Tegar yang sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga, ibu Tegar sebenarnya agak terkejut tadi melihat Amanda turun ke dapur dan langsung membantunya.
Tepat jam tujuh seperti biasanya makanan untuk sarapan sudah tersaji lengkap di meja makan, tinggal menunggu yang lainnya turun untuk sarapan.
"Mereka lama sekali!" ucap Amanda.
"Apa perlu aku panggil mereka?" tanya Amanda, baru selesai bicara bayangan Tegar terlihat mendekati ruang makan, Tegar terkejut melihat Amanda sudah ada di sana.
"Pagi sayang" sapa Amanda pada Tegar.
"Kamu??"
"Aku membantu ibu di dapur tadi!" jawab Amanda cepat, mendengar itu Tegar tersenyum bahagia.
"Duduklah aku siapkan sarapan paginya" lanjut Amanda, Amanda sangat senang saat ini mata Tegar selalu tertuju padanya.
"Roti bakar coklat?" tanya Amanda pada Tegar.
"Iya, sayang" jawab Tegar lembut, mendengar suara Tegar bicara dengannya dengan suara yang lembut seperti tadi, Amanda yakin Tegar sudah lupa masalah yang semalam, Amanda tersenyum dalam hatinya.
Amanda baru saja ingin melihat bagaimana Tegar sarapan, suara tawa Soraya dan Fernando terdengar, mereka berdua datang bersamaan ke ruang makan.
Soraya dan Fernando melihat Amanda dan Tegar sudah berada di sana, menyapa mereka.
__ADS_1
"Pagi" ucap Soraya dan Fernando bersamaan.
"Kalian kompak sekali, cocok jadi pasangan! kenapa engga jadian aja sih!" cerocos Amanda.