
Tak terasa hari berganti hari dan Minggu berganti Minggu, raga Tegar masih saja terbaring tidak berdaya di atas tempat tidur.
Sudah tiga bulan lama tanpa terasa, Tegar hidup di dunia yang berbeda dengan keluarga dan teman-temannya, hanya Soraya saja yang bisa melihat dan mendengarnya, Tegar menjadi bergantung pada Soraya, semua pekerjaan atau apapun yang melibatkan Tegar Soraya ikut terlibat.
Hari ini, rumah Tegar akan kedatangan tamu, bukan tamu istimewa, tapi tamu itu, nanti akan tinggal bersama mereka.
Fernando sepupu jauh Tegar, akan tinggal di rumah Tegar, dengan alasan akan menemani tantenya atau ibu Tegar, yang sendirian di rumah.
Fernando menatap rumah Tegar yang besar dan mewah, kelak rumah ini akan menjadi milikku dan Tegar tak akan pernah kembali lagi gumam Fernando sambil tersenyum sinis.
Fernando mengendarai mobilnya melewati pagar rumah Tegar yang tinggi, kedatangan Fernando di sambut hangat oleh ayah dan ibu Tegar, Fernando adalah anak dari adik ayahnya Tegar, yang tinggal di Amerika.
Fernando memeluk Tante dan Pamannya dengan erat,karena mereka sudah lama tidak bertemu, Tegar pun sama, wajahnya terlihat gembira melihat kedatangan Fernando, rumahnya akan menjadi ramai lagi mulai sekarang, karena Fernando yang Tegar kenal dulu adalah sosok yang periang, Fernando setelah memeluk erat paman dan bibi nya, melirik ke arah Soraya yang berdiri agak jauh dari mereka.
"Cantik" gumam Fernando, Tegar mendengar jelas itu di telinga nya, karena Tegar tepat di samping Fernando dan Fernando tidak tahu akan hal itu.
Tegar yang mendengar pujian dari Fernando untuk Soraya, menjadi kesal seketika.
"Jangan berani ganggu, dia!" ucap Tegar, Fernando mengacuhkan ucapan Tegar, karena Fernando tentu saja, tidak mendengar peringatan itu.
Fernando terus berjalan mendekati Soraya yang sedang berdiri dengan Karin. Ayah dan ibu Tegar saling pandang, melihat tingkah Fernando.
"Aku tidak tahu, kalau di rumah Paman ada bidadari!" seru Fernando.
"Bidadari? tidak salah Fernando mengatakan Soraya bidadari, bukan kan di luar negeri sana banyak wanita cantik, yang di atas Soraya.
"Kamu bisa saja, di Amerika sana memang tidak ada bidadari?" ucap ibu Tegar.
"Bukan begitu Tante, Bidadari jni sangat alami, aku sangat menyukai nya" balas Fernando, membuat wajah Soraya memerah karena malu, sedangkan Tegar, tidak suka dengan ekspresi yang di tunjukan oleh Soraya, Soraya di mata Tegar seperti menyukai pujian dari Fernando.
Tegar melihat ke arah Soraya, Soraya memang cantik,bahkan makin cantik setiap harinya, karena sekarang dia andai berdandan dan merawat diri, ibu suka mengajak Soraya perawatan.
Wajah Soraya pun sekarang sudah lebih dewasa, mungkin kerena di tempa oleh Tegar agar bisa menghadapi berbagai sifat klien mereka.
__ADS_1
Apalagi wajah malu-malu Soraya saat ini, sungguh sangat menggoda, matanya yang besar, hidung nya yang mancung dan pipinya yang putih, suatu perpaduan yang cantik menghiasi wajah Soraya.
"Siapa nama mu?" tanya Fernando pada Soraya.
"Soraya" jawab Soraya, sambil menerima jabatan tangan dari Fernando, Fernando menatap ke arah Soraya *jadi ini wanita yang menggantikan Tegar di perusahaan, dia terlalu cantik untuk di hancurkan, aku akan membuatnya menjadi milikku* bathin Fernando.
Fernando mengalihkan pandangannya, ke arah Karin yang kecil, yang tentu saja cantik seperti kakaknya, Karin adalah versi kecil Soraya. Fernando mengulurkan tangannya pada Karin, Karin mengulurkan tangannya menerima jabatan tangan Fernando sambil tersenyum.
"Kamu bidadari kecil" ucap Fernando.
"Terima kasih ka!" jawab Karin.
