
Waktu yang terus berputar tanpa henti telah berada pada satu titik dimana seseorang merasakan aroma dunia luar setelah hampir setengah tahun mendekam di balik jeruji besi.
Ray si pengusaha kaya dari Makassar kini berubah total penampilannya.
Rambut nya yang dulu bermodel French crop klasik kini hampir tak bermodel lagi, cukup awut-awutan untuk potongan orang seperti Ray.
Namun dengan gaya simpel apa adanya, Ray tetap di jemput naik super car Maserati Granturismo berwarna silver edisi terbatas.
Seorang pria bule mengendarai mobil tersebut dengan kacamata hitam.
" Brian, kita ke Villa dulu, ada satu barang yang ingin aku ambil! " tegas Ray pada supir nya.
Brian hanya mengangguk.
Saat mobil hendak memasuki area kompleks villa, tiba-tiba telepon Brian berdering.
Seorang pria bersuara berat dan sedikit parau memerintahkan Brian agar lebih cepat lagi sampai ke landasan karena Helikopter sudah menunggu.
melihat Brian putar haluan berbalik arah menjauhi Villa Ray berteriak,
" Apa-apaan kamu ini? "
" Maaf Tuan, saya mendapat telepon dari rumah sakit Singapura bahwa keadaan Tuan besar sedang dalam masa kritis, maka dari itu kita harus segera bergegas terbang ke Singapura sesegera mungkin."
" Shiiitttt.... " pekik Ray.
__ADS_1
...***...
Rumah Sakit Internasional Singapore
" Sayang .. kamu duduk dan tunggu disini dulu ya , sebentar. " pinta Rifan pada Shiera yang mengenakan midi dress berwarna kuning gading.
Shiera hanya diam.
Rifan pun meninggallan Shiera di sofa lobby dan menuju ke Medical Receptionist untuk mengetahui dimana ruangan poli psikologi.
Pada saat yang sama, Ray tiba di rumah sakit dengan di dampingi dua bodyguard yang sedari tadi menunggu di pintu masuk.
Shiera yang memandangi Rifan dari kejauhan lalai sehingga menjatuhkan tas nya.
tas Shiera terjatuh tepat di dekat kaki Ray yang melintas bersama kedua bodyguardnya.
lalu la memberikan nya kepada Shiera,
" This is your bag ma'am ..." ucap pria itu.
Shiera hanya mengangguk sambil mengambil tas nya tanpa mengatakan apa- apa.
Ray menoleh melihat bodyguard nya yang satu lagi tertinggal dibelakang sedang membantu mengambilkan tas seorang wanita yang wajah nya tertutupi oleh rambut ikal nya yang terurai sehingga jarak pandang Ray pun terhalang.
Tiba2 saja jantung Ray berdebar saat melihat wanita itu, terlintas wajah shiera di pikirannya.
__ADS_1
" Erick.. come on!! " seru bodyguard yang berada di samping Ray memanggil temannya yang tertinggal dibelakang.
Lamunan Ray seketika lenyap mendengar seruan tersebut.
mereka bertiga pun melanjutkan perjalan nya.
Ray yang masih berdebar-debar jantungnya seperti ada suatu yang mengganggu dipikiran nya, tiba tiba bertanya pada Erick.
" Who's that? "
" Uhm.. nobody Boss, just a mute woman! " jawab Erick
Sebelum masuk kedalam lift, Ray sempat menoleh ke arah Shiera namun Ia sudah tidak ada lagi di sofa lobby.
Pintu lift tertutup.
...***...
VVIP2 Pearl Room
Seorang pria berumur sekitar 80-an terbaring di tempat tidur dengan begitu banyak alat bantu dan mesin-mesin yang bisa dibilang penguat hidup.
Sementara itu di sisi lain ruangan itu ada wanita paruh baya yang menunjukkan raut wajah gundah gulana nya sembari sesekali menyeka airmata yang mengalir dari sudut kelompak mata yang mulai keriput.
" Mom ..."
__ADS_1
Ray menghampiri wanita paruh baya yang di panggilnya Mom itu.
Ray memeluk erat-erat tubuh ibunya. rasa rindu yang membelenggu selama ini pun tak kuasa lagi ia bendung. Ray kalah, pada akhirnya Ia menangis dipangkuan ibunya, Ny.Rosefa.