"Sama-sama" balas Fernando.
Mulai hari itu juga, Fernando pun tinggal di rumah besar itu.
Tegar memang tak salah menebak dengan kehadiran Fernando rumah ini kian ramai, tapi ada yang tidak sukai Tegar dari Fernando, Fernando kalau bicara matanya tak pernah lepas dari Soraya.
Soraya juga mau saja di goda oleh Fernando, seperti saat ini.
"Lumayan" jawab Soraya.
"Apa kamu suka Tegar?" tanya Fernando, Soraya menggeleng pelan, Tegar melihat Fernando tersenyum lebar, melihat jawaban Soraya.
"Berarti ada kesempatan buatku?" tanya Fernando.
"Kesempatan apa?" tanya Soraya tak mengerti.
"Kesempatan, menjadi pacar kamu!" jawab Fernando, wajah Soraya memerah Tegar kesal melihat itu, reaksi Soraya menurut Tegar terlalu berlebihan.
"Mungkin" jawab Soraya, membuat Tegar tambah kesal dan marah,Tegar berlari masuk ke dalam kamarnya, melihat dirinya yang terbaring lemah di atas tempat tidur, emosinya bukan mereda malah makin menjadi-jadi.
Tegar mencoba melemparkan vas bunga yang ada di hadapannya tapi tak berhasil, itupun membuat emosi Tegar makin naik, dengan kesal Tegar keluar dari kamar, dan melihat Fernando dan Soraya masih mengobrol berduaan. Tegar menggaruk kepala nya yang tidak gatal, Tegar berdiri di belakang Soraya mengamati gerak-gerik Fernando, entah mengapa Tegar mempunyai firasat yang tak enak dengan datangnya Fernando.
__ADS_1
Tegar terus mengamati Fernando dan Soraya, tapi kenapa makin ke sini makin membuat Tegar emosi mendengarnya.
"Kita keluar, yuk!" ajak Fernando.
"Kemana?" tanya Soraya.
"Kemana saja, aku juga belum sempat jalan-jalan, malah langsung ikut berkerja begitu sampai di sini!" lanjut Fernando.
"boleh aku ajak, Karin?" tanya Soraya.
"Tentu saja!" seru Fernando.
"Kita pergi, sekarang?" lanjut Fernando, yang langsung berdiri menjulurkan tangannya pada Soraya, dan Soraya menerima juluran tangan Fernando, dengan senyum yang lebar dan tentu saja manis, membuat Fernando seketika terdiam di tempat, membuat Tegar kembang kempis melihatnya.
Tegar melihat Soraya memanggil Karin di kamarnya, tak lama kemudian mereka berdua keluar.
"Aku akan ikut!" ucap Tegar.
"Terserah!" jawab Soraya, Soraya juga tahu pasti Tegar bosan selalu sendirian.
Fernando meminta Soraya duduk di depan dan Karin di belakang, Tegar pun duduk di samping Karin, Karin yang tahu tegar ikut bersama mereka menoleh ke arah Tegar.
"Om, Karin tidak suka dengan om Fernando!" bisik Karin pada tegar.
"Sepertinya, dia menyukai kakak Soraya, lihat dia melirik terus ke arah Kakak Soraya" lanjut Karin.
Tanpa Karin beritahu juga Tegar sudah tahu, akan hal itu. Dan Tegar juga tidak menyukai hal ini, dan bodohnya Soraya tidak mengetahui hal itu.
Fernando menghentikan mobilnya di sebuah taman hiburan, Fernando berjalan ke kasir untuk membeli tiket masuk, Soraya dan Karin menunggu di pintu masuk.
Karin menarik tangan Soraya, agar berjalan agak cepat, karena menuju wahana permainan yang Karin mau.
"Ka aku mau naik itu!" tunjuk Karin pada kincir raksasa, Soraya menatap kincir raksasa di depannya yang berputar pelan, Soraya dan Karin segera naik ke kincir Raksasa itu, Fernando dan juga Tegar. Tegar mendengus kesal, saat kincir raksasa itu berputar, Tegar memegang pada besi tempat duduk dalam kincir raksasa itu dengan erat, Tegar sebenarnya takut ketinggian, tapi karena di dalam pikirannya Fernando akan mengambil kesempatan dalam kesempitan pada Soraya, dalam wajan kincir raksasa itu, Tegar memberanikan diri ikut.
__ADS_1
"Aaaaaa!!" teriak Tegar kencang.